Senin, 27 Mei 2019

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

#TIDAKATASNAMASAYA

Sebuah video singkat menunjukkan seorang tokoh berapi-api mengatakan umat Islam marah kepada Kapolridalam menangani aksi unjuk rasa berujung kerusuhan beberapa waktu lalu. Saat menyaksikan video tersebut, tiba-tiba terbersit pikiran #NotInMyName di kepala saya. Dengan segera saya menuliskan dua cuitan di akun twitter saya @alissawahid. Satu cuitan menegaskan bahwa sebagai seorang Muslim di Indonesia, saya menolak diwakili paksa oleh narasi bahwa umat Islam ditindas dan marah, sebab saya merasa Islam di Indonesia baik-baik saja. Cuitan lainnya tentang penolakan saya untuk diatasnamakan paksa dalam narasi rakyat tolak hasil pilpres dan gerakan kedaulatan rakyat.Terinspirasi oleh tagar #NotInMyName, saya mengadaptasinya menjadi #TidakAtasNamaSaya yang saya sematkan dalam kedua cuitan.
Kategori : Headline , Opini

Nilai Gus Dur Persepektif Budaya Bugis dan Akuntansi

oleh : MUHAMMAD ARAS PRABOWO, 0 Komentar
Berbicara tentang Gus Dur sama dengan membicarakan tentang ilmu pengetahuan. Karena keluasan pengetahunnya, kemudian menjadikan Gus Dur sebagai gudang ilmu. Semua orang silih berganti dalam mencicipinya. Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) melebur menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan hingga membentuk sebuah komunitas yang dinamakan Gusdurian. Berbicara tentang Gus Dur adalah berbicara tentang struktur pengetahuan yang kemudian dikristalisasi menjadi Sembilan nilai-nilai utama Gus Dur. Nilai-nilai tersebut yaitu Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasa, Kesederhanaan, Keksatriaan dan Kearifan Lokal.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Perihal Melawan Melalui Lelucon

oleh : M. FAKHRU RIZA, 0 Komentar
Di masa rezim pemerintahan yang otoriter, segala urusan menjadi sangat sulit. Kebebasan berbicara dilarang dan kebebasan pers diberangus. Masyarakat sipil tak boleh memberikan kritik kepada pemerintah. Pokoknya, apapun yang diinginkan oleh penguasa harus diterima dengan pasrah dan legowo oleh masyarakatnya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tuhan Modernitas dan Tuhan Penjaga di Tokyo dan Kawaba

oleh : KALIS MARDIASIH, 0 Komentar
Di hadapan kuil arca berbentuk alat kelamin pria, Akemi Sensei bercerita tentang sejarah God of Cause milik penganut Shinto di Jepang. Dulu, simbol itu dibuat ketika pemeluk Shinto mengalami masalah dengan kesehatan, utamanya urusan fertilitas. Orang-orang berdoa dengan memberikan koin persembahan, membungkukkan badan tiga kali dengan tangan menelungkup di dada dan bertepuk tangan.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Merebut Narasi Islam Damai dan Keindonesiaan di Dunia Maya

oleh : NUR SHOLIKHIN, 0 Komentar
Dalam sebuah diskusi yang dilaksanakan oleh Jaringan Gusdurian di Yogyakarta pada hari Sabtu (28/Juli/2018), dan yang difasilitatori oleh Savic Ali, penulis mendapatkan data yang menarik terkait narasi Islam dan Indonesia. Narasi Islam dan keindonesiaan sangat penting untuk kita lihat, mengingat banyak agenda kelompok tertentu yang berusaha merebut narasi Islam untuk kepentingan politik. Penulis mengatakan untuk kepentingan politik, mengingat 2019 merupakan momentum politik pergantian legislatif dan presiden.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sinta Nuriyah: Ibu Negara, Ibu Rakyat

oleh : MARZUKI WAHID, 0 Komentar
Ntah, ini kali yang ke berapa. Tampaknya lebih dari 19 tahun, beliau memilih untuk sahur keliling ketimbang sahur di rumah bersama keluarga. Sejak suaminya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden keempat (1999-2001), Ibu Negara Nyai Hj. Sinta Nuriyah memilih untuk sahur bersama fuqara dan masakin (kaum miskin) serta mustadl'afin dan madhlumin (kaum tertindas) di sejumlah daerah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

PERNYATAAN SIKAP JARINGAN GUSDURIAN TERKAIT PENGGUSURAN WARGA TAMBAKREJO, SEMARANG

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Peristiwa penggusuran terjadi di kampung Tambakrejo Kota Semarang pada hari Kamis, 09 Mei 2019. Sebanyak bangunan-bangunan rumah hunian yang ditempati 97 kepala keluarga dirobohkan oleh pemerintah kota Semarang untuk melaksanakan normalisasi banjir kanal timur. Akibat peristiwa ini, ratusan warga kehilangan tempat tinggal. Untuk sementara warga tinggal di kolong jembatan dan tenda-tenda darurat yang didirikan oleh para relawan.
Kategori : Sorot

Puasa Adalah Spritualisme Agama-Agama Untuk Mendekatkan Diri Kepada Tuhan

oleh : DJEMI RAJI, 0 Komentar
“Hari ini kita akan mendiskusikan tentang Puasa. Puasa menjadi sebuah diskursus, sebab puasa tdk hanya dikenal pada umat muslim saja, melainkan juga pada agama-agama lain”, terang Dwi Mannopo saat memoderatori diskusi yang bertajuk “puasa dalam persepektif agama-agama, Kamis 09 Mei 2019 bertempat di Gallery Riden Baruadi. Diksusi dimulai pada pukul 16:00 Wita dihadiri puluhan peserta dari berbagai orginasasi dan dan komunitas di Gorontalo.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Perlukah Izin FPI Diperpanjang?

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Publik akhir-akhir ramai membincangkan perihal izin organisasi FPI yang berakhir pada 7 Juni 2019. Jika FPI dalam kurun waktu tertentu tidak memperpanjang surat izinnya maka FPI akan dinyatakan sebagai organisasi illegal di Indonesia. Akan tetapi, jika dalam kurun waktu satu bulan ini FPI mengurus surat izin dan diakui oleh pemerintah maka FPI masih berhak untuk menjadi organisasi massa Islam di Indonesia.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Jaka Tingkir, Gus Dur, dan Politik Kita Hari Ini

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir si Raja Jawa menjanjikan hadiah kepada siapa saja yang berhasil mengalahkan Arya Penangsang, adipati Jipang Panolan yang mengklaim paling berhak atas tahta Demak Bintara. Bagi Arya Penangsang, Jaka Tingkir yang "hanya" menantu sultan Trenggana tidak memiliki hak untuk mewarisi tahta. Hadiah yang dijanjikan itu berupa sebuah kadipaten bernama Pati di pesisir utara Jawa dan hutan Mentaok di pesisir selatan.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi