Sabtu, 25 November 2017

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Gus Dur dan Perjuangan Membela Difabel

oleh : AHMAD PALANGKA, 0 Komentar
Menjadi orang difabel atau berkebutuhan khusus bukanlah keinginan setiap orang. Namun ketika Tuhan berkehendak lain, apa mau dikata. Proses menerima kenyataan menjadi manusia berkebutuhan khusus membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bahkan boleh dikata sepanjang hidupnya adalah perjalanan untuk menerima sebuah takdir Tuhan. Belum lagi ditambah dengan kenyataan akses pelayanan bagi kelompok difabel di negeri ini belum sepenuhnya diwujudkan oleh pemerintah.
Kategori : Headline , Opini

Memberikan Hak Penghayat Agama, Berarti Menghayati Agama

oleh : ANAS SHOFFAUL JANNAH , 0 Komentar
Apa yang diputuskan oleh MK adalah sebuah pengajaran bagi kita bersama untuk lebih menghayati ajaran agama masing-masing. Agama adalah seperangkat kepercayaan pada Sang Yang Adidaya dalam pengikraran diri sebagai hamba, termasuk dalam komitmen peribadatan maupun hubungan sosial-kemasyarakatan. Begitulah kiranya kata lain dalam definisi agama merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Spirit keagamaan ini setidaknya bersifat universal dan kemungkinan berlaku pada seluruh satuan ajaran agama apapun.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Peringati Hari Santri, Gusdurian Kuala Lumpur Resmikan Griya Gusdurian

oleh : SITI NURFADILLAH, 0 Komentar
K.H Abdurrahman Wahid Wafat pada tanggal 30 Desember 2009 dalam usia 69 , kehilangan sosok pemimpin seperti beliau menyita kisah dan bekas yang mendalam, terutama untuk keluarga dan orang-orang didekatnya. Bahkan para pendukung dan pengagumnya turut merasa kehilangan. Gus Dur merupakan cucu KH. Hasyin Asyari, salah seorang pendiri Nahdatul Ulama, dan memiliki pesantren yang cukup besar di daerah Jombang Jawa Timur. Sosok kepemimpinan beliau sangatlah patut untuk dicontoh, kecintaannya terhadap Indonesia tidak pernah membuat dirinya membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Baginya siapa yang tertindas dialah yang patut untuk dibela, dibela keadilannya dan dibela dari sisi kemanusiaannya. Maka dari itu Gus Dur mendapat gelar Bapak Tionghoa, itu karena Gusdur getol membela keadilan kaum Tionghoa yang terdiskriminasi budaya dan agamanya.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Perda Intoleransi, Perda Radikalisme, dan nasib RUU Antiterorisme

oleh : HERU HARJO HUTOMO, 0 Komentar
GP ANSOR DKI Jakarta pernah menggulirkan wacana tentang perda intoleransi. Wacana ini tentu saja tak menyembul begitu saja atau mengada-ada. Masih terekam dalam ingatan kita, efek dari pilkada Jakarta yang bahkan sampai menembus sampai ke daerah-daerah. Sentimen-sentimen SARA yang nyaris mengoyak keguyuban sosial—yang anehnya, kontestasi politik setingkat provinsi, mampu membuat gaduh secara nasional. Apakah ini bagian dari permainan timses ataukah komodifikasi media? Atau, bagian dari grand design untuk menjadikan negara-bangsa ini berazaskan agama tertentu?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Rekonsiliasi 1965, Belajar dari Gus Dur

Di sebuah pagi yang cerah, Gus Dur menghadiri undangan untuk meresmikan sebuah Yayasan Panti Jompo. Panti ini terletak di kawasan Kramat V, Jakarta Pusat, di gedung bekas kantor Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), pada 8 Februari 2004. Panti Jompo ini dikhususkan bagi perempuan-perempuan bekas tahanan politik (tapol) dan narapidana politik (napol). Peresmian itu juga dihadiri SK Trimurti —wartawan tiga zaman— yang menjadi saksi sejarah keberpihakan Gus Dur pada perempuan-perempuan jompo yang menjadi korban Peristiwa 1965. Yayasan yang mengelola Panti Jompo itu digerakkan oleh keluarga mantan anggota PKI yang sering dicap negatif. Waluyo Sejati Abadi, nama panti jompo itu, menjadi saksi betapa luasnya bentang kemanusiaan Gus Dur. Di panti itu, perempuan-perempuan eks tapol yang direjam kesakitan pada masa Soeharto, menghabiskan usia dengan secercah cahaya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Terorisme dan Emansipasi Gender

oleh : HERU HARJO HUTOMO, 0 Komentar
Ada yang baru dari gaya dan strategi teror yang dilancarkan IS (Islamic State), khususnya di Indonesia. Semenjak, ditengarai, dipegang oleh Bahrun Naim atau Anggih Tamtomo. Jebolan jurusan IT di salah satu universitas di Solo ini, memiliki peran yang boleh dibilang penting beberapa tahun terakhir ini. Salah satu prestasi barunya adalah merekrut sekaligus memberdayakan perempuan untuk menjadi “pengantin” atau pelaku aksi bom bunuh diri.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Demokrasi, dan Paranoia Hantu PKI

oleh : MUHAMMAD PANDU, 0 Komentar
Selamat datang di bulan September, bulan di mana kita telah memasuki salah satu musim di antara empat musim besar di Indonesia: musim hujan, musim kemarau, musim ribut mengucapkan Selamat Hari Natal, dan musim ribut isu kebangkitan PKI. Musim terakhir inilah yang kita rasakan sekarang. Saban tahun masyarakat (akar rumput) kita selalu mengalami “de javu paranoia” yang sama. Saya mengamati, setiap September datang, selalu saja ada kelompok yang kebakaran jenggot. Kemudian berbagai media menampilkan judul-judul yang naas untuk disimak: pelarangan diskusi, pembubaran seminar, pembubaran acara seni, dan segala jenis pembubaran tolol lainnya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

PERNYATAAN SIKAP JARINGAN GUSDURIAN INDONESIA TERKAIT PENYERBUAN KANTOR YLBHI 17 SEPTEMBER 2017

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Minggu malam 17 September 2017 sekitar pukul 21.00 hingga Senin 18 September dini hari sekelompok orang mendatangi dan menyerbu gedung YLBHI. Massa melontarkan ancaman dan melempari gedung YLBHI dengan batu. Peserta acara #AsikAsikAksi, sebuah kegiatan pentas budaya damai diam terjebak di dalam gedung. Massa menuduh adanya kegiatan PKI di dalam gedung, yang tidak terbukti secara faktual. Penjelasan Kapolda Metro Jaya dan Kapolres Menteng bahwa kegiatan tersebut tidak berhubungan dengan PKI, tidak diindahkan oleh massa yang datang bergelombang. Massa baru berhenti setelah aparat penegak hukum mengambil tindakan pembubaran massa aksi dengan tegas.
Kategori : Sorot

Betapa Bahayanya Jihadis Orak-Arik Campur

Siaran pesan instan menyebar di grup-grup Whatsapp dan media sosial. Pesan dalam poster yang menyebar, puluhan elemen keagamaan dan ormas Islam se-Jawa Tengah akan mengepung Borobudur, dilatarbelakangi kemarahan mereka terhadap kemanusiaan di Rohingya. Yang jadi masalah, menurut persatuan pedagang di area sekitar candi tersebut, yang berjumlah lebih dari 3000 orang itu, "Apa hubungannya genosida di Rohingnya Myanmar dengan luapan kemarahan yang ditujukan ke Borobudur?"
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi