Jumat, 19 Januari 2018

PUISI UNTUK GUS DUR

Minggu, 17 Desember 2017
oleh : admin
Dibaca sebanyak 476 kali
Di bulan Gus Dur tahun ini, redaksi gusdurian.net mempersembahkan sejumlah puisi yang ditulis khusus untuk mendiang Gus Dur. Selamat menyimak.

SANG PEMIMPIN PEMBERANI

Oleh: Mustofa Bisri

 

Untuk: Gus Dur

Seorang pemimpin pemberani

datang sendiri mengawal bukan dikawal umatnya

Ketika banyak pemimpin membela diri sendiri

Dengan berlindung pada laskar dan atasnama

Seorang pemimpin pemberani datang sendiri

Membela kaum lemah hanya dengan keyakinan dan doa

Dia tidak menggula di hadapan sesama

Karena dia tak menyukai kepalsuan

Dia tidak mencari muka di hadapan Tuhan

Karena dia tahu bahwa Tuhannya Maha Tahu segala

Dihina dan dilecehkan

pemimpin pemberani memaafkan

Tanpa sedikit pun kebencian

Karena di hatinya hanya ada cinta dan Tuhan.

 2016

 

 

Lelaki Yang Tak Punya Mata

Oleh: Inayah Wahid

 “Lelaki Yang Tak Punya Mata”

Seseorang pernah berteriak-teriak

menghujat seseorang lelaki yang dimakinya tak punya mata

Ah, Aku ingat, lelaki yang dimakinya tak punya mata itu

Dahulu aku sering menggenggam tangannya

Aku ingat, matanya memang terpejam

Tapi nyata: ia melihat lebih banyak dari kami semua

Memandang lebih dalam dari kami yang matanya membelakak

Dan menyaksikan lebih jauh dari mata kami yang terbuka lebar

Lelaki itu... adalah samudera kehangatan

Dimana setiap orang bebas berenang, berselancar ataupun menyelam

Tanpa takut ditanya: “agamamu apa?”

Aku ingat, mata lelaki itu,

Ialah mata air,

Yang darinya keluar cinta kasih melimpah-ruah

Meluber hingga ke samudera

Tak habis-habisnya disesap manusia

Mata lelaki itu adalah pelukan hangat untuk siapa saja

Terutama yang membawa luka

Dan disanalah kami semua menemukan rumah

Tempat luka-luka dibasuh oleh air matanya

Mata lelaki itu, adalah jendela

Siapa saja bisa memanjat, untuk kemudian masuk ke dalam kepalanya

Menjelajah tanpa batas

Dan berakhir di hatinya yang lapang

Mata lelaki itu, adalah tunas kebaikan

Yang tak pernah berhenti tumbuh meski selalu dibagikan ke semua orang

Karena ia percaya: kebaikan untuk semua,

Bukan hanya golonganku saja

Dan dari tetes air mata kerinduan seluruh manusia yang mencintainya

Kami membangun jembatan, antara kami dan Si Lelaki yang katanya tak bermata itu

Melalui jembatan itu kami berjalan menuju samudera matanya

Menjauh, menjauh, dan masih jauh dari teriakan-teriakan lelaki pendengki yang tak punya hati

2017

Durrahman

Oleh: Joko Pinurbo

Mengenakan kemeja dan celana pendek putih,

Durrahman berdiri sendirian di beranda istana.

Dua ekor burung gereja hinggap di atas bahunya,

bercericit dan menari riang.

Senja melangkah tegap, memberinya salam hormat,

kemudian berderap ke dalam matanya yang hangat dan terang.

Di depan mikrofon Durrahman mengucapkan pidato singkatnya:

“Hai umatku tercinta, dalam diriku ada seorang presiden

yang telah kuperintahkan untuk turun tahta

sebab tubuhku terlalu lapang baginya.

Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya

akan kubereskan sekarang juga.”

Dua ekor burung gereja menjerit nyaring di atas bahunya.

Durrahman berjalan mundur ke dalam istana.

Dikecupnya telapak tangan, lalu dilambai-lambaikannya

ke arah ribuan orang yang mengelu-elukannya dari seberang

Selamat jalan, Gus. Selamat jalan, Dur.

Dalam dirimu ada seorang pujangga yang tak binasa.

Hatimu suaka bagi segala umat yang ingin membangun kembali

puing-puing cinta, ibukota bagi kaum yang teraniaya.

Ketika kami semua ingin jadi presiden,

baju presidenmu sudah lebih dulu kau tanggalkan.

(2010)

Tulisan ini diambil sepenuhnya dari buku Tapak Jejak Gus Dur.

 

Selamat Ulang Tahun ke 71, Gus

Oleh WS. Budi S.T.

Ketika orang-orang diam saja,

Engkau sudah berbicara,

Kala orang mulai berwacana,

Dikau telah berbuat nyata,

Dan saat orang ikut-ikutan,

Sampeyan berani pasang badan.

 

Hati nurani sampeyan begitu peka,

Pada setiap bentuk ketidakadilan,

Secara spontan sampeyan membela,

Dengan ikhlas penuh ketulusan.

Gus,

Andai sampeyan masih di Ciganjur,

Usia sampeyan tepat tujuh satu,

Kita bisa makan bareng tumpengan,

Dan Bu Sinta cium pipi kiri dan kanan.

 

Namun kini sampeyan sudah pindah,

Ke rumah asri Gusti Allah,

Apakah disana ulang tahun dirayakan?

Dan handai-taulan ramai berdatangan?

Gus,

Sedang apa sampeyan sekarang?

Duduk santai sambil sarungan?

Atau asyik berbincang-bincang?

Dengan proklamator dan para pahlawan?

Gus,

Tolong diskusikan masa depan negeri ini,

Dengan seluruh pahlawan negeri.

Sampaikan resep yang mujarab,

Agar para elitenya sadar bertobat,

Rakyatnya sehat berjiwa kuat,

Rohaniwannya ikhlas bermartabat.

Gus,

Sampaikan permohonan kepada Gusti,

Semoga anak-anak negeri ini,

Hidup lurus berbudi pekerti,

Bekerja keras setulus hati,

Rajin jujur dan mawas diri,

Giat belajar berjiwa besar,

Rukun harmonis penuh empati,

Tahu malu anti korupsi.

 

Semoga Kebajikan Tuhan merakhmati,

Shanzai,

Amen,

Sadhu-Sadhu-Sadhu,

Omitofo,

Rahayu-Rahayu-Rahayu,

Amiin, Amiin, ya Rabbal 'Aalamiin.

 

 

Gus: Gus Dur

Oleh: Rama Prabu

Keluasan sorga itu telah menunggumu gus

Berkat tapak jejak tebaran hikmah

Jadi selimut kabut meruah tangga

Menghantar ke istana kebesaran Tuhan

Teriring alfatihah yang menjadi madah

Gus, ajaran hidupmu kan tetap purnama

Lestari menembus lubuk-lubuk jauh

Menjadi benih di pusaran buih

Lahirkan generasi pantang menyerah

Di lapak-lapak bangsa yang sedang mengarah panah

Ke jantung-jantung gairah

Demokrasi, seperti yang kau titah

Gus, ketika kau tiba di sisi altar Tuhan

Sampaikan permohonan kita

Sebagai anak-anak bangsa

Katakan: “cinta akan kemanusiaan jangan cepat di tarik ke aras langit!

Hingga kita segera menjelma ternak-ternak tanpa nilai

Kembali ke abad kelam

Tenggelam ke pusar bumi, kembali

Gus, mungkin hanya doa iringkan tatap sebagai penghantar

Kau kembali ke haribaan

Menyempurna perjalanan

Karena mula asal berada di genggaman Tuhan!

Bandung, 31 Desember 2009

 

Ode Buat Gus Dur

Oleh : D. Zawawi Imron

I

Aku tak tahu, kata apa yang pantas kami ucapkan

untuk melepaskan, setelah engkau bulat

menjadi arwah

Setiap daun kering pasti terlepas dari tangkai

bersama takdir Tuhan

Untuk itu kami resapi Al-Ghazali

bahwa tak ada yang lebih baik

daripada yang telah ditakdirkan Allah

Karena itu kami rela

mesti tak sepenuhnya mengerti

karena yang terindah adalah rahasia

II

Bendera dinaikkan setengah tiang

Tapi angin seakan enggan menyentuhnya

apalagi mengibarkannya

Biarkan bendera itu merenung

menafakkuri kehilangan ini

yang bukan sekadar kepergian

Bendera itu diam-diam meneteskan juga

air mata, yang didahului tetesan embun di ujung daunan

Semua membisikkan doa

seperti yang kucapkan setelah kau dikuburkan

Bendera itu seperti tak punya alasan

untuk berkibar, seperti kami yang tak punya alasan

untuk meragukan cintamu

kepada buruh pencangkul yang tak punya tanah

atau kepada nelayan yang tidak kebagian ikan

Cintamu akan terus merayap

ke seluruh penjuru angin

dan tak mengenal kata selesai

III

Di antara kami ada yang mengenalmu

sebagai pemain akrobat yang piawai

sehingga kami kadang bersedih

dan yang lain tersenyum

Yang kadang terluput kulihat

adalah kelebat mutiara

yang membias sangat sebentar

Hanya gerimis dan sesekali hujan

yang menangisi momentum-momentum yang hilang

padahal kami tahu

momentum tak kan kembali

dan tidak akan pernah kembali

IV

Matahari besok akan terbit

mengembangkan senyummu

lalu dilanjutkan

oleh bibir bayi-bayi yang baru lahir

Merekalah nanti yang akan bangkit

membetulkan arah sejarah

V

Selamat jalan, Gus Dur!

Selamat berjumpa dengan orang-orang suci

Selamat berkumpul dengan para pahlawan

Karena engkau sendiri

memang pahlawan

2010

 

Secarik Puisi untuk Gus Dur

Oleh: Petrus Rampisela

Gus Dur,

Mata itu, tertutup rapat, Buta, tapi dapat melihat Yang Tidak Terlihat,

Kaki itu, terkulai, Lumpuh, tapi dapat berjalan Ke Tempat Yang Tidak Terjalani,

Lidah itu, Kelu , tapi dapat Menyentuh Hati Yang Tidak Tersentuh,

Wajah itu, Biasa saja, tapi Dicintai oleh 250 juta Hati.

 

Gus Dur, Gus Dur,

Alangkah beruntungnya Matamu Memiliki BUTA-MU,

Alangkah beruntungnya Kakimu Memiliki LUMPUH-MU,

Alangkah beruntungnya Ragamu Memiliki JIWA-MU,

Dan Alangkah Beruntungnya BANGSAMU memiliki GUSDUR-MU.

 

Besok GUS DUR,

Waktu tahun baru datang dan pagi berkuasa,

Kau tidak lagi bersama kami GUS,

Tetes embun yang dingin itu,

Hanya mengingatkan kami akan jasadmu yang mendingin.

 

Tapi,

Napasmu akan terus kami hirup bersama Angin Barat,

Pemikiranmu akan terus menderu seperti Laut Selatan, dan

Rohmu akan terus menaungi Indonesia,

Sampai GARUDA terbang ke Langit Ketujuh.

GUS DUR, Terima KASIH, …..Ijinkan saya MELAHAP DUKA ku….!!!

2009

 

Bapak

Oleh: Inayah Wahid

Bapak…..

Boleh aku minta tolong diajari

Bantu aku memahami

Karena bapak kan katanya

Presiden paling pandai seantero negeri, intelektualitasnya sudah diakui

Mbok ya, anakmu ini diajari

Memahami semua ironi ini

Pak…

Kenapa dulu mereka selalu menghina

Presiden kok buta

Padahal kenyataannya, bapak loh yang sebenarnya mengajari kita,

untuk melihat manusia seutuhnya

Tanpa embel2 jabatan atau harta, suku atau agama

Tak peduli bagaimana rupanya

Pak….

Kenapa dulu mereka melecehkan

Mengatakan presiden kok tidak bisa jalan sendirian

Rakyat Indonesia menuju demokrasi dan keadilan yang sesungguhnya

Pak….

Bisa tolong jelaskan

Kenapa orang-orang yang dulu bapak besarkan, malah akhirnya menjatuhkan

Menggigit tangan orang yang memberi mereka makan

Apa mereka telah lupa dengan yang bapak ajarkan, bahwa hidup adalah pengabdian

Yang tidak boleh meminta harta atau jabatan

Pak…

Tolong beri kami jawaban

Lewat mimpi atau pertanda

Lewat simbol juga akan aku terima

Pak…

Tolong pak, tolong aku diajari!

-Jakarta 12 Februari 2010-

 

Raja dan Bintang Kejora

: Sajak untuk Seorang Penerima

Penghargaan Dewan Adat Papua

 

Alkisah,

bertahta seorang raja bijak bestari

Berpandangan tajam, walau kehilangan penglihatan

Konon katanya,

karena berilmu tinggi, terutama tentang agama,

tak sembahyang pun akan masuk sorga

 

Dia pembela minoritas

Dia simbol toleransi

Dia pejuang hak azasi

Dan pahlawan demokrasi

 

Selama bertahta,

Sang Saka berkibar di seluruh negeri

Hingga di puncak tertinggi … Jaya Wijaya

Di sana tertancap juga ribuan bendera

Yang berlambang Bintang Kejora

Walau tak menyaksikan, hingarnya Dia rasakan

Menanggapi tuntutan penurunan paksa

Sang Raja bersabda ;

“ Begitu saja kok repot

Biarkan saja, sepanjang tak disertai kata MERDEKA “

NUGROHO SUKSMANTO