Sabtu, 24 Agustus 2019

GUS DUR DAN PERIHAL MELAWAN MELALUI LELUCON

Senin, 20 Mei 2019
oleh : M. Fakhru Riza
Dibaca sebanyak 645 kali
Di masa rezim pemerintahan yang otoriter, segala urusan menjadi sangat sulit. Kebebasan berbicara dilarang dan kebebasan pers diberangus. Masyarakat sipil tak boleh memberikan kritik kepada pemerintah. Pokoknya, apapun yang diinginkan oleh penguasa harus diterima dengan pasrah dan legowo oleh masyarakatnya.

Indonesia pernah mengalami masa-masa seperti itu. Pada masa kekuasaan Presiden Soeharto, masyarakat sipil tidak diperkenankan untuk berbeda pendapat dengan pemerintah. Bahkan banyak orang yang memaksakan kritik secara lantang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah kemudian akhirnya ditangkap dan dipenjara oleh penguasa.

Dalam kondisi yang serba sulit tersebutlah perlu adanya medium yang lebih lunak dan dinamis untuk menyampaikan sebuah kritik supaya tidak mudah dianggap subversif oleh penguasa. Nah, untuk urusan kritik yang lunak dan dinamis itulah, seorang KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah jagoannya.

Pada masa pertengahan hingga akhir Orde Baru adalah zaman dimana seorang Gus Dur mulai berkembang menjadi seorang kiai muda sekaligus intelektual publik yang menulis di banyak media massa nasional dan sekaligus diundang memberi ceramah di berbagai penjuru wilayah di tanah air.

Di saat Gus Dur tumbuh dan berkembang menjadi kiai dan intelektual publik itulah, Gus Dur sering terbentur dengan kekuasaan pemerintahan Presiden Suharto yang semakin anti kritik dan banyak menangkap lawan-lawan politiknya tanpa melalui prosedur hukum yang konstitusional.

Dalam kondisi yang demikian itulah, seorang Gus Dur yang cerdas dan sekaligus cerdik, memiliki metode tersendiri dalam mengkritik rezim Orde Baru tanpa secara langsung membuat penguasa gerah. Salah satu metode yang dipilih Gus Dur adalah melawan melalui lelucon atau humor.

Gus Dur dalam ceramah-ceramahnya di berbagai penjuru daerah seringkali menyisipkan humor dalam materi-materi ceramahnya supaya para jama’ahnya tidak merasa bosan. Dan tak jarang, salah satu humor yang beliau susupkan dalam ceramahnya adalah berisi kritikan terhadap pemerintah Orde Baru.

Dalam suatu kolomnya di Tempo yang terbit pada 19 Desember 1981, Gus Dur pernah menuliskan ulasan perihal melawan melalui lelucon. Dalam kolom tersebut Gus Dur menceritakan sebuah lelucon yang masyhur dalam masyarakat Indonesia tentang tak adanya kebebasan berbicara dan pers.

Gus Dur mengisahkan bahwa saat itu (zaman Orde Baru) banyak orang Indonesia yang berobat dan memeriksa gigi harus pergi ke luar negeri, yakni Singapura. Kemudian di benak Gus Dur timbul pertanyaan. Kenapa harus berobat ke tempat yang jauh sekali, harus ke luar negeri? Apakah di Indonesia kekurangan dokter atau kualitas dokternya jelek? Rupanya bukan itu sebabnya. Penyebabnya adalah di Indonesia membuka mulut saja tidak dibolehkan oleh pemerintah.

Pada saat itu, kritik yang seperti itu sangat mengena sekali. Bahkan inti dari kritiknya tersampaikan. Jika bukan orang yang sangat cerdik dan jenius, tentu sangat sulit sekali membuat narasi dan konten kritik politik melalui medium permasalahan pengobatan gigi dan kemudian dikemas menjadi sebuah kritik yang sangat jenaka.

Metode kritik politik melalui lelucon tersebut sangat sulit dibuat orang yang kurang memiliki daya reflektif dan kulaitas humor yang rendah. Kualitas sosok Gus Dur menampakkan kapasitas yang mempuni, memiliki daya reflektif yang tinggi dan sekaligus kualitas humor yang sangat bagus.

Bahkan, karena zaman itu Gus Dur adalah salah satu dari sedikit tokoh publik yang memiliki kemampuan mengkritik melalui humor dan sekaligus sering mempraktikkan metodenya tersebut melalui tulisan hingga ceramah di berbagai penjuru pedesaan di Indonesia. Gus Dur diminta untuk memberikan kata pengantar sebuah buku terjemahan kumpulan humor politik ala Rusia karya Z. Dolgopolova.

Buku tersebut berjudul “Mati Ketawa Cara Rusia” yang terbit pada tahun 1986. Buku tersebut berisi kumpulan lelucon politik yang populer di Rusia saat itu. Pada tahun-tahun itu masyarakat Rusia juga sedang mengalami nasib yang sama dengan kita, yaitu sedang dikuasai oleh rezim otoritarian.

Kalau dibandingkan dengan Rusia, kita sebenarnya memiliki nasib yang lebih beruntung. Kita mengalami rezim otoriter baru sejak berdirinya rezim Orde Baru pada tahun 1967. Rusia memiliki nasib diperintah rezim otoriter yang lebih purba dan lama, sejak masa Kerajaan Tsar dan dilanjutkan oleh rezim komunis sejak tahun 1917.

Lantas, efektifkah mengkritik sebuah rezim yang otoriter melalui humor? Kalau menurut Gus Dur tidak efektif. Kritik politik melalui humor barangkali tak banyak merubah keadaan. Akan tetapi, menurut Gus Dur lebih lanjut, bahwa justru kritik politik melalui humor dapat menjadi bahasa pemersatu perlawanan bagi masyarakat yang sedang direpresi.

Hingga saat ini metode kritik politik melalui lelucon tersebut tentunya masih sangat relevan. Terlebih lagi, belakangan ini pentas komedi menjadi salah satu trend yang sangat banyak diminati oleh masyarakat kita. Dan kita belakangan sering mendengar beberapa punggawa stand up comedy, seperti Pandji Pragiwaksono sering menyisipkan kritik politik dalam lawakannya di panggung. Lahul Fatihah.

M. Fakhru Riza, penulis adalah pegiat aktif di komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta.