Senin, 19 November 2018

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Ibu Meiliana, Maafkan Aku....

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
Ibu Meiliana, maafkan aku. Ternyata keterangan saya sebagai saksi ahli dalam persidanganmu tak didengarkan hakim. Hakim lebih memilih bisikan lain, daripada bisikanku. Saya sudah berusaha sekuat pengetahuan yang saya miliki untuk membebaskankanmu dari tuduhan melakukan penodaan agama, meskipun saya tahu biasanya hakim tidak akan tahan dengan tekanan massa. Engkau akhirnya tetap divonis melakukan penodaan agama dengan pidana 18 bulan. sebelumnya menduga, jaksa akan terpengaruh dengan argumentasi saya dan menuntutmu bebas. Mengapa? Setelah sidang, salah satu jaksa mendekati saya sambil berkata: "Terima kasih pak atas keterangannya. Banyak yang mencerahkan saya, termasuk posisi fatwa dalam Islam". Ternyata, dugaan saya inipun meleset.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gusdurian Mojokerto Galang Dana Untuk Korban Gempa Lombok

oleh : IMAM MALIK, 0 Komentar
Gempa Lombok beberapa waktu yang lalu telah menggerakkan kita, komunitas GUSDURian Mojokerto. Sejak Senin, 06 agustus 2018, kami segenap komunitas penggerak Gusdurian Mojokerto bersama Iwamor (Ikatan Waria Mojokerto) dan IKA PMII Mojokerto melakukan gerakan donasi untuk saudara kita yang terkena gempa di Lombok-NTB.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Pribumisasi Islam (Catatan untuk Tunas Gusdurian 2018)

oleh : IRFAN AFIFI, 0 Komentar
Ada rumusan umum yang setidaknya bisa disepekati dalam Temu Nasional Gus Durian 2018 terkait perumusan salah satu dari Sembilan nilai Gus Dur, yakni khususnya terkait gagasan “pribumisasi Islam”, bahwa Pribumisasi Islam sebagai sebuah nilai yang ditawarkan Gus Dur tidak dimaksudkan untuk mengganti bacaan Al Fatihah yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa, Minang, Batak dll. Dalam konteks abstraksi, Gagasan Pribumisasi islam tidak ingin mengganti apa yang universal dan tetap dari ajaran agama (ast-stabit), seperti nilai ibadah sholat atau ajaran-ajaran keimanan, tauhid, dll yang bersifat pokok dalam agama (usul). Namun, Pribumisasi Islam hanya berusaha menempatkan apa yang cabang (furu’) yang bersifat berubah (al mutaghaiyyir) dalam ajaran syari’at (fikih) sebagai sebuah fakta yang lentur dalam persinggungannya dengan realitas kebudayaan Indonesia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Maya: Saya Katholik di Tengah Keluarga Muslim yang Taat

oleh : AMINUDDIN HAMID, 0 Komentar
Saya ingin bercerita mengenai pengalaman tentang toleransi seorang Katholik yang hidup di tengah Muslim yang taat. Dalam acara Temu Nasional (Tunas) yang diadakan oleh Jaringan Gusdurian Indonesia (10-12 Agustus) kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu forum komisi yang fokus membahas isu toleransi.
Kategori : Pilihan Redaksi , Sosok

Langkah Strategis Pasca-Tunas Gusdurian 2018

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Pertemuan Nasional (Tunas) Jaringan Gusdurian yang diadakan pada tanggal 10-12 Agustus di Asrama Haji Yogyakarta telah selesai dilaksanakan. Tercatat ada sekitar 106 komunitas Gusdurian di seluruh Indonesia yang menghadiri Tunas. Setiap anggota komunitas yang hadir berkisar antara dua hingga 10 orang, sehingga total peserta Tunas dari komunitas Gusdurian kurang lebih 400 orang. Jumlah ini belum termasuk tamu undangan dan rombongan liar.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

GUSDURIAN: MENGGERAKKAN TRADISI, MENEGUHKAN INDONESIA

oleh : MARZUKI WAHID, 0 Komentar
Yogyakarta, 12/8/18. Selama tiga hari, 10-12 Agustus 2018, saya berada di tengah-tengah tunas Gusdurians se-Indonesia, plus Gusdurian dari beberapa negara. Sekitar 700an anak-anak muda hadir dalam acara Temu Nasional (Tunas) Penggerak Gusdurian di Yogyakarta. Mereka datang dengan biaya sendiri. Sebagian dari mereka, menabung sejak lama untuk bisa hadir di Tunas ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

REKOMENDASI JARINGAN GUSDURIAN INDONESIA Temu Nasional (Tunas) Jaringan GUSDURian Indonesia

“Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi”. Jaringan GUSDURian Indonesia memandang bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan adalah nilai dasar dalam menjawab berbagai persoalan yang saat ini mendera bangsa Indonesia. Sistem dan tatanan sosial-politik-ekonomi hanya bermakna jika ia dibangun untuk menegakkan keadilan bagi umat manusia. Pembelaan terhadap kelompok masyarakat yang diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi, bukan hanya menjadi tanggung jawab moral bagi Jaringan GUSDURian Indonesia, tapi juga tuntutan perjuangan yang harus ditindakkan dalam karya nyata. Oleh karena itu, upaya menciptakan tananan politik, sosial dan ekonomi yang adil dan manusiawi adalah perjuangan tiada akhir. Berdasarkan prinsip itulah, Jaringan GUSDURian Indonesia merekomendasikan
Kategori : Sorot