Jumat, 19 Juli 2019

PUASA ADALAH SPRITUALISME AGAMA-AGAMA UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA TUHAN

Minggu, 12 Mei 2019
oleh : Djemi Raji
Dibaca sebanyak 471 kali
“Hari ini kita akan mendiskusikan tentang Puasa. Puasa menjadi sebuah diskursus, sebab puasa tdk hanya dikenal pada umat muslim saja, melainkan juga pada agama-agama lain”, terang Dwi Mannopo saat memoderatori diskusi yang bertajuk “puasa dalam persepektif agama-agama, Kamis 09 Mei 2019 bertempat di Gallery Riden Baruadi. Diksusi dimulai pada pukul 16:00 Wita dihadiri puluhan peserta dari berbagai orginasasi dan dan komunitas di Gorontalo.

Pada diskusi tersebut, penyelenggara yakni Gusdurian Gorontalo , menghadirkan beberapa narasumber diantaranya,  Yuli Giawa (Perwakilan Agama Khatolik), Waluyo (Perwakilan Agama Buddha), Ni Komang Darmini, (Perwakilan Agama Hindu) dan Dr. Sabara Nuruddin (Perwakilan Agama Islam).

Diskusi diawali dari perspektif agama Khatolik. Yuli Giawa, mengatakan bahwa agama Khatolik melaksanakan puasa selama 40 hari. Puasa bagi mereka punya alasan spritual yang sama dengan agama-agama lain namun berbeda dalam hal pelaksanaan dan waktu. Khatolik di wajibakan  berpuasa dan berpantang. Bagi ummat Khatolik, puasa dan pantang merupakan tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda mempersatukan pengorbanan saat Yesus di salib pada sebuah kayu.

Sesuai penetapan ke uskupan di Indonesia, hari puasa bagi ummat Khatolik dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa prapaska sampai dengan Jumat Agung. Selain itu kata Yuli, yang wajib berpuasa ialah semua orang Khatolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas. Namun dalam Khatolik tidak ada istilah wajibkan sebagaimana dalam ajaran islam

“Puasa bagi kami berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Tidak diatur waktu makan sekali kenyang, bisa memilih siang, pagi atau malam. Pantang dalam ummat Khatolik berarti memilih pantang untuk menghindari hal-hal yang nikmat (hawa nafsu), dan menghindari mengonsumsi berlebihan. Misalnya merokok tiga bungkus sehari bisa dikurangi. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya. Pada intinya, puasa dan pantang bagi kami merupakan latihan rohani (pengendalian diri), medoakan keselamatan dunia, mendoakan orang-orang terdekat, (orang tua/istri,  anak-anak, saudara, teman, para pemimpin Gereja dan pemimpin Negara serta mendekatkan diri kepada Tuhan”, kata Yuli

Pak Waluyo, perwakilan agama Buddha pada penyampainnya, bahwa puasa bagi agama Buddha sedikit berbeda. Agama Buddha  juga dikenal dengan sebuah istilah yang dapat diartikan sebagai “puasa”. Namun, hendaknya jangan ditafsirkan sebagai puasa tidak makan dan minum selama sekitar 15 jam seperti dalam agama Islam.

Puasa dalam agama Buddha sedikit berbeda dan diperbolehkan minum.  Puasa bagi ummat Buddha disebut Uposatha. Puasa ini tidak wajib bagi umat Buddha, namun biasanya dilaksanakan dua kali dalam satu bulan (menurut kalender buddhis dimana berdasarkan peredaran bulan), yaitu pada saat bulan terang dan gelap (bulan purnama). Namun ada yang melaksanakan 6 kali dalam satu bulan, tetapi puasa (uposatha) tersebut tidak wajib. Uposatha artinya hari pengamalan (dengan berpuasa) atau dengan pelaksanaan atasila (menjalan delapan sila)

Lanjut Waluyo, Puasa tersebut dilaksanakan dengan menjalani atasila antara lain:

Pertama, tidak melakukan pembunuhan atau melukai makhluk hidup. Makhluk hidup di sini adalah manusia dan binatang. Kedua, tidak mencuri atau melakukan perbuatan yang mengambil barang tanpa seizin pemiliknya. Ketiga tidak melakukan hubungan badan (seks). Keempat,  tidak berbohong sehingga merugikan orang lain secara langsung atau pun tidak langsung dengan niat buruk.

Kelima, Tidak berkonsumsi makanan yang membuat kesadaran lemah dan ketagihan seperti minum  alkohol, dan obat-obatan terlarang. Jika seseorang mengkonsumsi untuk tujuan medis dalam jumlah kecil dan tidak hilang kesadaran, maka tidak terjadi pelanggaran. Keenam, Tidak boleh makan setelah lewat tengah hari hingga subuh-dinihari. Ketujuh, Tidak bernyanyi, menari atau menonton hiiburan.  Dan yang terakhir  tidak memakai perhiasan, kosmetik atau parfum.

“Jadi puasa (uposatha) seorang umat Buddha dinyatakan sah, apabila ia mematuhi (etasila) 8 larangan tersebut. Jika salah satu larangan tersebut dilanggar baik sengaja atau tidak berarti ia puasanya tidak sempurna”, tutur waluyo

Ni Komang Darmini, Perwakilan Agama Hindu menguraikan bahwa puasa dalam agama Hindu tidak jauh berbeda dengan agama Khatolik dan Buddha. Dalam agama Hindu,  Istilah puasa terdiri dari kata Upa dan Wasa. Upa artinya dekat atau mendekat, dan Wasa artinya Tuhan atau Yang Maha Kuasa. Upawasa atau puasa adalah proses mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Jadi puasa dalam agama Hindu tidak hanya menahan lapar dan haus, atau juga merasakan sebagai orang yang kekurangan, tapi tujuan puasa dalam agama Hindu untuk menyatu dengan Tuhan. Dalam agama Hindu meyakini ada reinkarnasi sehingga saat menyatu dengan yang Tunggal, ummat Hindu saat melaksanakan puasa beetujuan mendekatkan diri pada Tuhan. Ketika menyatu dengan Tuhan, maka diyakini lahir kembali”, kata Komang

Selain itu, komang yang  juga aktivis mahasiswa Hindu ini menguraikan bahwa puasa dalam agamanya ada bermacam-macam. Agama Hindu juga dikenal dengan puasa senin-kamis yang dilaksanakan selama 24 jam, lalu ada juga puasa sebulan sekali selama 30 jam dan ada juga se tahun sekali saat merayakan hari raya  Nyepi. 

Saat nyepi, ummat hindu punya pantangan (catur brata penyepian) diantaranya  tidak dibolehkan menyalakan api, berpergian,  melakukan pekerjaan dan menikmati kehidupan duniawi secara berlebihan.

“Saat nyepi umat hindu berpuasa selama 36 jam penuh,  namun dengan ini bahwa puasa tidak diwajibakan dalam agama hindu.  Puasa adalah jalan mendekatkan diri kepada Tuhan dan tuhan sendiri telah menyediakan dua jalan diantaranya  menyediakan dua jalan, puasa , ritual-ritual yang wajib seperti meyiapkan sajenan”, tuturnya

Pada sesi terakhir, Perwakilan Agama Islam, Dr.Sabara Nuruddin mengatakan bahwa puasa pada setiap agama-agama berbeda satu sama lain.  Dalam keyakinan muslim bahwa puasa  diakui adalah syariat umat-umat sebelum Rasululah SAW dan itu di terangkan dalam surah al-Baqarah ayat I83 dimana dalam ayat tersebut menjelaskan, “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

“Dalam sejarah peradaban manusia, puasa juga dilakukan oleh hampir seluruh bangsa atau umat di dunia. Bangsa Mesir kuno, Tionghoa, Tibet, Yunani, Arab maupun Yahudi sejak dulu sudah mengenal puasa. Puasa juga dilakukan oleh hampir seluruh penganut agama, baik Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, maupun Budha. Setiap bangsa atau umat melakukan puasa dengan motivasi, bentuk, macam, dan cara yang tentunya berbeda-beda”, katanya

Lebih jauh Nuruddin mengurai bahwa puasa adalah tradisi spritual yang umum dilakukan. Baik  dalam agama maupun aliran kepercayaan lainnya. Menurutnya, puasa merupakan jalan demi melakukan capaian untuk melepaskan diri dari ikatan material. Olehnya, puasa dapat menyerap kekuatan supra material misalnya kekuatan rohani, karena saat puasa ketika fokus pada urusan rohaniah ketimbang jasmaniah.

Oleh karena itu lanjut Nuruddin,  puasa menjadi penting  bagi setiap Muslim  agar sejenak meninggalkan kecenderungan yang bersifat material agar kita lebih fokus pada aspek yang bersifat rohaniah. “Maka puasa menjadi sebuah ritual yang istimewa bagi semua manusia yang beragama untuk mendekatkan diri kepada Tuhan”, paparnya.

Sayang, hinggga pada akhir diskusi, Pak Rudi Harold berhalangan hadir, sehingga Perspektif Puasa dalam Agama Kristen Protestan tidak bisa dikaji bersama. Acara ditutup dengan buka puasa bersama dan sholat berjama'ah.

Djemi Raji, penulis adalah Penggerak Komunitas GUSDURian Gorontalo.