Sabtu, 21 Oktober 2017

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Sama-sama Bermimpi Besar

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Di tengah-tengah momen perayaan kemerdekaan seperti saat ini, tulisan Gus Dur dengan judul “Sama-sama Bermimpi Besar” layak kita renungkan kembali. Di dalamnya, Gus Dur membicarakan sosok Bung Hatta, Sang proklamator kemerdekaan bangsa ini. Gus Dur sangat apik dalam menarasikan sisi lain dari kehidupan Bung Hatta yang tidak banyak orang ketahui. Terutama dari sisi kesantrian dan identitasnya sebagai seorang Muslim. Gus Dur juga tidak lupa mengajak pembaca untuk memiliki impian yang besar sebagaimana Bung Hatta, yang memiliki semangat dalam merumuskan Indonesia merdeka. Sehingga namanya dikenang sampai sekarang. Mengutip pernyataan Gus Dur dalam tulisan di bawah ini: “Mengapa tidak bermimpi besar, tidak berangan-angan jauh: pembebasan bangsa dari kungkungan ketidakadilan, menegakkan demokrasi secara konkret. Kita semua dari generasi, dari masa sebelum Bung Hatta hingga ke anak cucu toh tidak akan kekurangan anggota yang memiliki impian besar.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Damai untuk Papua

oleh : B JOSIE SUSILO HARDIANTO, 0 Komentar
Kebijaksanaan tidaklah diukur dari panjangnya usia.... Anton Sumer tercenung di depan televisi. Pemberitaan tentang wafatnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid menyita seluruh perhatiannya. ”Ai, aduh. Kami, orang Papua, layak bersedih. Beliau bapak kami orang Papua. Beliau pula yang mengembalikan lagi nama Papua,” kata Anton sambil memegang kepalanya. Dulu, semasa Orde Baru, tabu jika orang Papua menyebut diri mereka sebagai orang Papua. Namun, oleh Gus Dur tembok-tembok ketakutan itu diruntuhkan. Dulu Papua disebut dengan Irian, demikian juga dengan penduduknya, orang Irian.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Jihadisme Toleran

oleh : YAHYA CHOLIL STAQUF, 0 Komentar
Sebelum naik cetak, Gus Dur meminta saya membacakan naskah buku The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid yang ditulis Greg Barton itu. Pada bagian pendahuluan, Greg sudah mencicil kesimpulan tentang Gus Dur dengan menyebutnya sebagai ’’pemimpin muslim liberal’’. Saat saya membacanya, Gus Dur serta-merta menyela. ’’Greg keliru itu!’’ katanya. ’’Saya ini bukannya liberal. Saya toleran.’’ Apa bedanya? ’’Kalau liberal, tidak perlu jihad. Setiap individu dipersilakan berpikir apa saja dan menjadi apa saja semau-maunya. Toleran itu tidak meninggalkan jihad, tapi tidak memaksakan kehendak.’’ Mungkinkah berjihad secara toleran?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sekali Lagi Tentang Gus Dur

oleh : NADIRSYAH HOSEN , 0 Komentar
Masih adakah yang tersisa yang belum ditulis tentang Gus Dur? Rasanya sudah dibahas semuanya baik yang fanatik mendukungnya maupun yang fanatik membencinya. Tapi tidak mengapalah saya tuliskan juga catatan ini –ini bukan bid’ah kan. Saya orang yang rasional, bukan gemar dunia mistik. Jadi, saya memahami Gus Dur juga lewat pendekatan yang rasional. Kalau memahami beliau lewat ‘dunia lain’ tentu bukan maqam saya bicara hal seperti itu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Perempuan dan Perdamaian dalam Tradisi Agama-Agama Ibrahim

oleh : ISNA LATIFA, 0 Komentar
Jika ada anggapan bahwa Yahudi adalah Israel, ISIS adalah Islam, dan Donal Trump adalah Amerika, maka bisa dipastikan anggapan itu salah.”Ujar David Elcot, seorang profesor di New York University disaat sesi diskusi bersama Shira. Sama halnya jika ada pendapat yang mengatakan Yahudi kejam, Yahudi jahat, dan Yahudi biadab. Ini hanyalah pendapat yang sangat sempit. Yahudi sebagaimana dengan Islam atau agama lain memiliki potensi yang sama. Di dalam Islam juga terdapat ISIS yang sama kejamnya dengan Israel yang sampai hari ini terus melakukan penekanan terhadap rakyat Palestina.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Catatan dari Workshop Perubahan Sosial JGD

