Sabtu, 15 Desember 2018

MEMAKNAI KEMBALI HARI TOLERANSI INTERNASIONAL

Senin, 19 November 2018
oleh : Ilmi Najib
Dibaca sebanyak 183 kali
Di setiap peringatan atau hari besar, kita diiingatkan dengan keberadaan momentum tersebut. Seperti pada momentum Hari Toleransi Internasional 16 November 2018 kemarin, kita diingatkan kembali untuk menjadi manusia yang lebih terbuka; baik dalam berfikir maupun bersikap. Apalagi melihat kondisi saat ini, di mana antar anak bangsa terlihat sering memanas dan bersitegang. Di tambah dengan berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial yang dapat mencederai keberagaman bangsa Indonesia yang majemuk.

Modernisme parsial dikalangan kaum muslimin, yang sudah berkembang kurang lebih satu abad, akhirnya menghasilkan mentalitas ganda yang bisa kita mati manifestasinya dalam berbagai bentuk perubahan organisasi masyarakat kaum muslimin. Ia dalam kegairahan memformalisasikan suatu pandangan dalam keberagamaan umat muslim sendiri yang berakibat fanatisme buta terutama dengan keadaan dimana aksi bela islam/tauhid seakan menjadi gerakan ibadah anjuran, dalam pada sisi kepongahan pemuka agama generasi millenial cenderung sering mengerahkan massa demi tujuan duniawi yang bersifat pribadi tanpa menimbang dampak dari gerakan aksi yang akhir-akhir cukup melukai persaudaraan sebangsa dan setanah air. Untuk memperbaiki kepincangan jelaslah kaum pemuka publik dan agama harus lebih mengutamakan kepentingan horizontal (umat) dari pada kepentingan vertikal (elit) yang dapat mengganggu stabilitas persatuan dan kesatuan bangsa.

Sampai pada titik saat ini yang hengkang dari pemimpin publik atau keagamaan kita yaitu lemahnya mentalitas sebagai pengayom masyarakat. Mengingat seorang tokoh ulama dari Jawa Timur, yaitu KH Ahmad Shiddiq, suatu ketika pernah berijtihad tentang pandangan universal tentang konsep ukhuwah (persaudaraan). Dalam buku ulama, pediri dan intelektual NU (2015), menurut beliau, ada tiga macam ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia). Ukhuwah basyariyah bisa juga disebut ukhuwah insaniyah.

Pada terminologi ukhuwah Islamiyah, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena sama-sama memeluk agama Islam meskipun dengan berbagai perbedaan pandangan. Dalam terminologi ukhuwah wathaniyah, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena merupakan bagian dari bangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia, Ukhuwah model ini tidak dibatasi oleh sekat-sekat primordial seperti agama, bahasa, suku, jenis kelamin, dan sebagainya. Adapun, dalam terminologi ukhuwah basyariyah, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena merupakan bagian dari umat manusia yang sesungguhnya mempunyai peranan theomorfis (khalifah) yaitu satu yang menyebar di berbagai penjuru bumi. Dalam konteks ini, semua umat manusia sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan

Dari suatu terminologi ukhuwah wathaniyah, ukhuwah basyariyah juga tidak dibatasi oleh fomalitas luar dan sekat-sekat primordial seperti agama, suku, ras, bahasa, jenis kelamin, dan sebagainya. Menurut pandangan penulis bahwa ukhuwah basyariyah yang sekarang mulai pudar pada hakikat para pemimpin elit dan pemimpin umat pada level ukhuwah yang tertinggi karena mencakup eksistensi kemanusiaan dan keadilan dari esensial nilai ini menjadi landasan stabilitas kebangsaaan kita dan meminimalisir konflik horizontal. Terminologi ukhuwah basyariyah juga dapat mewakili dua ukhuwah lainnya: Islamiyah dan wathaniyah. Artinya, setelah menapaki ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah, sudah sepatutnya seseorang menggapai ukhuwah yang lebih tinggi, lebih mendalam, dan lebih mendasar, yaitu ukhuwah basyariyah.

Dalam ukhuwah basyariyah, seseorang merasa menjadi bagian dari umat manusia yang satu pada ruang yang sama Hal ini sesuai dengan pesan Alquran dalam surah Al-Ma’idah [5] Ayat 32: barang siapa membunuh seorang manusia tanpa alasan yang kuat, maka dia bagaikan telah membunuh seluruh umat manusia. Sebaliknya, barang siapa menolong seseorang, maka ia telah menolong seluruh manusia.

Adanya Pesan mendalam dengan kekuatan cinta memandang manusia dari yang disampaikan ayat Alquran di atas. Kemudian, apakah ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah--yang masih mempertimbangkan dan mementingkan identitas formal yang menurut Gusdur itu bisa bergama hanya dengan melihat luarnya saja, Tentu saja keduanya masih dibutuhkan. Tetapi, perlu menjadi pengamatan yang tajam, jangan sampai ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah yang diekspresikannya terjatuh pada apa yang bisa diistilahkan sebagai “fanatisme” (juga “nasionalisme”) yang sempit yang berakhir menjadi perpecahan pada horizontal (umat).

Pada konteks ini seseorang mau menolong dan mau berteman dengan orang lain karena faktor agamanya dan kebangsaannya belaka. Seseorang yang beragama Islam hanya mau “bersentuhan” dengan seseorang yang beragama Islam juga. Atau lebih sempit lagi hanya mau “bersentuhan” dengan seseorang yang sealiran/semazhab dan segolongan belaka. Seseorang juga hanya mau “bersentuhan” dan bekerja sama dengan seseorang yang secara formal diidentifikasi sebagai bangsa Indonesia.

Sebagaimana kita simak dalam lembar-lembar sejarah umat manusia, fanatisme dan dogmatisme atas nama apa pun (misalnya atas nama “agama” dan ”ideologi” tertentu) bisa sangat membahayakan karena memunculkan kekerasan dan destruktivitas. Yang terpenting dalam kehidupan seseorang bukanlah identitas formal semisal agama, suku, bangsa, dan seterusnya, melainkan apa yang dilakukannya. Hal yang dilakukan seseorang ini secara sederhana mungkin bisa diidentifikasi sebagai moralitas dan tindakan sosialnya.

Untuk hari Toleransi ini marilah kita bermunasabah bahwa sebenarnya yang harus kita Lawan bukanlah orang yang beragama lain dan berpandangan berbeda dengan madzhab yang kita yakini, melainkan orang yang bertindak zalim, berbuat tidak adil, melakukan kezaliman, diskriminasi, penindasan, ketidakadilan, korupsi, apa pun itu agamanya—harus kita lawan!

Itulah hakikat kita dalam memaknai hari toleransi. Kata Gus Dur, perdamaian tanpa keadilan hanyalah ilusi. Wallahua’lam

Ilmi Najib, penulis adalah penggerak komunitas Garuda Malang.