Kamis, 27 Juni 2019

BENARKAH ISLAM ANTI FEMINISME?

Selasa, 09 April 2019
oleh : Marzuki Wahid
Dibaca sebanyak 824 kali
Di Media Sosial, lagi ramai muncul gerakan Indonesia tanpa feminis. Seolah-olah feminis adalah masalah, sehingga Indonesia harus bersih dari feminis. Penolak feminis ini menggunakan agama sebagai argumen. Muncul pertanyaan, benarkah Islam anti feminisme, sehingga harus dibersihkan?
Anti Kebaruan dan Pembaruan
Saya mencermati, kelompok ini adalah kelompok yang selalu melawan hal-hal yang baru. Hal-hal baru dianggap bid'ah, karena itu harus ditolak. Argumentasi mereka didasarkan atas nama agama. Demokrasi  disesatkan. Pluralisme diharamkan. HAM   dikafirkan. Sekarang, feminisme ditolak, dan 'diusir' dari Indonesia.  Hingga RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual pun tidak disetujui, karena dianggap melegalkan perzinahan dan LGBT. Padahal tidak ada sama sekali muatan ke arah itu. Intinya, segala yang baru ditentang dan ditolak. 
 
Kelompok ini rupanya tidak nyaman dan tidak tenteram dengan munculnya hal-hal yang baru. Pemahaman agama yang dikembangkan tidak terkoneksi dengan perkembangan zaman yang terus berubah. Akhirnya menjadi kelompok resisten. 
 
Anehnya, kelompok ini malah ingin menghidupkan kembali peradaban masa lalu yang telah usang. Khilafah dipuja-puja dan diobral untuk menggantikan sistem negara Pancasila. Poligami dikampanyekan sedemikian rupa seperti partai politik. Cadar dibanggakan dan disucikan. Perkawinan anak diyakini kesahannya. Pengurungan perempuan (domestifikasi) didukung sebagai bagian dari ajaran Islam. 
 
Saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya mau mereka itu apa toh? Kenapa tidak sekalian saja mobil mewah yang dimilikinya diganti dengan onta-onta dan keledai-keledai biar tampak seperti zaman Nabi SAW? Kenapa laptop dan tablet yang singgah di tasnya tidak diganti saja dengan pelapah korma untuk mengetik agar tampak tidak kebarat-baratan? Kenapa dollar dan rupiah yang menumpuk dalam tabungan dan deposito tidak diganti saja dengan dinar dan dirham supaya tampak lebih Islami? 
 
Ahh... Kau ini ada-ada saja. Aku jadi curiga, apa ini yang kau kehendaki jika kau berkuasa pasca-Pilpres nanti? Hmm....
 
Sahabatku, janganlah begitu cara memahami agama. Agama yang kita pahami haruslah tetap shalihun li kulli zamanin wa makanin (relevan untuk setiap ruang dan waktu). Agama Islam meski turun di Jazirah Arabia pada abad ke-7, tapi berlaku sepanjang waktu dalam ruang kebudayaan manapun. Jangan kau posisikan agama seperti konservasi museum, yang hanya cocok untuk barang-barang kuno. Lalu, kau tolak hal-hal baru karena tidak sesuai dengan karakter museum itu. 
 
Nabi Muhammad, Sang Feminis
 
Tak seorang pun mengingkari bahwa Nabi Muhammad SAW sepanjang hidupnya memperjuangkan harkat, martabat, dan hak-hak perempuan. Pada saat masyarakat malu memiliki anak perempuan, Nabi Muhammad malah membanggakannya. Sebelumnya diwariskan seperti properti, oleh Islam perempuan malah memperoleh warisan. Dari dilecehkan dan dihina-dinakan, Islam malah sangat memuliakan perempuan. Surga berada di telapak kakinya. Dari praktik poligami yang tak terbatas, Islam menyatakan bahwa untuk melakukan poligami wajib berlaku adil. Lebih dari itu, Islam menegaskan bahwa monogami adalah adna an la ta’ulu (lebih dekat untuk tidak berbuat zalim kepada perempuan dan anak-anak, yakni monogami lebih dekat kepada keadilan. Islam menganut dan mensunahkan  monogami. 
 
