Sabtu, 21 Juli 2018

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Gus Dur di Tegalrejo (1957-1959)

Gus Dur pindah dari Yogyakarta ke Magelang, tepatnya di Pesantren Tegalrejo pada tahun 1957. Di pesantren ini Gus Dur nyantri selama sekitar 2 tahun lebih sedikit, di bawah asuhan KH. Chudlori. Greg Barton menyebut demikian: “Gus Dur membuktikan dirinya sebagai siswa yang berbakat dengan menyelesaikan pelajarannya di bawah asuhan KH. Chudlori selama 2 tahun di Tegalrejo. Kebanyakan siswa lain memerlukan waktu 4 tahun untuk menyelesaikan pelajaran ini. Bahkan di Tegalrejo ini Gus Dur menghabiskan sebagian besar waktunya di luar kelas dengan membaca buku-buku Barat (2003: 50). Meski sudah di Tegalrejo, Gus Dur kadang menyempatkan waktunya untuk belajar paruh waktu ke Denanyar-Jombang di bawah asuhan Mbah Bishri (2003: 51). Dan pad saat yang sama, Gus Dur juga mencari peluang menonton wayang kulit, kegemarannya yang sudah dilakoninya ketika di Yogyakarta. Untuk hal itu, menurut Greg, Gus Dur harus berjalan kaki cukup jauh agar dapat menonton wayang kulit.
Kategori : Headline , Opini

Membaca Konsep Pribumisasi Islam dan Inkulturasi Iman Kristiani dalam Konteks Indonesia

oleh : PAULUS BAGUS SUGIYONO, 0 Komentar
Relasi antara agama dan budaya selalu menjadi isu yang menarik dalam sejarah peradaban umat manusia. Tidak jarang tegangan-tegangan selalu terjadi dalam dinamika keduanya. Meski demikian, tegangan ini menghidupkan, sebab selalu mengajak kita untuk mampu menempatkan diri dalam posisi yang tepat di antara keduanya. Dalam konteks lokal, Indonesia pernah mengalami adanya stimulus-stimulus agama yang datang dari luar, antara lain Islam dan Kristen. Kedua agama ini tentu mengalami pergulatan yang berbeda-beda dalam perjumpaannya dengan budaya lokal di Indonesia. Dalam perjumpaan dengan keduanya, sejatinya identitas budaya Indonesia terus-menerus dipertajam.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Gus Dur di Tambakberas (1959-1963)

oleh : NUR KHOLIK RIDWAN, 0 Komentar
Pada tahun 1959 Gus Dur pindah ke Jombang dari Magelang, yaitu di Tambakberas. Greg Barton menyebut: “Ia belajar di sini hingga tahun 1963, dan selama kurun itu ia selalu berhubungan dengan Kyai Bishri Syansuri secara teratur. Selama tahun pertamanya, ia mendapat dorongan untuk mulai mengajar. Ia kemudian mengajar di Madrasah Moderen yang didirikan dalam kompleks dan juga menjadi kepala sekolahnya. Selama masa ini, ia tetap berkunjung ke Krapyak secara teratur. Di sini ia tinggal di rumah KH. Ali Maksum (Greg Barton, 2003: 50). Di Tambakberas, Gus Dur menempati Bilik Pangeran Diponegoro, dibawah asuhan KH. Abdul Fattah Hasyim. Kyai Fattah ini memiliki salah satu wirid rutin setelah sholat shubuh dengan ngaji Shohîh al-Bukhôrî dan Ihyâ’ `Ulûmuddîn (Tambakberas, 2017: 215).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

CATENACCIO HANYALAH ALAT BERAT

oleh : ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
SINDHUNATA telah menguraikan pendapatnya mengenai jalannya pemerintahan dalam harian ini, beberapa hari yang lalu. Inti pendapatnya, sistem bertahan (catenaccio) saja di dalam persepakbolaan Italia sulit untuk dikembangkan di Indonesia dalam perkembangan terakhir ini. Ia mengemukakan, pemerintah dengan sadar haruslah menegakkan demokrasi secara menyeluruh, dan untuk itu sistem bertahan saja tidaklah cukup. Haruslah digunakan sistem menyerang dalam persepakbolaan walaupun tidak jelas strategi mana yang digunakan. Total football-kah atau yang lain?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Dawam Raharjo dan Gus Dur, Dua Outlier dari Latar Berbeda

oleh : AL MUIZ LIDDINILLAH , 0 Komentar
Malcom Gladwell dalam bukunya, Outliers (2018), menjelaskan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh faktor perjuangan dan motivasi saja. Akan tetapi, kesuksesan itu juga dipengaruhi oleh kapan kita lahir, siapa orang tua kita, kondisi kebudayaan dan seberapa jauh lingkungan kita memberikan kita kesempatan untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan kita. Outlier juga didefinisikan sebagai orang yang tidak sesuai dengan pemahaman pencapaian orang normal.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Jaringan Gusdurian Luncurkan Situs Penampungan Informasi Ujaran Kebencian dan DIskriminasi

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Jaringan Gusdurian meluncurkan situs pengumpulan informasi mengenai diskriminasi dan ujaran kebencian (hate speech) melalui situs: www.kabarkan.org. Situs ini bertujuan untuk menampung informasi dari masyarakat mengenai diskriminasi dan ujaran kebencian belakangan ini marak terjadi . Melalui media sosial, ujaran kebencian, provokasi, dan narasi ekstremisme sangat mudah ditemui. Begitu juga dengan diskriminasi, terutama di lembaga pendidikan, sampai saat ini masih terjadi. Seperti penutupan sekolah atas dasar isu SARA, pemaksaan identitas dan simbol tertentu, dan sulitnya perizinan mendirikan sekolah karena ideologi masih menjadi perbincangan di tengah negara yang menjunjungi tinggi asas demokrasi.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi , Sorot

Denting Islam dan Peradaban Nusantara Tentang Lingkungan Hidup

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Nusantara adalah peradaban luhur. Kedekatan dengan alam dan sang pencipta selalu dimanifestasikan dalam karya seperti sastra, pitutur luhur, hingga pusaka semisal keris. Tanpa peradaban luhur, masuknya agama-agama ke Nusantara berikut penerimaannya tentu berlangsung dengan paksaan dan kekerasan. Dalam sejumlah literasi, agama Budha, Hindu, Kristen dan Islam masuk ke Nusantara atau Indonesia melalui jalan damai, jalan niaga, yang dihasilkan oleh peran alam (pertanian, perkebunan hingga perikanan) yang berorientasi pada kehidupan manusia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mengapa Mereka Marah?

oleh : ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Seorang kawan menanyakan, mengapa banyak pemuka masyarakat Islam marah kalau mendengar sebutan “kaum fundamentalis”, atau tersinggung kalau ada orang membicarakan “issue negara Islam”.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Cara Gus Dur Membaca Al Quran dalam Konteks Realitas Sosial

oleh : WILDAN IMADUDDIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Bagi umat Muslim di seluruh Dunia al-Quran adalah sumber pedoman paling otoritatif yang dijadikan sandaran argumentasi hampir di setiap lini kehidupan. Dari al-Quranlah peradaban Islam kemudian lahir, tumbuh dan berkembang menghasilkan beragam sumber ilmu pengetahuan. Berjuta-juta jilid karya para ulama telah diproduksi sebagai bagian dari upaya memahami al-Quran.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mudik Atau Tetap Mabuk Kuda Lumping

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Pekerjaan rumah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjelang genap 73 tahun merdeka masih banyak. Suara sekaligus gerak positif sebagaimana dilakukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan sejumlah nama lain yang berani mudik (pulang) terhadap ajaran Islam, amanat negara dan kemanusiaan lebih dibutuhkan daripada mabuk (hilang kesadaran) seperti pemain kuda lumping. 70 persen dari sekitar 250 juta jiwa total jumlah penduduk Indonesia ialah followers Rasulullah SAW, menganut agama Islam, agama perdamaian. Produksi masif ujaran kebencian hingga fitnah yang telah ditegaskan dosanya lebih besar dari membunuh dalam QS Al Baqarah ayat 217, dewasa ini sungguh mencabik hakikat perdamaian. Tidakkah itu memberi kesan, jika ternyata kita telah jauh meninggalkan Islam?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi