Jumat, 21 September 2018

KESADARAN RELASIONAL ANTARA “AKU, KAMU, DAN KITA”

Kamis, 13 September 2018
oleh : Afif Muhammad
Dibaca sebanyak 86 kali
“Kepuasan yang terlalu dini akan membuat kita lupa diri dan sombong, padahal tidak satu hal pun di dunia ini yang memiliki satu sisi, semuanya jamak. Mempertahankan suatu sisi dengan mati-matian tanpa kenal sisi lain hanya akan membuat kita tampak bodoh” demikian tutur anonim. Pengetahuan dan pemahaman yang dangkal mengakibatkan kekacauan. Anonim diatas merupakan fatwa klasik agar manusia senantiasa berfikir terbuka, universal, dan luas. Untuk mewujudkannya, tentu semuanya butuh proses panjang melalui kesadaran dan kometmen kuat.

 

Dalam konteks kepelbagaian agama di Indonesia, dialog dan kerjasama antar manusia merupakan bagian dari aktivitas permanen dalam rangka memahami dan membentuk identitas. (QS. Ali Imran: 159)

Upaya dialog ini sejatinya dalam rangka merajut kebaikan dan kedamaian ditengah tandusnya berbagai persoalan yang dihadapi. Baik intern maupun ekstern. Tentunya dalam rangka terwujudnya cara berfikir yang terbuka tadi.

Dialog tak sekedar dengan yang diluar kita. Pun tak hanya berlaku sebagai upaya untuk mengenal orang lain. Melainkan dialog dengan diri sendiri harus diprioritaskan. Sebab, bagaimana mungkin dapat mengenal orang dengan baik jika diri sendiri masih belum kita kenal? Bagaimana mungkin membuat orang lain mengenal kita dengan baik, sementara ke diri sendiri tak memahami. Kadang, sering kali kita tak sadar bahwa konflik terjadi bukan karena kita tak mengerti yang lain, melainkan karena kita justru tak mengerti (identitas) diri kita sendiri.

Namun realitanya, kadang khazanah dialog kerapkali tak melahirkan empati. Justru kadang ketika mendengar istilah dialog, lebih-lebih dialog atar umat beragama, yang muncul justru sikap pesimis atau bahkan sinis. Walaupun sampai saat ini dialog sering dilakukan, namun sifatnya cenderung birokratis, elitis, dan institusional. Sehingga tidak menyentuh persoalan-persoalan yang ada dan berkembang di masyarakat serta tidak melibatkan masyarakat secara langsung. Akibatnya khazanah dialog kerap ditumpangi oleh aneka kepentingan kelompok. Sehingga dialog cenderung bersifat formal dan sering konfrontatif.

Sejatinya, kita tak perlu pesimis dan sinis dengan dialog antar umat beragama, sebab dengan demikian identitas kita sebagai kaum beragama tak hanya akan ditentang, tapi juga diperdalam dan diperbaharui.

Dialog mengajak setiap yang terlibat agar memiliki kemantapan pendirian yang kokoh atas ajaran agama yang dianut. Bukan untuk melahirkan sikap ekskulusif dan fanatik, melainkan upaya serius untuk memahami dan menjalankan ajaran agamanya. Dengan demikian, dialog bukan soal bagaimana seseorang memandang agamanya sebagai kebenaran, pun bukan dapat menerima klaim kebenaran dari orang yang beragama lain, melaikan pada titik bagaimana seseorang dapat terbuka dan mendengarkan sharing kebenaran tradisi agama lain dan kemudian terlibat dalam mendialogkan pemaknaan kebenaran tradisi agamanya.

Jadi, jika ada yang mengatakan bahwa dengan dialog identitas dirinya dalam beragama tak lagi otentik, justru otentisitas keberagamaannya akan semakin tampak bila ia keluar dari dirinya sendiri untuk bergabung dalam kerja sama dan dialog dengan saudara-saudaranya yang lain.

Tapi ingat, kesediaan berdialog bukan berarti atas dasar keyakinan bahwa semua agama sama saja. Sebab sikap seperti ini sangat riskan dan mudah tergelincir pada sikap inferentisme (kepercayaan bahwa tidak penting agama apapun yang dianut manusia). Implikasinya akan bersikap acuh tak acuh terhadap penghayatan kehidupan agamanya serta melukiskan pendangkalan iman sekaligus menawarkan relativisme dalam arti negatif terhadap nilai sebstansial setiap agama.

Sehingga bagi Aloysius Pieris, seorang Teolog Jesuit dari Sri Langka, dialog tak sekedar menjelaskan penghayatan iman secara diagonal dengan umat beragama lain, melainkan juga memiliki dimensi transformatif, yakni mengembangkan otentisitas penghayatan iman. Pun mendorong untuk memahami ulang ajaran agama dan keyakinan kita. Melalui pemahaman ulang itulah kemudian terjadi proses pengayaan dan pembaruan dalam pemahaman keagamaan.

Jika dialog yang terus diupayakan dan lakukan, maka relasi dialogis dan saling mengenal dengan lebih baik akan hidup, hingga rasa sayang pun tumbuh. Implikasinya muncul rasa saling mengasihi, menghormati, menghargai, menjaga, dan hidup serasi sebagai sesama penghuni semesta. Demikian pun berefek pada terciptanya perdamaian, mulucuti kecurigaan, menghindari konflik, merawat nilai-nilai kemanusian ke arah yang lebih baik, serta memperjuangkan dan menjaga kelangsungan ekologis.

Pada akhirnya, secara mendalam, dialog dapat kita simpukan sebagai telaah relasi(engagement) dan persekutuan (communion) antar setiap ciptaan. Maka perjumpaan-perjumpaan harus terus kita ciptakan. Dan nyatanya inilah hakikat keberadaan (reason for being) kita, bukan?

Kademangan, 11 September 2018