Jumat, 19 Juli 2019

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Bersumber dari Pendangkalan

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr. Yusril Ihza Mahendra. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci al-Qur’ân menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (asyiddâ’u ‘alâl-kuffâr ruhamâ baynahum)” (QS al-Fath [48]:29). Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya Bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud al-Qur’ân dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja Bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani menjadi mubaligh?
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Merayakan Keberagaman melalui Dialog Generasi Muda Lintas Iman...

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Siang itu, Minggu (10/3/2019), beberapa umat tengah sibuk berbenah ketika kami tiba di Pura Eka Wira Anantha, Kompleks Grup 1 Kopassus, Serang, Banten. Sebagian umat tampak sedang membersihkan perlengkapan yang digunakan saat perayaan Hari Raya Nyepi sehari sebelumnya. Sebagian lagi membersihkan pendopo yang terletak di depan Pura. Pak Ketut, salah seorang umat, menyapa dan mempersilakan kami duduk tak jauh dari pendopo. Mungkin gerak dan langkah kami yang canggung menarik perhatiannya. "Adik-adik ini dari mana?" ujar Ketut sambil mempersilakan kami duduk. "Kami dari komunitas Jaringan Gusdurian Banten, Pak. Kami bermaksud ingin silaturahim dengan anak-anak muda Hindu di sini," jawab Ferdinand Bernadh Heumasse, salah seorang penggerak Jaringan Gusdurian Banten.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Kafirku, Kafir Anda, Kafir Kita

oleh : MUHAMMAD AUTAD AN NASHER, 0 Komentar
Ribut ramai soal istilah kafir dan pemaknaan kata kafir yang sampai detik ini mewarnai temlen media sosial penulis, bukanlah barang baru. Ulama dan kaum agamawan sejak dulu kala sudah mendiskusikan ini dengan sangat cermat dan teliti. Bahkan, Nabi Muhammad Saw sendiri dalam hadisnya melarang umatnya saling mengafirkan. “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan”. [HR Bukhari]
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Pribumisasi Islam dan Tantangan Kebinekaan Indonesia: Refleksi pemikiran dan aksi Gus Dur

Akhir-akhir ini banyak keprihatian muncul akibat dari pemahaman dan aksi sebagian masyarakat tentang keagamaan Islam yang mengarah pada intoleransi, mengedepankan kebencian dan permusuhan. Gejala itu hampir menjadi gambaran umum masyarakat Indonesia bahkan di pemberitaan dan studi-studi secara internasional. Namun, sifat-sifat tersebut bertentangan dengan karakteristik atau citra dari bangsa Indonesia yang selama ini dikenal, mayoritas Muslim, sopan santun, toleran, dan gotong royong serta berbudaya halus.
Kategori : Headline , Kajian

Tentang Non-Muslim Bukan Kafir

oleh : KHOLID SYEIRAZI, 0 Komentar
Hasil Bahtsul Masâil Maudlū’iyah dalam Munas dan Konbes NU 2019 di Banjar Patroman, Jawa Barat, memicu polemik. Dari sekian isu penting, yang paling menyengat publik adalah hasil bahasan di tema “Negara, Kewarganegaraan, Hukum Negara, dan Perdamaian.” Bagi saya, ini bukan tema baru, tetapi kelanjutan dari visi kebangsaan NU yang telah ditanamkan sejak tahun 1936, 1945, 1953, 1984, dan 1987. Tahun 1936, NU menyebut kawasan Nusantara sebagai Dârus Salâm. Tahun 1945, NU setuju NKRI berdasarkan Pancasila dan kemudian menggalang Resolusi Jihad untuk mempertahankan NKRI dari pendudukan kolonial. Tahun 1953, NU mengakui keabsahan kepemimpinan Soekarno secara fikih dan menggelarinya dengan julukan Waliyyul Amr ad-Dlarūri bis Syaukah. Tahun 1983-84, NU menegaskan NKRI final bagi perjuangan umat Islam. Tahun 1987, NU memperkenalkan trilogi ukhuwwah: Ukhuwwah Islâmiyah, Ukhuwwah Wathaniyah, Ukhuwwah Basyariyah/Insâniyah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mengembalikan Politik Kebangsaan yang Rahmatan Lil Alamin

oleh : WAHYU EKA SETYAWAN, 0 Komentar
Musim 2018-2019 tengah memanas, terpolarisasi oleh perseteruan sengit dua kontestan pilpres, yang keduanya mewakili pemikiran serta kelompoknya masing-masing. Ada kubu Jokowi yang mengklaim sebagai representasi politik nasionalis, milenial serta kekinian, sementara Prabowo dianggap sebagai representasi nasional relijius yang pro terhadap Islam. Ibarat sebuah kompetisi mereka bersaing satu sama lainnya dengan ketat, memperebutkan podium kursi kepresidenan. Namun, persaingan mereka meninggalkan problem, yakni cukup signifikan berimplikasi pada polarisasi rakyat Indonesia. Perseturuan bersifat top-down kemudian berubah menjadi ajang saling hujat, fitnah dan menyakiti sesama anak bangsa. Khususnya jika kita mengikuti linimasa media, baik mainstream ataupun sosial.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi