Selasa, 22 Oktober 2019

KEMERDEKAAN, MILENIAL DAN KETELADANAN GUS DUR

Kamis, 26 September 2019
oleh : Ferdiansah Jy
Dibaca sebanyak 278 kali
Sudah lebih sebulan yang lalu peringatan hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepat 74 tahun yang silam bangsa Indonesia telah menyemai kemerdekaan dan terlepas dari kungkungan para Penjajah. Momentum ini harus kita jadikan refleksi terhadap diri dan masyarakat akan pentingnya kemerdekaan, baik kemerdekaan diri, pendidikan, ekonomi, bangsa dan negara.

Kemerdekaan merupakan hal yang sangat fundamental dalam diri manusia, dimanapun manusia berada pasti menghendaki adanya kemerdekaan. Dalam konteks dunia digital dewasa ini, kita sebagai generasi milenial mengaktualisasiakan kemerdekaan dengan mengukuhkan semangat persatuan dan kesatuan baik media virtual, lebih-lebih media sosial, apalagi setelah memasuki tahun politik yang begitu memanas.

Seiring dengan perkembangan teknologi, manusia selalu digeluti oleh dunia digital yang tak terbatas, menembus ruang geografis guna memenuhi kebutuhannya dan untuk beradaptasi dengan dunia modern yang perkembangannya sangat cepat. Salah satu akibat dari kecepatan perkembangan teknologi ini, menyebabkan informasi yang beredar di dunia digital tidak bisa dibendung.

Generasi milenial diharapkan cerdas bermedia serta mampu memfilter informasi yang beredar pesat di media sosial, narasi-narasi pemecah belah dan radikalisme seyogyanya perlu kita lawan dengan narasi-narasi semangat kebangsaan, mengampanyekan konten-konten positif dan bersikap apatis terhadap konten hoax yang tentunya tidak kredibel.

Konten-konten hoax dan narasi adu domba yang begitu massif di media sosial ini harus direduksi, agar tidak (meminjam bahasa Bourdieu) menimbulkan kekerasan simbolik, jenis kekerasan (yang pada mulanya) tidak kasat mata, lalu berwujud nyata pada kekerasan fisik yang sebenarnya. Hal ini bisa kita lihat bagaimana konten-konten yang berisi cacian, fitnah dan sumpah serapah di dunia virtual menyebabkan pertikaian konflik di kehidupan nyata, yang seringkali mengakibatkan persaudaraan yang sudah lama terjalin begitu mudah dirusak akibat dari pertikaian di media sosial, hal ini yang perlu kita hindari demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain itu, hari kemerdekaan yang sudah berumur cukup tua ini, kita jadikan api semangat guna memajukan Indonesia menuju 100 tahun atau seabad Indonesia pada 17 Agustus 2045. Kita sebagai generasi milenial perlu membangun optimisme dan kualitas diri kita, baik  keilmuan, spritualitas serta prestasi. Sehingga cita-cita dari para pendiri bangsa bisa diaktualisasikan sebagaimana pesan Bung Karno “beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia”, pesan tersebut menjadi stimulus bagi generasi milenial untuk mengkonsumsi media secara cerdas, serta mampu mengaktualisasikan kemerdekaan ini dalam dunia virtual maupun dunia digital.

Kemerdekaan harus juga diisi  dengan menebarkan konten-konten kebangsaan dan cinta nasionalisme, serta semangat persaudaraan di media sosial. Sebab pengaruh media sosial begitu besar bagi realitas masyarakat kita. Saking kuatnya pengaruh media  sosial ini, yang bersaudara bisa bermusuhan, yang berkeluarga bisa bercerai yang berbeda berujung  pada ekstrimisme. Di dalam media sosial kita tidak boleh semena-mena, apalagi misalkan kita seenaknya membagikan konten-konten secara sembarangan tanpa ada klarifikasi yang lebih mendalam terhadap suatu konten. Hal ini jika kita biarkan akan menyebabkan misinformasi dan mudah tersebarnya konten provokatif serta berita bohong.

Kita perlu bersama-sama saling bahu membahu dalam mengurai beragam konflik yang terjadi di media sosial, yang berpotensi menjalar ke dunia nyata. Dan ini perlu menjadi perhatian bersama. Maka dari itu sangat diperlukan aktualisasi persaudaraan sejak dalam media sosial karena manusia dewasa ini tidak bisa dilepaskan dari media yang mainstream tersebut. Karena persaudaraan juga merupakan salah satu nilai yang diperjuangkan oleh Gus Dur selaku Bapak Humanisme Indonesia.

Selain itu juga kita juga harus menjadi generasi yang melek literasi dan cerdas bermedia, karena hanya generasi inilah yang akan mampu menyelamatkan dan mencegah terjadinya konflik sosial di masyarakat akibat salah satu efek negatif media sosial. Serta generasi ini juga yang mampu mengampanyekan media yang positif dikonsumsi publik, agar wacana dalam diskursus media dapat dikonsumsi secara bijak dan proporsional.

Ferdiansah Jy, penulis adalah alumni Sekolah Menulis Kreatif Yogykarta.