Sabtu, 16 November 2019

TENTANG INTELEKTUALISME GUS DUR, GUSDURIAN DAN JARINGAN GUSDURIAN

Selasa, 15 Oktober 2019
oleh : Vinanda Febriani
Dibaca sebanyak 456 kali
Siapa tak kenal sosok Ulama kharismatik cucu dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang lahir di Jombang pada 14 Desember 1940 dan sangat akrab disapa Gus Dur ini? Hampir semua orang dari penjuru nusantara mengenal sosok Gusdur meski tidak secara langsung. Melalui pemikiran-pemikirannya misal,atau nilai keteladanan, biografi ataupun melalui perantara cerita orang lain terkait kisah hidup beliau.

Gus Dur adalah satu-satunya kalangan santri tulen yang berhasil menjabat menjadi Presiden meski dalam keadaan fisiknya yang kurang baik. Gus Dur juga merupakan Presiden Indonesia yang masa jabatannya sangat singkat, kurang lebih hanya 22 bulan. Kendati masa kepemimpinannya berlangsung cukup singkat, Gus Dur terbukti mampu menciptakan perubahan yang tidak dapat dilakukan presiden sebelum bahkan sesudah beliau. Beberapa diantaranya adalah terkait pemerintahan, kemasyarakatan, kebudayaan dan demokrasi.

Banyak keputusan dan kebijakan Gus Dur yang dianggap kontroversial. Salah satunya adalah mencabut TAP MPRS XXV/1966 terkait paham Komunisme dan PKI. Berbeda dengan pemerintah sebelumnya seperti pada masa Orba yang menghabisi PKI hingga menrenggut hak-hak kemanusiaan dan keadilannya, Gus Dur malah minta maaf kepada keluarga, anak dan keturunan PKI. Gus Dur berpandangan bahwa tindakan Negara terhadap keluarga PKI terlalu representasif dan tidak seharusnya dilakukan. Soal Komunisme,Marxisme dan Leninisme, Gus Dur berpandangan bahwa ketiganya adalah bagian dari ilmu pengetahuan, tidak ada salahnya untuk dipelajari asal tidak sampai diyakini sebagai ideologi atau sistem bernegara yang harus diterapkan di Indonesia secara paksa.

Kemudian soal Gus Dur membolehkan bendera Bintang Kejora berkibar di tanah Papua, Gus Dur berpendapat bahwa Papua sudah dewasa, tak perlu diatur-atur seperti anak TK. Atau tentang peresmian Etnis Tiong Hoa sebagai salah satu etnis yang ada di Indonesia, meresmikan agama Kong Hucu sebagai salah satu dari lima agama yang diakui dan dilindungi oleh Negara.

Semenjak Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI, banyak sumber mengatakan bahwa Indonesia dikala itu aman, nyaman dan damai.Hampir tidak ada konflk serius antar etnis dan budaya. Bahkan konflik Aceh dan Papua meredam karena campur tangan langsung sosok yang begitu karismatik, plural, intelektual dan jenius seperti Gus Dur. Sosok yang jarang-atau bahkan bisa dikatakan tidak ditemukan- di zaman seperti saat ini.

Gus Dur adalah sosok humanis penuh humoris yang intelektual dan sangat kritis. Hanya Gus Dur, satu-satunya orang yang kala itu menjabat sebagai ketua umum PBNU selama tiga periode dan berani membentuk Forum Demokrasi (Fordem) di saat demokrasi berada di ujung senapan pemerintahan Orde Baru. Di masa Gusdur itulah, NU selalu menjadi partai oposisi pemerintahan Orba dan dianggap sebagai “Partai Radikal”.

Intelektualisme Gus Dur sudah terbentuk sejak beliau masih belia. Gus Dur kecil sering diajak sang Ayahanda, KH Wahid Hasyim berkeliling pesantren dan ‘Sowan’ kepada para Kyai Kharismatik. Pendidkan Gus Dur sangat beragam. Ia lahir dari dunia pesantren di Jombang, tanah kelahirannya. Lalu ketika SD, Gus Dur bersekolah di SD Kristen. Disana beliau diajari membaca buku-buku lintas agama oleh sang Ayahanda. Diceritakan dalam suatu buku karya Iip D Yahya, Gus Dur ketika SD jarang sekali belajar di kelas sebagaimana murid pada umumnya, beliau menghabiskan waktunya di perpustakaan. Gus Dur menganggap bahwa pelajaran di sekolah sangat membosankan, Gus Dur lebih suka menyendiri di perpustakaan, bacaan Gus Dur saat SD melampaui batas normal bacaan anak seusianya dikala itu. Gus Dur juga pernah nyantri di Krapyak dan tegalrejo, sebelum kemudian menuntaskan pendidikannya di Kota kelahirannya, yakni di Jombang.

Intelektualisme Gus Dur makin menjadi ketika berkuliah di luar Negeri. Disana ia mendatangi perpustakaan demi perpustakaan dan bukannya malah belajar di kampus. Sebelumnya memang, GusDur saat SMP sudah pernah mengkhatamkan buku Das Capital versi Inggris milik Karl Marx, dan itu sangat istimewa di kala itu. Barangkali tingginya minat literasi Gus Dur lah yang membuat pribadi beliau berwawasan sangat luas, visioner, plural, toleran serta intelektual.  Bahkan dalam suatu tulisan, pernah diceritakan bahwa Gus Dur sampai hafal warna, judul beserta halaman suatu buku yang ia baca. Subhanallah.

Gusdurian dan Jaringan Gusdurian

Sepeninggal Gus Dur yakni tahun 2009, banyak orang yang dekat dan mengenal sosoknya merasa sangat kehilangan. Mereka merasa bahwa Gus Dur adalah sosok yang sangat memberikan banyak kontribusi positif dalam kehidupan masyarakat, agama, bangsa dan Negara Indonesia.

Sepeninggal Gus Dur, orang-orang yang mencintainya berkumpul untuk sekadar mengenang sosok Guru Bangsa. Mereka kemudian menamakan individu atau kelompok mereka sebagai Gusdurian. Saat itu nama Gusdurian sangat universal. Siapa saja bisa menggunakannya sebagai dalih  bahwa dia pengagum sosok Gus Dur, dan itu tidak jadi masalah.

Ditengah semua itu, bertepatan dengan adanya konflik diskriminasi terhadap kelompok Ahmadiyah dan beberapa konflik lainnya, para tokoh seperti Putri kedua Gus Dur yakni Alissa Wahid, Savic Ali, beserta beberapa lainya berkumpul dalam suatu forum dan memutuskan untuk mengkoordinir sebuah komunitas bernama Gusdurian dalam satu jaringan dan satu komando. Sejak kala itu, dicetuskanlah beberapa poin penting terkait hal apa saja yang dapat diteladani dari sosok Gus Dur yang kemudian dinamakan 9 Nilai utama Gusdurian.

Banyak orang masih salah kaprah dengan sikap politik seorang Gusdurian atau Jaringan Gusdurian. Seorang Gusdurian boleh saja mendukung siapapun paslon politik yang ia percayai, namun tidak mengatas namakan Gusdurian. Begitu halnya dengan sikap Jaringan Gusdurian terhadap polkitik praktis. Jaringan Gusdurian hanya menganut system politik nilai (Politik kebangsaan/Nasionalisme), namun tidak akan campur tangan dalam urusan politik kursi.

Bagaimana bedanya Gusdurian dengan Jaringan Gusdurian?

Sebetulnya bisa dikategorikan hampir sama, Kelompok Gusdurian bersifat terbuka bagi siapa saja dan dari latarbelakang apa saja. Mereka tidak menyeleksi siapa saja yang boleh bergabung dengannya. Sedangkan Jaringan Gusdurian yang berada dibawah pengawasan Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian, lebih mengontrol para kadernya, menyeleksi dengan cara melaksanakan kegiatan pengkaderan seperti Kelas Pemikiran GusDur, Pelatihan Kader Gusdurian, dan beberapa aktivitas pengkaderan lainnya.

Dalam artian, seseorang sah saja menamakan dirinya sebagai Gusdurian, namun tidak pada Jaringan Gusdurian. Seseorang bisa dikatakan sebagai kader Jaringan Gusdurian karena telah melalui tahapan pengkaderan yang telah ditetapkan oleh Sekretariat Nasional  Gusdurian.

Vinanda Febriani, Penulis Esai