Kamis, 19 September 2019

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Rekonsiliasi Politik Tingkat Tinggi ala Gus Dur

oleh : FATHONI, 0 Komentar
Langkah pemulihan keamanan dan persaudaraan atau rekonsiliasi antar-anak bangsa secara cepat dilakukan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di tengah menghadapi pemakzulan (impeachment) dirinya oleh Parlemen, yaitu DPR dan MPR. Dewan Perwakilan Rakyat kala itu dipimpin oleh Akbar Tandjung dan Majelis Permusyawaratan Rakyat diketuai oleh Amien Rais.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pakar

Beberapa tahun terakhir ini, di media sosial Gus Nadirsyah Hosen sangat aktif mengutip dalil-dalil agama Islam dengan menyertakan potret kitab-kitab klasik (kitab mu’tabar) yang menjadi rujukannya. Terutama saat ia sedang beradu pandangan dengan akun-akun lain dalam pembahasan tentang hukum Islam atau pendapat berlandaskan agama Islam, misalnya tentang khilafah. Gus Nadir selalu merujuk kepada kitab-kitab klasik tersebut untuk mengajarkan kepada publik dan lawan berdebatnya bahwa kita perlu selalu mempertanggungjawabkan pendapat kita, tidak asal bicara, apalagi menyimpulkan ayat-ayat Tuhan secara literal tanpa landasan keilmuan. Gus Nadir memilih menantang pandangan segelintir orang yang dipandangnya tidak memiliki keilmuan yang cukup tetapi begitu gigih meyakini dan menyebarkan tafsirnya atas Firman Tuhan tersebut.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Islam dan Revolusi Plastik di Kenya

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Sebuah email masuk dari panitia pertemuan pegiat keberagaman di Kenya. Isinya tentang peringatan agar tidak membawa masuk tas plastik ke negara ini. Panitia tersebut sekaligus menjelaskan situasi negara Kenya yang sangat keras terhadap penggunaan tas plastik. "Larangan tas plastik telah menjadi sebuah hukum di Kenya," ujar panitia tersebut. Karenanya, ketika berada di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta saya dan rombongan saling mengingatkan satu sama lain untuk tidak membawa kantong plastik.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur: “Saya Ini Makelar Akhirat.”

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Berikut dokumentasi Majalah MATRA saat wawancara K.H Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia ke-4. Masa jabatan 20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001. Gus Dur kelahiran 7 September 1940, yang meninggal pada 30 Desember 2009 (umur 69). Edisi MATRA Maret 1992 (Wawancara ABDURRAHMAN WAHID): SAYA INI MAKELAR AKHIRAT
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Penggerak Islam Indonesia

oleh : ABDULLAH ALAWI, 0 Komentar
Di akhir tahun 1990, majalah Editor edisi No 15/THN IV/22 Desember, menobatkan KH Abdurrahman Wahid sebagai penggerak Islam Indonesia. Kulit muka majalah itu memuat potret kiai yang biasa disapa Gus Dur itu dengan kepala tulisan Tokoh 1990, Tahun Bergeraknya Islam Indonesia. Proses penobatan dijelaskan pada rubrik Dari Editor. Menurut sidang redaksi yang berjumlah 18 orang keputusan yang menempatkan Ketua Umum PBNU waktu itu sebagai Tokoh Editor setelah mendapat nilai terbanyak (136) dan menyisihkan 6 finalis lain.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Citra Perempuan Ideal dalam Islam

oleh : NUR ROFIAH, 0 Komentar
Ada kutipan menarik dalam Kata Pengantar Penerbit buku Argumen Kesetaraan Jender Perspektif al-Qur'an karya Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Kata pengantarnya sendiri ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA. Menurut Prof. Komar, ada banyak temuan penting dalam penelitian disertasi yang kemudian dicetak menjadi buku ini. Salah satunya adalah tentang citra perempuan ideal dalam al-Qur'an.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Fondasi Islam Kaffah ala Gus Dur

oleh : INUNG HAMDI, 0 Komentar
Anda benar, jika berpikir bahwa Gus Dur tidak pernah menyuarakan jargon islam kaffah. Memang, Gus Dur selama ini dikenal sebagai suara terlantang dari “Islam ramah” yang dihadapkan dengan “Islam marah”. Sekalipun gak ada salahnya membayangkan Gus Dur memaknai Islam kaffah. Satu hal yang harus dicatat di awal, Gus Dur tidak pernah menempuh cara-cara kekerasan dalam memperjuangkan gagasannya. Pesan yang konstan disuarakannya adalah perdamaian. Marilah mengawali perbincangan ini dengan salah satu kutipan dari Gus Dur tentang dialog antaragama dan kerja sama dengan kelompok agama lain.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Jaringan Gusdurian dan Kitabisa.com Salurkan Santunan untuk Keluarga Penyelenggara Pemilu yang Gugur dalam Bertugas

Pemilihan Umum (Pemilu) serentak yang diselenggarakan pada 17 April 2019 lalu menorehkan catatan kelam. Menurut data Kementerian Kesehatan, sebanyak 527 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Komisi Pemilihan Umum meninggal dunia petugas dan 11.239 sakit. Total ada 11.766 petugas KPPS menjadi korban dari hajatan demokrasi untuk memilih presiden dan wakil di parlemen ini (CNN, 16 Mei 2019).
Kategori : Sorot

Kekalahan dan Kemenangan Umat Islam Indonesia

oleh : ACHMAD MUNJID, 0 Komentar
Sejak Masyumi kita belajar, selama orang Islam masih berpikir bagaimana meraih kemenangan pertama-tama untuk kelompok sempitnya--kemenangan eksklusif umat Islam--selama itu pula umat Islam akan kalah. Umat Islam memang mayoritas, tapi Indonesia tidak cuma milik orang Islam. Hasil pemilu dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa mayoritas umat Islam cenderung menghendaki kemenangan yang inklusif, kemenangan untuk seluruh rakyat Indonesia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

#TIDAKATASNAMASAYA

Sebuah video singkat menunjukkan seorang tokoh berapi-api mengatakan umat Islam marah kepada Kapolridalam menangani aksi unjuk rasa berujung kerusuhan beberapa waktu lalu. Saat menyaksikan video tersebut, tiba-tiba terbersit pikiran #NotInMyName di kepala saya. Dengan segera saya menuliskan dua cuitan di akun twitter saya @alissawahid. Satu cuitan menegaskan bahwa sebagai seorang Muslim di Indonesia, saya menolak diwakili paksa oleh narasi bahwa umat Islam ditindas dan marah, sebab saya merasa Islam di Indonesia baik-baik saja. Cuitan lainnya tentang penolakan saya untuk diatasnamakan paksa dalam narasi rakyat tolak hasil pilpres dan gerakan kedaulatan rakyat.Terinspirasi oleh tagar #NotInMyName, saya mengadaptasinya menjadi #TidakAtasNamaSaya yang saya sematkan dalam kedua cuitan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi