Minggu, 17 Desember 2017

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Khilafah: Sebuah Kemunduran

Selain faktor geopolitik di Timur Tengah yang memicu lahirnya Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS), persoalan yang tak boleh diabaikan umat Islam ialah ide negara Islam atau khilafah. Sebab, pelarangan ISIS tak otomatis membuat pahamnya mati di negeri ini. Ide tentang khilafah dan pemberlakuan syariah akan terus menjadi perdebatan panas sebelum relasi antara Islam dan negara selesai disepakati oleh semua umat Islam. ISIS, dalam aspek ini, menjadi pelajaran penting.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pernyataan Sikap Jaringan Gusdurian Indonesia Mengenai Vonis Ahok dan Hal-Hal yang Melingkupinya

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Setelah melalui serangkain persidangan yang diwarnai aksi-aksi massa, tersangka ‘penistaan agama’ Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akhirnya divonis dua tahun penjara. Mengacu pada pernyataannya yang bisa diikuti lewat rekaman video atau transkrip yang beredar, vonis ini terasa janggal, karena tidak ada nada Ahok sedang menghina. Namun jika melihat banyak kasus pelaporan penistaan agama yang disidangkan di mana terdakwa (sepertinya) tak ada yang lolos dari hukuman, maka vonis terhadap Ahok sesungguhnya tidak mengejutkan.
Kategori : Sorot

Haruskah HTI Dibubarkan?

oleh : IQBAL AHNAF, 0 Komentar
Dalam beberapa bulan terakhir wacana pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menguat. Atas desakan sejumlah ormas, polisi menghentikan kegiatan HTI di banyak tempat. Merespons tuntutan ini, pada 3 Mei 2017, Mendagri menyatakan pembubaran HTI tinggal menunggu waktu. Sebelumnya Kapolri dan Menko Polhukam memberikan sinyal serupa. Tuntutan pembubaran HTI didasarkan pada tuduhan bahwa organisasi ini ingin mengubah ideologi dan dasar negara yang dianggap sudah final. Tujuan HTI untuk mendirikan sistem pemerintahan alternatif yang disebut “khilafah” dianggap sebagai agenda makar yang tidak boleh dibiarkan bebas di Indonesia.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Sistem Khilafah Tidak Bisa Menunjukkan Perdamaian

oleh : MUHAMMAD MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Negara-negara yang mayoritas memeluk agama Islam sudah semestinya memiliki konsep tentang perpaduan Islam dan Negara. Ini akan terlihat ketika kita membandingkan konsep agama dan negara di Suriah, Iran, Mesir, dan Indonesia. Semua negara ini memiliki ciri khas tertentu dalam merumuskan konsep hubungan tersebut. Indonesia misalnya, sejak dirumuskannya Pancasila dan UUD 1945 banyak menuai perdebatan. Apakah Islam yang akan menjadi dasar negara, atau Islam dan agama lainnya akan menjadi perkakas dalam negara. Meskipun pada awalnya para pejuang sudah menetapkan sila pertama Pancasila disertai dengan tujuh kata (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya), namun pada tanggal 18 Agustus 1945 melalui sidang pertama PPKI tujuh kata itu dihapus dan menjadi Pancasila yang kita tahu saat ini.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pembaharuan Abdurrahman Wahid: Gagasan dan Strategi

Kesulitan pertama di dalam upaya membentangkan pemikiran-pemikiran Abdurrahman Wahid (selanjutnya Gus Dur, sesuai sebutan akrabnya) terletak pada luasnya spektrum yang menjadi minatnya selama ini. Gus Dur bukan seorang akademisi yang setia menghuni perguruan tinggi dan menumpahkan perhatiannya pada satu dua topik masalah saja. Ia adalah seorang cendikiawan-aktivis, dan boleh dikata juga, seorang eksiklopedis, dengan perhatian luas dan beragam, yang membentang mulai topik agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan hingga soal-soal praktis seperti sepak bola dan film.
Kategori : Headline , Kajian

Toleransi Sejak Dini

Dulu kala, saya teracuni informasi yang berkeliaran. Informasi itu datang dari mulut ke mulut tanpa tahu benar tidaknya. Meskipun dianggap benar, tetapi kebenaran itu lahir dari sikap keagamaan yang mendasarinya tanpa tahu lebih jauh faktanya seperti apa. Keyakinan tidak ditopang oleh pengetahuan yang benar. Meyakini informasi yang datang, membentuk sikap curiga kepada agama orang lain, dan menimbulkan kesan spesifik yang melahirkan penilaian kebencian. Informasi yang membentuk prasangka tersebut tentang berita-berita misionarisme. Kalau hari ini kita mengenal sejenis informasi hoax.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Dukungan Penuh untuk KPK: Sikap Jaringan Gusdurian (JGD) atas serangan terhadap Novel Baswedan

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Pada hari selasa, 11 April 2017, pagi hari setelah menunaikan subuh di Masjid Al Iksan, Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mendapatkan serangan teror fisik berupa penyiraman air keras. Peristiwa ini bukan pertama yang dialami KPK secara umum dan Novel Baswedan pada khususnya. Novel Baswedan pernah ditabrak mobil saat mengendarai sepeda motor menuju kantornya di Kuningan, Jakarta Selatan. Intimidasi lain juga kerap didapatinya. Kecelakaan mobil yang dialaminya di NTB juga ditengarai sebagai bagian dari serangan dan intimidasi. Kami menganggap bahwa serangan dan intimidasi tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya untuk melemahkan KPK serta menghalangi penanggulangan korupsi di Indonesia secara umum. terhadap peristiwa ini Jaringan Gusdurian Indonesia menyatakan:
Kategori : Sorot

Ketika Massa Muslim Berkumpul

Beberapa bulan, saya sempat terpekur dalam kekhawatiran melihat gelombang massa aksi bela Islam-bela Ulama yang diakui atau tidak diakui, momentum itu terbentuk dari sebuah alasan dan desain peristiwa yang begitu politis. Kekhawatiran itu semakin menjadi setelah membaca beberapa ulasan dalam jurnal Maarif Institute antara lain dari Ahmad Najib Burhani, Mohammad Iqbal Ahnaf dan Airlangga Pribadi Kusman. Dalam jurnal edisi "Pasca Bela Islam" itu, saya menemukan poin-poin yang jika boleh diringkas saya sebut sebagai "Hal-hal berbahaya namun tidak disadari terjadi dalam aksi bela Islam", satu diantaranya adalah soal: Populisme Islam atau Fragmentasi Otoritas Keberagamaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tentang Buku Ahmad Wahib dan Gus Dur

oleh : LIES MARCOES, 0 Komentar
Sekitar tahun 1982-1983 Ismed minta mengedit catatan harian Ahmad Wahib. Dia mengerjakannya seperti seorang pertapa. Ia tinggal di daerah Sandratex di Pasar Jumat. Singkat kata, suntingan yang berasal dari “bengkalai catatan harian itu” selesai dan karena telah terikat kontrak dengan LP3ES, Ismed yang ketika itu freelance diminta untuk bertanggung jawab sampai buku itu terbit. Maka resmilah Ismed menjadi editor buku di penerbit LP3ES. Suatu hari Gus Dur datang dan disodori naskah draft buku itu. Seharian ia membacanya sambil duduk di kursi rotan di bagian dalam ruang redaksi. Menjelang sore ketika staf menjelang pulang Gus Dur baru merampungkan bacaannya. Lalu dia menghampiri Ismed, “Dahsyat ini Med, best seller nih, apa judulnya”?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Humanisme Religius ala Gus Dur (Menggali Semangat, Melakukan Pembaharuan)

oleh : DESIDERIO JULIO SUDIRMAN SMM, 0 Komentar
Agama mendapat tantangan yang serius dewasa ini. Tampaknya pergulatan manusia mengenai tujuan hidup yang dicari dalam nilai-nilai religiusitas dalam berbagai tradisi religius dirongrong. Ini terjadi karena seringkali agama dalam kenyataannya justru menjadi suluh yang membakar api perpisahan, pemecahan antara manusia. Tak jarang, agama menjadi alasan utama pertumpahan darah. Namun benarkah agama in se membawa serta pengaruh-pengaruh dekstruktif bagi kehidupan manusia? Pertanyaan yang diajukan di atas tidak mudah untuk dijawab. Kita tidak hanya sekedar menjawab dalam kerangka afirmasi dan negasi. Lebih dari pada itu, perlu dicari pendasaran yang kuat dan meyakinkan apakah agama memang berwajah ganda, atau sebaliknya agama sejatinya hanya membawa kedamaian dalam hidup manusia. Bagi saya, pendasaran yang kuat dapat ditemui dalam sosok Gus Dur. Intisari dari perjuangannya menjadi jawaban yang amat gamblang untuk menguraikan betapa tradisi religius sejatinya membawa kedamaian bagi setiap pemeluknya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi