Sabtu, 15 Desember 2018

MENGAPA KITA DICIPTAKAN BERBEDA?

Sabtu, 17 November 2018
oleh : Syahrul Bahroni
Dibaca sebanyak 299 kali
Sepertinya kita sering bicara pluralitas, toleransi, dan keragaman. Namun realitanya kita tidak pernah mengaplikasikan pemahaman itu. Kemajemukan atau perbedaan dalam islam yang kita pahami sebagai suatu keniscayaan atau istilah arabnya mutlak dan tidak bisa terhindarkan lagi, seharusnya itu menjadi suatu yang harus kita terima. Apalagi kita hidup di negara yang begitu kaya akan keragaman dan perbedaan agama, suku, ras, dan budaya.

Tetapi masih banyak dari kalangan kita yang masih saja mempermasalahkan dan merasa terganggu oleh perbedaan. Kita masih sering mengedepankan sentimen, prasangka, dan stigma negatif terhadap suatu yang berbeda. Apa yang kita anggap berbeda itu musuh, sesat, dan harus dibasmi.

Seseorang yang memiliki pemahaman seperti itu harus dikonfirmasi lagi keislamannya, kenapa? Karena dalam nash Al-Qur’an yang sudah sering kita kumandangkan di forum-forum diskusi, ketika menjadi pendakwah, dan para ustadz-ustadz hits yang kita follow juga sering membacakan ayat ini ya ayyuhan-naasu inna kholaqnakum min dzakariw wa unsa wajangalnakum su’ubaw wa qobaaila li ta’arofu, inna akromakum ‘indallohi atskookum (QS. Al-Hujurat : 13).

Dari ayat tersebut memunculkan sebuah pemahaman bahwa kita diciptakan itu beragam yakni lelaki perempuan, berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku supaya kita saling mengenali satu sama lain. Ayat tersebut menggunakan kata “ta’arofu yaitu saling mengenali, cuma seumpama dipahami dari segi harfiah kata ini lebih dalam ma¬ínanya ketimbang hanya mengenali, makna lebih dalamnya yaitu saling memahami dan menghormati.

Beralih ke kalimat selanjutnya ‘inna akromakum ‘indallohi atskookum (kemuliaan kalian disisi allah hanyalah taqwa), kita pasti penasaran dan sedikit bingung kenapa sehabis menerangkan keragaman lalu tiba-tiba muncul ayat ini. Tidak mungkin kan Allah menurunkan ayat yang tidak ada makna yang terkandung di dalamnya?

Sejauh yang saya pahami, dalam ilmu tafsir itu ada istilah munasabah (saling menyerupai). Munasabah adalah keterkaitan antara ayat satu dengan ayat yang lain, kalimat satu dengan kalimat lain. Adanya kalimat tersebut diletakkan setelah membahas keragaman atau pluralitas dengan tujuan untuk memberi tahu kita bahwa urusan saling mengenali, saling memahami,dan saling menghormati itu urusan kemanusiaan dan urusan kemuliaan kita disisi Allah tergantung ketaqwaan kita pada-Nya.

Itulah gunanya kita sebagai makhluk ciptaan-Nya mengintrospeksi diri kita, kenapa diri kita diciptakan berbeda-beda? maknailah perbedaan ini sebagai sebuah rahmat-Nya.

Untuk penutup, saya jadi ingat ada sebuah kata-kata mutiara ranah ketuhanan ketika orang kafir terdholimi kemudian dia berdo’a kepada Allah, kemudian Allah mengabulkan do’a orang kafir tersebut itu bukan karena Allah suka dengan orang kafir, melainkan karena Allah suka dengan keadilan.

Kemudian ranah kemanusiaan saya kutip dari Gus Dur “Tidak penting apa agama dan sukumu, kalau kamu bisa berbuat baik untuk semua manusia, maka orang tidak pernah tannya apa agamamu”. Wallahhu a’lam

Syahrul Bahroni, penulis adalah alumni Sekolah Menulis Kreatif Yogyakarta.