Senin, 18 Juni 2018

KELAKAR MADURA BUAT GUS DUR

Senin, 16 April 2018
oleh : Arif Gumantia
Dibaca sebanyak 487 kali
Buku ini diterbitkan kembali dengan momen yang tepat, ketika ruang publik kita dibanjiri oleh narasi-narasi yang serius dan penuh kepalsuan ( kemunafikan ). Ruang publik baik di dunia nyata maupun dunia maya riuh rendah dengan narasi-narasi yang tidak mempunyai relevansi dengan esensi kehidupan. Buku yang pernah terbit tahun 2001 ini tidak hanya relevan untuk dibaca saat ini, tetapi juga signifikan. Buku karya ki Dalang H. Sujiwo Tejo ( penulisnya menyebut dirinya dalang, karena menurutnya seorang dalang dalam proses kreatifnya mesti menguasai sastra, musik, seni rupa, teater, dan sebagainya ) ini membuat pembaca seolah dibawa ke masa ketika Gus Dur masih hidup, ketika ruang publik kita banyak diwarnai dengan joke dan anekdot yang segar, ruang publik yang membuat kita tertawa lepas dan merayakan hidup dengan menertawakan diri sendiri.
 
 
 
 
Inayah Wahid ( putri ke-4 Gus Dur ) dalam kata pengantar buku menyatakan : Gus Dur sesungguhnya adalah komedian yang punya profesi sampingan sebagai Presiden, Kiai, Budayawan, dan penggerak sosial. Salah satu buktinya, jauh sebelum lawakan tunggal ( stand up comedy ) menjadi tren di Indonesia seperti saat ini, Gus Dur sudah mendahului lewat pidato-pidatonya. Tak heran biro media kepresidenan saat itu mencatat pidato presiden menjadi salah satu ajang yang ditunggu pemirsa.
 
Buku ini menjadi relevan dan signifikan selain alasan yang di atas karena:
Pertama,  Sujiwo Tejo bisa membuat buku ini menjadi semacam esai sintesis, antara narasi prosais yang berisi ironi dan citraan komedi. Antara humor-humor yang membuat kita tersenyum dan tertawa, dengan ironi kehidupan. Seperti dalam kisah Matrawi, penarik becak asal Sumenep di Jombang 
( hal. 29 )
 
kedua, bagi Sujiwo Tejo sendiri dia hendak menegaskan kembali bahwa dia adalah keturunan Madura dari garis ayahnya, meski lahir di Jember dan besar di Bandung, sehingga dia tampak secara fasih menuliskan kelakar Madura yang sarat dengan idiom, tradisi, budaya, dan sejarah Madura. Misalnya di kelakar Madura dengan judul Pemilu Paling Murah ( hal. 67 ) : nah itu gampang, tidak usah ada anggaran paku, pemilu bisa murah, di Madura banyak paku. Sampeyan menyangka karapan sapi itu cuma cambuk, tidak. Supaya sapi larinya cepat, pantat sapi itu ditusuk-tusuk pakai paku, tapi tidak sampai menancap.
 
Ketiga, sesuai judulnya Kelakar madura buat Gus Dur, menjadi semacam kelakar yang dipersembahkan buat Gus Dur, tokoh lintas batas dan tanpa sekat ini, sehingga bagi pembaca yang tidak mengalami saat-saat Gus Dur hidup dengan segala joke dan anekdotnya, akan bisa mengetahui betapa komediannya Gus Dur itu, karena tema-tema yang diangkat oleh Sujiwo Tejo selalu bertitik tolak dari apa yang sedang menjadi bahan pembicaraan di media massa atau di masyarakat, mungkin kalo istilah “zaman now” adalah apa yang sedang viral tentang Gus Dur saat itu. Seperti di halaman 53 : untung Akbar Tanjung bukan orang Madura, kalau orang Madura pasti marah luar biasa ketika Gus Dur mengatakan bahwa DPR mirip taman kanak-kanak. Karena di Madura adanya Taman Nak-Kanak, berarti Gus Dur bisa dianggap menyatakan DPR disamakan dengan sesuatu yang tak ada. Sungguh kelakar yang membuat pembaca tertawa ngakak.
 
Keempat, terkadang kita bisa menggali makna yang dalam justru dari kelakar atau humor. Buku ini pun demikian, di balik kelakar-kelakarnya Sujiwo Tejo seolah menyergap kesadaran kita untuk merenungkannya, sebuah kontemplasi terbuka setelah kita tertawa. Kontemplasi terhadap pandangan dan keluhuran diri orang Madura yang dibingkai dalam sosio-geografis, sosio-psikologis, kepolosan-kepolosan, ke-ngeyel-an, dan jawaban-jawaban yang nyeleneh atas suatu persoalan. Seperti saat berkisah tentang Carok ( hal. 137 ) dan Asuransi untuk Reformasi ( hal. 152 ) : pengasong menawarkan repro foto wapres Megawati, pak Satawi jadi jengkel. “10 ribu juga? Kemarin repro foto presiden Gus Dur juga 10 ribu, kamu tahu kedudukan presiden dan wakilnya, masak harga fotonya sama”.
 
 
Kelima, kepolosan dan keterus terangan inilah barangkali mewakili kita semua yang ingin ruang publik ini tidak penuh kepalsuan dan kemunafikan, dari sisi ini Sujiwo Tejo berhasil menuliskannya dengan pas dan tidak “lebay”, seperti kisah Sari Rapet di Sidang Istimewa. Tongkat asli madura yang dikenal bisa membuat kemaluan basah menjadi kering, hingga ada anekdot kalau tongkat itu masuk sumur, sumur langsung kering seketika…
Juga ada lagi Empot-empot sepet Madura dan jamu Sari Rapet Legit Madura. “Sudahlah jangan mengajari Gus Dur, Gus Dur itu orangnya cerdas, saya kira dia akan meminta Sari Rapet Legit untuk dikemas dalam bentuk permen. Permen itu akan diletakkan dekat buku daftar hadir sebelum anggota DPR/MPR bersidang istimewa, sehingga mulut akan terkatup rapat-rapat. ( hal. 151 )
 
 
seperti apa yang dikatakan Monteigne, sastrawan Prancis, pelopor penulisan-penulisan esai di surat kabar, esai adalah bagian dari karya sastra, termasuk esai dengan narasi-narasi joke dan anekdot. Begitu juga buku ini, sebagai bagian dari Sastra tentu ada sifatnya yang menghibur, punya nilai estetika, dan ada gagasan atau tema yang bisa direnungkan pembaca.
Mari merayakan hidup dengan humor.
 
 
Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun
 
 
 
 
Judul buku : Kelakar Madura Buat Gus Dur 
Penulis :  H. Sujiwo Tejo
Halaman : 200 halaman
Cetakan I : Januari 2018
Penerbit :  Imania 
                  Jl. Purnawarman Blok A no. 37
                  Bukit Cirendeu, Pondok Cabe
                   Tangerang Selatan 15419
                   Telp : 085100007692