Sabtu, 21 Oktober 2017

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Pembaharuan Abdurrahman Wahid: Gagasan dan Strategi

Kesulitan pertama di dalam upaya membentangkan pemikiran-pemikiran Abdurrahman Wahid (selanjutnya Gus Dur, sesuai sebutan akrabnya) terletak pada luasnya spektrum yang menjadi minatnya selama ini. Gus Dur bukan seorang akademisi yang setia menghuni perguruan tinggi dan menumpahkan perhatiannya pada satu dua topik masalah saja. Ia adalah seorang cendikiawan-aktivis, dan boleh dikata juga, seorang eksiklopedis, dengan perhatian luas dan beragam, yang membentang mulai topik agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan hingga soal-soal praktis seperti sepak bola dan film.
Kategori : Headline , Kajian

Toleransi Sejak Dini

Dulu kala, saya teracuni informasi yang berkeliaran. Informasi itu datang dari mulut ke mulut tanpa tahu benar tidaknya. Meskipun dianggap benar, tetapi kebenaran itu lahir dari sikap keagamaan yang mendasarinya tanpa tahu lebih jauh faktanya seperti apa. Keyakinan tidak ditopang oleh pengetahuan yang benar. Meyakini informasi yang datang, membentuk sikap curiga kepada agama orang lain, dan menimbulkan kesan spesifik yang melahirkan penilaian kebencian. Informasi yang membentuk prasangka tersebut tentang berita-berita misionarisme. Kalau hari ini kita mengenal sejenis informasi hoax.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Dukungan Penuh untuk KPK: Sikap Jaringan Gusdurian (JGD) atas serangan terhadap Novel Baswedan

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Pada hari selasa, 11 April 2017, pagi hari setelah menunaikan subuh di Masjid Al Iksan, Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mendapatkan serangan teror fisik berupa penyiraman air keras. Peristiwa ini bukan pertama yang dialami KPK secara umum dan Novel Baswedan pada khususnya. Novel Baswedan pernah ditabrak mobil saat mengendarai sepeda motor menuju kantornya di Kuningan, Jakarta Selatan. Intimidasi lain juga kerap didapatinya. Kecelakaan mobil yang dialaminya di NTB juga ditengarai sebagai bagian dari serangan dan intimidasi. Kami menganggap bahwa serangan dan intimidasi tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya untuk melemahkan KPK serta menghalangi penanggulangan korupsi di Indonesia secara umum. terhadap peristiwa ini Jaringan Gusdurian Indonesia menyatakan:
Kategori : Sorot

Ketika Massa Muslim Berkumpul

Beberapa bulan, saya sempat terpekur dalam kekhawatiran melihat gelombang massa aksi bela Islam-bela Ulama yang diakui atau tidak diakui, momentum itu terbentuk dari sebuah alasan dan desain peristiwa yang begitu politis. Kekhawatiran itu semakin menjadi setelah membaca beberapa ulasan dalam jurnal Maarif Institute antara lain dari Ahmad Najib Burhani, Mohammad Iqbal Ahnaf dan Airlangga Pribadi Kusman. Dalam jurnal edisi "Pasca Bela Islam" itu, saya menemukan poin-poin yang jika boleh diringkas saya sebut sebagai "Hal-hal berbahaya namun tidak disadari terjadi dalam aksi bela Islam", satu diantaranya adalah soal: Populisme Islam atau Fragmentasi Otoritas Keberagamaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tentang Buku Ahmad Wahib dan Gus Dur

oleh : LIES MARCOES, 0 Komentar
Sekitar tahun 1982-1983 Ismed minta mengedit catatan harian Ahmad Wahib. Dia mengerjakannya seperti seorang pertapa. Ia tinggal di daerah Sandratex di Pasar Jumat. Singkat kata, suntingan yang berasal dari “bengkalai catatan harian itu” selesai dan karena telah terikat kontrak dengan LP3ES, Ismed yang ketika itu freelance diminta untuk bertanggung jawab sampai buku itu terbit. Maka resmilah Ismed menjadi editor buku di penerbit LP3ES. Suatu hari Gus Dur datang dan disodori naskah draft buku itu. Seharian ia membacanya sambil duduk di kursi rotan di bagian dalam ruang redaksi. Menjelang sore ketika staf menjelang pulang Gus Dur baru merampungkan bacaannya. Lalu dia menghampiri Ismed, “Dahsyat ini Med, best seller nih, apa judulnya”?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Humanisme Religius ala Gus Dur (Menggali Semangat, Melakukan Pembaharuan)

