Selasa, 21 Januari 2020

ARTIKEL KAMPUNG GUSDURIAN

Artikel Kampung Gusdurian

Dunia Digital, Anak Muda dan Tantangan Kebangsaan

oleh : SUPRIANSYAH, 0 Komentar
Di hari Pahlawan kemarin, beberapa platform media sosial saya diramaikan dengan ucapan peringatan hari Pahlawan. Dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk anak muda, muncul untukmengucapkan sekaligus memperingati pertempuran 10 Nopember yang heroik tersebut. Media sosial sebagai bagian dari dunia digital menjadi wadah yang paling sering dipakai oleh anak muda untuk mengekspresikan diri mereka. Rasa nasionalisme dan kebangsaan dari anak muda sering sekali muncul lewat teks hingga visual, sebagai medium mengekspresikannya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Pojok Gusdurian UMI Bahas Media sebagai Pilar Demokrasi

oleh : ANDI ILHAM BADAWI, 0 Komentar
Komunitas Gusdurian Makassar bekerjasama dengan Komite Mahasiswa Penegak Keadilan Study Club Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia menyelenggarakan Pojok Gusdurian dengan mengangkat tema “Media Sebagai Pilar Demokrasi” Di pelataran Masjid Umar bin Khattab UMI, selasa (12/11/2019).
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

GUSDURian Pasca Gus Dur: Catatan Pasca Rakornas 2019 Jaringan GUSDURian

oleh : M. FADLAN L NASURUNG, 0 Komentar
Saya adalah jenis manusia yang percaya, bahwa kata-kata bukanlah sekadar “kata-kata”. Kata-kata memiliki kuasa, ia adalah energi perubahan yang besar, karena kata-kata adalah sahabat karib pikiran manusia. Sedang perubahan selalu dimulai dari pikiran. Lewat kata dan bahasalah manusia meneguhkan dirinya sebagai mahluk berbudaya. Bahasa adalah senjata, dengannya ide-ide beredar dari kepala ke kepala. Saban waktu, ide-ide itu menjelma menjadi tindakan-tindakan nyata. Ia mencerahkan budi dan menggerakkan daya manusia. Mungkin kita tak menyadari, bahwa perjalanan umat manusia telah sampai sejauh ini. Manusia berubah menjadi ‘tuhan-tuhan’ kecil yang menciptakan sejarah peradabannya, pasca mengalami revolusi kognitif ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Revolusi yang bermula saat manusia berhasil menemukan kode-kode bahasa dan menciptakan aksara.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

GUSDURian Pasca Gus Dur

oleh : M. FADLAN L NASURUNG, 0 Komentar
Saya adalah jenis manusia yang percaya, bahwa kata-kata bukanlah sekadar “kata-kata”. Kata-kata memiliki kuasa, ia adalah energi perubahan yang besar, karena kata-kata adalah sahabat karib pikiran manusia. Sedang perubahan selalu dimulai dari pikiran. Lewat kata dan bahasalah manusia meneguhkan dirinya sebagai mahluk berbudaya. Bahasa adalah senjata, dengannya ide-ide beredar dari kepala ke kepala. Saban waktu, ide-ide itu menjelma menjadi tindakan-tindakan nyata. Ia mencerahkan budi dan menggerakkan daya manusia. Mungkin kita tak menyadari, bahwa perjalanan umat manusia telah sampai sejauh ini. Manusia berubah menjadi ‘tuhan-tuhan’ kecil yang menciptakan sejarah peradabannya, pasca mengalami revolusi kognitif ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Revolusi yang bermula saat manusia berhasil menemukan kode-kode bahasa dan menciptakan aksara.
Kategori : Headline , Pilihan Redaksi

Rakornas Gusdurian dan Sidang Raya PGI (Refleksi ganda)

oleh : KRISTANTO BUDIPRABOWO, 0 Komentar
Seluruh anggota jemaat gereja-gereja kristen protestan yang terdaftar sebagai anggota daripada organisasi resmi gereja Indonesia dengan nama indah juga rohani; Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, akhir pekan ini berbahagia bersyukur dan bangga hati atas terselenggaranya persidangan berkala tingkat nasional bertempat di pulau Sumba.
Kategori : Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Perkataan “Jangan Temani Orang yang Perilakunya tidak Membangkitkan Semangat kepada Allah…”

oleh : NUR KHALIK RIDWAN, 0 Komentar
Gus Dur mengatakan: “Dalam kitab al-Hikam, penulisnya merumuskan sebuah sikap yang sangat fundamental dalam mendidik religiositas: “Jangan temani orang yang perilakunya tidak membangkitkan semangat kepada Allah dan ucapan-ucapannya tidak menunjukkan kamu ke jalan menuju Allah” (Gus Dur, Pengantar dalam buku YB Mangunwijaya, Menumbuhkan Sikap Religiositas Anak-Anak (Jakarta: Gramedia, 1986).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Manakib Kebangsaan: Dari Soekarno Hingga Gus Dur dan Cara Menjadi Indonesia

oleh : RUMAIL ABBAS, 0 Komentar
Islam lahir setelah didahului berkembangnya Agama Hindu, Budha, Kristen-Katolik, Majusi, Zoroaster, Mesir Kuno, maupun agama-agama lain. Karena hal itu, Islam sangat memahami masyarakat pluralistik secara religius telah terbentuk dan Islam sangat sadar dengan kondisi seperti itu. Dengan membawa semangat tersebut, Islam datang ke bumi nusantara.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi