Senin, 19 Agustus 2019

AGENDA GUSDURIAN

Jumat, 15 Februari 2019
oleh : Haris El-Mahdi
Dibaca sebanyak 412 kali
Ada dua agenda besar yang menjadi inti (core) gerakan Gusdurian dalam membumikan 9 nilai utama; Ketauhidan, Kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, Pembebasan, persaudaraan, kesederhanaan, keksatriaan, dan kearifan lokal. Dua agenda itu saya sebut "Basic Agenda" atau agenda dasar dan "advanced Agenda" atau agenda Lanjutan.

Basic agenda adalah hal yang paling mendasar dan esensial dari Gusdurian, yakni membuka ruang dialog yang intens, terbuka, dan sejuk lintas iman. Bahasa gaulnya "Interfaith dialogue". Melalui dialog inilah prasangka buruk antar agama dan keyakinan akan terkikis. Klaim kebenaran yang saling menghakimi tereduksi.

Kata kuncinya, toleransi yang beradab tidak mungkin terwujud tanpa dialog. Prasangka buruk (bad prejudice) tak akan hilang tanpa dialog. Dialog membongkar ruang kebekuan dan membongkar ketidak-saling-pengertian. Pun, ruang dialog bisa berupa diskusi, silaturahmi, dan melakukan aksi-aksi bersama non politik kekuasaan. Hans Kung bilang :"tidak mungkin ada perdamaian sejati tanpa perdamaian antar agama (dan keyakinan)". 9 nilai utama merupakan "lem perekat" untuk mendamaikan relasi antar agama dan keyakinan. 9 nilai utama adalah materialisasi dari etika global Hans Kung.

Nah, ketika relasi lintas iman sudah terajut dengan baik atau minimal terbuka ruang dialog, agenda lanjutannya (advanced agenda) adalah bersama-sama melakukan aksi untuk merespon masalah kebangsaan. Korupsi, kerusakan ekologi, kemiskinan dan pemiskinan, kekerasan terhadap perempuan, ketimpangan sosial, dan persoalan-persoalan kebangsaan lainnya.

Ketika tokoh-tokoh agama dan keyakinan secara serempak memberi justifikasi dan keteladanan, misalnya, bahwa korupsi itu salah, jahat, dan jalan sesat niscaya gaungnya akan dahsyat. Pun, gerakan anti-korupsi menjadi lebih bergema dan berdampak. Demikian pula untuk masalah-masalah kebangsaan yang lain.

Lebih lanjut, untuk mempercepat perubahan laku di masyarakat, basic agenda dan advanced agenda tersebut dilakukan secara bebarengan dan berkelanjutan. Di titik ini, agama dan keyakinan tidak hanya menghasilkan kesalehan personal tetapi juga kesalehan politik dan kesalehan sosial. Agama menjadi alat untuk mendorong perubahan progresif, bukan menjadi sumber konflik.

Visi besarnya, ketika lintas agama dan keyakinan sanggup berdamai dan melakukan aksi kolektif, Indonesia setahap demi setahap bergerak maju menjadi bangsa yang ber-bhineka tunggal ika sekaligus gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Bangsa yang damai dan bergotong-royong membenahi masalah kebangsaan.

Haris EL Mahdi, penulis adalah penggerak GUSDURian Batu.