Jaringan Gusdurian Indonesia pada Senin (18/07) mengadakan Workshop bertema “Social Change: Can Prophets of Justice Actually Work Together?” bersama David Elcott, profesor di New York University. Tema yang diangkat adalah tentang kepemimpinan dan strategi dalam melakukan perubahan sosial. Mengingat selama ini, dalam melakukan perubahan, tidak jarang seorang melakukannya dengan aksi kekerasan (violence). Demo, membakar ban, membuat kericuhan dengan pengguna jalan, gambaran itu sering kita lihat bukan? Apakah pendekatan seperti itu masih efektif dilakukan dalam mencapai perubahan? Jika tidak, apakah pendekatan non-violence (tanpa kekeraan) sendiri juga mampu mengatasi permasalahan di dunia yang penuh dengan kekerasan?
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Meninggalkan Pekerjaan di Luar Negeri, Membangun Desa dengan Kopi

oleh : FAWAZ, 0 Komentar
Alkisah, di sebuah negeri bernama Abyssinia (kini bernama Ethiopia), seorang pengembala bernama Kaldi heran melihat kambing-kambing gembalaannya bertingkah aneh usai menyantap buah yang baru pertamakali ia lihat. Kambing-kambing itu terlihat gembira. Kaldi lalu mencicip buah itu, seketika tubuhnya terasa segar usai mengonsumsi buah tersebut. Lantas ia lekas memberitahukan hal ini kepada penduduk desa tempat ia tingal. Tak butuh waktu lama, buah itu menjadi populer di desanya hingga menjalar ke desa-desa sekitar. Selanjutnya, kopi menjadi semakin populer dalam waktu singkat. Lebih lagi usai Ethiopia menginvasi Yaman dan mulai menanam kopi di sana. Berkat andil pedagang-pedagang dari jazirah arab, penyebaran kopi semakin menjangkau banyak wilayah. Bangsa Arab juga yang menemukan cara baru mengonsumsi buah kopi, yaitu kopi diolah menjadi bahan minuman setelah sebelumnya buah kopi dikonsumsi dengan cara dimakan begitu saja. Kisah ini bisa ditemukan di Majalah National Geographic pada artikel berjudul Escape from Arabia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Keadilan dan Kemanusiaan untuk Papua

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Papua adalah salah satu wilayah dengan potensi ekonomi terbesar di Indonesia. Sumberdaya alamnya melimpah dan wilayahnya sangat luas. Namun sebagian besar masyarakat Papua hingga kini masih berada dalam kemuskininan. Bahkan di banding wilayah lain di Indonesia, Papua termasuk termiskin dan terendah pendidikannya. Lebih dari itu, kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia masih sangat sering terjadi di tanah Papua. Kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat belum sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat Papua. Hal ini diperparah lagi dengan adanya prasangka negatif terhadap orang-orang Papua yang tengah bekerja atau belajar di kota-kota besar di Jawa.
Kategori : Sorot

Halal Bihalal: Merajut Harmoni Kemanusiaan

Sejak awal ibadah puasa di bulan Ramadan dimulai, dimensi sosial berupa penghargaan dan perhormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan selalu merefleksi dalam berbagi ritualitas ibadah yang memiliki nilai khusus di bulan Ramadan, dari puasa, sedekah, infaq, hingga zakat fitrah. Bahkan setelah Ramadan berlalu, penghargaan ajaran Islam terhadap perikemanusiaan itu semakin dipertegas oleh momentum Idul fitri, hari dimana umat Islam merayakannya sebagai hari kemenangan, hari kembali kepada fitrah (asal kejadian) yang berarti suci, seperti seorang bayi yang baru keluar dari rahim Ibunya, bersih, suci ibarat selembar kertas putih tanpa noda.
Kategori : Headline , Opini

Bom Madinah Kebohongan Kafir?

oleh : MOHAMAD SYAFI ALI , 0 Komentar
Seiring bom tak jauh dari masjid Nabawi beserta pemberitaannya, ada tulisan yang menyangkal informasi umum yang beredar. Nara sumbernya orang bernama Fathuddin Ja’far, yang saat kejadian mengatakan berada di dalam Masjid Nabawi. Kesaksian ini dimuat di sejumlah media, beredar di socmed, grup WA dan seterusnya, yang intinya berita bom Madinah tak sesuai fakta, berlebihan dan merupakan sebuah konspirasi untuk menyudutkan Islam. Berdasar kesaksian Ja’far, ia tidak mendengar ledakan, hanya melihat kepulan asap. “Kami hanya melihat kepulan asap spt ada kebakaran di seberang Baki’, makam para sahabat Rasulullah.”
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi