Sabtu, 25 Mei 2019

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Menegaskan Netralitas: Menyanggah Framing Media Terhadap Sikap Politik GUSDURian

oleh : WAHYU EKA SETYAWAN, 0 Komentar
Beberapa hari ini masyarakat dibuat gemuruh oleh berbagai pewartaan oleh media mainstream, silahkan di googling dengan kata kunci GUSDURian, maka akan muncul pemberitaan yang sangat tendensius. Seperti "GUSDURian mendukung Jokowi" atau "GUSDURian memberi restu kepada Abah Kyai Ma'ruf." Dan, barang tentu bak jamur di musim hujan, berita-berita serupa bermunculan dengan judul yang beragam, namun masih dalam substansi yang sama. Yakni, GUSDURian secara aklamatif mendukung Jokowi dan Kyai Ma'ruf. Bahkan terakhir di beranda google jika kita memakai kata kunci GUSDURian, maka akan direlasikan dengan klaim Prabowo bahwa GUSDURian akan mendukung mereka.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Keadilan dan Rekonsiliasi

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Minggu lalu, di bilangan Kramat V, Jakarta penulis meresmikan sebuah panti jompo milik sebuah yayasan yang dipimpin orang-orang eks tapol dan napol, kasarnya orang-orang PKI (Partai Komunis Indonesia) yang sudah dibubarkan. Mereka mendirikan sebuah panti jompo di gedung bekas kantor Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), yang dianggap sebagai perempuan PKI. Peresmian yang diminta mereka secara apa adanya pada pagi yang cerah itu, disaksikan antara lain oleh SK Trimurti, salah seorang pejuang kemerdekaan kita. Ini penulis lakukan karena solidaritas terhadap nasib mereka, yang sampai sekarangpun masih mengalami tekanan-tekanan dan kehilangan segala-galanya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

PERNYATAAN SIKAP JARINGAN GUSDURIAN TENTANG POSISI GUSDURIAN DALAM PEMILIHAN PRESIDEN 2019

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Menjelang Pemilihan Presiden 2019, suasana kebangsaan semakin dinamis. Berbagai manuver dan pendekatan kepada kelompok-kelompok warga bangsa dilakukan untuk kepentingan kemenangan pasangan Calon Presiden/Calon Wakil Presiden. Tak terkecuali kepada Keluarga Gus Dur dan kepada jutaan Pengikut Gus Dur melalui berbagai kelompoknya. Inspirasi warisan perjuangan Gus Dur yang masih sangat relevan, dikombinasikan dengan keteguhan merawat para Pengikut Gus Dur selama ini, nyata-nyata berdampak pada pengaruh yang tetap besar dari sosok Gus Dur dan keluarga. Hal ini menyebabkan ramainya pendekatan partai politik kepada Keluarga Gus Dur dan para Pengikut Gus Dur di setiap perhelatan politik bangsa ini. Keluarga Gus Dur merawat warisan perjuangan Gus Dur melalui berbagai strategi. Peran Gus Dur secara garis besar dapat dipetakan sebagai seorang ulama, sebagai seorang pejuang kemanusiaan dan demokrasi, sebagai seorang penggerak kultural, dan sebagai seorang politisi. Peran yang sangat lengkap ini berdampak pada strategi merawat inspirasi perjuangan Gus Dur. Secara garis besar, Keluarga Gus Dur mengambil peran menjadi pengayom bagi semua, terutama Ibu Sinta Nuriyah Wahid. Secara khusus, warisan Gus Dur sebagai pejuang kemanusiaan dirawat oleh Jaringan GUSDURian Indonesia. Sedangkan warisan Gus Dur sebagai politisi dan Negarawan dirawat melalui Gerakan Kader Gus Dur.
Kategori : Sorot

Politik Gusdurian

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Sore ini muncul berita yang dinanti-nantikan sebagian orang: konferensi pers mengenai arah politik keluarga Gus Dur. Mbak Yenni Wahid, seusai meminta masukan kepada para sesepuh dan berdiskusi dengan berbagai pihak kemudian menyatakan mendukung Jokowi-Yai Ma’ruf untuk pemilihan presiden 17 April 2019 mendatang. Sebagian senang. Sebagian biasa saja. Sebagian kecewa.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Islam, Ideologi dan Etos Kerja di Indonesia

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Dalam Muktamar Nadhlatul Ulama (NU) tahun 1935 di Banjarmasin, forum menyampaikan permintaan fatwa, bagaimana status negara Hindia Belanda dilihat dari pandangan agama Islam, karena ia diperintah oleh pemerintah yang bukan Islam dan orang-orang yang tidak beragama Islam? Dari sudut pandang agama Islam, wajibkah ia dipertahankan bila ada serangan luar?
Kategori : Headline , Opini

Museum Perdamaian di Iran: Make Art, Not War

oleh : AFIFAH AHMAD, 0 Komentar
“Seandainya kita tak saling mengerti bahasa masing-masing, kita masih bisa menyampaikan pesan perdamaian lewat senyum”. Itulah kata-kata terakhir yang saya ingat dari Pak Moghadam, salah seorang relawan di museum perdamaian, Teheran. Sungguh beruntung kami bisa mendapat banyak penjelasan darinya. Dia sendiri adalah korban kekerasan perang Iran-Irak Tahun 1980-1988. Jari tangannya tak lengkap, kedua kakinya hilang. Namun, semangatnya tetap menggebu untuk menyuarakan perdamaian. Seperti pagi itu, ia begitu antusias mengantar kami menyusuri Museum.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Politik “Pemuda” di Tengah Derasnya Arus Perubahan Sosial

oleh : MUHAMMAD N. HASSAN, 0 Komentar
"Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.”Demikian nasihat Gus Dur kepada siapapun yang sedang berkuasa dan akan berebut kekuasaan di tahun politik dewasa ini. Jika tidak demikian, sikap sinisme politik akan semakin pekat menyelimuti kehidupan perpolitikan. Dinamika telah berkembang amat pesat menyebabkan pro kontra yang sangat signifikan. Hal ini menyebabkan sikap anti-politik dan cinta akan politik menjadi rivalitas yang begitu menohok dalam dunia perpolitikan. Kehidupan politik sebenarnya sebagai proses perwujudan perubahan yang cepat. Bagaimana tidak, politik adalah senjata yang tepat untuk menghancurkan kemiskinan dan ketimpangan. Seperti pernyataan Ambrose Bierce (2002), politik sendiri melibatkan suatu pertemuan antara kepentingan-kepentingan dan asas-asas yang berkonflik.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Informasi Hatespeech di situs Kabarkan!

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Sejak bulan Mei 2018 lalu, Jaringan Gusdurian meluncurkan situs kabarkan.org. Situs ini bertujuan untuk menampung informasi dari masyarakat mengenai diskriminasi dan ujaran kebencian belakangan ini marak terjadi . Melalui media sosial, ujaran kebencian, provokasi, dan narasi ekstremisme sangat mudah ditemui. Begitu juga dengan diskriminasi, terutama di lembaga pendidikan, sampai saat ini masih terjadi.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Belajar Pada Gus Dur

oleh : AHMAD ROHIMAN, 0 Komentar
Berbicara Gus Dur, sungguh abstrak untuk digambarkan. Karena bagi saya, semuanya ada pada Gus Dur. Mulai dari tokoh politik, toleransi, pluralis, santri, humoris, dll. Jika kita menyebut Gus Dur merupakan tokoh politik, Gus Dur pernah menjadi Presiden. Jika menyebut Gus Dur merupakan seorang santri, Gus Dur adalah cucu dari tokoh pendiri NU. Jika bicara Gus Dur merupakan seorang pluralis, Gus Dur bahkan banyak membela kaum minoritas di negeri ini. Gus Dur, sangat sulit digambarkan. Namun, pemikirannya sangat bermanfaat untuk kita ikuti dalam kehidupan bermasyarakat di negeri ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tentang 1965 dan Jalan Terjal Rekonsiliasi

oleh : HARIS EL MAHDI , 0 Komentar
Minggu kedua Agustus di tahun 1945, dua bom berhulu nuklir menghantam dua kota strategis yang menjadi lumbung logistik pasukan Dai Nippon, Hiroshima dan Nagasaki. Inilah untuk pertama kali dan satu-satunya, setidaknya sampai saat ini, senjata nuklir digunakan dalam sebuah perang. Hancurnya Hiroshima dan Nagasaki mereduksi sangat drastis kekuatan Dai Nippon dan menjadi tanda awal berakhirnya Perang Dunia ke-2. Perang ini dimenangkan secara gemilang oleh pihak sekutu yang dipimpin aliansi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di daratan Eropa, pasukan NAZI juga mengalami kekalahan besar dan terjepit. Di Penghujung cerita, Hitler dan Istrinya, Eva mati bunuh diri, meski jasadnya hilang misterius. Perang Dunia ke-2 berakhir anti-klimaks. Namun, bukan berarti dunia menemukan kedamaian. Paska PD Ke-2, dunia dibagi dalam dua kubu besar, yang merefleksikan pemenang PD ke-2. Bagi-bagi rampasan perang. Dua kubu itu adalah kubu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bernard Russel menyebutnya sebagai Blok Declaration of Independence dan Blok Manifesto Communist.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi