Sabtu, 21 Oktober 2017

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Haul Gus Dur: Meneladani dan Meneruskan Perjuangan

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Pada bulan Desember hingga Januari, tidak kurang dari 29 Komunitas Gusdurian di berbagai kota mengadakan peringatan Haul Gus Dur ke-7. Ada 26 kota di Indonesia dan 3 wilayah di luar negeri, diantaranya: Arab Saudi, Afrika, dan Iran, yang turut serta memperingati wafatnya KH. Abdurrahman Wahid. Jumlah penyelenggaraan haul ini belum menghitung yang diselenggarakan oleh pengurus wilayah, cabang, atau bahkan ranting NU di berbagai tempat atau haul yang diselenggarakan secara mandiri oleh komunitas-komunitas lain.
Kategori : Sorot

Spirit Gus Dur untuk Menyuarakan Perdamaian

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Haul Gus Dur adalah peringatan rutin setiap tahun, sebagai wujud refleksi dan semangat juang GUSDURian Malang dalam menebarkan nilai utama KH. Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. GUSDURian Malang pada perayaan Haul Gus Dur 7 mengambil tema “Merawat Kebhinekaan dan Menyuarakan Perdamaian”. Bertempat di Sasana Krida Budaya, Jalan Tretes Selatan, Kelurahan Rampal Celaket RT 06 RW 05 Kecamatan Klojen. (7/01)
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Dengan Mati Gus Dur Abadi

oleh : YUDI LATIF, 0 Komentar
"Tunjukkan padaku seorang pahlawan, niscaya akan kutulis suatu tragedi,” ujar pujangga F Scott Fitzgerald. Di tengah gemuruh takbir dan derai isak tangis yang mengiringi kepergian KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebuah ode ditulis banyak orang di media dan jejaring maya yang menobatkannya sebagai pahlawan. Pahlawan adalah mereka yang berani mengubah tragedi menjadi jalan emansipasi. Seperti itu jualah Gus Dur. Secara individual ataupun komunal, ia tumbuh mengerami rangkaian kepahitan dan keterpinggiran.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Habib Jakfar, dan Syaikh Ibrahim

oleh : YASIR ALIMI, 0 Komentar
Ada yg sangat menarik dari acara haul Gus Dur. Saat Habibana Umar Muthohhar akan mengakhiri tausiah, Habibana Jakfar Al-Kaff yang terkenal majdhub meminta Habib Umar melanjutkan lagi. "Harus ngomong ttg apa lagi Bib" tanya Bib Umar. "Tentang karomah. ..Karomah Syaikh Ibrahim bin Adham" bisik santri Bib Jakfar kepada Bib Umar. Yang tadinya udah penutupan Bib Umar bercerita tentang Syaikh Ibrahim. Dalam suatu kapal besar ditengah lautan. Dihantam ombak sana sini semua orang berdoa semakin keras, justru ombak semakin keras.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Fatwa MUI Bukan Hukum Positif

oleh : HIFDHIL ALIM, 0 Komentar
“Fatwa Majelis Ulama Indonesia bukanlah hukum positif.” Pernyataan tersebut saya gunakan sebagai mukaddimah dalam kolom ini dengan tujuan penegasan pendapat saya bahwa fatwa yang diterbitkan oleh MUI tidak bernilai sebagai hukum positif. Tentunya, sebelum sampai ke penegasan itu, saya mengajukan dua perihal yang saya jawab terlebih dahulu, yang kemungkinan besar menggelayut di pikiran para pembaca yang budiman.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Fatwa MUI, Atribut Natal, dan Soal Kerukunan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pada 14 Desember 2016 tentang “hukum menggunakan atribut non-muslim”. Fatwa itu menyatakan bahwa menggunakan atau mengajak/memerintahkan penggunaan “atribut keagamaan non-muslim” adalah haram. Fatwa itu tak menyebut Natal dan umat kristiani secara eksplisit. Namun kentara bahwa fatwa itu merujuk kepada—kita nyatakan terus terang saja—muslim yang menggunakan atribut yang dipersepsikan sebagai “atribut Kristen”, seperti pakaian Sinterklas dan aksesorisnya.
Kategori : Headline , Pilihan Redaksi

Alissa Wahid: Nilai Keislaman Gus Dur Sangat Relevan Mengatasi Kebencian

oleh : ADMIN, 0 Komentar
“Menghadapi tantangan meningkatnya kebencian antarsesama muslim maupun terhadap kelompok lain akhir-akhir ini, kami merasa nilai keislaman yang diperjuangkan KH Abdurrahman semakin relevan untuk digemakan kembali. Karena itu Peringatan ke-7 Tahun Wafatnya KH. Abdurrahman Wahid, Jumat 23 Desember ini mengambil tema ‘Mengaji Gus Dur; Menebar Damai Menuai Rahmat’,” tandas Alissa Wahid, ketua Panitia Peringatan yang juga puteri sulung Gus Dur, (Selasa, 20/12).
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Tak Perlu Fatwa Tentang Korupsi

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Banyak masyarakat awam yang tidak tahu menahu apa fungsi dan kedudukan fatwa yang telah dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI). Faktanya, sampai hari ini, fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan MUI kerap kali menuai kontroversi. 4 tahun silam, wartawan Tempo pernah mewawancarai almarhum KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, yang notabene pernah menjabat sebagai ketua MUI. Kiai Sahal menyatakan bahwa “Fatwa MUI itu bukan satu-satunya fatwa. MUI juga bukan lembaga operasional seperti NU atau Muhammadiyah, yang bisa menggerakkan anggotanya. Jadi, fatwa MUI tidak mengikat.”
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Peran Guru Agama dalam Memutus Akar Radikalisme

oleh : MUHAMMAD ARAS PRABOWO, 0 Komentar
Kedamian adalah suatu hal yang sangat berpengaruh dalam harmonisasi berbangsa dan bernegara. Kehidupan yang damai hanya bisa diwujudkan dengan sikap toleransi antar manusia, khususnya dalam negara yang memiliki penduduk dengan suku, agama, ras yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut hanya dapat diikat dengan tali toleransi antara ummat Seperti yang digagas oleh KH. Abdurrahaman Wahid (Gus Dur) yang tertuang dalam beberapa karyanya. Pimikirannya tidak hanya tertuang dalam bentuk tulisan saja, tapi telah banyak mengubah arah kehidupan bangsa ini. Pluralisme Gus Dur telah menjadi corak tersendiri dalam menata kehidupan bangsa yang beragam perbedaan ini. Kerena pemikirannya yang monumental ini, berhasil mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan di negara kesatuan republik Indonesia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Wacana Khilafah di Negara Pancasila

Perdebatan antara diskursus Keislaman dan Pancasila sebagai dasar negara, menemukan titik temu, ketika para perumus dasar negara Indonesia yang tergabung dalam panitia sembilan mencapai kompromi (kalimatun sawa). KH. Wahid Hasyim disebut-sebut sebagai tokoh yang menjadi penengah antara kelompok Islamis dan Nasionalis dalam perdebatan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang berbunyi "Ketuhanan dan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-Pemeluknya", yang kemudian disepakati perubahannya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perubahan itu diterima dan disepakati oleh seluruh anggota dalam tim Sembilan menjadi sila pertama dalam rumusan Pancasila.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi