Sabtu, 15 Desember 2018

BELAJAR SEDERHANA DARI MURID DAN PENGAGUM GUS DUR

Sabtu, 23 Desember 2017
oleh : Dhihram Tenrisau
Dibaca sebanyak 670 kali
GUS DUR adalah guru bangsa yang sederhana, sama halnya bagaimana dia menjadi guru tidak langsung bagi saya. Ya, saya belum bertemu dengannya, namun saya banyak belajar utamanya kesederhanaannya dari murid-muridnya. Perkenalan pertama kali dengannya adalah saat salah seorang jeffrow (bahasa Belanda, sebutan untuk guru di sekolah saya) di SD saya, acap kali menyebut namanya sebagai contoh muslim yang pantas jadi panutan. Menariknya, jeffrow itu adalah seorang penganut Protestan–sekolah saya adalah sekolah yang didominasi Katolik dan Protestan.
 
Jeffrow itu terkenal dengan sosok yang sederhana, sering menunggu pete-pete (angkot dalam istilah Makassar) atau naik becak sehabis pulang sekolah, sementara murid-muridnya dijemput oleh supir bak pangeran dan putri raja. Nyatanya jeffrow itulah yang mengajarkan saya perkalian dan bahasa Inggris.
 
Setelah itu perjumpaan dengan Gus Dur sempat berhenti. Hingga tiba saatnya di bangku kuliah yang penuh pergolakan pemikiran. Di lingkungan kampus saya saat itu rasanya tidak “keren” ketika tidak menyantap pelbagai buku filsafat dan pemikiran.
 
Saat saya membeli buku, entah mengapa mata saya tertuju pada sebuah buku Tuhan Tidak Perlu Dibela. Langsung saja saya ambil, padahal di lingkungan kampus UNHAS, nama Gus Dur kurang populer dalam khazanah pemikiran dan ruang diskusi.
 
Isi bukunya lebih ringan dan sederhana dari bacaan-bacaan filsafat yang rekanan saya baca, namun bagi saya isinya cukup merangkum garis besar pokok-pokok filsafat, ilmu sosial, dan keagamaan—dalam sudut pandang yang berbeda tentunya.
 
Kesederhanaan yang lainnya yang saya peroleh adalah pada sosok Ishak Ngeljaratan, seorang Katolik dan intelektual di Makassar. Pak Ishak sering dipanggil menjadi pemateri, karena kemudahan mengaksesnya dan kepiawaiannya sebagai budayawan.
 
Pak Ishak sering menyebut nama Gus Dur sebagai salah seorang tokoh Indonesia terbaik, beberapa kali pula dia menguraikan pemikiran-pemikirannya. Pak Ishak juga adalah orang yang sederhana, tidak hanya mampu menguraikan buah kontemplasi yang berat, dia juga menjalani hidup layaknya zuhud. Enggan meminta amplop saat dipanggil membawa materi, bahkan tidak pernah meminta antar-jemput menggunakan mobil panitia.
 
Setelah itu, saya mendapatkan murid-murid Gus Dur yang tergabung dalam Gusdurian. Saya mengenal komunitas ini masuk di Makassar sekitar tahun 2012, menariknya komunitas ini cukup berbeda dari komunitas kajian lainnya yang sering saya ikuti. Salah satunya adalah membahas John Lennon di hari HAM Sedunia.
 
Di sini diisi oleh para orang-orang yang bersahaja, seperti Kyai Saleh ak.a Pepi Al-Bayqunie, Suaib Amin Prawono, dan Syamsul Rijal Ad’han. Orang-orang didalamnya sejauh mata saya memandang adalah orang-orang yang betul-betul mengedepankan ajaran Gus Durkhususnya dalam isu-isu toleransi dan advokasi terhadap minoritas.
 
Mereka sangat bersahaja dan itu terimplementasi. Setahu saya para petinggi Gusdurian–terlebih mereka adalah kader NU– ini adalah para aktivis senior yang jikalau mereka hendak carper ke para anggota dewan, tentu  jabatan dapat mereka raih.
 
Di komunitas ini saya juga sempat bertemu dengan anak Gus Dur, Alyssa Wahid. Jangan tanyakan kesederhanaannya. Alyssa Wahid adalah orang yang sangat apresiatif dan humble bahkan terhadap orang baru dikenalnya sekalipun.
 
Seorang anak mantan kepala negara biasanya akan memilih hidup di zona kenyamanan sisa jejaring politik bapaknya atau bermain proyek. Namun Alyssa lebih memilih jalan lain. Jalan aktivisme, jalan pedang yang tanpa gemerlap lampu sorot kamera dan materi.
 
Dialah orang yang dibalik Gusdurian yang bagi saya menjadi salah satu alternatif gerakan progresif di luar organisasi formal di Sulawesi Selatan.
 
 
Dari kesemua perjumpaan itu saya berpikir bahwa jika saja para murid dan pengagumnya dapat berpikir bahwa jika saja murid-muridnya sesederahana ini, apalagi gurunya (baca: Gus Dur). Dan dari situlah saya belajar (tidak langsung) darinya, dari para orang-orang sederhana yang mendedikasikan hidupnya untuk orang banyak. Kenyataannya mereka semua bahagia dengan pilihan itu. Bahagia itu memang betul sederhana.
 
Itu dilukiskan di pusaranya di Jombang. Kurang lebih setahun lalu saya sempat mampir ke makamnya bersama Aan  Anshori, aktivis gender dan toleransi. Di sana saya liat makamnya sangatlah bersahaja, tanpa pigura emas atau berada di ketinggian. Padahal sebagai keturunan Jaka Tingkir, tentu dia layak tempat peristirahatan bak mahligai nan jumawa.
 
Dia  sana saya berpikir, Benar, Gus. Hidup ini memang tidak perlu repot, Gus.