Sabtu, 15 Desember 2018

PEREMPUAN, PELECEHAN SEKSUAL, DAN PERKOSAAN

Senin, 26 November 2018
oleh : Haris el Mahdi
Dibaca sebanyak 187 kali
"Saya pernah mengalami pelecehan seksual. Ini baru pertama kali saya ceritakan. Kejadian di asrama dinas tempat keluarga saya tinggal. Pelaku adalah ayah dari sahabat saya, ia meremas payudara saya......." Cerita berhenti, perempuan itu histeris, menangis cukup lama. Memorinya terbuang ke masa itu, saat pelecehan seksual menimpa dirinya. Trauma yang ia pendam lama tak cukup kuat untuk diucap dalam kata-kata yang lugas. Kemudian, setelah forum berhenti sejenak, perempuan lain bercerita tentang pengalamannya dilecehkan secara seksual oleh laki-laki.
 
 
 
 
 
 
Perempuan itu mempunyai passion di dunia kesenian. Dan, karena passion itu, ia bekerja di sebuah galeri seni. Seorang senior yang sudah beristri menjadi pembimbingnya dalam menapaki dunia kesenian dan membangun jaringan.
 
Suatu ketika, dalam kondisi sepi, di galeri seni, senior itu berusaha menciumnya. Dan, dengan segenap tenaga perempuan itu menolak sekaligus memarahi si senior itu...
 
Cerita berhenti, perempuan ini histeris, menangis....
 
Kemudian, dengan terbata-bata, ia mengumpulkan segenap kekuatan untuk terus bercerita. 
 
"Setiap kali bertemu laki-laki itu, saya merasa marah, jijik, dan trauma"
 
Namun, Perempuan ini berada di persimpangan jalan. Ia marah dan trauma pada laki-laki itu, tapi di sisi lain, ia butuh laki-laki itu untuk membimbing di dunia kesenian dan membangun jaringan.
 
Dua testimoni itu menjadi "pemantik tak terduga" dalam forum Jagongan Gusdurian Batu, di Omah Jiwo.
 
Di sela-sela testimoni dua perempuan itu, Salma Safitri, salah satu pemantik Jagongan, berseloroh :
 
"Saya percaya (hampir) semua perempuan pernah mengalami pelecehan seksual"
 
Sebelumnya, Salma Safitri juga bikin testimoni percobaan perkosaan atas dirinya, yang dilakukan oleh laki-laki yang sedang dalam proses penjajagan menjadi pacar, PDKT istilah kerennya.
 
Testimoni mbak Fifi ini diikuti dengan testimoni mbak Lisa yang mengalami beberapa kali pelecehan seksual di dunia kerja oleh bosnya.
 
Berbeda dengan dua perempuan di atas, Mbak Fifi dan Mbak Lisa bertestimoni dengan gagah. Dua perempuan ini telah melampaui fase-fase traumatik.
 
Meskipun demikian, dalam pengakuan mbak Fifi, trauma itu kadang masih sering muncul. Pelecehan seksual dan perkosaan memang kerap menghujam di pikiran dan perasaan seorang perempuan. Bertahun-tahun, perempuan penyintas pelecehan seksual dan perkosaan niscaya menanggung trauma yang perih.
 
Melalui jalur pribadi, seorang perempuan yang hadir dalam jagongan Gusdurian, mengungkapkan kekesalannya :
 
"Orang laki-laki itu kalau tidak bisa menahan nafsunya, mbok puasa, menahan diri, bukan mengumbar pelecehan seksual di mana-mana"
 
Adalah tidak mudah, memang, menjadi perempuan di tengah dunia yang patriarki. "Tubuh perempuan", demikian seru Simone de Beuvoir, "adalah medan  pertarungan kuasa kebudayaan maskulin"
 
Pierre Bourdieu sampai membuat tulisan bertajuk "Hegemoni Maskulin". Kebudayaan, sejatinya, dirancang dengan wajah bias gender, yang memposisikan perempuan sebagai kelamin kedua, yang disub-ordinatkan.
 
Dalam dunia patriarki, perempuan kerap menjadi subyek lelucon seksual dan perempuan harus diam. Ketika perempuan berani bersuara dan melawan segala pelecehan yang menimpa dirinya, si perempuan akan menjadi sasaran bullying, tidak hanya oleh laki-laki tetapi juga oleh sesama perempuan itu sendiri.
 
Jagongan Gusdurian kali ini, sejatinya adalah sebuah refleksi atas kasus yang menimpa Agni di UGM dan Ibu Nuril di NTB. Agni adalah perempuan yang diperkosa oleh sesama mahasiswa, sedangkan, Ibu Agni adalah perempuan yang dilecehkan secara seksual oleh kepala sekolah.
 
Kasus Agni dan Bu Nuril adalah puncak gunung es pelecehan seksual dan perkosaan di Indonesia. Ada begitu banyak penyintas pelecehan seksual dan perkosaan di negeri ini. Pun, para penyintas pelecehan seksual dan perkosaan itu menanggung derita dahsyat bertahun-tahun.
 
Mbak Fifi saja, aktivis perempuan penyintas pelecehan seksual, yang mendapat layanan konseling terbaik di Indonesia, mendapat pembelaan begitu banyak dari tokoh-tokoh penting di negeri ini, Bahkan,  Sinta Nuriyah Wahid, yang saat itu menjadi ibu negara juga memberi support; masih saja mengalami trauma begitu rupa, bertahun-tahun. Apalagi, perempuan penyintas pelecehan seksual dan perkosaan yang jauh dari akses konseling dan pembelaan.
 
Ada satu poin penting, pelecehan seksual dan perkosaan bisa menimpa perempuan dari tingkat strata apapun. Dari perempuan yang buta huruf sampai perempuan terdidik. Dari perempuan desa sampai perempuan perkotaan.
 
Pun, untuk mereduksi praktik pelecehan seksual dan perkosaan, laki-laki bertanggung jawab untuk tidak melihat perempuan dengan mata nafsu, tapi melihatnya dengan mata kemanusiaan. Pemuliaan perempuan adalah dengan mendengar pikiran dan perasaannya, bukan melihat tubuh perempuan dengan mata jelalatan.
 
Abad 21 adalah abad perempuan harus bicara sekaligus abad laki-laki bertanggung jawab memuliakan perempuan.