Kamis, 13 Desember 2018

INFORMASI HATESPEECH DI SITUS KABARKAN!

Rabu, 19 September 2018
oleh : admin
Dibaca sebanyak 195 kali
Sejak bulan Mei 2018 lalu, Jaringan Gusdurian meluncurkan situs kabarkan.org. Situs ini bertujuan untuk menampung informasi dari masyarakat mengenai diskriminasi dan ujaran kebencian belakangan ini marak terjadi . Melalui media sosial, ujaran kebencian, provokasi, dan narasi ekstremisme sangat mudah ditemui. Begitu juga dengan diskriminasi, terutama di lembaga pendidikan, sampai saat ini masih terjadi.

 

 

 

Sejak diluncurkan, para admin di belakang gawang situs ini bekerja keras menampung dan memverifikasi berbagai informasi yang masuk. Setelah melalui proses verifikasi dan analisis, kami bisa menyampaikan data sebagai berikut ini.

 

Terdapat  87 kasus yang diinformasikan oleh publik. 3 kasus diskriminasi dan 5 kasus masuk dalam kategori hatespeesh (per kategori merupakan hatespeech karena mengandung ajakan melakukan kekerasan).  33 kasus yang diinformasikan, kami kategorikan "kuning", yang artinya mengandung kebencian namun tidak terdapat ajakan melakukan tindakan.  Sementara ada 46 buah informasi tidak masuk dalam kategori hatespeech maupun diskriminasi.

 

Kasus diskriminasi yang diinformasikan berupa kasus mengenai siswa kristen di Riau yang dianggap tidak pantas membaca  Pembukaan UUD 1945, siswi kristen wajib mengenakan jilbab di Riau, serta adanya pelarangan aktivitas Jemaat Ahmadiyah di Banjarnegara, Jawa Tengah.

 

Dari data di atas dapat dibaca bahwa kasus-kasus yang banyak diinformasikan adalah mengenai ujaran kebencian. Terutama yang terjadi di dunia maya.  Dari lima kasus hatespeesh 3 di antaranya menyasar identitas etnis cina, satu kasus hatespeech pada syiah dan satu kasus lagi terhadap kelompok agama kristen.

 

Seperti disebut di atas, selain ujaran yang jelas-jelas mengandung ajakan untuk melakukan kekerasan ada pula ujaran yang mengandung kebencian meski tidak disertai ajakan. Kendati tanpa ajakan, bukan berarti ujaran tersebut tidak berbahaya. Karena hanya tinggal selangkah lagi ujaran seperti itu juga bisa berujung menjadi hatespeech. Terlebih, ujaran-ujaran semacam itu turut memupuk sikap kebencian terhadap  berbagai identitas etnis atau agama tertentu. Sehingga dapat dikatakan meski hanya sedikit sekali jumlah informasi yang merupakan hatespeech, namun terdapat cukup banyak informasi mengenai ujaran berbahaya yang juga memupuk kebencian.

 

Media online (dunia maya), sejauh dari informasi yang kami dapatkan melalui platform kabarkan hingga saat ini, merupakan ruang yang paling banyak menjadi tempat ujaran kebencian terjadi. Instagram, facebook, twitter, dan whatsapp  adalah media online yang berturut-turut paling banyak digunakan untuk mengutarakan kebencian.

 

Ke depan, situs kabarkan.org ini akan terus menampung informasi dari publik mengenai hatespeech dan diskriminasi.  Sehingga nantinya akan mendapatkan data yang memadai tentang bagaimana sebaran ujararan kebencian dan titik-titik diskriminasi di Indonesia. Dengan adanya data dan informasi tersebut tentu saja agenda advokasi untuk menghapus diskriminasi dan hatespeech akan sangat terbantu.