Minggu, 23 April 2017

TOLERANSI SEJAK DINI

Senin, 17 April 2017
Dibaca sebanyak 127 kali
Dulu kala, saya teracuni informasi yang berkeliaran. Informasi itu datang dari mulut ke mulut tanpa tahu benar tidaknya. Meskipun dianggap benar, tetapi kebenaran itu lahir dari sikap keagamaan yang mendasarinya tanpa tahu lebih jauh faktanya seperti apa. Keyakinan tidak ditopang oleh pengetahuan yang benar. Meyakini informasi yang datang, membentuk sikap curiga kepada agama orang lain, dan menimbulkan kesan spesifik yang melahirkan penilaian kebencian. Informasi yang membentuk prasangka tersebut tentang berita-berita misionarisme. Kalau hari ini kita mengenal sejenis informasi hoax.

 

 
 
 

 
Penilaian terhadap keyakinan agama lain zaman itu diliputi oleh kecurigaan dan ketakutan karena ancama agama lain. Pengalaman itu tinggal pengalaman. Untungnya saya telah berkembang dalam budaya akademik dan pergerakan yang memberikan saya akses terhadap buku-buku filsafat, termasuk filsafat agama, atau sosiologi agama. Wacara mutakhir saya peroleh dari buku-buku seperti itu, baik dari pemikir muslim dalam negeri, dari para penulis buku filsafat sosial, eksistensial dan buku-buku terjemahan yang di tahun 1995an mulai saya kenali satu demi satu. Selain sumber informasi dari buku dan ilmu-ilmu filsafat, pergaulan saya pun bersinggungan dengan anggota agama lain. Saya mulai mengenal mahasiswa dari Kristen dan Katolik. Bahkan saya sering menemui mereka dalam suatu kegiatan seminar. Saya ingat betul, ada suster yang ikut seminar di IAIN. Selain itu, saya juga berkunjung ke Vihara untuk menemui tokoh agama Budha dan berdialog sekitar keberagamaan menurut orang Budha. Pengalaman tersebut menggiring perubahan cara berpikir saya dan dunia pengalaman dari yang ekslusif menjadi terbuka.
 
Pengalaman menemui perbedaan agama berhubungan dengan keterbukaan sikap kita dalam menghadapi perbedaan. Pengalaman ini sepertinya tidak pernah dianggap penting dalam menciptakan hubungan damai dengan seiman dan lintas iman. Kekeringan pengalaman ini juga terjadi pada anak-anak kita. Ini masih praduga saya. Contohnya, anak-anak saya di sekolah lebih banyak kunjungan empiris ke berbagai situs alam dan tempat rekreasi. Mereka belum pernah diajak kunjungan empiris di tempat-tempat ibadah yang berbeda dengan agamanya. Barangkali pengalaman yang tidak dikondisikan di dunia pendidikan ini jugalah menyebabkan pengetahuan keagamaan tidak sebanding dengan watak dan perilaku damai sebagai ketrampilan hidup anak-anak. Anak-anak belum memperoleh akses dari para pemangku pendidikan untuk menajamkan pengenalan perbedaan dan mengembangkan menjadi kemampuan menerima perbedaan dalam hubungan penuh perdamaian.
Menilik alasan tersebut, saya dan keluarga beberapa kali hadir dalam jamuan, kegiatan dan kunjungan ke tempat-tempat yang identik dengan simbol dan tempat kegiatan agama selain Islam. Pada pengalaman ini saya mengajak anak-anak dan istri saya masuk Klenteng Eng An Kiong Malang. Kali kedua mereka masuk di tempat kegiatan tersebut. 
 
Tidak hanya di tempat peribadatan kalangan Tionghoa, anak-anak pernah hadir di sejumlah kegiatan Gusdurian. Mereka menyaksikan kegiatan doa lintas iman. Mereka tahu bagaimana caranya agama selain Islam berdoa. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di sekitar agama-agama di luar yang dia anut (Islam). Saat memasuki gedung umat Katolik, dia juga pernah bertanya tentang hubungannya dengan Kristen ortodoks. Bahkan dia ingin tahu atau suatu waktu dia pingin ikut berkunjung jika ada kenalan saya yang beragama Kristen Ortodok. Beberapa kali saya berdiskusi dengan dia tentang Kristen ortodok. 
 
Pengalaman hadir di tempat peribadatan umat di luar Islam memberikan wawasan bahwa mereka ditunjukkan perbedaan tanpa dibatasi/diberjaraki sehingga tidak mengasingkan. Saya tidak bermaksud mengajak anak-anak saya untuk turut beribadah tetapi menunjukkan bagaimana umat di luar agama yang dianutnya dipahami dari dekat. Dia bisa melihat rutinitas di dalam klenteng dengan suka cita. Keunikan dari sudut-sudut yang ada di Klenteng menjadi dikenali dan seperti daya tarik tersendiri karena keunikan situs peribadatannya tidak pernah ditemui, simbol-simbol agama yang asing diketahui sebagai sesuatu yang baru. Semuanya memberikan sudut pandang atau seperti pemandangan lain tetapi tidak lagi asing. Di lain tempat, anak-anak bahkan masuk di gedung yayasan Katolik, dan mendapati sebuah ayat Injil yang terpajang di sebuah tembok. Dia kemudian menunjukkan ke saya surat tersebut. Terjadilah dialog-dialog kecil mendiskusikan isi dan kata-kata di ayat Injil tersebut. Dia menemukan ada kata “Allah” yang sama dengan sebutan Tuhan di agama kami (muslim). 
 
Keluar dari budaya mengasingkan
 
Saya memberikan penjelasan terkait persamaan kata tersebut ke anak saya yang secara usia kronologi berumur 15 tahun.  Dia mencoba memahami. Saya kemudian bertanya ke anak saya tentang pengalaman-pengalaman beberapa kali masuk ke tempat ibadah agama di luar agama islam. Dia bilang biasa saja, tidak terkejut seperti yang saya bayangkan. Dia berusaha mengetahui kondisi yang ada dan menerima sebagai kenyataan yang tidak terbantahkan. Dia mencoba untuk mengalami hadir dalam situasi yang dia sendiri tidak terbiasa. Perpindahan kehadiran pada lingkungan keagamaan orang lain menjadikan dia mengetahui perbedaan-perbedaan yang ada. Dia mengalami hal tersebut bukan dalam keterasingan dan pengasingan. Tidak ada keterkejutan dan ujaran kebencian yang dipetakan dalam pikirannya. 
 
WhatsApp%2BImage%2B2017-04-03%2Bat%2B11.Dia telah keluar dari budaya saling mengasingkan. Perbedaan yang dimiliki atas dasar iman tidak dialami dalam budaya mengasingkan tetapi dialami dalam upaya saling bersapa untuk mengenali dunia perbedaan. Mengalami dunia perbedaan sangat penting bagi orang yang ingin belajar menjadi pendamai. Seperti sebuah pertemanan, dunia orang lain yang kita kenali menjadikan kita tahu bagaimana kita bergaul dengan dia. Begitu juga perbedaan. Hanya yang menjadikannya perbedaan sebagai beban, ancaman dan kebencianlah pada akhirnya konflik dimulai. Saat dominasi tersebut bercokol di setiap orang, maka perdamaian akan semakin jauh dari hubungan pertemanan. Sebaliknya, semakin orang bisa mengalami perbedaan maka semakin dia terampil memiliki mental perdamaian.
 
Pembentukan pengalaman sejak dini tentang perbedaan akan menciptakan latihan berdamai dan menerimanya secara terbuka. Pengalaman dini tersebut memutus mata-rantai saling mengasingkan dalam perbedaan beragama. Pengasingan ini hampir terjadi dalam melihat perbedaan agama, bahkan direproduksi dalam berbagai ucapan, persepsi dan kecurigaan secara kontinu. Pengasingan ini membelenggu diri karena keengganan membangun pengalaman yang bersentuhan dengan perbedaan yang dilanjutkan dengan melatih pikiran terbuka.  
 
