Selasa, 19 Maret 2019

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Catatan dari Orasi Alissa Wahid di Tunas Gusdurian 2018: Menjaga Indonesia, Menapaktilasi Gus Dur

oleh : KIAI MARZUKI KURDI, 0 Komentar
Dari sisi teori tata panggung, penampilan Alissa di acara Tunas Gusdurian 2018 lalu tidak tampak sebagai seorang Orator. Di panggung yang cukup luas yang penuh dengan dekorasi wayang dia memilih berdiri di tepi ujung paling depan. Memakai pakaian sederhana, seperti biasanya, tanpa asessoris dan dengan gerak-bahasa tubuh, ekpresi-mimik yang jugabiasa,juga tidak ada diksi atau kalimat bombastis yang keluar dari mulutnya---demi efek penampilan. Semua itu seperti mempertegas, sebagaimana diakuinya sendiri, dirinya tidak berbakat menjadi seorang Orator. Alissa tampil seperti sehari-hari saja. Kekuatan penampilannya yang berbicara sekitar 45 menit siang itu, justru terlihat pada watak yang tergambar dari emosi batinnya saat mengemukakan sesuatu yang terjadi dan melanda bangsa Indonesia terkait kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya dan agama( poleksosbud-gam). Ia, waktu itu, dengan daya kritisnya, merasa perlu mengemukakan cara pandang dirinya, dengan tetap mengambil jarak dengan beberapa kelompok beserta kepentinganya masing-masing sembari menghindari rasa romantisme seorang aktivis. Yakni kesaksian tentang ketidakadilan, pelanggaran HAM, radikalisme, intoleransi, makin mengguritanya korupsi, perampasan hak warga oleh kekuatan tertentu, penguasaan sumberdaya alam oleh asing dan beragam macam bentuk perilaku buruk yang menciderai harkat dan martabat kemanusiaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kesadaran Relasional Antara “Aku, Kamu, dan Kita”

oleh : AFIF MUHAMMAD, 0 Komentar
“Kepuasan yang terlalu dini akan membuat kita lupa diri dan sombong, padahal tidak satu hal pun di dunia ini yang memiliki satu sisi, semuanya jamak. Mempertahankan suatu sisi dengan mati-matian tanpa kenal sisi lain hanya akan membuat kita tampak bodoh” demikian tutur anonim. Pengetahuan dan pemahaman yang dangkal mengakibatkan kekacauan. Anonim diatas merupakan fatwa klasik agar manusia senantiasa berfikir terbuka, universal, dan luas. Untuk mewujudkannya, tentu semuanya butuh proses panjang melalui kesadaran dan kometmen kuat.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Idul Adha, Empati untuk Meiliana dan Guyonan Gus Dur

oleh : SAIFUL HAQ, 0 Komentar
Empati untuk Meiliana datang saat Idul Adha, saya teringat guyonan Gus Dur. Hari raya Idul Adha atau kita sebut juga sebagai Idul Qurban baru saja kita rayakan. Perayaan keagamaan yang mengingatkan kita kepada hari ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan “stuntman” oleh-Nya dengan domba. Saya tidak akan membahas keseluruhan sejarah Idul Adha, tetapi lebih tertarik momen percakapan nabi Ibrahim dan anaknya Ismail terkait perintah Allah lewat mimpi sang Bapak. Hal ini diabadikan dalam surat Ash-Shaffat ayat 102.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kebencian akan Tumbang, Komedi akan Menang

oleh : AFIF MUHAMMAD, 0 Komentar
Barangkali menjadi suatu yang langka dan aneh jika seorang dengan agama katolik berprofesi sebagai kuli di toko hijab. Lebih mengagetkan kadang, jika seorang non muslim menggunakan kalimat-kalimat dengan bahasa arab, misal. Semacam Alhamdulillah, Subhanallah, Assalamualaikum, dll. Tindakan tersebut kadang mengundang sensitifitas spontan dengan kesimpulan negatif yang asumtif. Implikasinya tidak selesai pada mindset dan sudut pandang saja, tapi berakibat pada prilaku dalam situasi-kondisi sosial.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Ibu Meiliana, Maafkan Aku....

