Rabu, 21 November 2018

RAHASIA PEMIKIRAN PRIBUMISASI ISLAM GUSDUR

Selasa, 30 Oktober 2018
oleh : Endrika Widdia Putri
Dibaca sebanyak 331 kali
Setiap tokoh atau pemikir tentu memiliki suatu pemikiran atau gagasan yang memberikan sumbangsih atau kontribusi terhadap sasaran pemikiranya. Semua tokoh juga berjalan sesuai perspektif atau kajian keilmuannya. Jika ia seorang sosiolog maka ia akan memberikan pemikiran tentang harmonisasi dan kemaslahatan sosial. Jika ia seorang psikolog maka ia akan memberikan kontribusi pemikiran tentang ketenangan jiwa, lebih spesifiknya cara-cara agar tidak stress, depresi, dan mengontrol emosi.

Jika ia seorang sufi maka ia akan memberikan sumbangsih pemikiran tentang cara mendekatkan diri pada Allah. Jika ia seorang politikus maka ia akan memberikan sumbangsih pemikiran tentang tercapainya tujuan politik yaitu kebahagiaan, tidak hanya dunia namun juga akhirat. Abdurrahman Wahid atau yang kita sebut dengan Gus Dur adalah seorang politikus Indonesia sekaligus agamawan. Oleh karenanya, Pemikiran-pemikiran politiknya tidak terlepas dari nilai-nilai spiritual, humanis dan toleran.

Abdurrahman Wahid atau Gusdur adalah tokoh Indonesia yang memiliki pemikiran melampaui zamannya. Orang lain belum terpikirkan dia sudah memikirkannya. Pemikiran Gusdur yang melampaui zamannya ini sebenarnya adalah suatu dinamika perkembangan pemikiran yang patut dihargai. Sebab, memberikan paradigma baru dalam dunia Islam di Indonesia. Meskipun, pemikirannya itu menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat karena belum bisa dicerna oleh masyarakat apa yang dimaksudnya.

Di antara gagasan Gus Dur yang melampai zamannya adalah ketika Gus Dur menyatakan Assalamu’alaikum itu seperti ahlan wa sahlan atau shobahul khoir. Artinya, bisa diganti dengan “selamat pagi atau apa kabar”. Adapun gagasannya tersebut dalam sebuah wawancara, seorang reporter yang bernama Amanah bertanya.  Amanah: “beberapa waktu yang lalu Anda pernah mempopulerkan istilah Mempribumikan Islam, apa maksudnya?

Gus Dur: “yah, selama ini kan Islam di Indonesia terlalu melihat kepada Timur Tengah. Sebagai contoh, kalau dulu kita membangun masjid harus memakai kubah. Padahal bangsa kita sudah memiliki arsitektur yang lebih sesuai dengan budaya sendiri dan mengandung makna yang mendalam. Lalu tentang ucapan Assalamu’alaikum, kenapa kita merasa bersalah kalau tidak mengucapkan assalamu’alaikum. Bukankah ucapan itu bisa saja kita ganti dengan “selamat pagi” atau apa kabar misalnya. Amanah: “Tapi itu kan ucapan doa?

Gus Dur: “Nah, karena doa, maka diucapkan di dalam hati juga bisa. Orang mendoakan orang lain kok harus diucapkan kuat-kuat. Kalau saya tidak pakai, bukan berarti Islam saya kurang. Saya pandang bukan itu Islam. Itu bagian dari praktik Nabi, bisa kita tinggal bisa tidak. Masalahnya, bagaimana kita meninjau kembali prioritas kita.Amanah:  “Bukankah itu juga menunjukkan identitas keislaman kita?

Gus Dur: “Justru di sini saya nggak setuju. Untuk menonjolkan identitas Islam saja kok harus begitu. Menurut saya, selamat pagi, selamat sore, dan apa kabar itu sama saja dengan assalamu’alaikum. Jadi, maksud saya, jangan kita memisahkan identitas Islam dan identitas Indonesia. Oke, saya terima assalamu’alaikum, tapi begitu orang lain ikut pakai assalamu’alaikum. Kita ngomel. Ini kan juga nggak benar. Saya khawatir kalau kita selalu mengambil cara yang membeda-bedakan diri dari kehidupan nasional. Keislaman dan kebangsaan itu identik, sejauh mungkin ia sejajar. Ini yang saya maksud.”

Melalui pemikiran Gusdur tentang pribumisasi Islam, tampaknya Gusdur ingin mengatakan kepada rakyat Indonesia untuk meneguhkan nilai-nilai keindonesiaan. Dalam kehidupan bermasyarakat berprilakulah layaknya sesuai dengan nilai-nilai keindonesian. Nilai-nilai keindonesiaan tidaklah bertentangan dengan Islam, malahan antara keduanya saling mendukung dan menguatkan.

Mempraktekan nilai-nilai keindonesiaan bukan berarti mengabaikan aspek keislaman, tapi malahan membumikan nilai-nilai Islam. Pribumisasi Islam yang dimaksud Gusdur ini adalah melestarikan dan membumikan  budaya-budaya Indonesia yang merupakan jati diri bangsa Indonesia sehingga tidak hilang ditelan bumi, dan menjadikannya warisan Islam Indonesia yang syarat akan makna dan hikmah.

Logikanya, antara Assalamu’alaikum dengan apa kabar, keduanya memang berbeda, yang satu selain sebagai sapaan juga bernilai do’a, sedangkan yang satunya lagi hanya bernilai sapaan dan pertanyaan kabar. Namun sebenarnya, yang dicari dari kedua ucapan tersebut adalah  terjaganya silahturahmi antara sesama umat manusia, baik sesama agama, maupun tidak sesama agama.

Pemikiran pribumisasi Islam Gusdur ini muncul karena Gusdur menginginkan terciptanya keharmonisan sosial antara umat Islam dan umat agama lainnya yang ada di Indonesia yang mana nilai-nilai keindonesiaan sebagai perekatnya. Hal ini tentunya akan menciptakan keharmonisan sosial di kalangan masyarakat Indonesia. Wallahhu a’lam

Endrika Widdia Putri, Aqidah dan Filsafat Islam, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alumni Sekolah Menulis Kreatif Yogyakarta.