oleh : DESIDERIO JULIO SUDIRMAN SMM, 0 Komentar
Agama mendapat tantangan yang serius dewasa ini. Tampaknya pergulatan manusia mengenai tujuan hidup yang dicari dalam nilai-nilai religiusitas dalam berbagai tradisi religius dirongrong. Ini terjadi karena seringkali agama dalam kenyataannya justru menjadi suluh yang membakar api perpisahan, pemecahan antara manusia. Tak jarang, agama menjadi alasan utama pertumpahan darah. Namun benarkah agama in se membawa serta pengaruh-pengaruh dekstruktif bagi kehidupan manusia? Pertanyaan yang diajukan di atas tidak mudah untuk dijawab. Kita tidak hanya sekedar menjawab dalam kerangka afirmasi dan negasi. Lebih dari pada itu, perlu dicari pendasaran yang kuat dan meyakinkan apakah agama memang berwajah ganda, atau sebaliknya agama sejatinya hanya membawa kedamaian dalam hidup manusia. Bagi saya, pendasaran yang kuat dapat ditemui dalam sosok Gus Dur. Intisari dari perjuangannya menjadi jawaban yang amat gamblang untuk menguraikan betapa tradisi religius sejatinya membawa kedamaian bagi setiap pemeluknya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Dan Masalah Islam Telah Sempurna

Tidak semua persoalan yang kita hadapi sekarang ini, ada pada zaman Nabi Muhammad Saw. Seperti, persoalan tes DNA, kita hidup di negara bangsa, demonstrasi berjilid-jilid seperti yang dilakukan GNPF MUI, mendengar ngaji lewat kaset rekaman, persoalan sholat di pesawat terbang dan kereta api, komunikasi via WA-telegram-tweeter, dan berbagai persoalan lain. Persoalan-persoalan baru seperti itu akan terus muncul dan senantiasa berkembang, seiring dengan perkembangan budaya, politik, ekonomi, dan peradaban umat manusia. Perkembangan-perkembangan ini membawa implikasi pertanyaan: bagaimanakah akhirnya kita memahami wawasan tentang “Islam telah sempurna”, seperti yang selama ini dikenal di dalam tradisi Islam?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Kata Pengantar Buku "Mati Ketawa ala Rusia"

oleh : LIES MARCOES, 0 Komentar
Suatu hari, Gus Dur datang ke Grafitipress tempat Ismed Natsir, suami saya, bekerja sebagai editor. Dia tanya, "Med ada yang bisa saya bantu, ada perlu untuk pendaftaran anak sekolah". Suami saya menjawab" Ada Gus membuat pengantar untuk buku". Gus Dur pun bersetuju. Ia duduk membuka-buka dan membaca draft buku. Tak terlalu lama - hanya selintasan membaca. Lalu ia minta mesin tik, dan mulailah ia menulis, tanpa tip-ex tanpa ada satu pun kalimat yang dia perbaiki. Dalam waktu tak sampai satu dua jam, pengantar redaksi untuk buku pun selesai. Sembari dia mengetik, suami saya mengurus pembayaran. Selesai, ia pun pamit dengan mengantongi honor untuk biaya sekolah salah satu dari 4 anaknya yang akan masuk SMA... Sore hari menjelang pulang suami saya baru sempat membaca pengantar itu, dan ia terperangah....
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Masalah Hidup Berdampingan

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan: “Nabi Muhammad langsung diber itahu Tuhan bahwa ada perbedaan- perbedaan dalam beragama, sebagaimana firman Tuhan, lakum dinukum waliyadin,“ Bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku” (QS. Al- Kafirun [109]: 6). Agama Islam mengajarkan semangat toleran yang menghargai sesama manusia, walaupun berbeda agama.” (KH. Abdurrahman Wahid dan Daisaku Ikeda, Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian, hlm. 186).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ciganjur dan Jaringan Gusdurian

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Sampai saat ini, masih banyak masyarakat awam yang belum tahu apa bedanya Jaringan Gusdurian dengan Wahid Foundation (dulunya Wahid Institute). Sebelum beranjak ke pertanyaan “apa bedanya”, sebaiknya perlu dimengerti dulu apa itu entitas Ciganjur. Keluarga Ciganjur atau keluarga almarhum KH. Abdurrahman Wahid, punya banyak sayap organisasi. Diantaranya Puan Amal Hayati, Wahid Foundation, ada Abdurrahman Wahid (AW) Center – UI, Jaringan Gusdurian dan Positive Movement. Semua sayap keluarga Ciganjur masing-masing memiliki fokus yang berbeda-beda.
Kategori : Sorot