Kamis, 27 Juni 2019

GUS DUR DAN PEMILU 2019

Jumat, 12 April 2019
oleh : Risma Ilvi Solichati
Dibaca sebanyak 293 kali
Mencari perbedaan di antara dua pilihan presiden dan wakil presiden adalah sebuah tantangan untuk bangsa kita saat ini. Bermodalkan janji dan harapan yang dilontarkan kedua paslon capres dan cawapres, masyarakat menaruh harapan besar hal itu terwujud. Begitu juga yang digagas Gus Dur dalam tulisannya yang berjudul “Membaca Perasaan Calon Pemilih”.

Ia mengatakan “bahwa para calon pemilih justru dengan hati-hati dan seksama mencari perbedaan di antara para peserta pemilu dan meneliti tawaran demi tawaran yang disampaikan untuk pencoblosan dalam kampanye pemilu”.

Masyarakat umum di desa, tidak ketinggalan untuk melirik tawaran yang diajukan para paslon capres dan cawapres pemilu 2019. Melalui televisi nasional mereka memperbarui perkembangan yang dilakukan kedua kubu tersebut. Selain itu media sosial yang diunduh melalui gadget juga tidak ketinggalan mereka gunakan. Dari situlah mereka akan membincangkan di warung terutama ibu-ibu tentang pemilu 2019.

Dari mereka mengatakan kebaikan paslon no 1 dan no 2 sampai menjelekkan kedua nomor tersebut. Di situlah mereka akan bebas mengutarakan dan menilai pasangan mana yang layak menjadi pemimpin bangsa ini. Akan tetapi, di sisi lain pengaruh negatif di desa dengan adanya pemilu 2019 ini salah satunya adalah terbentuknya kubu di antara mereka. Mereka yang fanatik dengan salah satu paslon akan merasa tidak terbiasa dengan pemilih yang memilih paslon lain. Perbedaan memilih paslon meregangkan kerukanan yang ada di desa untuk saat ini.

Hal di atas menjadi salah satu bentuk dampak kampanye pemilu di tahun 2019. Indonesia yang terkenal dengan ras, suku, dan agama yang berbeda dan damai harus tetap dijaga. Bukan hanya karena kampanye pemilu tahun 2019 semua itu pudar. Seperti yang dikatakan Prof Dr I Gede Pantja Astawa (ahli hukum tata Negara Universitas Padjajaran Bandung), bahwasannya suku, agama, ras dan antar golongan memang merupakan komoditas politik yang ampuh, tetapi berpotensi untuk memecah belah masyarakat.

Sebagai bangsa Indonesia yang telah merdeka, Indonesia sudah terlalu kebal untuk melawan orang-orang yang merusak tatanan Indonesia yang damai. Oleh karena itu, mari masyarakat Indonesia terutama calon pemilih pemilu capres dan cawapres tahun 2019, jalani proses kampanye sampai hari H pemilu dengan damai dan saling menghargai. Perbedaan itu wajar dan pasti adanya, apalagi di negeri Indonesia ini. Hargai perbedaan pilihan calon presiden dan wakil presiden. Damai dalam perbedaan itu asyik dan menambah wawasan.

Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pilihan paslon capres dan cawapres bisa menjadi obrolan santai dan diskusi yang menarik untuk tahun ini. Indonesia itu beragam, tunjukkanlah itu ada di dalam diri masyarakat Indonesia.

Risma Ilvi Solichati, penulis adalah alumni Sekolah Menulis Keberagaman Jogja.