Pada haji wada’ (632 M), Nabi Muhammad SAW berkhutbah bahwa inna li nisa’ikum ‘alaikum haqqan wa lakum ‘alaihinna haqqan (sesungguhnya bagi para perempuan memiliki hak atas lak-laki, dan laki-laki pun memiliki hak atas perempuan). Masing-masing memiliki hak atas yang lain. Ada prinsip kesalingan (mubadalah) di situ. Nabi SAW juga berpesan, ala istawshu bi an-nisa’i khairan (ingatlah, berwasiatlah kalian terhadap perempuan dengan kebaikan). Nabi SAW juga dalam kesempatan lain mengatakan bahwa an-nisa’u syaqa’iqu ar-rijal (perempuan itu adalah saudara kandung laki-laki). 
 
Tentu masih banyak lagi upaya-upaya Nabi SAW dalam mengangkat harkat, martabat, dan hak-hak perempuan agar memperoleh keadilan dan kesetaraan dalam kehidupan umat manusia. Intinya, Islam menjunjung tinggi kemanusiaan perempuan setara dengan laki-laki. Tidak ada diskriminasi sama sekali. Nah, apa yang dilakukan Nabi SAW pada 15 abad yang lalu adalah ikhtiar-ikhtiar yang selama ini dilakukan oleh para feminis abad ini. Dengan berbagai strategi, para feminis memperjuangkannya. 
 
Dengan demikian, menggunakan labeling sekarang, menurut saya,  Nabi Muhammad SAW adalah seorang feminis sejati, lahir dan batin. Bukan sekadar pada gerakan mengubah posisi perempuan, tetapi juga membangun dasar-dasar epistemologi dan landasan teologi yang kokoh untuk kesetaraan dan keadilan gender.  
 
Phobia Feminisme
 
Jika Anda tidak setuju dengan istilah feminisme, tidak ada masalah. Anda bisa menggantinya dengan nama yang lain. Anda boleh menyebut harokah nisa’iyyah (gerakan perempuan) atau gerakan wong wedok, atau apa saja. Akan tetapi, Anda tidak boleh mengingkari bahwa Islam sejak kelahirannya memperjuangkan harkat, martabat, dan hak-hak perempuan. Inilah misi Islam yang utama, yakni memanusiakan kemanusiaan perempuan. Dan ini pula esensi gerakan feminisme. 
 
Tentu saja gerakan feminisme Islam berbeda dengan feminisme Barat. Jangankan dengan Islam, antar feminisme di Barat pun berbeda-beda, tergantung ideologi yang melatari gerakan tersebut. Tidak usah antipati dengan perbedaan. Perbedaan dalam gerakan adalah hal yang biasa terjadi. Ini sunnatullah yang pasti ada dalam setiap pilihan.
 
Jangan karena Anda pro-poligami, pro-perkawinan anak, setuju dengan kekerasan seksual, lalu Anda menuduh feminisme tidak Islami. Poligami dan perkawinan anak, apalagi kekerasan seksual, jelas bukan ajaran Islam. Ini adalah budaya yang berlaku pada saat itu dan direspons secara kritis oleh ajaran Islam. Ajaran Islam sendiri mengajarkan keadilan (al-‘adalah), kesetaraan (al-musawah), kemaslahatan (al-mashlahah), kasih sayang (ar-rahmah), dan kebijaksanaan (al-hikmah). Poligami, perkawinan anak, dan kekerasan seksual, semuanya bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam tersebut.
 
Dengan demikian, jelaslah ada titik singgung dan titik temu antara feminisme dan Islam. Tetapi juga harus diakui ada titik bedanya. Islam tidak anti feminisme, dan feminisme tidak berarti anti-Islam. 
 
Pesan saya, janganlah kebencianmu terhadap suatu kelompok membuat dirimu berlaku tidak adil (Wa la yajrimannaku syana’anu qawmin ‘ala an la ta’dilu). Berlaku adillah sejak dalam pikiran, perkataan, hingga perbuatan, karena keadilan itu lebih dekat kepada taqwa (I’dilu huwa aqrabu littaqwa). Semulia-mulia manusia di hadapan Allah adalah orang paling taqwa di antara kamu, bukan karena jenis kelamin atau pilihan kelompok tertentu (inna akramakum 'inda Allahi atqakum).[]      
 
Yogya, 5 April 2019
 
Marzuki Wahid, penulis adalah pengurus Lakpesdam PBNU dan penasehat GUSDURian Cirebon.