Selasa, 21 November 2017

OM SIUMAN OM

Kamis, 19 Januari 2017
oleh : Gatot Arifianto
Dibaca sebanyak 873 kali
Pesan berantai dan media sosial masih menjadi sarana efektif membangun citra hingga opini publik dengan berbagai sudut pandangnya, satu contoh, dizalimi. Pesan berantai belakangan ini muncul di sejumlah linimassa hingga grup-grup Whatsapp ialah "Gerakan Siluman". Padanan kata tersebut sepertinya enak dibahas sembari ngopi dengan pertanyaan: baru siuman, om? Pesan berantai dimaksud intinya menyebarkan isu, ada desain dibuat lembaga bentukan institusi negara agar masyarakat di berbagai daerah ramai-ramai sepakat, membubarkan organisasi identik dengan radikal, suka menghujat dan merasa paling benar sebagaimana performance pemimpinnya yang bisa disaksikan di youtube.
 
 
Bagi saya, pesan tersebut dengan sendirinya menegaskan, kalau di Indonesia, Al Quran yang semestinya sebagai tuntunan umat Islam hingga kini belum diresapi serius dan kemudian dilakukan sejumlah penganutnya.
 
QS Asy Syura 42:30 menyatakan wa ma asabakum min musibatin fa bi ma kasabat aydikum wa ya’fu an kasir(kasirin). Artinya, dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). 
 
Saya mengutip satu ayat, yang jauh-jauh hari sudah mengingatkan sebab akibat, agar tidak ada banjir ya jangan menebangi pohon hingga membuang sampah di sungai juga selokan. Dalam bermasyarakat, kita kenal peribahasa mulutmu harimaumu. Apa hubungannya dengan Asy Syura 30 sudah gamblang. Siapa menanam akan memanen. 
 
Dengan kegamblangan tersebut, haruskah kita yang jarang, mungkin juga tak pernah berterimakasih pada petani, menghujat, menyalahkan mereka yang bersusah payah berlumpur, berlumur peluh, menanam, saat panen padi mereka tanam tidak sesuai selera kita? Jika iya, kita bisa menyimpulkan sendiri, umat Islam dan khalifah jenis apa kita ini sehingga perlu sesegera mungkin atau dalam tempo sesingkat-singkatnya merumuskan dan melakukan "Gerakan Siuman Nasional" agar terbebas dari pingsan dan alpa dari firman.
 
Dan jika belum gamblang, buang saja sampah sembarangan di rumah kita dengan kontinu, hasil lazim dihasilkan tentu bau tak sedap dan kotor. Jika hasilnya kontradiksi, bersih, indah dan wangi: om siuman om, ini dunia manusia, bukan siluman.
 
Penulis motivator dan praktisi NNLP. Bergiat di GP Ansor dan Gusdurian.