Rabu, 21 November 2018

DI KAMPUS UTM, MAHFUD MD PIMPIN ALFATIHAH UNTUK GUS DUR

Selasa, 06 November 2018
oleh : Imanuel Nicolas Manafe (Ed)
Dibaca sebanyak 172 kali
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengisi seminar di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan pada Kamis (25/10/2018). Saat memulai pidatonya, Mahfud MD menceritakan kenangannya bersama Presiden ke-4 Republik Indonesia, Almarhum Abdurrachman Wahid atau sering disapa Gus Dur saat mengubah status UTM menjadi Universitas Negeri pada 2001 silam. Saat itu Gus Dur adalah Presiden, sedangkan Mahfud adalah Menteri Pertahanan.

Dalam suatu perbincangan, Mahfud mendengar dari Mendiknas Yahya Muhaimin bahwa Pemerintah akan membentuk empat universitas negeri baru.

Ada beberapa yang disebut seperti Aceh, Banten, Ternate, dan lain-lain. Mendengar itu Mahfud meminta kepada Mendiknas agar Madura diberi juga universitas negeri.

Semula Yahya keberatan karena di Jawa Timur sdh banyak universitas negeri dan Madura sudah dicover oleh Surabaya.

Mahfud kemudian meminta kepada Gus Dur agar satu jatah universitas negeri diberikan kepada Madura.

Setelah Gus Dur dan Yahya Muhaimin setuju, disepakatilah bahwa status negeri itu diberikan kepada Universitas Bangkalan yang pada waktu itu sudah ada.

Gus Dur pun setuju dan nama Universitas Bangkalan diganti menjadi Universitas Trunojoyo Madura agar bisa mewakili seluruh Madura.

Masalah kemudian timbul karena Menteri Keuangan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara tidak setuju. Alasannya karena Universitas yang ada di Bangkalan itu tidak memenuhi syarat teknis.

Pada waktu itu Universitas itu tidak punya tiga Fakultas Eksakta dan dua Fakultas Ilmu Sosial. Padahal syaratnya, harus punya tiga Fakultas Eksakta dan dua Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora.

Alasan lain, menurut Dirjen Anggaran Departemen Keuangan anggaran negara tidak memungkinkan. Gus Dur pun meminta ketiga kementerian satu suara menegerikan Universitas Bangkalan menjadi Universitas Trunojoyo Madura.

“Kalau Madura dituntut memenuhi syarat teknis lebih dulu ya takkan pernah bisa. Negerikan dulu, lalu Pemerintah yang memenuhi kekurangan syarat-syaratnya”, kata Gus Dur pada waktu itu.

Demikianlah, pada tahun 2001 itu diputuskan berdirinya empat universitas negeri baru, yaitu, Universitas Malikul Saleh (Aceh Utara), Universitas Khairun (Ternate), Universitas Tirtayasa (Banten), dan Universitas Trunojoyo Madura atau UTM (Bangkalan).

Uniknya, Kepres Universitas Trunojoyo itu dibuat pada hari Minggu, hari libur, di mana Gus Dur memanggil khusus Wasekab Prof. Erman Rajagukguk untuk membuat Kepres dan nenandatangani di hari Minggu itu juga.

Yang mengharukan, kata Mahfud, setelah itu Gus Dur mengutus tiga menterinya untuk meresmikan UTM di Bangkalan.

Mendikbud Yahya Muhaimin diutus untuk memberi sambutan dan meresmikan atas nama Pemerintah, Mensesneg Maftuh Basuni ditugasi untuk membacakan Kepres, Menhan Mahfud MD disuruh menyampaikan orasi tentang

“Dasar Filosofi Pendidikan Tinggi di Indonesia”.

Disepakatilah peresmian itu dilakukan pada Senin 23 Juli 2001 dan ketiga menteri itu sudah berangkat ke Surabaya pada tanggal 22 Juli sore. Tetapi prahara politik terjadi.

Pada tanggal 22 Juli 2001 sekitar jam 23.00 Presiden Gus Dur mengeluarkan Maklumat (sering disebut Dekrit) yang isinya membubarkan MPR/DPR dan tanggal 23 Juli 2001 dinihari Mahkamah Agung menegeluarkan fatwa bahwa Maklumat Presiden Gus Dur inkonstitusional.

MPR mengundang Sidang Istimewa dan dengan pesawat terpagi Mahfud MD dan Yahya Muhaimin terpaksa kembali ke Jakarta.

Acara di UTM terus berlangsung, UTM diresmikan dgn upacara sederhana dengan pembacaan Kepres oleh Maftuh Basuni yang mewakili Pemerintah.

“Hari itu Presiden Gus Dur lengser dan hari itu juga UTM resmi menjadi universitas negeri sebagai hadiah yang berharga dari Gus Dur untuk masyarakat Madura. Mari kita membaca surat Alfatihah untuk Gus Dur”, kata Mahfud yang kemudian diikuti pembacaan surat Fatihah dengan khusyuk oleh ribuan hadirin.

Mahfud MD hadir ke UTM Bangkalan untuk menjadi narsum seminar tentang “Pancaaila di Era Milenial dalam Konteks Negara Hukum dan Aspirasi Keagamaan” dalam rangka dies natalis UTM ke 37 dihitung sejak berdirinya Universitas Bangkalan.

Sumber: Tribunnwes.com