Minggu, 17 Desember 2017

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Benarkah Gus Dur Keturunan Tan Kim Han?

Benarkah Gus Dur keturunan Tionghoa? Pada beberapa forum, Gus Dur sering menyatakan bagaimana nasab keluarganya tersambung dengan darah Tionghoa. Gus Dur juga sering mengungkapkan silsilah keluarganya, hingga tersambung dengan jaringan Tionghoa muslim pada masa kerajaan Majapahit, dan terkait dengan sejarah muhibah Laksamana Cheng Ho (Zheng He, 1371-1433/1435). Bagaimana kisahnya?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Setia Menjaga Jembatan

oleh : ADMIN, 0 Komentar
AKHIR tahun lalu keluarga ini menggelar haul ke-7 wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kepergian Presiden Keempat Republik Indonesia (RI) itu pada 30 Desember 2009 memiliki makna lain bagi Alissa Qotrunnada Munawaroh. Tidak semata kehilangan sosok sang ayah, momen itu menjadi babak baru bagi perempuan yang akrab disapa Alissa Wahid tersebut. Selama 10 tahun (1999-2009) ia memutuskan menjauh dari dunia politik, baik itu politik praktis maupun kebangsaan. Keputusannya menjauh itu karena mengalami trauma selama berada di istana pada 1999-2001. Semua curah­an hati putri sulung Gus Dur itu diungkapkannya saat Media Indonesia bertemu di The Wahid Institute, Jakarta, Kamis (5/1).
Kategori : Headline , Pilihan Redaksi , Sosok

Om Siuman Om

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Pesan berantai dan media sosial masih menjadi sarana efektif membangun citra hingga opini publik dengan berbagai sudut pandangnya, satu contoh, dizalimi. Pesan berantai belakangan ini muncul di sejumlah linimassa hingga grup-grup Whatsapp ialah "Gerakan Siluman". Padanan kata tersebut sepertinya enak dibahas sembari ngopi dengan pertanyaan: baru siuman, om? Pesan berantai dimaksud intinya menyebarkan isu, ada desain dibuat lembaga bentukan institusi negara agar masyarakat di berbagai daerah ramai-ramai sepakat, membubarkan organisasi identik dengan radikal, suka menghujat dan merasa paling benar sebagaimana performance pemimpinnya yang bisa disaksikan di youtube.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Siapakah yang Layak Disebut Kafir?

oleh : SHOHIB SIFATAR, 0 Komentar
Seneng ngafirke marang liyane Kafire dewe ora digateke Dalam Kitab Suci Al-Qur’an, kata kafir dipakai bukan semata sebagai konsep teologis, tetapi juga konsep etis. Memahami konsep ini semata-mata sebagai sebutan untuk mereka yang non-Muslim (kategori teologis) sangatlah simplistis. Karena banyak penggambaran dalam al-Qur’an mengenai kata kafir ini juga banyak merujuk konsep etis. Ini contoh pengunaan kata kafir dalam dua ayat berbeda, yang sangan popular di kalangan Islam. Ayat pertama, pernyataan Allah dalam surat Luqman ayat 12. Ayat tersebut menyebut kafir bagi orang yang tidak syukur nikmat. Ayat kedua dalam surat al-Ma’un, “pendusta agama” (frase lain untuk kufr) juga digunakan untuk mereka yang tidak punya sensitivitas pada keadilan sosial, meskipun rajin bersembahyang. Wal hasil, siapa saja, termasuk orang Muslim, bisa saja terperosok pada jurang kekafiran.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Haul Gus Dur: Meneladani dan Meneruskan Perjuangan

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Pada bulan Desember hingga Januari, tidak kurang dari 29 Komunitas Gusdurian di berbagai kota mengadakan peringatan Haul Gus Dur ke-7. Ada 26 kota di Indonesia dan 3 wilayah di luar negeri, diantaranya: Arab Saudi, Afrika, dan Iran, yang turut serta memperingati wafatnya KH. Abdurrahman Wahid. Jumlah penyelenggaraan haul ini belum menghitung yang diselenggarakan oleh pengurus wilayah, cabang, atau bahkan ranting NU di berbagai tempat atau haul yang diselenggarakan secara mandiri oleh komunitas-komunitas lain.
Kategori : Sorot

Spirit Gus Dur untuk Menyuarakan Perdamaian

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Haul Gus Dur adalah peringatan rutin setiap tahun, sebagai wujud refleksi dan semangat juang GUSDURian Malang dalam menebarkan nilai utama KH. Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. GUSDURian Malang pada perayaan Haul Gus Dur 7 mengambil tema “Merawat Kebhinekaan dan Menyuarakan Perdamaian”. Bertempat di Sasana Krida Budaya, Jalan Tretes Selatan, Kelurahan Rampal Celaket RT 06 RW 05 Kecamatan Klojen. (7/01)
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Dengan Mati Gus Dur Abadi

oleh : YUDI LATIF, 0 Komentar
"Tunjukkan padaku seorang pahlawan, niscaya akan kutulis suatu tragedi,” ujar pujangga F Scott Fitzgerald. Di tengah gemuruh takbir dan derai isak tangis yang mengiringi kepergian KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebuah ode ditulis banyak orang di media dan jejaring maya yang menobatkannya sebagai pahlawan. Pahlawan adalah mereka yang berani mengubah tragedi menjadi jalan emansipasi. Seperti itu jualah Gus Dur. Secara individual ataupun komunal, ia tumbuh mengerami rangkaian kepahitan dan keterpinggiran.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Habib Jakfar, dan Syaikh Ibrahim

oleh : YASIR ALIMI, 0 Komentar
Ada yg sangat menarik dari acara haul Gus Dur. Saat Habibana Umar Muthohhar akan mengakhiri tausiah, Habibana Jakfar Al-Kaff yang terkenal majdhub meminta Habib Umar melanjutkan lagi. "Harus ngomong ttg apa lagi Bib" tanya Bib Umar. "Tentang karomah. ..Karomah Syaikh Ibrahim bin Adham" bisik santri Bib Jakfar kepada Bib Umar. Yang tadinya udah penutupan Bib Umar bercerita tentang Syaikh Ibrahim. Dalam suatu kapal besar ditengah lautan. Dihantam ombak sana sini semua orang berdoa semakin keras, justru ombak semakin keras.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Fatwa MUI Bukan Hukum Positif

oleh : HIFDHIL ALIM, 0 Komentar
“Fatwa Majelis Ulama Indonesia bukanlah hukum positif.” Pernyataan tersebut saya gunakan sebagai mukaddimah dalam kolom ini dengan tujuan penegasan pendapat saya bahwa fatwa yang diterbitkan oleh MUI tidak bernilai sebagai hukum positif. Tentunya, sebelum sampai ke penegasan itu, saya mengajukan dua perihal yang saya jawab terlebih dahulu, yang kemungkinan besar menggelayut di pikiran para pembaca yang budiman.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Fatwa MUI, Atribut Natal, dan Soal Kerukunan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pada 14 Desember 2016 tentang “hukum menggunakan atribut non-muslim”. Fatwa itu menyatakan bahwa menggunakan atau mengajak/memerintahkan penggunaan “atribut keagamaan non-muslim” adalah haram. Fatwa itu tak menyebut Natal dan umat kristiani secara eksplisit. Namun kentara bahwa fatwa itu merujuk kepada—kita nyatakan terus terang saja—muslim yang menggunakan atribut yang dipersepsikan sebagai “atribut Kristen”, seperti pakaian Sinterklas dan aksesorisnya.
Kategori : Headline , Pilihan Redaksi