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
Ibu Meiliana, maafkan aku. Ternyata keterangan saya sebagai saksi ahli dalam persidanganmu tak didengarkan hakim. Hakim lebih memilih bisikan lain, daripada bisikanku. Saya sudah berusaha sekuat pengetahuan yang saya miliki untuk membebaskankanmu dari tuduhan melakukan penodaan agama, meskipun saya tahu biasanya hakim tidak akan tahan dengan tekanan massa. Engkau akhirnya tetap divonis melakukan penodaan agama dengan pidana 18 bulan. sebelumnya menduga, jaksa akan terpengaruh dengan argumentasi saya dan menuntutmu bebas. Mengapa? Setelah sidang, salah satu jaksa mendekati saya sambil berkata: "Terima kasih pak atas keterangannya. Banyak yang mencerahkan saya, termasuk posisi fatwa dalam Islam". Ternyata, dugaan saya inipun meleset.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gusdurian Mojokerto Galang Dana Untuk Korban Gempa Lombok

oleh : IMAM MALIK, 0 Komentar
Gempa Lombok beberapa waktu yang lalu telah menggerakkan kita, komunitas GUSDURian Mojokerto. Sejak Senin, 06 agustus 2018, kami segenap komunitas penggerak Gusdurian Mojokerto bersama Iwamor (Ikatan Waria Mojokerto) dan IKA PMII Mojokerto melakukan gerakan donasi untuk saudara kita yang terkena gempa di Lombok-NTB.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Pribumisasi Islam (Catatan untuk Tunas Gusdurian 2018)

oleh : IRFAN AFIFI, 0 Komentar
Ada rumusan umum yang setidaknya bisa disepekati dalam Temu Nasional Gus Durian 2018 terkait perumusan salah satu dari Sembilan nilai Gus Dur, yakni khususnya terkait gagasan “pribumisasi Islam”, bahwa Pribumisasi Islam sebagai sebuah nilai yang ditawarkan Gus Dur tidak dimaksudkan untuk mengganti bacaan Al Fatihah yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa, Minang, Batak dll. Dalam konteks abstraksi, Gagasan Pribumisasi islam tidak ingin mengganti apa yang universal dan tetap dari ajaran agama (ast-stabit), seperti nilai ibadah sholat atau ajaran-ajaran keimanan, tauhid, dll yang bersifat pokok dalam agama (usul). Namun, Pribumisasi Islam hanya berusaha menempatkan apa yang cabang (furu’) yang bersifat berubah (al mutaghaiyyir) dalam ajaran syari’at (fikih) sebagai sebuah fakta yang lentur dalam persinggungannya dengan realitas kebudayaan Indonesia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Maya: Saya Katholik di Tengah Keluarga Muslim yang Taat

oleh : AMINUDDIN HAMID, 0 Komentar
Saya ingin bercerita mengenai pengalaman tentang toleransi seorang Katholik yang hidup di tengah Muslim yang taat. Dalam acara Temu Nasional (Tunas) yang diadakan oleh Jaringan Gusdurian Indonesia (10-12 Agustus) kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu forum komisi yang fokus membahas isu toleransi.
Kategori : Pilihan Redaksi , Sosok

Langkah Strategis Pasca-Tunas Gusdurian 2018

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Pertemuan Nasional (Tunas) Jaringan Gusdurian yang diadakan pada tanggal 10-12 Agustus di Asrama Haji Yogyakarta telah selesai dilaksanakan. Tercatat ada sekitar 106 komunitas Gusdurian di seluruh Indonesia yang menghadiri Tunas. Setiap anggota komunitas yang hadir berkisar antara dua hingga 10 orang, sehingga total peserta Tunas dari komunitas Gusdurian kurang lebih 400 orang. Jumlah ini belum termasuk tamu undangan dan rombongan liar.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

GUSDURIAN: MENGGERAKKAN TRADISI, MENEGUHKAN INDONESIA

oleh : MARZUKI WAHID, 0 Komentar
Yogyakarta, 12/8/18. Selama tiga hari, 10-12 Agustus 2018, saya berada di tengah-tengah tunas Gusdurians se-Indonesia, plus Gusdurian dari beberapa negara. Sekitar 700an anak-anak muda hadir dalam acara Temu Nasional (Tunas) Penggerak Gusdurian di Yogyakarta. Mereka datang dengan biaya sendiri. Sebagian dari mereka, menabung sejak lama untuk bisa hadir di Tunas ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi