Jumat, 31 Maret 2017

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Humanisme Religius ala Gus Dur (Menggali Semangat, Melakukan Pembaharuan)

oleh : DESIDERIO JULIO SUDIRMAN SMM, 0 Komentar
Agama mendapat tantangan yang serius dewasa ini. Tampaknya pergulatan manusia mengenai tujuan hidup yang dicari dalam nilai-nilai religiusitas dalam berbagai tradisi religius dirongrong. Ini terjadi karena seringkali agama dalam kenyataannya justru menjadi suluh yang membakar api perpisahan, pemecahan antara manusia. Tak jarang, agama menjadi alasan utama pertumpahan darah. Namun benarkah agama in se membawa serta pengaruh-pengaruh dekstruktif bagi kehidupan manusia? Pertanyaan yang diajukan di atas tidak mudah untuk dijawab. Kita tidak hanya sekedar menjawab dalam kerangka afirmasi dan negasi. Lebih dari pada itu, perlu dicari pendasaran yang kuat dan meyakinkan apakah agama memang berwajah ganda, atau sebaliknya agama sejatinya hanya membawa kedamaian dalam hidup manusia. Bagi saya, pendasaran yang kuat dapat ditemui dalam sosok Gus Dur. Intisari dari perjuangannya menjadi jawaban yang amat gamblang untuk menguraikan betapa tradisi religius sejatinya membawa kedamaian bagi setiap pemeluknya.
Kategori : Headline , Opini

Gus Dur Dan Masalah Islam Telah Sempurna

Tidak semua persoalan yang kita hadapi sekarang ini, ada pada zaman Nabi Muhammad Saw. Seperti, persoalan tes DNA, kita hidup di negara bangsa, demonstrasi berjilid-jilid seperti yang dilakukan GNPF MUI, mendengar ngaji lewat kaset rekaman, persoalan sholat di pesawat terbang dan kereta api, komunikasi via WA-telegram-tweeter, dan berbagai persoalan lain. Persoalan-persoalan baru seperti itu akan terus muncul dan senantiasa berkembang, seiring dengan perkembangan budaya, politik, ekonomi, dan peradaban umat manusia. Perkembangan-perkembangan ini membawa implikasi pertanyaan: bagaimanakah akhirnya kita memahami wawasan tentang “Islam telah sempurna”, seperti yang selama ini dikenal di dalam tradisi Islam?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Kata Pengantar Buku "Mati Ketawa ala Rusia"

oleh : LIES MARCOES, 0 Komentar
Suatu hari, Gus Dur datang ke Grafitipress tempat Ismed Natsir, suami saya, bekerja sebagai editor. Dia tanya, "Med ada yang bisa saya bantu, ada perlu untuk pendaftaran anak sekolah". Suami saya menjawab" Ada Gus membuat pengantar untuk buku". Gus Dur pun bersetuju. Ia duduk membuka-buka dan membaca draft buku. Tak terlalu lama - hanya selintasan membaca. Lalu ia minta mesin tik, dan mulailah ia menulis, tanpa tip-ex tanpa ada satu pun kalimat yang dia perbaiki. Dalam waktu tak sampai satu dua jam, pengantar redaksi untuk buku pun selesai. Sembari dia mengetik, suami saya mengurus pembayaran. Selesai, ia pun pamit dengan mengantongi honor untuk biaya sekolah salah satu dari 4 anaknya yang akan masuk SMA... Sore hari menjelang pulang suami saya baru sempat membaca pengantar itu, dan ia terperangah....
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Masalah Hidup Berdampingan

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan: “Nabi Muhammad langsung diber itahu Tuhan bahwa ada perbedaan- perbedaan dalam beragama, sebagaimana firman Tuhan, lakum dinukum waliyadin,“ Bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku” (QS. Al- Kafirun [109]: 6). Agama Islam mengajarkan semangat toleran yang menghargai sesama manusia, walaupun berbeda agama.” (KH. Abdurrahman Wahid dan Daisaku Ikeda, Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian, hlm. 186).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ciganjur dan Jaringan Gusdurian

