Senin, 27 Mei 2019

SEPENGGAL PERJALANAN SAYA DI KOTA ROMA: YESUS, ISLAM, DAN CINTA

Jumat, 22 Maret 2019
oleh : Dewi Praswida
Dibaca sebanyak 365 kali
Mendengar kata Roma yang terbesit dibenak saya adalah “koloseum” dan tentunya keindahan karya para arsitektur luar biasa berupa gereja di setiap sudutnya. Wajar apabila di Roma banyak sekali gereja dengan berbagai kekhasannya karena di tengah Kota Roma pula sang Bapa Suci bertakhta yaitu di negara Kota Vatikan. Pastor, suster hingga bruder banyak sekali akan kita jumpai di Roma khususnya di Vatikan mulai dari yang berjubah hingga yang berpakaian biasa.

Minggu 10 Februari 2019 pukul 12.00 waktu Italia saya menginjakkan kaki (lagi) di Kota Roma dan kali ini adalah untuk misi belajar mendalami beragam agama dan keyakinan yang ada di dunia ini. Tentu kekhawatiran sempat mucul dalam benak saya khususnya perkara perbedaan dimana saya adalah seorang perempuan beragama islam pakai jilbab yang akan tinggal di negara yang mayoritas Katholik dengan banyak rohaniawan/wati di sana selain itu di tempat tinggal saya dari 24 orang hanya saya sendiri yang beragama islam dan lainnya adalah Kristen Protestan dan Katholik. Hal tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri dalam hidup saya ke depan di sini.

Begitu masuk kamar tidur hal pertama yang membuat saya terkejut adalah disediakannya karpet dan sajadah karena karpet pun tidak disediakan dikamar teman-teman saya lainnya kemudian yang kedua adalah di antara para mahasiswa juga hanya kamar saya yang tersedia kamar mandi dalam kedua hal tersebut terjadi karena mereka memahami bahwa saya perlu tempat yang bersih untuk shalat sehingga ada karpet sebagai alas sajadah dan selain sebagai tempat mandi mereka berharap saya dapat berwudhu di tempat yang tidak tercampur dengan orang lain sehingga lebih bersih. Selain perkara shalat adalah perkara makanan karena di sini hanya saya yang memiliki keyakinan bahwa babi haram maka ketika menu pada hari tersebut adalah babi pihak dapur akan memasak daging atau ayam khusus untuk saya yang tentunya tidak bercampur dengan olahan babi.

Selanjutnya, ketika terjadi kegiatan tertentu mereka akan memberi waktu kepada saya untuk menjalankan shalat ketika tiba waktu shalat selain itu pula mereka kerap kali menawarkan diri untuk mengantar saya ke masjid apabila saya ingin shalat di masjid karena lokasi masjidnya cukup jauh dari rumah kami. Hal tersebut memang hal sederhana yang barangkali mudah dilakukan namun hal tersebut tak akan terjadi tanpa adanya keterbukaan pikiran dan rasa toleransi terhadap sesama manusia tanpa membeda-bedakan.

Selain toleransi yang terjadi di rumah kami, saya juga selalu mendapat perlakuan hangat dan penuh kasih sayang ketika di luar misalnya ketika mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh agama Katholik mereka selalu menyambut dengan baik bahkan tak jarang saya ditemani untuk berjalan-jalan di kota Roma. Sebagai rohaniawan para pastor, suster maupun bruder nyatanya benar-benar mengimplementasikan apa yang tertuang dalam dokumen Nostra Aetate yakni senantiasa menjalin hubungan baik dengan agama non-kristen.

Salah satu hal lain yang menarik adalah pada sebuah kelas tentang perbandingan teologi agama monotheisme dari 12 mahasiswa saya adalah satu-satunya yang beragama islam dan kala itu tengah membahas tentang bagaimana Rasulullah menerima wahyu Al-Qur’an dan jelas teman-teman kristiani memiliki pandangan berbeda dari saya namun baiknya ketika saya berargumen yang sangat bertentangan dengan mereka tidak ada kemarahan dari mereka justru mereka menyambut baik pendapat saya dan mengatakan bahwa itu baik sebagai tambahan pengalaman keilmuan mereka.

Bagi teman-teman Kristiani Yesus adalah sosok yang sangat penting namun pernah suatu ketika saya mengatakan perbedaan pendapat saya tentang bagaimana sosok Yesus mereka justru tidak marah namun menghormati pendapat karena mereka menyadari bahwa setiap orang tentu memiliki perspektif yang berbeda-beda dan selama perspektif itu tidak berujung kebencian maka tidak menjadi masalah. Nantikan tulisan saya selanjutnya. Salam dari Roma.

 

Dewi Praswida, Pegiat Gusdurian Semarang yang kini sedang menimba ilmu di Roma-Italia.