Sabtu, 15 Desember 2018

PERLUKAH PERDA SYARIAH UNTUK MENGATUR KEHIDUPAN ISLAMI?

Sabtu, 24 November 2018
oleh : Fatikhatul Faizah
Dibaca sebanyak 508 kali
Tahun politik kali memang tak henti memberikan kejutan-kejutan bagi bangsa Indonesia. Kali ini kejutan hadir dari pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie. Pernyataannya membuka kembali kontroversi tentang Perda (Peraturan Daerah) Syariah. Grace menyatakan menolak atau bahasa halusnya tak sependapat dengan adanya Perda syariah. Sebenarnya ketidaksetujuannya tidak hanya pada Perda syariah, tapi lebih kepada perda-perda berdasarkan kepentingan kelompok tertentu karena rawan diskriminasi.

Oknum daripada bangsa kita yang hobi lapor-melapor dan tuntut-menuntut pun merespon pernyataan Grace dan melaporkannya atas dugaan penistaan agama. Tak hanya itu, PSI juga sontak mendapat labeling sebagai partai anti-Islam. Rentetan ini semakin memanjang saja, apalagi pertanyaan Grace diungkapkan dalam nuansa politik.

Berbincang mengenai Perda Syariah, kebijakan ini lahir dari rahim masing-masing daerah sesuai dengan kebutuhan lokal daerah tersebut, tapi dengan syarat mutlak tidak boleh bertentangan dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar, dan Peraturan Pemerintah. Namun, realitasnya dalam satu daerah tidak hanya bernaung satu agama, satu suku, satu ras, dan satu kelompok tertentu. Tentu jika diberlakukan akan menuai ketimpangan pada kelompok lain. Bukankah produk hukum dibuat untuk melindungi dan menjamin masyarakat? Jika malah memunculkan hal yang sebaliknya, artinya hak sebagai warga negara telah terusik. Tentu hal ini telah mengkhianati nilai-nilai ideologi bangsa kita, Pancasila.

Sebenarnya, lagi-lagi ini semua tentang pemaknaan agama dan cara pandang kita. Ada yang menganggap ekspresi keagamaan hanya sebatas konsumsinya terhadap produk-produk yang dianggap islami. Namun, banyak pula masyarakat kita yang menganggap religiusitas keagamaan tidak hanya sekedar simbol-simbol keagamaan semata, melainkan tertuang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti halnya kehidupan santri. Kehidupan santri tidak ada produk aturan yang menggunakan label syariah, tetapi memiliki nilai-nilai agama yang tertuang dalam kehidupannya.

Menyikapi Perda Syariah dengan Cara Pandang Pesantren

Sebenarnya kita perlu nyantri untuk sedikit banyak membenahi pemaknaan kita terhadap agama. Belakangan ini agama hanya sebagai jubah, substansi ajarannya semakin tergerus. Pesantren menjadi salah satu pilar yang sangat penting guna mengemban substansi-subtansi ajaran Islam. Sebab selain mencerdaskan secara intelektualitas dan spiritualitas, pesantren pun memiliki tugas yang besar dalam menjaga keutuhan negeri.

Posisi pesantren sangatlah kuat dalam memberikan pemahaman kepada para santrinya agar Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin. Pesantren menghindari mengajarkan pemahaman yang mengarahkan kepada fanatisme golongan di samping kebenaran ajaran agamanya yang dianutnya. Misi perdamaian ini sesungguhnya sejak awal munculnya pesantren telah diterapkan oleh para kyai, baik melalui kurikulum maupun tingkah laku sehari-hari.

Sebagai lembaga pendidikan Islam menebar misi “rahmatan lil alamin”, pesantren  menjadi rahmat bagi semua orang melalui gerakan pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Pesantren melakukan pembelajaran perdamaian untuk santrinya melalui 4 prinsip pesantren, yaitu tawassuth (pertengahan); tidak ekstrim, tawazun (keseimbangan); tidak berat sebelah, i’tidal (jejeg/konsisten-proporsional); tidak condong ke kiri-kirian atau ke kanan-kananan, dan tasamuh (toleran). Kesemua prinsip tersebut diajarkan melalui bahasa santri yaitu pembelajaran dengan kitab kuning yang diajarkan hampir setiap hari.

Budaya pembelajaran pesantren tersebut menjadi landasan para santri dalam melihat dan menyikapi konflik secara komprehensif.  Inilah sebuah langkah konkret aksi perdamaian yang dipelopori oleh santri. Selain dibekali ilmu agama yang mendasar, akhlak yang baik, serta cara dakwah yang santun, peran santri dalam mewujudkan perdamaian untuk semua umat adalah sebuah representasi dan manifestasi dari kontekstual Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kasih sayang yang diajarkan dalam Islam bukan hanya untuk sesama muslim tetapi untuk semua manusia tanpa terkecuali.

Perannya sangat nyata, pondok pesantren secara istiqamah tetap mempertahankan tradisi kedamaian, keseimbangan, dan keharmonisan lingkungan. Pesantren secara doktrinal tetap mengembangkan prinsip ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah dalam upaya memperkokoh tatanan masyarakat di dalam pesantren, masyarakat sekitar pesantren, masyarakat umum, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Banyak nilai Islam yang menjunjung perdamaian diajarkan di pesantren, juga termasuk Hak Asasi Manusia (HAM) yang telah diajarkan melalui kuliyatul khoms.

Peran pesantren dalam pembudayaan nilai, norma, sekaligus pesan-pesan keagamaan yang sarat dengan harmoni, kerukunan, persatuan dan kedamaian sangat penting. Termasuk di dalamnya melestarikan budaya lokal dan memelihara nilai-nilai dan tatanan sosial yang harmonis di sekelilingnya. Dalam pendidikan formal dan non formal santri perlu dibangun kesadarannya tentang keragaman dan toleransi untuk ke depannya sebagai bekal di tengah masyarakat yang beragam. Nilai-nilai Islam dalam pesantren menjadi ruh kehidupan para santri, walaupun tanpa ada formalisasi aturan agama. Wallahhu a’lam.

Fatikhatul Faizah, Penulis adalah pegiat kajian Tafsir Pesantren Sunan Pandanaran dan Alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran. Alumni Sekolah Menulis Kreatif Jogja.