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Sampai saat ini, masih banyak masyarakat awam yang belum tahu apa bedanya Jaringan Gusdurian dengan Wahid Foundation (dulunya Wahid Institute). Sebelum beranjak ke pertanyaan “apa bedanya”, sebaiknya perlu dimengerti dulu apa itu entitas Ciganjur. Keluarga Ciganjur atau keluarga almarhum KH. Abdurrahman Wahid, punya banyak sayap organisasi. Diantaranya Puan Amal Hayati, Wahid Foundation, ada Abdurrahman Wahid (AW) Center – UI, Jaringan Gusdurian dan Positive Movement. Semua sayap keluarga Ciganjur masing-masing memiliki fokus yang berbeda-beda.
Kategori : Sorot

Islam dan Arab: Menimbang Pribumisasi Islam Gus Dur

oleh : AKHMAD SAHAL, 0 Komentar
Ketika wacana “Islam Nusantara” ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu, banyak kalangan yang nyinyir dengan menuduh “Islam Nusantara” sebagai ekspresi antipati terhadap Arab, baik orang Arab, budaya Arab, maupun segala sesuatu yang berbau Arab. “Islam Nusantara’ dianggap mengkotak-kotakkan Islam, bahkan dicurigai sebagai strategi baru dari Barat, Zionis, JIL dll, untuk menghancurkan Islam dari dalam. Islam ya Islam. Titik.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Kesaksian Prof. Quraish Shihab atas Sosok Gus Dur

oleh : PROF. DR. QURAISH SHIHAB, 0 Komentar
Dinasihatkan oleh Rasulullah SAW, kita berkumpul di suatu majlis yg oleh agama dinamai majelis dzikir. Tidak kurang dari 200 kali, kata-kata dzikir terulang di dalam Al-Quran. Objeknya bermacam-macam, salah satu di antaranya adalah berdzikir, merenung, mengingat, menyebut-nyebut tokoh-tokoh, lebih lebih yang memiliki jasa di dalam masyarakat. Rasulullah SAW pun memerintahkan kita dengan sabdanya: Udzkuru mahasina mautakum.. (Renung renungkanlah, ingat-ingatlah, sebut-sebutlah jasa-jasa, kebaikan-kebaikan orang-orang mati kamu)
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Jabal, Hipsi dan Gusdurian Lampung Gelar Baksos Penyembuhan Alternatif

Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal bekerjasama dengan Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) dan Gusdurian Lampung menggelar bakti sosial penyembuhan alternatif untuk berbagai penyakit. Ajengan Teater Jabal, WD Fatchurrochman Syam, di Tanggamus, Ahad (26/2), menyatakan kegiatan itu dihelat dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Ikuti Kelas Pemikiran Gus Dur di Jakarta, Ini Persyaratannya

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Gusdurian Jakarta akan menggelar Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) angkatan kedua pada Sabtu-Ahad, 25-26 Maret 2017. Ketua Panitia KPG 2, Agustina Iskandar menuturkan kelas tersebut merupakan upaya memperkenalkan sosok, gagasan, dan perjuangan Gus Dur di bidang agama, politik, sosial, seni dan budaya secara lebih sistematis dan mudah dipahami. “Forum juga dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan tentang nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur sekaligus menghubungkan dengan berbagai isu dan bidang-bidang tersebut,” katanya melalui rilis yang diterima NU Online, Sabtu (18/2).
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Kewarganegaraan Kultural

Renato Rosaldo (2003), antropolog asal Amerika Serikat, mengritik pendekatan dan teori dari Ben Anderson tentang nasionalisme yang kemudian menjadi klasik dengan apa yang dikenal imagined communities. Dengan rumusan nasionalisme individualistik yang bersumber dari media dan sarana komunikasi modern lainnya, menurut Rosaldo, Anderson telah jatuh pada selektif. Hanya mereka yang terliput dan memiliki akses kepada media modern lah yang tercakup ke dalam nasionalisme, sedangkan mereka yang marjinal, tersingkir, mioritas dan miskin, tidak terliput.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi