Sabtu, 21 Oktober 2017

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Islam dan Arab: Menimbang Pribumisasi Islam Gus Dur

oleh : AKHMAD SAHAL, 0 Komentar
Ketika wacana “Islam Nusantara” ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu, banyak kalangan yang nyinyir dengan menuduh “Islam Nusantara” sebagai ekspresi antipati terhadap Arab, baik orang Arab, budaya Arab, maupun segala sesuatu yang berbau Arab. “Islam Nusantara’ dianggap mengkotak-kotakkan Islam, bahkan dicurigai sebagai strategi baru dari Barat, Zionis, JIL dll, untuk menghancurkan Islam dari dalam. Islam ya Islam. Titik.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Kesaksian Prof. Quraish Shihab atas Sosok Gus Dur

oleh : PROF. DR. QURAISH SHIHAB, 0 Komentar
Dinasihatkan oleh Rasulullah SAW, kita berkumpul di suatu majlis yg oleh agama dinamai majelis dzikir. Tidak kurang dari 200 kali, kata-kata dzikir terulang di dalam Al-Quran. Objeknya bermacam-macam, salah satu di antaranya adalah berdzikir, merenung, mengingat, menyebut-nyebut tokoh-tokoh, lebih lebih yang memiliki jasa di dalam masyarakat. Rasulullah SAW pun memerintahkan kita dengan sabdanya: Udzkuru mahasina mautakum.. (Renung renungkanlah, ingat-ingatlah, sebut-sebutlah jasa-jasa, kebaikan-kebaikan orang-orang mati kamu)
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Jabal, Hipsi dan Gusdurian Lampung Gelar Baksos Penyembuhan Alternatif

Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal bekerjasama dengan Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) dan Gusdurian Lampung menggelar bakti sosial penyembuhan alternatif untuk berbagai penyakit. Ajengan Teater Jabal, WD Fatchurrochman Syam, di Tanggamus, Ahad (26/2), menyatakan kegiatan itu dihelat dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Ikuti Kelas Pemikiran Gus Dur di Jakarta, Ini Persyaratannya

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Gusdurian Jakarta akan menggelar Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) angkatan kedua pada Sabtu-Ahad, 25-26 Maret 2017. Ketua Panitia KPG 2, Agustina Iskandar menuturkan kelas tersebut merupakan upaya memperkenalkan sosok, gagasan, dan perjuangan Gus Dur di bidang agama, politik, sosial, seni dan budaya secara lebih sistematis dan mudah dipahami. “Forum juga dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan tentang nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur sekaligus menghubungkan dengan berbagai isu dan bidang-bidang tersebut,” katanya melalui rilis yang diterima NU Online, Sabtu (18/2).
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Kewarganegaraan Kultural

Renato Rosaldo (2003), antropolog asal Amerika Serikat, mengritik pendekatan dan teori dari Ben Anderson tentang nasionalisme yang kemudian menjadi klasik dengan apa yang dikenal imagined communities. Dengan rumusan nasionalisme individualistik yang bersumber dari media dan sarana komunikasi modern lainnya, menurut Rosaldo, Anderson telah jatuh pada selektif. Hanya mereka yang terliput dan memiliki akses kepada media modern lah yang tercakup ke dalam nasionalisme, sedangkan mereka yang marjinal, tersingkir, mioritas dan miskin, tidak terliput.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur – Edward Soeryadjaya, Rahasia Membentuk NU-Summa

Bukan Gus Dur jika tidak membuat manuver yang mengejutkan lawan-lawan politiknya. Bahkan, internal para pengurus Nahdlatul Ulama dan warga Nahdliyyin seringkali harus merenung mendalam untuk memahami langkah taktis Gus Dur. Pertemanan Gus Dur dengan orang-orang Tionghoa tidak sekedar dalam aspek kebudayaan. Gus Dur bergerak maju dengan membentuk kongsi bisnis untuk membangun ekonomi kerakyatan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Benarkah Gus Dur Keturunan Tan Kim Han?

Benarkah Gus Dur keturunan Tionghoa? Pada beberapa forum, Gus Dur sering menyatakan bagaimana nasab keluarganya tersambung dengan darah Tionghoa. Gus Dur juga sering mengungkapkan silsilah keluarganya, hingga tersambung dengan jaringan Tionghoa muslim pada masa kerajaan Majapahit, dan terkait dengan sejarah muhibah Laksamana Cheng Ho (Zheng He, 1371-1433/1435). Bagaimana kisahnya?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Setia Menjaga Jembatan

oleh : ADMIN, 0 Komentar
AKHIR tahun lalu keluarga ini menggelar haul ke-7 wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kepergian Presiden Keempat Republik Indonesia (RI) itu pada 30 Desember 2009 memiliki makna lain bagi Alissa Qotrunnada Munawaroh. Tidak semata kehilangan sosok sang ayah, momen itu menjadi babak baru bagi perempuan yang akrab disapa Alissa Wahid tersebut. Selama 10 tahun (1999-2009) ia memutuskan menjauh dari dunia politik, baik itu politik praktis maupun kebangsaan. Keputusannya menjauh itu karena mengalami trauma selama berada di istana pada 1999-2001. Semua curah­an hati putri sulung Gus Dur itu diungkapkannya saat Media Indonesia bertemu di The Wahid Institute, Jakarta, Kamis (5/1).
Kategori : Headline , Pilihan Redaksi , Sosok

Om Siuman Om

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Pesan berantai dan media sosial masih menjadi sarana efektif membangun citra hingga opini publik dengan berbagai sudut pandangnya, satu contoh, dizalimi. Pesan berantai belakangan ini muncul di sejumlah linimassa hingga grup-grup Whatsapp ialah "Gerakan Siluman". Padanan kata tersebut sepertinya enak dibahas sembari ngopi dengan pertanyaan: baru siuman, om? Pesan berantai dimaksud intinya menyebarkan isu, ada desain dibuat lembaga bentukan institusi negara agar masyarakat di berbagai daerah ramai-ramai sepakat, membubarkan organisasi identik dengan radikal, suka menghujat dan merasa paling benar sebagaimana performance pemimpinnya yang bisa disaksikan di youtube.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Siapakah yang Layak Disebut Kafir?

oleh : SHOHIB SIFATAR, 0 Komentar
Seneng ngafirke marang liyane Kafire dewe ora digateke Dalam Kitab Suci Al-Qur’an, kata kafir dipakai bukan semata sebagai konsep teologis, tetapi juga konsep etis. Memahami konsep ini semata-mata sebagai sebutan untuk mereka yang non-Muslim (kategori teologis) sangatlah simplistis. Karena banyak penggambaran dalam al-Qur’an mengenai kata kafir ini juga banyak merujuk konsep etis. Ini contoh pengunaan kata kafir dalam dua ayat berbeda, yang sangan popular di kalangan Islam. Ayat pertama, pernyataan Allah dalam surat Luqman ayat 12. Ayat tersebut menyebut kafir bagi orang yang tidak syukur nikmat. Ayat kedua dalam surat al-Ma’un, “pendusta agama” (frase lain untuk kufr) juga digunakan untuk mereka yang tidak punya sensitivitas pada keadilan sosial, meskipun rajin bersembahyang. Wal hasil, siapa saja, termasuk orang Muslim, bisa saja terperosok pada jurang kekafiran.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi