Minggu, 21 Juli 2019

PRIBUMISASI ISLAM DAN TANTANGAN KEBINEKAAN INDONESIA: REFLEKSI PEMIKIRAN DAN AKSI GUS DUR

Rabu, 06 Maret 2019
Dibaca sebanyak 620 kali
Akhir-akhir ini banyak keprihatian muncul akibat dari pemahaman dan aksi sebagian masyarakat tentang keagamaan Islam yang mengarah pada intoleransi, mengedepankan kebencian dan permusuhan. Gejala itu hampir menjadi gambaran umum masyarakat Indonesia bahkan di pemberitaan dan studi-studi secara internasional. Namun, sifat-sifat tersebut bertentangan dengan karakteristik atau citra dari bangsa Indonesia yang selama ini dikenal, mayoritas Muslim, sopan santun, toleran, dan gotong royong serta berbudaya halus.

 

Ada benarnya banyak orang mengarahkan telunjuk pada pengaruh pemahaman Islam dari luar, misalnya Wahabi dan Ikhwanul Muslim belakangan Taliban, Jamaah Islamiyah dan ISIS yang cenderung menolak adaptasi pemahaman Islam dengan lokalitas. Didukung oleh kemajuan teknologi informasi khususnya sosial media jadilah kecenderungan tersebut menjadi epidemik, menyebar dan mengancam siapa saja.

Tetapi kecenderungan tersebut bukanlah wajah satu-satunya. Gerakan sebaliknya yang menantang arus tersebut juga tidak kurang derasnya. Mereka dengan gigih menawarkan pluralisme, kebinekaan, toleransi dan hormat kepada lian (others). Gerakan-gerakan tersebut bahkan dilakukan oleh anak-anak muda yang dalam kesan umum cenderung pragmatis, tidak peduli dan easy goingserta maniak sosial media. Namun tulisan ini tidak akan membahas tentang gejala sosologis dan politis mereka melainkan akan mencoba melihat apa dibalik gerakan tersebut: suatu visi dan metodologi perubahan dan tantangannya ke depan sebagai kritik diri. 

 

Pribumisasi Islam sebagai visi dan aksi

            Istilah pribumisasi yang dikaitkan dengan Islam, pribumisasi Islam, mungkin pertama kali dicetuskan oleh Gus Dur. Tetapi pribumisasi Islam sebagai gagasan dan praktik kehidupan dan kebudayaan masyarakat dan keagamaan khususnya di Jawa atau di Nusantara sesunggunhya sudah lama terjadi. Gus Dur tampaknya hanya hendak merevitalisasi praktik proses akulturasi dan menyatunya Islam dan budaya lokal di Jawa dan Nusantara yang sudah lama berlangsung itu namun mengalami serangan kemudian kemunduran secara signifikan. 

Pribumisasi Islam bagi Gus Dur bukan berarti meninggalkan aslinya dan beralih kepada yang lokal dan baru. Pribumisasi Islam juga bukan mencampuradukkan antara inti iman dan Islam dengan budaya dan kepercayaan lokal. Gus Dur memberikan ilustrasi pribumisasi Islam bagaikan alir mengalir lewat sungai. Air yang mengalir di sebuah sungai adalah air yang berasal dari ujung mata air. Di perjalanan air itu bercampur dengan apa saja dan mengalir bersama-sama. Namun, air itu adalah yaair yang berasal dari mata air di ujung sungai itu dan tidak berganti menjadi air yang baru di tengah jalan. Dengan kata lain, pribumisasi Islam tidak menggantiakn Islam yang lama yang berasal dari sumbernya dengan Islam yang baru yang ada dan berkembang di suatu daerah.

Sebagaimana air yang mengalir di sungai maka pribumisasi Islam juga berlangsung terus menerus berasal dari sumbernya secara tidak berkeputusan dan terjadi dialektika antara yang berasal dari mata airnya dengan realitas kehidupan yang kerkembang dimana peristiwa itu sedang berlangsung. Begitulah pribumisasi Islam. Demikian juga hubungan antara Islam dan kebudayaan lokal. Menurut Gus Dur, hubungan itu tidak saling menegasikan namun juga tidak saling bercampur melainkan saling berdialektika dengan saling mempekuat satu dengan yang lain. 

 

Pola Islamisasi di Jawa

Praktik Islamisasi seperti yang digambarkan oleh Gus Dur telah terjadi sejak lama setidaknya di Jawa dan di Nusantara. Tasawuf yang dibawa oleh para pedagang dan sufi pengembara adalah pertama-rama yang melakukannya. Islam mungkin sudah masuk wilayah nusantara sejak abad ke-8 atau kedua atau bahkan abad pertama hijriyah namun Islam benar-benar tersebar luas di masyarakat dan bahkan di kalangan bangsawan dan keluarga raja dan melahirkan karya intelektual dan gerakan tarekat kira-kira abad ke-14. Paham dan gerakan Islam itu telah mengalami pematangan sebelumnya secara kontekstual di beberapa kawasan seperti China, India dan Persia, juga Arab sendiri.

Ijaibnya, sejak abad ke-14 Maasehi itu sudah tampil berupa karya-karya agung berupa blendedantara tasawuf dan tradisi kepercayaan Jawa yang bersifat mistik. Karya itu bukan hanya berupa kitab-kitab berbahasa Arab melainkan juga dalam bahasa Jawa dan dengan tulisan Jawa, tulisan latin serta Arab pegon. Ekspresi dari karya-karya itu juga melalui tradisi Jawa berupa tembang dan karya sastra lainnya. Serat Centhini, Serat Cibolek, Serat Dewaruci, Babad Diponegoro, serta melahirkan banyak pujangga terkenal seperti Ranggawarsita --hanya untuk menyebut sangat sedikit saja-- adalah karya agung Islam yang khas Jawa, di samping tentu saja para ulama seperti Syekh Mutamakin Pati, Kiai Ahmad Rifa’i Batang, Imam Nawawi Banten, Syekh Arsyad Al Banjari, Syehk Abdus Samad al-Palimbani(Palembang), Syekh Syekh Daud Al Pathani (Patani Thailand Selatan),  serta Walisongo dan para perempuan ahli agama dan sufi di Jawa, dll. M.C. Ricklefs menyebut pergulatan Islam-Jawa dalam karya-karya itu sebagai Mystic Synthetis in Java(2006).

Kata mystic/mistik di situ harus kita artikan dalam khasanah tasawuf Islam sebagai bathinatau qolb(hati atau kalbu): pengetahuan yang tidak hanya berangkat dari rasio tetapi dari pengalaman batin atau kalbu. Jadi pertemuan antara Islam tasawuf dengan kepercayaan Jawa bukan hanya dalam cara ekspresinya berupa tembang, kakawi atau syair serta karya sastra lainnya melainkan juga dalam tradisi agama yang bersifat bathin. Kata mistik kemudian diberi konotasi dan label negatif berupa klenik dan pantheisme oleh kalangan modernis karena pengaruh penjajah sebagai cara propaganda anti kritisime dan pemberontakan rakyat.

Wayang kulit adalah salah satu karya agung dari mereka. Wayangnya sendiri memang tidak orisinal karya Wali tetapi seluruh citra, diskursus dan cerita-cerita di dalamnya sudah di-blendeddengan Islam tasawuf. Diceritkaan, misalnya, Sunan Kalijaga menciptakan salah satu lakon, dimana seorang raja Hindu yang sudah sekarat tidak bisa mati. Setelah diselidiki ternyata harus mendatangkan sebuah pusaka. Lalu dikerahkan lah balatentara keraton untuk mencari pusaka itu agar raja tidak tersiksa dalam proses kematiannya. Ternyata pusaka yang harus didatangkan itu adalah pusaka kalimasada, yaitu tidak lain kalimah shahadah: ashaaduallailaha illalloh wa ashaadu anna mohammadar rosulululloh: standar minimal sebuah proses keislaman.

Kalau saya refleksikan terhadap gerakan kebinekaan, pluralisme dan moderatisme Islam kini, sedikit sekali untuk tidak dikatakan tidak ada karya yang berpengaruh apalagi agung dalam membangun kedalaman model ekspresi Islam seperti itu. Gerakan-gerakan meniru para da’i dan ustad “kembali kepada al Qur’an dan Hadits” kepanjangan dari proganda penjajah yang tidak kurang dangkalnya, lebih mewabah. Mengapa terjadi degradasi karya-karya agung semacam itu?

 

Menjawab Tantangan

            Semula karya-karya itu bersifat individualistik sebagai kepuasan batin dan kedalaman keagamaan. Juga diajarkan dalam tarekat-arekat sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah semata. Namun ketika Daendels (berkuasa 1808-18011) dan kemudian disusul Raffles (1812-1816) sebagai gubernur jenderal Belanda dan Inggris, datang pasca Perang Eropa pertama. Ketika itu Belanda dalam keadaan bangkrut di samping harus mengambil alih VOC yang bangkrut karena korupsi juga mengalami kerugian besar akibat perang dengan Inggris dan dikuasai Perancis.        Belanda melalui Daendels bukan lagi berdagang melainkan menerapkan kekuasaan sampai ke desa-desa melalui para pangrehpraja dan keraton dan benar-benar mengeksploitasi rakyat melalui pajak dan tanah rakyat. Sementara di Eropa kerajaan Belanda mengalami reformasi dan demokratsiasi, sedangkan di Jawa dan Nusantara menerapkan kekuasaan otoritarisme fasis. Karena pola kekuasaan itu menggunakan tangan keraton maka perilaku keraton dan keluarga raja terpengaruh oleh gaya hidup Eropa: berfoya-foya, seks bebas serta pula mengikis etika Jawa di dalam keraton.  

Situasi ini membuat prihatin sebagian masyarakat, ulama dan sebagian bangsawan. Pangeran Diponegoro lah yang kemudian melakukan, meminjam kata-kata dari Paulo Friere sebagai, conscientizacaoatau dalam bahasa Inggris: consciousness. Sejak usia 7 tahun, Pengeran Diponegoro telah hidup di luar keraton memilih hidup di pesanggrahan Tegalrejo bersama neneknya, istri dari Hamengkuwono I. Seorang perempuan berilmu agama Islam yang mendalam keturunan bangsawan Madura. Neneknya mengajari Diponegoro untuk kritis terhadap situasi dan mengajari kedalaman Islam. 

Pangeran Diponegoro mungkin adalah cermin paling sempurna dari blended mystic synthesis itu. Dia membaca semua literatur Islam klasik yang beredar di Jawa seperti Ihya’ Ulumuddin dan Al Hikam serta Serat dan Babad yang sudah terbit ketika itu. Pangeran juga rajin mengikuti pemberitaan internasional, terutama situasi Tuki Usmani. Pangeran juga sangat dekat dengan ulama, pesantren dan dengan rakyat karena pesanggarahannya sebagai tempat berkumpul atau mungkin penyadaran akan situasi yang tidak menyenangkan tersebut. Pengaren juga suka mendatangi dan bersemedi di situs-situs keagamaan dan kepercayaan. Namun, cita-citanya untuk berhaji tidak kesamapaian.

Pemiskinan, penderitaan dan penindasan mencapai puncaknya pada sekitar tahun 1825. Bukan Pangeran Diponegoro atau pengikutnya yang memulai tetapi Belanda lah yang memprovokasi. Dalam situasi keprihatinan seperti itu, secara provokatif Belanda mematok jalan-jalan yang dekat dan menuju Tegalrejo dengan menjorok ke tanah-tanah milik warga. Terjadilah insiden penentangan. Bukannya negosiasi melainkan seluruh pesanggarahan Tegalrejo dihanguskan: kejadian bermula yang kemudian disebut Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830).

Setelah tertangkapnya Pengeran dengan cara licik, Belanda menerapkan kebijakan yang lebih kejam,  Tanam Paksa (cultuurstelsel) yang makin menyengsarakan rakyat, bukan hanya fisik tetapi juga bathin. Seluruh masyatakat diawasi bukan hanya aktivitas sosial politk ekonomi tetapi juga aktivitas keagamaan. Karya-karya blended seperti sebelumnya mengalami kemerosotan dan pesantren cenderung menghindar secara politik dan melakukan strategi non-cooperative hingga kemederkaan.  Namun kemudian, akibat dari terbitnya Multatuli, Belanda memang mengubah kebijakan dari Tanam Paksa menjadi Politik Etis. Tetapi politik etis hanya terbatas untuk bangsawan dan anak dari karyawan-karyawan Belanda. Pesantren nyaris tidak ikut atau tidak diikutkan di dalam politik etis ini.

Akibat dari politik etis juga terjadi kesadaran akan ketertindasan namun dalam wajahnya yang baru, yaitu di samping berwajah Barat modernis juga terpengaruh ideologi-idiologi Timur tengah seperti Wahabi, Pan Arabisme dan Pan Islamisme. Dalam banyak sekali penulis sejarah gerakan Islam kemerdekaan, gerakan-gerakan itu dilihat sebagai diskontiuitas dari gerakan perlawanan sebelumnya. Gerakan dan Perang Diponegoro, misalnya, lebih dilihat sebagai gerakan Ratu Adil atau semacam Mahadiisme yang berkonotasi mistik dalam arti negatif. Dengan demikian penulisan sejarah itu sebagai bagian dari propaganda Belanda dan Eropa.

Begitu gencarnya gerakan nasionalisme yang blended dengan anti tradisionalisme dan mistisime sehingga gerakan santri dan pesantren sebagai kelanjutan dari tradisi perlawanan sipil yang genuinewarisan Pangeran Diponegoro nyaris tidak tercatat dalam sejarah dinamika perjuangan kemerdekaan itu. Para kiai dan santri serta pesantren yang berpartisipasi penuh dalam nasionalisme dan kemerdekaan pula disibukkan untuk menjawab Islam modernis yang membawa propaganda penjajah dan Eropa barupa anti tradisionalisme, anti keilmuan Islam klasik dan sekaligus anti mistisisme karya agung kita sendiri, mystic synthesis itu. Propaganda negatif ini lebih kejam daripada cerita pembunuhan Syehk al-Hallaj, Syehk Siti Jenar dan Syekh Mutamakin 

Kini, gerakan kebinekaan dan pluralisme atau moderatisme juga masih disibukkan menjawab Islam-Islam modernis dangkal tersebut. Kita sebenarnya lalai dengan legacyGus Dur yang sangat berharga karena disibukkan dan terseret arus dalam kedangkalan itu: pribumisasi Islam dalam wujud keilmuan, tradisi dan sastra Islam blended dengan tradisi dan karya-karya Nusantara yang berwajah intelektual dan satrawi. 

Rumbut Bawah, 20 Februari 2019.

 

Ahmad Suaedy, Anggota Board Gerakan GusDurian Indonesia 

& Pengajar pada Pasca Sarjana  UNUSIA, Jakarta



*)Paper disampaikan pada Forum Ziarah Pemikiran   Gus Dur oleh Jaringan GusDuran Indonesia, UC UGM Yogyakarta 23 Februari 2019