Senin, 29 Mei 2017

HUMANISME RELIGIUS ALA GUS DUR (MENGGALI SEMANGAT, MELAKUKAN PEMBAHARUAN)

Minggu, 26 Maret 2017
oleh : Desiderio Julio Sudirman SMM
Dibaca sebanyak 413 kali
Agama mendapat tantangan yang serius dewasa ini. Tampaknya pergulatan manusia mengenai tujuan hidup yang dicari dalam nilai-nilai religiusitas dalam berbagai tradisi religius dirongrong. Ini terjadi karena seringkali agama dalam kenyataannya justru menjadi suluh yang membakar api perpisahan, pemecahan antara manusia. Tak jarang, agama menjadi alasan utama pertumpahan darah. Namun benarkah agama in se membawa serta pengaruh-pengaruh dekstruktif bagi kehidupan manusia? Pertanyaan yang diajukan di atas tidak mudah untuk dijawab. Kita tidak hanya sekedar menjawab dalam kerangka afirmasi dan negasi. Lebih dari pada itu, perlu dicari pendasaran yang kuat dan meyakinkan apakah agama memang berwajah ganda, atau sebaliknya agama sejatinya hanya membawa kedamaian dalam hidup manusia. Bagi saya, pendasaran yang kuat dapat ditemui dalam sosok Gus Dur. Intisari dari perjuangannya menjadi jawaban yang amat gamblang untuk menguraikan betapa tradisi religius sejatinya membawa kedamaian bagi setiap pemeluknya.

Humanisme Religius ala Gus Dur

Hidup Gus Dur adalah tanda kesaksian. Masa setelah kematiannya menjadi masa yang istimewa. Istimewa karena raganya telah hancur terurai dalam proses alamiah setiap akhir kehidupan dalam liang lahat tetapi jiwa dan semangat perjuangannya terus hidup dan mengakar. Ia lebih hidup karena kehadirannya tidak lagi berbenturan dengan waktu. Dalam ketidakhadirannya, justru beragam orang dari berbagai latar belakang suku, agama dan ras memandang dan berkiblat kepadanya sebagai pribadi yang patut diteladani. Ia menjadi ikon dan patron gerakan persatuan bagi semua orang di bumi nusantara ini. Kenyataan ini menjadi dasar pertimbangan bahwa penghayatan hidupnya sebagai seorang muslim patut diteladani. Manusia di bumi pertiwi ini tak perlu takut dan ragu lagi bahwa keimanan mereka luntur bila dihayati dalam bingkai persatuan dengan pemeluk agama lain atau yang memiliki latar belakang hidup yang berbeda. Hidup Gus Dur sendiri adalah jaminan dari keyakinan ini. 
M. Zainudin (Jawa Pos edisi 16/12/2016) mengutip kegundahan Abdul Karim Soroush yang meyakini bahwa salah satu kecenderungan dalam dunia Islam adalah orang memahami Islam sebagai identitas daripada sebagai kebenaran. Orang lebih memakai Islam untuk kepentingan identitas dan perumusan peradaban, sehingga lupa esensi dan kebenaran iman yang asali. Padahal Islam identitas harus tunduk pada Islam sebagai kebenaran, dengan demikian Islam sebagai sumber kebenaran dapat berdampingan dengan klaim kebenaran lainnya. Seringkali terjadi kesenjangan antara nilai-nilai agama yang bersifat ideal transendental dengan nilai-nilai sosial yang berkenaan dengan apilikasi ide-ide transendental itu. Padahal dalam seluruh ajarannya Islam dikenal sebagai agama humanis. 
 
Seringkali terjadi humanisme religius, selalu dipahami dalam makna yang sempit, yakni dalam wilayah teologis normatif yang mendasarkan pada wilayah ketuhanan dan pada wilayah etika. Gus Dur bergerak lebih jauh dan meninggalkan kecenderungan semacam ini. Gus Dur berhasil menghayati sisi kemanusiaan yang sifatnya transformatif dalam tradisi religius Islam. Sisi kemanusiaan itu tampak nyata dalam komitmennya menjaga kedamaian bagi semua manusia dalam realitas hidup sosial masyarakat Indonesia. Kehadiran sesama manusia, yang beragam latar belakangnya mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati. Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptaNya, demikian juga merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta. Posisinya ini bersumber dari kebenaran yang dianutnya dalam tradisi religius Islam, bukan melulu berdasarkan pertimbangan kemanusiaan belaka. Hemat saya keistimewaan Gus Dur ada pada ranah ini. Susah baginya untuk mempertentangkan antara ortodoksi dan ortopraksi. Keduanya tak saling mengurangi.  
 
Relevansi 
Merindukan dan mengagumi Gus Dur berarti menjawab pertanyaan seperti ini;  sejauh mana manusia Indonesia masa kini terutama kaum muda masuk dalam visi perjuangan Gus Dur? Lantas mengapa semangat hidup dan perjuangannya amat bararti hingga saat ini sehingga harus terus bergema dalam perjalanan bangsa ini? Hemat saya jawabannya ada dalam dua kecenderungan semacam ini yakni politik representasi, yang secara terus menerus memelihara masa lalu berupa kenangan akan tindakan dan pemikiran brilian Gus Dur dan politik eksperimentasi yang menggandeng intensitas perjuangan yang berhubungan secara historis dengan realitas sosial. 
 
Lebih riilnya kaum muda Indonesia masa kini perlu menyelami makna perjuangan Gus Dur dalam dua corong katalis, yakni penguatan identitas dan semangat perjuangan yang berkobar-kobar bagi kepentingan bangsa. Dalam penguatan identitas, kaum muda sebagai generasi penerus bangsa, bertindak sebagai subyek pejuang kemanusiaan dan penjaga mutiara kebhinekaan di negara Indonesia. 
 
Mengingat berbagai persoalan yang tengah terjadi di negara ini, maka perlu diusahakan perubahan-perubahan. Perubahan itu meliputi perubahan yang terjadi pada level intelektual (kognitif), perubahan afektif yang meliputi segala emosi dan sikap yang timbul ketika berhadapan dengan persoalan yang dihadapi bersama,  perubahan tingkah laku yang meliputi segala tingkah laku positif, perubahan interpersonal yang berhubungan dengan cara berada dalam berelasi dengan orang lain, perubahan sosial politik yang berkaitan dengan cara melihat diri sendiri tak hanya sebagai individu yang bereaksi terhadap individu lain melainkan sebagai bagian dari masyarakat dengan tanggung jawab politik, serta perubahan rohani yang mencakup perubahan di wilayah visi-misi  yang memberdayakan. 
 
*Penulis adalah seorang pengagum Gus Dur. Butir-butir pengalaman mengenai sosok Gus Dur telah dialami sejak sekolah Dasar dari ayah yang adalah pengagum Gus Dur. Tahun 2016 menulis esai dengan judul “Etika Gusdurian” dan menjadi finalis dalam lomba esay dalam menyambut International Summit of The Moderate Islamic Leader (ISOMIL) yang diselenggarakan oleh PBNU. Sekarang sedang menempuh Studi di STFT Widya Sasana Malang dan menjadi calon imam Gereja Katolik.
 
Catatan: Tulisan ini merupakan tulisan terbaik sayembara menulis Haul Gus Dur ke-7 yang diselenggarakan GUSDURian Malang