Kamis, 19 Juli 2018

KARTINI SEBAGAI FOTO MODEL

Senin, 23 April 2018
oleh : Ahmad Zainul Hamdi
Dibaca sebanyak 276 kali
Dalam tulisannya tentang desain dokumen yang menganalisis hubungan antara teks dan gambar, Aliisa Makynen (2012) memulai tulisannya dengan sebuah pepatah lama yang banyak dikenal orang: “Sebuah gambar lebih berarti dari seribu kata”. Di sini hendak dinyatakan bahwa sebuah gambar bisa lebih menjelaskan gagasan daripada deretan kalimat dalam sebuah tulisan. Pepatah ini mengandung kebenaran yang nyaris tak terbantahkan. Rambu-rambu lalu lintas hingga buku resep masakan telah membuktikan kebenaran ini. Sekalipun demikian, saya ingin mengawali tulisan tentang Kartini ini justru dari pertanyaan: Mungkinkah sebuah gambar justru menghilangkan makna kata-kata?

 

 

Apakah gambar atau foto Raden Ajeng Kartini lebih berarti dari seribu kata-katanya, ataukah foto itu justru telah membuatnya kehilangan makna sejatinya sebagai tokoh emansipasi perempuan melalui kekuatan gagasannya yang tetuang indah dalam surat-suratnya? Cobalah bertanya apa yang ada di benak siswa-siswi sekolah ketika mereka diajak gurunya merayakan Hari Kartini?

 

Peringatan Hari Kartini selalu menjadi momentum menarik, terutama bagi murid-murid sekolah. Peringatan Hari Kartini berarti saatnya karnaval dengan memakai baju adat Nusantara, terutama busana perempuan tradisional Jawa. Sebisa mungkin para siswi berdandan seperti Ibu Kita Kartini sebagaimana yang ada di foto-foto itu. Tentu akan menjadi karnaval yang tidak menarik jika semua pesertanya berbusana perempuan Jawa. Karena itu, harus diimbangi dengan busana adat selain Jawa agar karnaval menjadi menarik. Apalagi bagi siswa laki-laki, tidak mungkin mereka berdandan seperti Kartini toh? Tidak sampai di situ, diadakan juga berbagai perlombaan “khas perempuan”, seperti, Pemilihan Puteri Kartini. Jadilah Hari Kartini menjadi Hari Pertunjukan Busana Adat Nusantara.

 

Ada yang salah? Tentu tidak. Tapi, pertanyaannya adalah apa kaitan antara pertunjukan busana adat dengan Kartini?

 

Melalui tulisan-tulisannya, Kartini dikenal sebagai perempuan Jawa dengan gagasannya tetang emansipasi perempuan dan antifeodalisme. Di tengah kungkungan budaya feodal Jawa yang sangat merendahkan perempuan, Kartini melontarkan gagasan-gagasannya yang nyaris tak masuk dalam imajinasi terliar perempuan sezamannya. Dia menolak perendahan dan domestikasi perempuan, menuntut pendidikan yang mencerdaskan dan memuliakan perempuan, mengkritik praktik-praktik feodalisme para priyayi Jawa. Sekalipun pada akhirnya dia kalah dan mati, gagasan-gagasannya menginspirasi jutaan orang yang menginginkan agar tidak ada lagi perendahan terhadap kaum perempuan hanya karena ia perempuan. Kartini adalah suara yang mengabarkan jahatnya feodalisme yang berkolaborasi dengan ideologi patriarkhi. Kartini adalah suara kebebasan, kemandirian, dan keadilan bagi kaum perempuan.


Jika itu adalah gagasan yang tertuang dalam kata-kata Kartini, lalu dari mana sosok Kartini tiba-tiba berubah menjadi inspirasi model bagi peragaan busana? Biang keroknya adalah sebuah foto. Kartini lebih banyak dihadirkan melalui foto daripada ide-idenya. Murid-murid sekolah mengenal kartini sebagai sosok perempuan jawa anggun daripada surat-suratnya yang indah dan berani, yang berkisah tentang penderitaan perempuan dan mimpinya tentang perempuan yang cerdas, berdaya dan mandiri. Tanpa kata-kata, foto R.A. Kartini yang dipajang di kelas-kelas sekolah tak ubahnya seperti buku model yang kita temukan di salon-salon kecantikan, yang berfungsi sebagai referensi tata rambut atau tata busana. Kartini adalah foto model yang menjadi referensi gaya berbusana ibu-ibu atau anak-anak perempuan yang ingin berbusana Jawa. “Kartinian” bagi mereka berarti berbusana Jawa sebagaimana yang bisa dilihat pada foto R.A Kartini.

 

Jika pendidikan yang dipercaya oleh Kartini sebagai pintu gerbang bagi emansipasi perempuan saja telah gagal memahami pesan-pesannya, itu berarti telah terjadi reduksi besar-besaran ide-ide Kartini yang melanda bangsa kita. Kartini diteladani bukan karena idenya, tapi karena apa yang dipersepsi orang tentang dirinya. Tidak mengherankan, jika dalam Kata Pengantar bukunya, Panggil Aku Kartini Saja, Pramoedya Ananta Toer, sampai berkeluh kesah: "Sampai sedemikian jauh, Kartini disebut-sebut di berbagai peringatan lebih banyak sebagai tokoh mitos, bukan sebagai manusia biasa, yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri serta menempatkannya dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya, tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos." 

Kemeriahan Peringatan Hari Kartini lebih banyak menjadi ritual pemitosan sosok Kartini. R.A. Kartini tidak lagi tokoh pemberdayaan perempuan, tapi dimitoskan sebagai foto model busana adat Jawa.[]



 

 



[1] Ketua Prodi Studi Agama-agama, UIN Sunan Ampel Suarabaya; Direktur Eksekutif CMARs (Center for Marginalized Communities Studies) Surabaya.