Sabtu, 24 Agustus 2019

NILAI GUS DUR PERSEPEKTIF BUDAYA BUGIS DAN AKUNTANSI

Kamis, 23 Mei 2019
oleh : Muhammad Aras Prabowo
Dibaca sebanyak 323 kali
Berbicara tentang Gus Dur sama dengan membicarakan tentang ilmu pengetahuan. Karena keluasan pengetahunnya, kemudian menjadikan Gus Dur sebagai gudang ilmu. Semua orang silih berganti dalam mencicipinya. Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) melebur menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan hingga membentuk sebuah komunitas yang dinamakan Gusdurian. Berbicara tentang Gus Dur adalah berbicara tentang struktur pengetahuan yang kemudian dikristalisasi menjadi Sembilan nilai-nilai utama Gus Dur. Nilai-nilai tersebut yaitu Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasa, Kesederhanaan, Keksatriaan dan Kearifan Lokal.

 

Nilai-nilai tersebut telah diformulasi oleh murid-murid Gus Dur hingan menjadi baku, tentu dengan pemikiran yang panjang dengan menkorelasikan semua aspek kehidupan Gus Dur. Khususnya dalam perjuangannya membela kaum minoritas dan kelompok yang termajinalkan. 

Namun kebakuan terhadap nilai-nilai Gus Dur bukan tidak mungkin dinilai dengan perspektif yang berbeda. Kenapa?. Karena nilai-nilai Gus Dur sendirilah juga yang membuka peluang tersebut. Oleh karena itu, saya akan memberikan analisis mengenai pandangan saya terhadap nilai-nilai Gus Dur dari persepektif budaya Bugis dan Akuntansi sebagai kebudayaan dan bidang keilmuan saya.

Perspektif saya bukan tanpa dasar yaitu bahwa nilai kesembilan Gus Dur adalah kearifan lokal. Hal tersebut yang kemudian membuat kajian tentang Gus Dus semakin luas. Melampaui budaya tempat kelahiran Gus Dur sendiri, tapi bergerak ke timur Indonesia di pulau Celebes yang berkebudayaan Bugis.

Selain itu, karena nilai-nilai Gus Dur yang sedemikian luas hingga menembus batas hingga masuk dalam kode etik profesi professional serorang Akuntan. Sekali lagi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai Gus Dur telah menjalar keberbagai lini kehidupan bukan hanya tentang kehidupan social secara umum, akan tetapi masuk dalam sendi-sendi etika profesi.

Berikut hasil analisis saya terhadap nilai-nilai Gus Dur perspektif nilai budaya Bugis dan akuntansi:

Pertama, merupakan sumber dari perilaku Gus Dur antar sesama manusia, tanpa memandang suku, agama, ras dan antargolongan. Manusia satu dengan yang lain adalah satu kesatuan atau sebagai cermin bagi manusia yang lain. Oleh karenanya setiap perilaku dan perbuatan untuk sesama manusia harus dikembalikan terlebih dahulu kepada diri masing-masing. Sesungguhnya yang baik bagi orang lain juga baik diri sendiri. Sehingga memperlakukan orang lain sama dengan memperlakukan diri sendiri.

Kedua, kemanusiaan ialah implementasi nilai tauhid oleh Gus Dur. Kemanusiaan adalah seperangkat perilaku dengan menjunjung tinggi perilaku saling mengingatkan, saling menghargai, saling membantu, dan saling membahagiakan. Dalam falsafah Bugis dikenal sipakainge, sipakalebbi, sipatokkong, nennia sipakarennu. Keempat perilaku, ini oleh setiap manusia tanpa kita tanyakan sudah pasti menyenangi perilaku tersebut jika dipersembahkan antarsesama.

Ketiga, keadilan yaitu prinsip Gus Dur dalam berprilaku. Keadilan ditopang oleh nilai yang lain seperti konsisten, kejujuran, dan kebenaran. Falsafah Bugis menyebutnya getteng, lempu, nenia ada tongeng. Nilai inilah yang membuat Gus Dur tidak berharga, bukan karena tidak memiliki harga, namun tidak ada yang bisa menaksir harga Gus Dur. Atau dengan kata lain bahwa Gus Dur itu tidak bisa dijengkal. Hal ini yang membuat Gus Dur tidak memiliki beban dalam memperjuangkan hak-hak minoritas dan kelompok yang termajinalkan. Keadilan juga sangat erat kaitannya dengan etik profesi Akuntan apabila jika dihadapkan dilamatis etika. Bahwa harus menjunjung tinggi nilai keadilan dalam profesi hingga seorang Akuntan menjadi independen.

Kempat, kesetaraan adalah out comedari keadilan. Bahwa setiap manusia (tanpa melihat suku, agama, ras dan antargolongan) memiliki kesamaan kedudukan serta hak asasi manusia. Nilai kesetaraan nampak jelas dalam diri Gus Dur saat memperjuangkan minoritas seperti hak-hak beragama warga Tionghoa. Atau saat Inul ramai-ramai dibully terkait goyanannya. Kesetaraan dibidang akuntansi juga bias diimplementasikan diantara sesame karyawan, harus digaji berdasarkan kuantitas kerjanya masing-masing.

Kelima, pembebasan atau kemerdekaan bahwa setiap manusia memiliki kebebasan selama dalam koridor nilai-nilai etis. Sehingga kebebasan yang dianut tidak menciderai dengan kebebasan atau sisi kemanusiaan orang lain. Tidak dikekang oleh pimpinan entitas dalam dunia akuntansi.

Keenam, kesederhanaan. kenapa bukan berlebihan?, karena berlebihan cenderung mengusik sisi kemanusiaan orang lain. Kesederhanaan mencerminkan nilai kepatutan dan kesesuaian dalam mejalani kehidupan sosial. Kalau dalam ilmu akuntansi mencerminkan nilai kewajaran/nilai pasar atau dilakukan oleh manusia pada umumnya, nilai tersebut juga akan menghindarkan pada praktik koruptif dalam profesi. Suku Bugis menyebutnya asitinajang.

Ketujuh, persaudaraan tercipta karena saling memanusiakan seperti yang dijelaskan dalam nilai kemanusiaan. Oleh Gus Dur diteladankan ketika beliau tetap bersilaturahim dengan orang-orang yang pernah manghakiminya atau menjadi lawannya seperti pak Harto. Persaudaraan dalam konteks ke-Indonesia-an adalah kewajiban setiap warga negara tanpa memandang suku, agama, ras dan antargolongan.

Kedelapan, keksatriaan implementasi nilai keadilan adalah sebuah keniscayaan tanpa keberanian. Berani dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dengan prinsip ke-konsisten-an, ke-jujur-an dan ke-benar-an. Artinya bahwa Gus Dur kebal dari intervensi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, bahkan meskipun intervensi tersebut bisa menguntungkan gus dur secara materi. Dalam falsafah bugis disebut awaraningeng. Sedangkan di akuntansi adalah berani bertentangan dengan pimpinan jika terjadi penyelewengan wewenang atau ajakan kerjasama yang melanggar standar akuntansi dan profesi.

Terakhir, kearifan lokal merupakan nilai leluhur yang bersesuaian dengan nilai agama dan kemanusiaan. Untuk itu oleh Gus Dur harus dijaga dan dilestarikan. Kenapa?. Karena dalam konteks tertentu dapat sangat berguna dalam penyelesaian masalah di tengah masyarakat. Seperti yang diketahui bersama bahwa Indonesia terdiri dari banyak suku dan bahasa sehingga dalam keberlangsungan berbangsa dan bernegara kearifan lokal sangat dibutuhkan disamping pancasila sebagai dasar dan pemersatu negara kesatuan republik indonesia. Dalam akuntansi, saat ini telah berkembang kajian akuntansi multiparadigma termasuk akuntansi dalam budaya. Oleh penulis telah menerbitkan buku “Akuntansi dalam Kebudayaan Bugis” sebagai bentuk pengejewantahan nilai Gus Dur yang terakhir (kearifan lokal).

Kesimpulan bahwa kenapa Gus Dur memiliki perilaku mulia yang membumi, meskipun setelah kepergiannya namun masih terus dikenang dan dibicaran. Saya berpandangan bahwa Gus Dur dalam proses hidupnya telah melalui pencarin jati diri hingga iya pantas disebut sebagai seorang Waliyullah. Oleh karena maqam tersebut maka tidak heran ketika ia menjadi rahmat bagi seluruh alam tidak lagi memandang suku, agama, ras dan antargolongan. Saya kira ini yang harus kita cari bersama sebagai manusia yang beriman bahwa menurut saya ke 9 nilai Gus Dur adalah konsep paripurna agama Islam yaitu Syariat, Tarekat dan Ma'rifat. 

Persepsi saya bahwa inilah yang menjadi sumber karomah Gus Dur yang mengalir sampai saat ini. Jika seorang Akuntan mampu menempuh jalan yang dilalui oleh Gus Dur maka saat itu dia disebut wali Akuntan.

 

 

 

 

 

 

 

 

(Disampaikan dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Gusdurian Gorontalo Tanggal, 19 Mei 2019, Pukul 20.30 WITA)

 

Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak

Penulis buku “Akuntansi dalam Kebudayaan Bugis”

Dosen Universitas Nahdatul Ulama Indonesia