Selasa, 22 Oktober 2019

PESANTREN, KEARIFAN LOKAL, DAN KEBUDAYAAN INDONESIA

Rabu, 25 September 2019
oleh : Fatikhatul Faizah
Dibaca sebanyak 147 kali
Indonesia rumah bersama. Sebagaimana semboyan Bhinneka Tunggal Ika-berbeda-beda tetapi tetap satu. Namun, dewasa ini sebagian golongan mempermasalahkan adanya keragaman itu, sikap intoleran pun semakin meluas di masyarakat. Golongan ekstrimis semakin ekstrim, golongan radikalis semakin radikal, golongan fundamentalis semakin fundamental, tidak mau kalah saing, golongan wasathiyyah (tengah) pun semakin gencar mempromosikan prinsip ketengahannya.

Keberagaman bukanlah ancaman, melainkan sebuah nikmat Tuhan. Menciptakan perdamaian pun bukanlah tugas suatu golongan. Melainkan tugas semua elemen masyarakat. Semuanya harus menginisiasi perdamaian sejak dalam pikiran. Tantangan ini semakin nyata di depan mata, pendidikan perdamaian pun terus digadang-gadang sebagai anti-tesis dari sikap intoleran.

Pendidikan perdamaian bukan hanya kewajiban pihak formal yang digadang pemerintah dan lembaga yang disebut sekolah. Pendidikan perdamaian pun memerlukan peran masyarakat mayoritas di Indonesia yaitu masyarakat Muslim. Masyarakat Muslim identik dengan kepemilikan lembaga non-formalnya, atau biasa disebut dengan pondok pesantren.

Pesantren sebagai institusi yang dimiliki oleh umat Muslim memiliki peran penting sebagai wadah pendidikan perdamaian. Berkembang pesatnya pesantren menjadikan ia satu-satunya sistem pendidikan par excellence dan dianggap sebagai produk budaya Indonesia yang indigenous (Mastuki HS,2016). Mastuki juga mengungkapkan bahwa, keaslian bentuk dan sistem pendidikan pesantren inilah yang membuat pemerintah Hindia-Belanda, dalam rangka politik etis pernah mempertimbangkannya sebagai alternatif “penyediaan pendidikan yang dimaksudkan bagi kalangan pribumi”, meskipun akhirnya ditolak.

Kembali lagi kepada pesantren. Kyai, santri, langgar (surau), dan kitab kuning merupakan elemen-elemen yang terikat antara satu dengan yang lainnya. Elemen-elemen itulah yang membentuk pesantren. Jika salah satunya terlepas, maka tidak bisa disebut pesantren.  Di pesantren, peran kyai sangatlah besar. Di tangannya-lah sistem dan substansi pembelajaran di pesantren terbentuk. Selain itu, latar belakang kyai juga sangat mempengaruhi jenis kelamin berdirinya pesantren. Ada yang memang konsennya pada kajian turats, yaitu kitab kuning saja. Ada pula yang fokus tahfidz al-Quran, dan di era modern ini banyak pesantren yang menyatakan dirinya sebagai pesantren bahasa. Jika kita ingin melihat wajah kearifan lokal budaya Indonesia, maka pesantren bisa dijadikan cerminanya, karena inilah produk asli budaya Indonesia.

Lembaga Pendidikan Rahmatan lil Alamin

Sebagai lembaga pendidikan Islam khas Indonesia, jumlah pesantren setiap tahunnya terus bertambah dan berkembang. Pada era modern ini, pesantren menjadi salah satu pilar yang sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab selain mencerdaskan secara intelektualitas dan spiritualitas, pesantren pun memiliki tugas yang besar dalam menjaga perdamaian.

Posisi pesantren sangatlah kuat dalam memberikan pemahaman kepada para santrinya agar Islam menjadi rahmatan lil alamin. Pesantren harus menghindari mengajarkan pemahaman yang mengarahkan kepada fanatisme golongan di samping kebenaran ajaran agamanya yang dianutnya. Bukan kitab sucinya yang saling menyalahkan melainkan umatnya yang menafsirkan kurang bijak sehingga para pemeluk agama ada yang kurang bisa menerima keberadaan agama lain. Santri sangat dimungkinkan membenci golongan lain yang tidak sefaham. Hal ini tentu membahayakan. Meskipun secara lahiriah tidak terlihat efeknya, namun ketika bersinggungan dengan orang yang berfaham beda, maka akan terjadi ketidakcocokan dan bahkan akan saling menyalahkan. Ngeri bukan? Selain itu pesantren juga harus mewaspadai aliran-aliran baru yang cenderung radikal yang bisa masuk ke pondok pesantren dan mungkin bisa menggerogoti faham yang sudah ada dengan faham baru yang keras.

Agen Perdamaian

Misi perdamaian ini sesungguhnya sejak awal munculnya pesantren telah diterapkan oleh para kyai, baik melalui kurikulum maupun tingkah laku sehari-hari. sebagai lembaga pendidikan Islam menebar misi “rahmatan lil alamin”, menjadi rahmat bagi semua orang melalui gerakan pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. pesantren melakukan pembelajaran perdamaian untuk santrinya melalui 4 prinsip pesantren, yaitu tawassuth (pertengahan); tidak ekstrim, tawazun (keseimbangan); tidak berat sebelah, Itidal (jejeg/konsisten-proporsional); tidak condong ke kiri-kirian atau ke kanan-kananan, dan tasamuh (toleran). Kesemua prinsip tersebut diajarkan melalui bahasa santri yaitu pembelajaran dengan kitab kuning yang diajarkan hampir setiap hari. Hal inilah yang menjadi landasan para santri dalam melihat dan menyikapi konflik secara komperehensif.  Inilah sebuah langkah konkret aksi perdamaian yang dipelopori oleh santri. Selain dibekali ilmu agama yang mendasar, akhlak yang baik, serta cara dakwah yang santun, peran santri dalam mewujudkan perdamaian untuk semua umat adalah sebuah representasi dan manifestasi dari kontekstual Islam yang rahmatan lil alamin. Kasih sayang yang diajarkan dalam Islam bukan hanya untuk sesama Muslim tetapi untuk semua manusia tanpa terkecuali.

Best Practices Inisiatif Damai Pondok Pesantren

Nah, bagaimana sih peran pesantren di tengah keberagaman masyarakat? wilayah kerja pesantren, awalnya terfokus pada dimensi religius yang bersifat normatif dan ekslusif daripada dimensi kemasyarakatan yang bersifat praktis, humanis, dan inklusif. Namun seiring berjalannya waktu yang menuntut dinamika masyarakat yang cepat dan beragam, selanjutnya pesantren ini pun hadir sebagai institusi yang responsif, proaktif, serta akomodatif.

Di samping dimensi keagamaan, keberadaan Pondok Pesantren ini juga berusaha melakukan upaya yang berkaitan dengan persoalan kemasyarakatan yang kompleks dan pemberdayaannya. Semua itu dilakukan demi terbentuknya masyarakat yang madani, yakni masyarakat yang lebih mengutamakan keadilan, kebersamaan, dan menafikan sekat-sekat penghalang atas dasar agama, ras, suku, golongan, serta etnis yang selama ini ada dan hidup di tengah-tengah masyarakat.

Pesantren dapat dijadikan contoh dalam upaya mengkampanyekan perdamaian dalam berbagai konteks. Di luar sana masih banyak lagi pendekatan yang harus dipakai, artinya dalam mewujudkan dunia yang damai memang harus dengan berbagai cara dan keterlibatan dari semua pihak. Selain upaya tersebut dapat juga dilakukan upaya preventif lain seperti menanamkan sejak dini sikap toleransi terutama dalam pendidikan yang ada di keluarga, kemudian kesadaran akan keberagaman, kasih sayang sesama mahluk, dan menebarkan kebaikan serta menjadikannya sebuah pribadi yang akan terus melekat dalam diri kita masing-masing.

Perannya sangat nyata, pondok pesantren secara istiqamah tetap mempertahankan tradisi kedamaian, keseimbangan, dan keharmonisan lingkungan. Pesantren secara doktrinal tetap mengembangkan prinsip ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah dalam upaya memperkokoh tatanan masyarakat di dalam pesantren, masyarakat sekitar pesantren, masyarakat umum, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Banyak nilai Islam yang menjunjung perdamaian diajarkan di pesantren, juga termasuk Hak Asasi Manusia (HAM) yang telah diajarkan melalui kuliyatul khoms. Peran pesantren dalam pembudayaan nilai, norma, sekaligus pesan-pesan keagamaan yang sarat dengan harmoni, kerukunan, persatuan dan kedamaian sangat penting. Termasuk di dalamnya melestarikan budaya lokal dan memelihara nilai-nilai dan tatanan sosial yang harmonis di sekelilingnya. Dalam pendidikan formal dan non formal santri perlu dibangun kesadarannya tentang keragaman dan toleransi untuk ke depannya sebagai bekal di tengah masyarakat yang beragam.

Tidak perlu jauh-jauh, Gus Dur adalah produk nyata pondok pesantren yang telah meneladankan nilai kearifan lokal pesantren yang kemudian menerapkan nilai-nilai yang lain, seperti membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan.

Fatikhatul Faizah, penulis adalah alumni Sekolah Menulis Kreatif Jogja 2018.