Selasa, 22 Oktober 2019

TIDAK ADA AGAMA YANG LEBIH TINGGI DARI KEJUJURAN

Sabtu, 28 September 2019
oleh : Moh. Kamil Anwar
Dibaca sebanyak 276 kali
Ada setidaknya tiga nash popular di kalangan Muslim yang kemudian tidak dimaknai lebih lanjut dan menutup cara berpikirnya. Pertama, ayat [5:3] “...Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu...”. Kedua, ayat [3:19] “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam...”. Ketiga, hadis Nabi riwayat Bukhari “Islam itu unggul dan tidak dapat diungguli” (Al-Islam Ya’lu wa la Yu’la ‘alaih).

Tiga teks tadi sering disampaikan secara doktriner, sambil lalu mengikutkannya dengan pernyataan bahwa dunia tidak butuh pedoman apapun selain yang dipunyai oleh Islam. Pernyataan yang sering dilontarkan oleh kelompok-kelompok yang membiasakan dirinya untuk menolak realitas kebenaran di luar kebenaran yang diyakininya.

Doktrin ini juga yang kemudian menjadikan orang-orang yang termakan pemahaman tekstual, menganggap dirinya berada di atas semua kebenaran, tertutup dari segala kesalahan, dan meyakini yang tidak sependapat dengan keyakinannya sebagai salah dan perlu diluruskan. Alih-alih meluruskan dengan cara damai, dia lebih cenderung untuk lebih dulu melemparkan stigma-stigma buruk sebagai kafir. Seakan-akan hidup si ‘kafir’ tadi benar-benar hina karena semua yang dia jalani dalam hari-harinya dipenuhi dosa dan ‘wajib’ di neraka.

Atas dasar dalil-dalil itu juga lah mereka lalu menolak budaya-budaya di luar budaya Islam, menganggap peradaban sendiri yang paling benar dan mengkerdilkan peradaban lain yang tidak serumpun dengannya. Akibat pandangan semacam ini timbul bermacam reaksi dari berbagai pihak, baik dari internal Islam itu sendiri, maupun dari orang-orang di luar Islam. Salah satu yang nantinya mempunyai efek luas adalah radikalisasi dan terorisme.

Sebut saja misalnya Tragedi 9/11, Al-Qaeda, ISIS, dan terorisme di Indonesia yang didasarkan pada agama, semuanya memiliki relasinya jika dihubungkan dengan agama Islam. Hemat penulis, ini adalah salah satu akibat dari militansi mereka terhadap doktrin ‘mempertahankan’ dan menyebarluaskan Islam didasarkan pada teks-teks tadi.

Seringkali, bahkan, kenyataan ini menjadikan pemeluk agama lain kalap dan tidak berani untuk menyuarakan kebenaran atas tuduhan yang dialamatkan pada agama mereka sendiri. Kalis Mardiasih, dalam acara Temu Nasional GUSDURian di Yogyakarta pada 10-12 Agustus lalu, berkata “anak-anak Katolik-Kristen itu selalu nanya “Kami sebetulnya juga ingin bersuara di sosmed. Ingin merespon isu. Tapi baru ngomong apa gitu langsung ditanya “Agamamu apa?””.

Realitas Toleransi dalam Islam

Pendekatan doktriner semacam itu, menurut penulis, perlu diimbangi dengan dua hal. Pertama, tidak berhenti pada pengenalan teks-teks yang pemaknaannya bisa kaku jika dipahami dari satu sisi. Kedua, memperkenalkan doktrin-doktrin lain dalam tubuh Islam yang itu memuat unsur-unsur toleransi dan menghargai pendapat yang berbeda.

Solusi pertama bisa ditindaklanjuti dengan pendalaman teks-teks ‘kaku-able’ tadi dengan: (1) teks lain yang juga didasarkan dari nash (al-Quran dan Hadis) yang sama. Misal dengan menyodorkan ayat [109:6]: “Untukmu agamamu, untukku agamaku” dan sabda Nabi “Agama yang paling dicintai di sisi Allah adalah agama yang berorientasi pada semangat mencari kebenaran secara toleran dan lapang” (Ahabbu al-Din ila Allah al-Hanifiyyah al-Samhah).

Ayat terakhir pada surat al-Kafirun yang ditawarkan di atas seringkali dibawakan ketika pemilik pendapat dan orang yang diajak bicara memiliki pandangan yang berbeda. Lebih jauh lagi, terhadap agama yang berbeda. Sesuai dengan makna tekstualnya. Sedangkan  pemaknaan al-Samhah dalam konteks hadis tadi merupakan bentuk derivatif dari tasamuh atau samaha, yang dalam terminologi Arab modern bermakna toleransi. Dua contoh kecil dari dalil-dalil lain yang bisa dirujuk sebagai anti-tesis dari ayat yang menutup pandangan Muslim ketika mendengar doktrinnya.

Tawaran kedua, selain pengejawantahan dalil untuk dalil yang penulis tawarkan adalah dengan pengenalan tradisi saling memahami pendapat dan tidak cenderung menyalahkan yang biasa muncul dalam ikhtilaf yang banyak terjadi dalam fikih praksis. Seharusnya mereka (kelompok fundamentalis Islam) sudah mengetahui hal ini. Ya, setidaknya pada titik bahwa dalam fikih Islam ada empat pendapat besar (mazhab) yang dipakai oleh mayoritas Muslim di dunia. Tapi, mungkin mereka luput pada kenyataan bahwa empat Imam ini memiliki pendapat yang berbeda, namun masih tetap dalam nuansa kekerabatan dan saling memahami pada setiap perbedaan pendapatnya.

Jika seandainya muballigh yang membawakan dakwah dengan tiga dalil di awal tadi bersedia untuk juga menyertakan keterangan lebih lanjut sebagaimana yang ditawarkan di atas, penulis yakin fundamentalisme Islam dan radikalisasi bisa direduksi sedemikian rupa.

Gus Dur juga pernah menawarkan, dalam menyikapi hal semacam ini, untuk lebih mementingkan nilai-nilai kemanusian dibandingkan lebih mengedepankan ego intelektualnya sendiri. Lebih lanjut Gus Dur meyakini sikap ini akan melahirkan kelebihan budaya Islam yang mungkin tidak dimiliki orang lain “Kebudayaan yang tetap berorientasi melestarikan peri-kemanusiaan...”

Kembali pada Realitas Fundamentalis

Sayang, seribu sayang. Solusi-solusi semacam ini sejatinya, pasti, sudah dicoba oleh banyak kalangan (termasuk, mungkin, kelompok fundamentalis). Namun, semua kembali kepada permasalah ideologi doktriner yang sudah sejak awal dijejali oleh penceramah yang lebih dulu mereka kenal dan ikuti setiap kajiannya. Butuh pendekatan yang cukup serius dan waktu cukup lama untuk selesai ‘membasuh’ bersih pemikiran mereka yang terdahulu, untuk kemudian ditanamkan nilai-nilai Islam toleran dan menghargai sesama.

Doktrin apapun bisa berubah menjadi pendapat umum, jika doktrin itu ‘dinikmati’ oleh Muslim komunal. Lebih-lebih oleh komunitas Muslim yang militansi dan gerakannya masif dan terstruktur. Alih-alih menghapuskan, pada tingkatan ini meminimalisasi intoleransi menjadi lebih susah dari sebelumnya. Sebab “Kelaliman yang paling kejam: opini publik” (the cruelest tyrant: public opinion).

Buktinya, realita beragama Muslim, Indonesia khususnya, yang semacam itu (fundamentalis cum radikalis) sekarang justru menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Teknologi dan tersebarnya informasi secara cepat dan easy to access mendukung hal itu. Bagian ini kemudian menjadikan permasalah deradikalisasi seperti tidak berkesudahan dan seakan semakin hari semakin muncul problem baru.

Kembali lagi pada argumentasi ideologis bahwa “Tidak ada agama yang lebih tinggi dari kejujuran”. Sayangnya lagi, hanya doktrinlah yang mampu menutupi niat suci ‘kejujuran’, yang kemudian menutup akal penerima doktrin dari kebenaran beragama secara universal.

Moh. Kamil Anwar, penulis adalah alumni Sekolah Menulis Kreatif Gusdurian Jogja.