Minggu, 21 Oktober 2018

MUSEUM PERDAMAIAN DI IRAN: MAKE ART, NOT WAR

Kamis, 20 September 2018
oleh : Afifah Ahmad
Dibaca sebanyak 198 kali
“Seandainya kita tak saling mengerti bahasa masing-masing, kita masih bisa menyampaikan pesan perdamaian lewat senyum”. Itulah kata-kata terakhir yang saya ingat dari Pak Moghadam, salah seorang relawan di museum perdamaian, Teheran. Sungguh beruntung kami bisa mendapat banyak penjelasan darinya. Dia sendiri adalah korban kekerasan perang Iran-Irak Tahun 1980-1988. Jari tangannya tak lengkap, kedua kakinya hilang. Namun, semangatnya tetap menggebu untuk menyuarakan perdamaian. Seperti pagi itu, ia begitu antusias mengantar kami menyusuri Museum.

Pagi baru saja beranjak, saat kami tiba di gerbang Museum Perdamaian. Lokasi museum sendiri terletak di taman Shahrak, tepat berada di jantung kota Teheran. Taman ini sangat luas dan rindang, seperti memoleskan warna lain pada Tehran Tengah yang dipenuhi bangunan klasik dan pusat grosir. Meski Teheran dikenal dengan kota industri yang rawan polusi, tapi kota ini juga mengimbanginya dengan taman-taman luas. Hampir di setiap sudut kota, bisa ditemukan taman-taman yang rindang dan sejuk.

Di taman Shahrak inipun, pohon-pohon besar tumbuh memayungi bangku-bangku tua yang berjajar. Para lansia duduk-duduk santai sambil bercerita seolah itulah rumah kedua mereka. Melihatnya saja sudah memberikan rasa tentram dan damai. Mungkin, tak banyak yang tahu, di salah satu sudut taman ini, perdamaian pun, tak hentinya terus didengungkan oleh seorang veteran perang.

Pak Moghadam dan kursi rodanya dengan lincah mengantar kami menyusuri ruangan demi ruangan museum. Bermula dari ruangan yang bercerita awal mula kejahatan perang terjadi, penggunaan senjata kimia pertama, sampai penjelasan berbagai jenis senjata pemusnah massal modern yang berbahaya. Di bagian ini, pengunjung bisa melihat patung replika para penjahat perang dari Hitler sampai Saddam yang digambarkan sedang berada di tali gantungan. Di bagian lain, digambarkan para korban senjata kimia dunia maupun warga Iran. Memilukan. Menguak simpati terdalam. Dan entah kata apalagi yang dapat mewakili.

“Pada tahun 1988 saat pengumuman perang Iran-Irak berakhir, bagi banyak orang, perang justru baru dimulai. Mereka harus melawan efek senjata kimia yang merongrong tubuh dan hidupnya. Bahkan, ada yang terpaksa harus melakukan operasi puluhan kali pada satu organ tubuhnya. ”Tutur Pak Moghadam dengan penuh keharuan. “Jika perang memang tak bisa dihindari, tapi jangan pernah ada lagi penggunaan senjata pembunuh massal” Tambahnya lagi dengan mata berkaca-kaca.

Bagi saya, ini adalah catatan menarik. Iran yang selama ini digambarkan oleh berbagai media sebagai pembuat senjata nuklir, ternyata malah banyak warganya yang menjadi korban senjata kimia. Museum yang didirikan tahun 2005 ini bertujuan untuk mengenang kembali para korban tersebut. Ada lebih dari 70 museum perdamaian di seluruh dunia, dan museum perdamaian Teheran ini merupakan yang pertama di kawasan Timur Tengah. Menurut Pak Moghadam, para aktivis kemanusian sering menyempatkan untuk berkunjung ke museum ini.

Museum ini sebenarnya tidak terlalu luas, tapi pengaturannya cukup baik sehingga pengunjung tetap bisa mendapat informasi yang lengkap. Ruangan berikutnya, tempat yang mengajak pengunjung untuk mencari spirit perdamaian lewat foto, gambar, dan berbagai karya seni. Ada patung Gandi, Ferdowsi, dan Rumi, yang merupakan simbol perdamaian dunia. Ada miniatur silinder Syrus yang dikenal sebagai piagam perdamaian pertama. Ada juga puisi kemanusiaan Saadi yang disematkan di gedung PBB.

“Anak adam satu badan satu jiwa, tercipta dari unsur yang sama. Bila satu anggota terluka, semua merasa terluka. Kau yang tak berduka atas luka sesama, tak layak menyandang gelar manusia”

Saya merenungi dalam-dalam puisi tersebut. Bila sesama manusia saja kita tidak boleh saling melukai, apalagi sesama muslim yang kata Rasul seperti satu anggota tubuh. Saya teringat muslim di tanah air yang belakangan ini sangat mudah terprovokasi perpecahan. Saling membenci dan menghujat hanya karena fikihnya tidak sama, organisasinya berlainan, atau beda pilihan partai.

“Mari kita foto bersama” Suara pak Moghadam, membuyarkan lamunan saya. Selesai berfoto, kami saling tukar alamat email. Sebelum meninggalkan ruangan, ada ritual yang cukup unik. Pengunjung diminta untuk membacakan keras-keras semacam ikrar perdamaian yang ditulis dalam bahasa Persia dan Inggris. Saya khusuk menyimak saat suami membacakannya.

“Perdamaian, lebih dari sekedar menghindari perang antar negara. Perdamaian sejati, bersumber dari  lubuk hati kita, lalu merembas ke dalam interaksi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Mari saling menginspirasi untuk menjauhi kekerasaan. Mari sama-sama menjadi duta perdamaian”

Ah…kata-kata ini sungguh luar biasa. Benar sekali. Bagaimana kita akan menyuarakan perdamaian, jika dalam hati kita masih disumbat rasa kebencian, hasud, dan iri. Perdamaian hanya akan muncul dari hati-hati yang tulus. Menerima segala perbedaan dengan lapang.

Museum perdamaian ini, benar-benar tempat yang menginspirasi. Sambil berjalan meninggalkan taman, saya terkenang pada sebuah karya seni yang berada dalam museum perdamaian tadi. Lipatan burung Jenjang sebagai lambang perdamaian dan bunga-bunga kertas yang ditempelkan pada sebuah topi karton bertuliskan: “Make Art, Not War” Mari menulis, membaca, berkarya dan berhenti menebar kebencian. Selamat Hari Perdamaian Internasional 2018.

Afifah Ahmad, Penggerak Gusdurian Teheran dan penulis buku The Road to Persia.