Selasa, 22 Oktober 2019

INDONESIA YANG BHINNEKA, KINI KEHILANGAN IKA

Rabu, 02 Oktober 2019
oleh : Nurul Khasanah
Dibaca sebanyak 179 kali
Memperbincangkan keberagaman dan pentingnya toleransi di negeri ini rasanya takkan selesai sampai kapanpun. Kita telah ketahui bersama negara Indonesia ini adalah negara yang multikultural. Memiliki dataran dengan 17.504 pulau, terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Dengan penduduk yang tak sedikit, mencapai 265 jiwa, terdiri dari bergagai suku, ras, bangsa, bahasa dan agama yang sangat beragam.

Sangat mustahil jika kita harus menyamakan setiap rakyat untuk menjadi suku jawa semua, untuk islam semua, untuk berbicara dengan bahasa lampung semua. Jangan sampai lupa negara ini telah dipersatukan dengan sumpah pemuda  “bertumpah darah satu, tanah air indonesia, berbangsa satu, bangsa indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa indonesia”. Justru karena keberagaman ini sejak dini sudah dibiasakan untuk menerima sesuatu yang tidak sama dengan kita, sebagai warga negara kita telah dilatih untuk menghargai perbedaan yang telah tumbuh.

Bukan hal yang mudah jika belum terbiasa menerima hal baru yang sangat berlainan dengan tradisi yang kita anut, nilai-nilai yang sudah terun temurun mengalir di nadi kita, ada semacam aneh ketika bertemu hal yang baru. Inilah yang membuat kita belajar untuk menerima perbedaan. Fanatisme yang berlebihan terhadap sesuatu, tidak pernah keluar dari lingkungan, rendahnya literasi keindonesiaan adalah salah satu hal yang membuat kita sulit beradaptasi dengan kemultikulturalan.

Namun fenomena yang saat ini terjadi seperti yang dikatakan oleh Gus Dur “jika perbedaan adalah rahmat, kenapa manusia di negeri ini berebut untuk membencinya” masih banyak orang memiliki cara berfikir bahwa perbedaan adalah sesuatu yang tidak bagus, sesuatu yang asing, sesuatu yang harus dihindari maupun stereotype lainnya. Semisal karena berbeda agama tidak mau saling menyapa, semisal karena berasal dari etnis yang berbeda dan menjadi minoritas sehingga dikucilkan dan tidak mempunyai hak bicara.

Saat ini perbedaan kerap kali dijadikan skat untuk saling berbuat baik, persamaan di kotak-kotakan, yang parah lagi jika perbedaan dijadikan alat untuk mencari kekuatan politik, sangat miris. Sampai detik ini Indonesia masih berdiri tegak kokoh sebagai Negara, meskipun berbagai persoalan intoleransi yang berusaha menggerogotinya. Ini semua adalah perwujudan rasa nasionalisme rakyat yang masih melekat di jiwa rakyat indonesia.

 Nyatanya indonesia adalah negara yang terbentuk karena kemultikulturalan para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan ini. Mulai dari Cut Nyak Dien di Aceh, Tuanku Imam Bonjol dari Sumatera Barat, Pangeran Dipenegoro dari Yogyakarta, Patimura dari Maluku, hingga Sultan Hasanuddin dari Sulawesi Selatan mereka semua melawan kolonialisme untuk sebuah kemerdekaaan. Kemudian dilanjutkan pejuang kemerdekaan Nusantara oleh Soekarno-Hatta dan sederet kawan-kawan seperjuangan revolusi indonesia lainnya.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang menjadikan perbedaan sebagai pisau yang membelah persatuan yang susah payah ditegakkan ini. Dengan mudahnya mengadaptasi nilai dari luar yang sarat kepentingan untuk memecah belah, mengkotak-kotakan masyarakat. Bukan rahasia umum lagi jika hal tesebut sudah berkembang di indonesia. Padahal jika ditengok kebelakang, persudaraan yang dilandasi dengan i’tikad baik bisa menjadi dasar untuk memajukan peradaban.

Penting untuk terus menjunjung tinggi persaudaraan dalam masyarakat meskipun berbeda keyakinan dan pemikiran. Rasa persaudaraan hadir untuk menjaga keseimbangan dalam masyarakat demi menjaga tegaknya NKRI. Disamping itu perlu adalanya literasi keindonesiaan sejak dini, menanamkan nilai nasionalisme di berbagai lini kehidupan baik di dunia nyata maupun dunia maya. 

Ada nilai yang harus ditanamkan juga dilestarikan oleh kita dan generasi penerus “perbedaan adalah sebuah rahmat, anugerah juga kekayaan yang rasanya lebih indah jika kita mau saling bersaudara dengan rasa toleransi, lapang dada dan suka cita”. Bukankah makin berbeda kita, makin jelas dimana titik-titik persatuan kita, iya ngga Gus?  

Nurul Khasanah, penulis adalah alumni Sekolah Menulis Kreatif Jogja 2018.