Jumat, 20 September 2019

RUU P-KS HARUS SEGERA DIUNDANGKAN

Sabtu, 16 Maret 2019
oleh : KH Husein Muhamad
Dibaca sebanyak 745 kali
Pagi ini, 14.03.19, saya bicara tentang RUU PKS atas undangan KPPA, bersama sahabat Nur Herawati, Komis ioner Komnas Perempuan dan Prof. Dr. Topo Santoso, SH, (FH-UI). Moderator sahabat Ninik Rahayu. Saya menyampaikan : Respon Islam atas RUU P-KS. Intinya ini: RUU P-KS harus segera Diundangkan
Melihat fakta-fakta tentang kekerasan terhadap perempuan khususnya kekerasan seksual, kita semua seharusnya tergugah dan terpanggil untuk segera menghentikannya, karena ia bertentangan dengan agama dan prinsip-prinsip kemanusiaan.
 
Saya sepenuhnya apresiatif dan menyambut baik atas inisiatif untuk menyusun undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual ini. Membaca seluruh pasal dalam Rancangan Undang-undang ini saya melihat bahwa RUU ini bukan hanya tidak bertentangan dengan Islam, malahan sesuai, sejalan dan merupakan missi profetik Islam. Kekerasan Seksual adalah perilaku kemungkaran yang harus dicegah dan dihilangkan.
 
Nabi Muhammad dalam sebuah hadits mengatakan : 
 
"Siapapun yang melihat kemungkaran, hendaklah mengubahnya dengan "tangan", jika tidak bisa, maka hendaklah mengubahnya dengan lisan/ucapan, dan jika tidak bisa, maka dengan hati".(H.R. Muslim).
 
Kata "tangan" dalam banyak tafsir atas hadits itu dimaknai sebagai "kekuasaan". Dalam hal ini pemerintah, dan dalam konteks negara demokrasi, makna kekuasaan harus didasarkan atas UU. Dengan begitu maka makna hadits tersebut adalah bahwa jika engkau melihat kemungkaran (kejahatan, keburukan dan kerusakan sosial), maka hendaklah mengubahnya dengan Undang-undang. Ini adalah kewajiban legislatif dan eksekutif. 
 
Jika kita tidak punya kekuasaan, maka tindakan mengubah, menghilangkan atau menghapus kemungkaran hendaklah dilakukan dengan "lisan". Makna lisan di sini bisa dilakukan melalui antara lain,  sosialisasi, pencerahan, ceramah, nasehat, khutbah dan sejenisnya tentang kemungkaran tersebut.
 
Pembiaran terhadap berlangsungnya kekerasan seksual dan pengabaian atas akan membawa dampak kerusakan sosial yang semakin meluas. Tuhan mengatakan : 
 
"Takutlah kalian atas fitnah (bencana, cobaan hidup) yang tidak hanya akan menimpa orang-orang yang berdosa yang zalim, tetapi juga mereka yang tidak berdosa", (karena mereka membiarkannya). 
 
Perumpamaan orang yang menolak kemungkaran dan pelaku kemungkaran adalah bagaikan suatu komunitas yang naik kapal. Sebagian ada di bagian atas, dan sebagian lagi di bagian bawah. Jika mereka yang ada di bawah ingin mengambil air, merekan akan naik ke atas. Mereka mengatakan : mungkin baik bagi kita untuk melubangi perahu ini, agar tidak mengganggu orang-orang yang di atas. Andaikata yang di atas membiarkan orang-orang di bawah itu melakukannya, niscaya semua orang di dalamnya akan tenggelam. Tetapi andaikata mereka melarangnya, niscaya mereka akan selamat dan  semua penumpang juga akan selamat". (HR. Bukhari. No. 2493).
 
Cirebon, 14 Maret 2019