Selasa, 21 Januari 2020

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

NU DAN OPOSISI YANG BERMARTABAT

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
Nahdatul Ulama (NU) kecewa terhadap Jokowi karena tidak mendapatkan jatah Menteri Agama, itu sepenuhnya bisa dipahami. NU merasa telah berperan besar dalam kemenangan Jokowi untuk menjadi presiden kedua kali. Berbagai survey menunjukkan bahwa klaim NU itu bukan omong kosong. Data exit pollIndikator Politik, misalnya, menunjukkan bahwa 56 persen warga NU mengaku memilih Jokowi. Data ini juga diperkuat dengan temuan Avara Research Center bahwa 54,3 persen warga Nahdliyyin memilih Jokowi. Berdasarkan survey Indikator Politik Indonesia pada Pilpres 2019, dari 207,2 juta (87,2%) Muslim Indonesia, 52,8% mengidentifikasi dirinya berafiliasi dengan NU. Dari angka ini bisa diukur betapa besarnya suara warga NU yang masuk ke dalam kotak pasangan Jokowi-KMA. Tidak mengherankan jika para pengamat dengan sangat yakin menyatakan bahwa NU menjadi penentu kemenangan pasangan Jokowi-KMA pada Pilpre 2019.
Kategori : Headline , Opini

Sahabatku, Tak Setiap Habib itu Terhormat Loh

oleh : AHMAD Z. EL-HAMDI, 0 Komentar
Beberapa waktu lalu, saya menemani seorang kawan untuk menghadiri undangan jamuan makan malam di salah satu restoran mewah di Kota Surabaya. Kawan saya ini seorang tokoh nasional, dan dia layak untuk mendapatkan undangan makan malam jenis ini. Kawan saya ini diundang oleh salah seorang habib tajir di Kota Pahlawan. Dan, restoran itu milik si habib pengundang itu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Masa Depan Islam dalam Pandangan Gus Dur

oleh : ARIEF AZIZY, 0 Komentar
Islam merupakan salah satu dari beberapa agama yang memiliki ajaran yang humanis. Islam selalu memberikan pemahaman-pemahaman yang santun dan tidak merasa benar sendiri. Selain memberikan penanaman moral yang santun juga memberikan gambaran bahwa berislam itu tidak pententang-pententengan. Kemunculan rasa ketakutan dalam melihat islam itu sendiri selalu digambarkan atas stigma-stigma negatif.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Sebagai Kata Kerja, Kemanusiaan, dan Ahmadiyyah

oleh : A. ADE PRADIANSYAH, 0 Komentar
Gus Dur sebagai kata kerja adalah judul tulisan Muhammad Al-Fayyadl. Setelah Gus Dur kembali, banyak gagasan dan nilai yang diwariskan beliau untuk bangsa ini. Melihat Gus Dur sebagai sosok hanya bisa kita nikmati dalam obrolan kita di warung kopi dengan penuh canda tawa. Dalam forum resmi pun kita hanya mengenangnya dalam acara haul rutinan setiap tahunnya. Sehingga, sangat disayangkan apabila nilai-nilai yang telah beliau teladankan hilang ditelan bumi. Untuk itulah, perlu kiranya membaca Gus Dur sebagai kata kerja. Kitalah yang melanjutkan apa yang telah diperjungkan oleh beliau dimasa hidupnya. Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan. Begitulah kira-kira kalimat yang sering saya dengar.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi