Rabu, 20 Juni 2018

MUDIK ATAU TETAP MABUK KUDA LUMPING

Jumat, 08 Juni 2018
oleh : Gatot Arifianto
Dibaca sebanyak 55 kali
Pekerjaan rumah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjelang genap 73 tahun merdeka masih banyak. Suara sekaligus gerak positif sebagaimana dilakukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan sejumlah nama lain yang berani mudik (pulang) terhadap ajaran Islam, amanat negara dan kemanusiaan lebih dibutuhkan daripada mabuk (hilang kesadaran) seperti pemain kuda lumping. 70 persen dari sekitar 250 juta jiwa total jumlah penduduk Indonesia ialah followers Rasulullah SAW, menganut agama Islam, agama perdamaian. Produksi masif ujaran kebencian hingga fitnah yang telah ditegaskan dosanya lebih besar dari membunuh dalam QS Al Baqarah ayat 217, dewasa ini sungguh mencabik hakikat perdamaian. Tidakkah itu memberi kesan, jika ternyata kita telah jauh meninggalkan Islam?

 

Dalam menyikapi perbedaan, Rasulullah telah mencontohkan dengan Shahifatul Madinah atau dikenal dengan sebutan Piagam Madinah.

 

Konstitusi pertama Islam tersebut ialah penegasan dakwah Islam Rahmatan Lil Alamin, tidak saja melindungi kaum Muslim Muhajirin dan Ansor. Juga pemeluk agama Yahudi, Nasrani, dan Majusi.  Termasuk kabilah Aus yang kala itu belum semua warganya memeluk Islam.

 

Pada konstitusi tersebut, Nabi Muhammad SAW, rasul pembawa cahaya, manusia hebat, sempurna ahlaknya, seperti disenandungkan Aleehya dalam Sholawat Jaran Goyang, menerapkan asas kebebasan beragama, asas persamaan, asas kebersamaan, asas keadilan, asas perdamaian dan asas musyawarah.

 

Jika direnungkan, enam asas tersebut sejalan dengan Pancasila, ideologi negara Indonesia yang tidak bertentangan dengan Islam yang belakangan ini dibuat gaduh kelompok takfiri yang gampang mengkafirkan, hingga kelompok radikal yang terus melakukan perekrutan dan doktrin tempurung (sempit) dengan ayat-ayat qital (perang) di lautan ayat-ayat Islam penuh cinta damai, bagi publik yang tidak paham.

 

Alinea keempat UUD 1945  menegaskan, Pancasila merupakan dasar agar pemerintah negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

 

Harapan dalam UUD 1945 tersebut hingga hari ini belum terealisasi penuh. Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2017  mencatat, jumlah penduduk miskin dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan di Indonesia mencapai 26,58 juta orang atau 10,12 persen.

 

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2016 meraih angka sebesar 0.689. Data dikeluarkan United Nations Development Programme (UNDP) tersebut menempatkan Indonesia dalam kategori pembangunan manusia menengah, berada di peringkat 113 dari 188 negara.

 

Narkoba yang menghancurkan generasi muda dan korupsi juga masih menjadi persoalan di Indonesia. Termasuk sampah berikut pengelolaanya juga belum menjadi kesadaran negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini.

 

Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menyebut Indonesia berada di posisi nomor dua setelah Tiongkok sebagai negara penghasil sampah plastik yang dibuang ke laut. Pada tahun 2015, Indonesia menghasilkan sampah sebesar 3,2 juta ton. 1,29 juta ton di antaranya sampai ke laut.

 

Denmark adalah negara dengan tingkat korupsi yang rendah. Negara yang memiliki penduduk muslim sekitar 2 hingga 5 persen tersebut, justru siap berbagi praktik terbaik pengelolaan sampah bagi Indonesia yang hari ini mengalami darurat sampah. Kenapa mereka justru seolah lebih paham dengan QS Ar Ruum ayat 41 atau QS Asy Syuroo ayat 30 dan 31?

 

Merampungkan sejumlah pekerjaan rumah yang ada di Indonesia tentu menjadi tanggung jawab bersama selain pemerintah. Mudik atau berpulang penuh pada ajaran Islam sebagai agama perdamaian, amanat negara dan kemanusiaan bukan lagi pilihan, tapi menjadi keharusan dilakukan.

 

Tapi, berubah atau tidak tergantung setiap elemen masyarakat Indonesia untuk mengambil tanggung jawab dan berperan sesuai disiplin ilmu dan bidang masing-masing.

 

Perilaku hewani sebagaimana pemain kuda lumping kesurupan, kacau dan kehilangan kesadaran meski dihentikan.

 

Indonesia hari ini membutuhkan orang-orang yang tidak hanya sibuk bersuara tapi juga bergerak. Bung Karno, Bung Hatta dan pahlawan bangsa lain telah mencontohkan bersuara dan bergerak dengan kesadaran yang menurut almarhum WS Rendra ialah matahari.

 

Gus Dur ketika jadi Presiden RI ke empat menyadari Indonesia ialah negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki 17.499 pulau.

 

Luas total wilayah Indonesia adalah 7,81 juta km2. Luas perairannya 3,25 juta km2 lautan, lebih luas dibanding daratan dimiliki, 2,01 juta km2 daratan.

 

Gus Dur yang menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1984 hingga tahun 1999 (tahun terpilih menjadi Presiden RI), mendirikan Departemen Eksplorasi Laut, cikal bakal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang sekarang dipimpin Susi Pudjiastuti.

 

Gerak dilakukan Gus Dur, telah mendorong isu kelautan sebagai mainstream pembangunan ekonomi nasional. Tanpa kebijakan itu, potensi laut Indonesia barangkali belum dilirik, tidak ada KKP hingga menteri bernama Susi yang terkenal dengan kata “tenggelamkan”.

 

Contoh gerak positif lain dilakukan Nyak Sandang. Tahun 1948, bersama masyarakat Nanggroe Aceh Darusalam ia turut serta memberi negara sebanyak SGD 120 ribu dan 20 kg emas murni untuk membeli dua pesawat terbang yang diberi nama Seulawah R-001 dan Seulawah R-002.

 

Usianya 23 tahun ketika ia bersama orang tuanya  menjual sepetak tanah dan 10 gram emas, yang dihargai Rp100 untuk disumbangkan pada negara.

 

Sebagai contoh gerak positif lain, sejak 2007 hingga 2018, anak-anak muda Nahdlatul Ulama (NU)  di berbagai kota di Indonesia juga melakukan gerakan masif di bidang pendidikan.

 

Melalui Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN), program utama Yayasan Mata Air yang kelahirannya dibidani kyai-budayawan, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), mereka berijtihad (berusaha sungguh-sungguh) mengantarkan sebanyak-banyaknya pelajar kurang mampu melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

 

Hingga 2017, tercatat 18.110 anak muda menjadi alumni program filantropi edukasi yang secara garis besar berbicara pendidikan, kepemimpinan dan keberagamaan yang ramah.

 

Kesurupan pemain kuda lumping pada hakikatnya adalah refleksi. Tamparan yang mengingatkan perilaku manusia saat kehilangan kesadaran, tidak mampu mengendalikan diri maka muncul sejumlah tabiat hewan seperti kera, ular, harimau.

 

Maka bagi setiap dari kita yang kehilangan kesadaran, sibuk memprovokasi, membuat ujaran kebencian hingga fitnah, sudah saatnya mudik ke ajaran agama perdamaian.

 

Saatnya menenggelamkan tabiat hewani dengan berkontribusi membangun negara dengan menjadi individu harapan Rasulullah yang mampu khairunnas anfa'uhum linnas (sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang memberi manfaat bagi orang lain).

 

Atas kekalahan telak dari Denmark dalam hal melawan korupsi hingga menjaga kebersihan yang notabene diajarkan Islam, malu dan beristighfar jelas lebih afdhol.

 

Sangat lucu kontinu berteriak hingga membanjiri media sosial dengan jargon bela Islam, jika melaksanakan satu sabda nabi saja ternyata kita belum sanggup.

 

Selamat Hari Laut Sedunia. Semoga kita mampu bersuara dan bergerak seperti Gus Dur, yang menurut Maulana Habib Luthfi Bin Yahya, seperti lautan yang menerima siapapun dan apapun jenis air yang dari sungai tanpa mencemarinya dan tetap berkarakter dengan jati dirinya. Hidup berdamai dengan ikan-ikan tanpa membuatnya asin. Indonesia seumpama laut dengan beragam ikan.

 

Selamat melaksanakan dan merampungkan ibadah puasa 1439 H. Semoga kita benar-benar menjadi Abdullah, dalam ucapan dan perilaku.

 

Penulis adalah Gusdurian Lampung,  Asinfokom Satkornas Banser.