Saya jadi ingat dua peristiwa penting mengapa pengalaman damai dengan perbedaan harus dibangun dari praktik bersentuhan dengan perbedaan dan kemampuan mengambil keputusan berdamai ? Peristiwa ini tentang anak-anak usia dini yang sedang berkonflik. Suatu kisah dituturkan dari hasil observasi seorang guru PAUD dan mahasiswa yang sedang meneliti belajar anak-anak PAUD. Satu kisah tersebut begini, saat anak jongkrok-jongkrokan ketika sedang bermain engklek karena suatu hal, seorang guru mencoba membiarkan tetapi penuh dengan pengamatan dan penjagaan. Seorang guru tersebut tidak berusaha melerai, namun membiarkan karena dianggap belum membahayakan satu dengan laiinya. Kedua anak yang terlibat konflik tersebut tetap berada dalam situasi permainan engklek.  Pada akhirnya, anak ini bisa berdamai dan melanjutkan permainan bermsama tanpa terluka  (mutung) . Di dunia bermain, anak-anak belajar membangun resolusi konflik (penyelesaian konflik). 
Menurut gurunya, anak memperoleh akses resolusi konflik saat bermain. Mereka langsung mengalami berkonflik dan sekaligus mengampil keputusan mandiri untuk berdamai, tentu dengan caranya anak-anak lo.  Guru tidak langsung mengisolasi anak ketika terjadi konflik. Kadang orang tua melakukan sebaliknya, saat anak bersitegang, orang tua langsung memutus mata rantai ketegangan dengan memarahi atau mengambil salah satu anak agar menghindari bersitegang. Menghindari konflik berarti memutus akses anak mencari jalan keluar resolusi (damai). Guru PAUD tersebut tidak menggunakan cara tersebut. Guru tersebut membiarkan sementara waktu. Al-hasil, anak tersebut tidak terjebak dalam konflik berkepanjangan, tetapi anak menemukan jalan damai dan bisa kembali bermain engklek bersama-sama.
 
Satu lagi cerita, anak-anak yang lebih banyak diajari CALISTUNG (membaca, menulis dan menghitung) kehilangan kesempatannya latihan berpikir mengambil keputusan saat berinteraksi dengan orang lain sehingga cenderung suka berselisih dengan teman sebayanya. Contoh kasusnya, ketika anak-anak bermain secara kelompok, anak-anak cenderung berebut permainan dan berujung geger. Stimulasi Calistung dengan belajar berfokus pada individu memangkas pengalaman anak berlatih mengambil keputusan saat bersama dengan orang lain yang tidak sepaham. Pembelajaran Calistung menjawab kebutuhan kognitif kemampuan membaca, menulis dan menghitung, tetapi mengerdilkan perkembangan kognitif lain yang semestinya harus dimiliki yakni, pengambilan keputusan berdamai melalui pengalaman langsung. Jika anak didorong menguasai perkembangan kognitif yang bukan seharusnya, boleh jadi anak-anak tersebut bisa menguasai, tetapi telah menggagalkan perkembangan yang wajib, seperti pengambilan keputusan. 
Berdasarkan contoh-contoh tersebut, anak-anak membutuhkan pengalaman nyata untuk berkembang kognitifnya. Pengalaman nyata membantu membentuk perkembangan kognitif cara resolusi konflik dan pengambilan keputusan agar bisa bermain bersama-sama. Kinerja kognitif anak akan semakin bagus kalau ditempa dengan pengalaman. Begitu juga menghargai perbedaan, anak tidak cukup hanya dibelajari pengetahuan hidup rukun, saling tolong menolong, dan kemampuan berdamai dengan orang lain yang berbeda tanpa dihadirkan pengalaman nyata atas diri anak.

Toleransi sejak dini dibangun dengan pengalaman langsung. Pengalaman mendekatkan anak dengan pembiasaan dan menghindari keterasingan. Pemahaman tanpa pengalaman menjadikan anak memahami dari jauh ilmu pengetahuan tetapi tidak berkorespondensi dengan kenyataan, maka mereka akan tetap terasing karena tidak pernah belajar mendekati pengalaman itu. Perdamaian atau toleransi tidak bisa sebatas diketahui karena bagi anak-anak kemampuan mengelola perbedaan lebih konstruktif jika mereka memiliki akses menyelesaikan perbedaan melalui pengalaman. Dari sinilah toleransi dibentuk menjadi karakter anak-anak bangsa kedepannya, yakni belajar mengalami.

Sumber: http://www.gusdurianmalang.net/2017/04/toleransi-sejak-dini.html