Sabtu, 20 Januari 2018

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Pesan Kemanusiaan Warisan Gus Dur

Di pengujung tahun 2017, tepatnya pada tanggal 30 Desember, genap delapan tahun atau sewindu K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kembali keharibaan Yang Maha Kuasa. Meski Gus Dur telah tiada, estafet perjuangan sang ”guru bangsa” ini masih tetap bisa kita saksikan melalui para generasi penerusnya. Demikian pula melalui jejak pemikiran yang pernah ia tuangkan dalam tulisan-tulisan. Lewat tulisan-tulisannya tersebut, Gus Dur mampu menginspirasi banyak orang, termasuk mereka yang belum pernah bertemu langsung dengan dia atau bahkan tidak ”menangi” Gus Dur ketika masih hidup.
Kategori : Headline , Opini

Kegagalan Demi Kegagalan Gus Dur

Jika kita menelusuri riwayat hidup Gus Dur, akan terlihat bahwa ia adalah sosok manusia yang boleh dikata “sering gagal”. Kok bisa? Ya, memang begitulah kenyataannya. Kita bisa mulai dari yang sangat umum diketahui: Gus Dur tak pernah berhasil menyelesaikan pendidikan S-1. Tahun 1962 Gus Dur pergi ke Mesir untuk kuliah di Universitas Al-Azhar atas beasiswa dari pemerintah yang merupakan kelanjutan kerja sama negara-negara yang ikut dalam Konferensi Asia-Afrika. Di Kairo ini ia lebih banyak baca buku, nonton film, dan keluyuran. Ia bosan kuliah karena pelajarannya, menurutnya, banyak mengulang yang sudah ia dapatkan di pesantren di tanah air.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kenang Haul Sewindu Gus Dur, Gusdurian Solo Pajang Poster

oleh : AJIE NAJMUDDIN, 0 Komentar
Gusdurian Solo punya cara unik untuk memperingati haul sewindu Gus Dur. Mereka memajang beberapa poster bergambar Gus Dur dalam ukuran besar di bundaran Gladak Solo, belum lama ini (30/12). Selain berisi gambar Gus Dur, pada poster tersebut juga ditulis beberapa kutipan terkenal dari Gus Dur, antara lain : “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu,” dan lain sebagainya.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Cita-Cita Gus Dur

oleh : ZAIM AHYA, 0 Komentar
"Guru bangsa. Saya ingin jadi guru bangsanya Indonesia. Itu saja. Saya tidak ingin jadi yang lain. Kalau sekarang saya berkiprah di politik, karena panggilan" Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Begitulah petikan wawancara dengan Gus Dur di Majalah Tempo edisi 28 Desember 1998. Wawancara yang berjudul "Abdurrahman Wahid: Saya Nggak Mau Bangsa Ini Terbakar" berhubungan dengan keadaan Indonesia saat reformasi. Lalu apa makna guru bangsa, bagi Gus Dur?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Sang Haus Kekuasaan

Gus Dur suka nyeleneh? Maka Gus Dur adalah orang yang haus kekuasaan. Dimana-mana dan di semua komunitas dan bahkan sebagai presiden selalu mengambil jalan yang tidak biasa. Aneh dan nyleneh! Seorang penulis menjuluki Gus Dur sebagai dissent democrat, karena kesuakaan Gus Dur menentang komunitas atau umatnya sendiri. Di tengah-tengah umatnya, pesantren dan NU, dia selalu menang melawan mereka. Tapi, kata penulis itu, di komunitas yang lebih luas Indonesia, ketika dia menjadi presiden: kalah! Dia terguling dari kursi presiden dan tidak bisa meraih lagi untuk selanjutnya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan (keluarga) Nitisastro

Ketika menjabat presiden, Gus Dur meminta Widjojo Nitisastro, menjadi salah seorang anggota Dewan penasehatnya dalam bidang ekonomi. Pengangkatan ini sudah barang tentu mengecewakan sebagian besar pendukungnya karena Widjojo dikenal sebagai salah seorang arsitek ekonomi orde baru dan bagian penting dari mereka yang disebut sebagai 'mafia barkeley'. Orang ingin Gus Dur menarik garis putus sama sekali thd orde baru. Nyatanya ini tidak dilakukan, dan dalam beberapa hal Gus Dur maasih pakai orang-orang lama, sebagian demi alasan simbolik rekonsialiasi dan sebagian lain karena kebutuhan praktis-pragmatis. Pertanyaannya mengapa Widjojo?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Belajar Sederhana dari Murid dan Pengagum Gus Dur

oleh : DHIHRAM TENRISAU, 0 Komentar
GUS DUR adalah guru bangsa yang sederhana, sama halnya bagaimana dia menjadi guru tidak langsung bagi saya. Ya, saya belum bertemu dengannya, namun saya banyak belajar utamanya kesederhanaannya dari murid-muridnya. Perkenalan pertama kali dengannya adalah saat salah seorang jeffrow (bahasa Belanda, sebutan untuk guru di sekolah saya) di SD saya, acap kali menyebut namanya sebagai contoh muslim yang pantas jadi panutan. Menariknya, jeffrow itu adalah seorang penganut Protestan–sekolah saya adalah sekolah yang didominasi Katolik dan Protestan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Puisi Untuk Gus Dur

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Di bulan Gus Dur tahun ini, redaksi gusdurian.net mempersembahkan sejumlah puisi yang ditulis khusus untuk mendiang Gus Dur. Selamat menyimak.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Islam, dan Demokrasi

Gus Dur dikenal sebagai sosok pejuang demokrasi di Indonesia. Ketika awal tahun 90 an, Gus Dur membentuk Fordem (Forum Demokrasi), untuk melawan rezim Orde Baru yang otoriter, kaku, dan anti kritik. Tentu, demokrasi yang diperjuangkan oleh Gus Dur untuk bangsa ini tidak lepas dari pemahaman dan penyerapan Gus Dur tentang nilai-nilai ajaran Islam. Dalam sebuah wawancara antara Gus Dur dan Kang Sobari, beliau mengatakan bahwa islam adalah agama demokrasi. Hal itu didasari beberapa alasan. Pertama, islam adalah agama hukum, agama hukum berarti ajaran islam berlaku bagi semua orang tanpa pandang bulu, baik yang bersifat pemegang jabatan tertinggi maupun rakyat jelat—semua dikenakan hukum yang sama.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tujuh Langkah Menjadi Muslim Militan

oleh : SUPRIANSAH, 0 Komentar
Segregasi antara kaum muslim seakan-akan meruncing, apalagi ditambah penolakan ustadz mualaf di Bangil, Jawa Timur (Baca: ustadz Mualaf itu dan Kelucuannya). Masing-masing mengklaim dirinya sebagai kaum pihak yang benar dan menyerang lawannya, ditambah bumbu media social, segalanya jadi kian tidak sehat. Pemerintah Indonesia mendeklarasikan perang terhadap radikalisme, namun bagi saya penggunaan kata radikalisme sebagai lawan dari Islam rahmatan lil alamin atau Islam damai kurang tepat. Saya lebih setuju penggunaan kata militant. Kata ini ini lebih tepat untuk menyebut mereka yang oleh Muhammad Said Al-Ashmawy sebagai penghancur imej Islam sebagai agama yang damai.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi