Minggu, 26 Mei 2019

GUS DUR: KADANG-KADANG KITA TIDAK TAHU PERSOALAN KITA ITU APA. KARENA ITU ASAL BUNYI SAJA.

Senin, 11 Maret 2019
oleh : KH. Abdurrahman Wahid
Dibaca sebanyak 789 kali
Saya merasa berbahagia berada di sini, karena berada di tengah-tengah orang yang benar-benar memahami keimanan dalam arti, apa pun profesi atau jabatan yang dipegang bapak-bapak dan ibu-ibu adalah orang-orang yang benar-benar menunjukkan pengertian mendalam mengenai masalah-masalah bersama.

Persoalan bersama tidak lebih dari apa yang harus kita lakukan, yaitu mencarikan pemecahan-pemecahan. Jadi, dengan kata lain, setelah dialog itu haruslah ada hal konkret yang dikerjakan. Kalau dialog hanya sekedar dialog saja, itu hanya refleksi yang tidak menuju kepada kebaikan apa pun. Walaupun refleksi itu perlu. Tapi saya rasa  dalam forum ini yang dimaksudkan tentu bukan sekadar itu. Melainkan sebuah upaya merumuskan apa yang menjadi tugas kita untuk dilakukan dan bagaimana melakukannya.

Kalau ini yang menjadi pegangan kita atau pola kita, maka berarti kita harus mengenal masalah-masalah masyarakat. Kemudian mengenal agama-agama yang ada di masyarakat itu supaya dapat menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Ini menjadi sangat penting. Kita terkadang bingung mengenai masalah yang sebenarnya. Sebagai contoh: komentar seorang pakar ilmu politik dari LIPI, kalau tidak salah di Harian Kompas. Beliau mengatakan, “hendaknya presiden jangan diberi hak prerogatif.” Saya jadi bingung. Kalau presiden tidak punya hak prerogatif, lalu untuk membentuk kabinet itu dasarnya apa? Karena cabinet dibentuk atas dasar hak prerogatif presiden. Kalau tidak demikian, nanti setiap orang boleh membentuk kebinetnya sendiri-sendiri. Ini sangat berbahaya untuk negeri kita. Bayangkan, kalau Pak Doktor Profesor saja seperti itu, bagaimana orang awam?

Jadi itu yang saya katakan tadi, bahwa kadang-kadang kita tidak tahu persoalan kita itu apa. Karena itu asal bunyi saja. Sebagai akibatnya, ini bukan pendidikan yang baik bagi rakyat kita, melainkan—saya bilang—sebagai penyesatan. Yang begini sehari-hari kita baca di media massa kita. Semua orang yang setengah matang, lewat euforia masa kini, berbicara asal bicara saja. Kalau tidak bicara, katanya tidak gagah. Dalam suasana seperti itulah Anda-Anda semua ini berdiskusi. Tapi, arahnya untuk mencapai hal-hal apa yang harus diketahui sebagai problem bersama-bersama. Ini membuat saya berbahagia di sini. Saya yakin bahwa dari sikap yang dijalankan itu. Kita akan mampu meneropong masalah-masalah masyarakat kita. Berdasarkan itu, lalu dilakukan pemecahan-pemecahan masalah.

KH. Abdurrahman Wahid, dalam buku “90 menit bersama Gus Dur: 2016”. Transkrip dialog bersama Gus Dur yang diikuti sekitar 300 tokoh berbagai kelompok lintas SARA yang ada di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Nantikan tulisan-tulisan selanjutnya tentang nilai dan pemikiran Gus Dur. (au).