Sabtu, 15 Desember 2018

GUS DUR, ISLAM, DAN DEMOKRASI

Minggu, 17 Desember 2017
Dibaca sebanyak 1543 kali
Gus Dur dikenal sebagai sosok pejuang demokrasi di Indonesia. Ketika awal tahun 90 an, Gus Dur membentuk Fordem (Forum Demokrasi), untuk melawan rezim Orde Baru yang otoriter, kaku, dan anti kritik. Tentu, demokrasi yang diperjuangkan oleh Gus Dur untuk bangsa ini tidak lepas dari pemahaman dan penyerapan Gus Dur tentang nilai-nilai ajaran Islam. Dalam sebuah wawancara antara Gus Dur dan Kang Sobari, beliau mengatakan bahwa islam adalah agama demokrasi. Hal itu didasari beberapa alasan. Pertama, islam adalah agama hukum, agama hukum berarti ajaran islam berlaku bagi semua orang tanpa pandang bulu, baik yang bersifat pemegang jabatan tertinggi maupun rakyat jelat—semua dikenakan hukum yang sama.

Karena itu, penting sekali demokrasi bagi islam. Kalau tidak, maka hukum dalam islam tidak akan jalan dalam kehidupan. 

Kedua, karena islam memiliki asas permusyawaratan. “Amruhum syuro baynahum”, perkara-perkara mereka dibicarakan diantara mereka. Tradisi membahas, tradisi bermusyawarah (syuro), dan tradisi bersama-sama mengajukan pemikiran secara bebas dan terbuka, yang pada akhirnya disudahi dengan kesepakatan, itu juga ajaran Islam. 

 

Ketiga, yang paling penting menurut Gus Dur adalah, islam selalu berpandangan memperbaiki kehidupan, karena dunia ini adalah persiapan untuk hidup di akherat. “wal aakhirotu khoirun wa abqoo”. Akherat itu lebih baik dan lebih langgeng.

Karena itu, kehidupan manusia itu tarafnya tidak boleh tetap, harus meningkat terus. Untuk bisa menjadi kehidupan yang baik di akherat. Lebih baik dan lebih langgeng. Jadi standar baik itu ada di akherat, kehidupan di dunia harus diarahkan kepada yang baik. Ini sebenarnya juga adalah prinsip dari demokrasi.

 

Karena demokrasi pada dasarnya adalah upaya untuk bersama-sama memperbaiki kehidupan. Karena itulah islam dikatakan sebagai dinul islam. Agama perbaikan, agama inovasi. Bagi Gus Dur, Islam itu ya demokrasi, dan demokrasi tidak bertentangan dengan nilai dan ajaran Islam.

 

Apakah kalian masih menentang sistem demokrasi?