Sabtu, 16 November 2019

GUS DUR SEBAGAI KATA KERJA, KEMANUSIAAN, DAN AHMADIYYAH

Rabu, 30 Oktober 2019
oleh : A. Ade Pradiansyah
Dibaca sebanyak 74 kali
Gus Dur sebagai kata kerja adalah judul tulisan Muhammad Al-Fayyadl. Setelah Gus Dur kembali, banyak gagasan dan nilai yang diwariskan beliau untuk bangsa ini. Melihat Gus Dur sebagai sosok hanya bisa kita nikmati dalam obrolan kita di warung kopi dengan penuh canda tawa. Dalam forum resmi pun kita hanya mengenangnya dalam acara haul rutinan setiap tahunnya. Sehingga, sangat disayangkan apabila nilai-nilai yang telah beliau teladankan hilang ditelan bumi. Untuk itulah, perlu kiranya membaca Gus Dur sebagai kata kerja. Kitalah yang melanjutkan apa yang telah diperjungkan oleh beliau dimasa hidupnya. Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan. Begitulah kira-kira kalimat yang sering saya dengar.

Kemanusiaan adalah diantara nilai yang selalu diperjuangkan oleh Gus Dur. Beliau membela kemanusiaan dengan tanpa syarat. Begitu serius dan semangatnya Gus Dur membela kemanusiaan, sampai-sampai beliau berpesan agar batu nisannya dituliskan “di sini disemayamkan pembela kemanusiaan”. Ternyata kecintaan beliau kepada kemanusiaan tidak ingin hanya pada masa hidupnya saja.

Untuk itu, Tony Doludea (2018) dalam tulisannya The Politics of Friendship Gus Dur dan Derrida menyebutkan, bahwa Gus Dur akan menentang siapa saja yang merendahkan martabat manusia, apalagi menyakiti, mengurangi dan menghalangi hak-hak mereka. Ia akan membela mereka yang martabat kemanusiaannya direndahkan, mereka yang hak-haknya dikurangi, dipasung, disakiti dan ditelantarkan.

Gus Dur tidak hanya menyebutkan bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Beliau membuktikan apa yang telah disampaikan dalam bentuk tindakan. Sebagai contoh adalah kehadiran Gus Dur ditengah-tengah serta menemani saudara Ahmadiyyah ketika mereka diusir dan masjid-masjid mereka dirobohkan. Gus Dur melihat bahwa hak dan kemanusiaan warga Ahmadiyah sedang dilucuti. Sehingga, tanpa pikir panjang, Gus Dur berpihak kepada jemaat Ahmadiyyah.

Selama dua hari (19,20/5/2018), jamaah Ahmadiyyah Lombok, hak dan kemanusiaanya tercabik kembali. Keharmonisan bangsa secara umum dan kedamaian Ahmadiyyah secara khusus digoyang kembali. Melakukan penyerangan ini dengan dalih agama jelas salah besar. Perbedaan sebagai takdir Tuhan adalah keniscayaan. Membangun persatuan dengan masih adanya tindakan represif kepada yang lian adalah musibah besar.

Apabila ada perbedaan dari yang dilakukan oleh saudara Ahmadiyyah, itupun kalau benar-benar ada, tidak selayaknya yang kita lihat adalah perbedaan itu. Dalam artian, membuat perbedaan itu sebagai alasan untuk menyerang orang lain hingga memasung hak dan kemanusiaanya adalah salah besar. Dalam konteks ini, menarik apa yang disampaikan oleh Said Ramdhan Al-Buthi. Menurutnya, tidak perlu mencari sekat perbedaan yang memecah belah masyarakat. Seharusnya yang dicari adalah titik temu yang mempersatukan.

Dalam Al-Suluk Al-Ijtima'i fi Al-Islam, Hasan Ayyub menguatkan apa yang telah disampaikan oleh Al-Buthi diatas. Menurutnya, andaikan setiap perbedaan harus berakhir dengan perpecahan, niscaya tidak ada jalinan kasih, persaudaraan dan kekerabatan diantara saudara sekandung.

Dengan ini, kemanusiaan adalah semangat upaya membangun tatanan sosial tanpa terjadinya penindasan, perampasan hak dan kemanusiaan. Tindakan represif yang terjadi adalah akibat kurangnya komunikasi, terlalu cepat mempercayai berita dan tidak mau untuk mencari kebenarannya. Seandainya ada perbedaan sekalipun, semestinya perlu kebijakan dalam menyikapinya. Bukan dengan tindakan yang berlawanan dengan kemanusiaan apalagi sampai merampas haknya.

Sebagai catatan penting, pemerintah perlu untuk menyudahi masalah ini. Dalam kita berbangsa dan bernegara tidak ada yang namanya minoritas dan mayoritas. Semua makhluk hidup memiliki hak dan kemanusiaan yang sama. Tidak ada yang berhak untuk merampas kedua nilai esensial tersebut. Bukankah Tuhan juga telah memanusiakan manusia?