Kamis, 19 September 2019

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Republik Bumi di Surga: Sisi Lain Motif Keagamaan di Kalangan Gerakan Masyarakat

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Reformisme dalam Gerakan Keagamaan Gambaran umum tentang gerakan masyarakat (istilah lain untuk ‘gerakan non pemerintah’, yang di negeri ini mengandung konotasi konflik faktual atau potensial dengan pemerintah) yang didorong oleh motif keagamaan meliputi spektrum yang membentang antara dua titik diametral disatu pihak, kecenderungan untuk mewujudkan sebuah ‘Kerajaan Tuhan’ di muka bumi, dan di pihak lain penolakan sasaran perjuangan seperti itu untuk dicukupkan dengan hanya memperbaiki keadaan masyarakat yang telah diterima bentuk dan bangunannya secara tuntas. Gambaran yang dikotomis seperti itu, mengandaikan bahwa kecenderungan messianistik dan millenarianistik adalah satu-satunya kecenderungan revolusioner di lingkungan gerakan masyarakat yang memiliki motif keagamaan. Selain kecenderungan tersebut, motif keagamaan hanyalah mampu memunculkan apa yang oleh jargon Marxis dikenal sebagai ‘sikap reformis’, sebuah dosa tak berampun bagi ideologi revolusioner seperti komunisme.
Kategori : Pilihan Redaksi

Birokratisasi Gerakan Islam

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Yang dimaksudkan dengan birokratisasi adalah keadaan yang berciri utama kepentingan para birokrat menjadi ukuran. Sama saja halnya dengan militerisme jika kepentingan pihak militer merupakan ukuran utama bagi perkembangan sebuah negeri. Jadi bukannya apabila kaum birokrat turut serta dalam kepemimpinan, seperti halnya jika para pemimpin militer ada dalam pemerintahan. Kata kunci dalam kedua hal ini adalah di tangan siapa kekuasaan itu.
Kategori : Pilihan Redaksi

Memaknai Khittah Kemerdekaan

oleh : ADEN MANSYUR, 0 Komentar
Ketika setiap akan mau memasuki tanggal dan bulan kemerdekaan, ada sebuah pertanyaan yang selalu terdengar di telingga kita, "benarkah bangsa Indonesia ini sudah merdeka?"
Kategori : Pilihan Redaksi

Tujuh Hakikat Kemerdekaan Menurut Gus Dur

oleh : ADMIIN, 0 Komentar
Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur secara tegas mengungkap tujuh poin alasan mengapa saat itu bangsa Indonesia harus merdeka dari tangan penjajah dalam bentuk pernyataan-pernyataan. Tujuh poin pernyataan ini tidak hanya dimaksudkan Gus Dur untuk menelaah kembali arti kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai dasar dan pijakan melangkah bagi Indonesia.
Kategori : Headline

Ras dan Diskriminasi di Negara Ini

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Dalam perjalanan ke gedung TVRI saat subuh awal Feb­ruari 2003, penulis mendengar siaran sebuah radio swasta Jakarta yang menyiarkan dialog tentang masalah ras dan diskriminasi. Karena format siarannya dialog interaktif, maka dapat dimengerti jika para pendengar melalui telepon me­ngemukakan pendapat dan pernyataan berbeda­-beda mengenai kedua hal itu. Ada yang menunjuk kepada keterangan etnografis, yang menyatakan orang­-orang di Asia Tenggara, Jepang, Korea, Tiongkok, Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan mempunyai penduduk asli dari ras Mongol (Mongoloid). Karena itu narasumber pada dialog itu, menolak perbedaan antara kaum asli dan kaum turunan di Indonesia. Menurutnya kita semua ber­asal dari satu turunan dan tidak ada bedanya satu dari yang lain. Maka pembagian kelompok asli dan keturunan di negeri kita ti­dak dapat diterima dari sudut pemikirannya.
Kategori : Pilihan Redaksi

Islam, Negara dan Rasa Keadilan

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Dalam dua sumber tekstual kitab suci al-Qurân mengenai keadilan, tampak terlihat dengan jelas bagaimana keadilan dapat ditegakkan, baik dari masalah prinsip hingga prosedurnya. Dari sudut prinsip, kitab suci al-Qurân menyatakan; “Wahai orang­orang yang beriman, tegakkan keadilan dan jadilah saksi­saksi bagi Allah, walaupun mengenai diri kalian sendiri (yâ ayyuha alladzîna âmanû kûnû qawwâmîna bi al-qisthi syuhadâ’a li Allâhi walau ‘alâ anfusikum)” (QS al­Nisa [4]:135). Dari ayat ini tampak jelas bahwa, rasa keadilan menjadi titik sentral dalam Islam.
Kategori : Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

oleh : SYARIF HIDAYAT S, 0 Komentar
Keadilan adalah watak natural manusia, juga watak khas agama Islam. Tulisan ini akan mengulas bagaimana konsep keadilan menurut KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Dalam kumpulan tulisan tokoh-tokoh Islam yang diedit oleh Budhy Munawar Rahman berjudul Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Mei: 1994), Gus Dur menulis tentang konsep keadilan menurut Islam. Menurut Gus Dur, konsep keadilan dalam Islam bermula dari Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Efek positif lanjutannya, al-Qur’an sebagai firman Allah juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan.
Kategori : Pilihan Redaksi

Menyimak Kritik Sastra Gus Dur kepada HAMKA

oleh : ALI USMAN, 0 Komentar
Pada 1983, Gus Dur pernah menulis esai yang cukup panjang sebagai pengantar untuk kumpulan tulisan (antologi) tentang Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Bukan semata-mata perkara ketebalan jumlah lembar, yang dalam edisi cetak mencapai 16 halaman, apa yang digubah Gus Dur itu bagi saya sangat mengesankan.
Kategori : Headline , Opini

PROKLAMASI

oleh : HARIS EL MAHDI, 0 Komentar
“Tidaklah pernyataan ini dituliskan di atas perkamen dari emas. Kalimat-kalimat ini hanya digoreskan pada secarik kertas” – Ir. Soekarno
Kategori : Pilihan Redaksi

Posisi Perempuan Dalam Ruang Politik Praktis

oleh : FAISAL SAIDI, 0 Komentar
Di zaman yang terlampau maju ini, kesadaran kita dalam memosisikan perempuan justru semakin memprihatinkan. Kedudukan perempuan menjadi tidak aman dan terkesan harus lebih waspada dalam beraktifitas di dunia yang serba praktis seperti ini. Apalagi hampir seluruh pergerakan perempuan seolah-olah diawasi dengan nilai moral. Artinya, perempuan dalam ruang sosial, agama, lebih-lebih dalam ruang politik [partai poltik], akan dinilai dengan pendekatan moralitas. Tidak demikian dengan ‘laki-laki’. Jarang sekali kita melihat, mendengar, atau menyaksikan bahwa ukuruan perilaku laki-laki dinilai dari pendekatan moralitas.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi