Senin, 18 November 2019

BERITA DAN ARTIKEL UTAMA PILIHAN REDAKSI KAMPUNG GUSDURIAN

Berita dan Artikel Utama Pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Wayang dari Kacamata Gus Dur: Pembentuk Budaya Politik

oleh : SURAJI, 0 Komentar
Tulisan berikut adalah kelanjutan dari rangkuman ceramah KH. Abdurrahman Wahid pada diskusi dan pementasan wayang kulit dalang Ki Purbo Asmoro dengan lakon “Kunti Pinilih”. Selain untuk mentransfer nilai-nilai masyarakat, wayang juga dapat dipakai sebagai medium untuk meninjau hubungan antara negara dan warganya. Kewajiban-kewajiban warga negara, kewajiban-kewajiban para penyelenggara pemerintahan, semuanya mendapatkan tempat dalam cerita wayang. Karena isi cerita wayang sebenarnya perihal perebutan tahta, yang berujung pada Mahabaratha atau Barathayuda.
Kategori : Headline , Opini

Ilmu Tauhid, Gus Dur, dan Pendakwah yang Suka Marah

oleh : WILDAN IMADUDDIN , 0 Komentar
Peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah terkait dengan kerasnya pertentangan seputar Tauhid dan Ilmu Kalam dapat tergambar dari kasus mihnah, dimana para cendekiawan dipaksa untuk meyakini konsep khalq al-Quran yang disodorkan mu’tazilah, dipimpin oleh sang khalifah al-Ma’mun. Akibat perdebatan ini, tokoh-tokoh yang menentang pendapat ini dijebloskan ke penjara.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Rakornas Gusdurian dan Panggilan Sejarah

oleh : CENDRAMAN, 0 Komentar
Jujur saja, saya adalah salah satu dari sekian ratus peserta Rakornas yang ‘merasa sendirian’ dalam menggerakkan Gusdurian di daerah saya, Kota Baubau. Dengan modal pengalaman berorganisasi, saya mendiskusikan tentang Gusdurian di kalangan mahasiswa, sebab kata 'Gusdurian' masih terdengar asing di kalangan mereka. Dengan alasan bahwa mahasiswa memiliki budaya intelektual (berdiskusi dan membaca), atau paling tidak mereka mengenal Gusdur dalam literatur bacaan. Namun, hal itu diluar dari ekspektasi saya setelah membuat pemetaan sebelumnya untuk menggerakkan Gusdurian.
Kategori : Headline , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Anak Muda, dan Narasi Baru Islam Tradisional

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
“Gus Dur menginspirasi!” Itu hal biasa, selumrah mengatakan Gus Dur adalah tokoh Nahdlatul Ulama. Yang belum banyak diuraikan adalah penjelasan bagaimana Gus Dur mewariskan “hartanya” kepada para anak muda, khususnya generasi muda NU, yang membuat kelompok ini membangun dirinya menjadi generasi baru NU yang berbeda. Tidak bisa diingkari bahwa penangkap antusias ide-ide Gus Dur adalah anak-anak muda. Legacy Gus Dur itu hingga kini tetap menginspirasi ribuan anak-anak muda, baik yang berlatar belakang NU maupun tidak.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tradisi Toleransi: Lebaran, Ucapan Salam/Selamat Hari Raya

oleh : ASRI WIDAYATI, 0 Komentar
Bakdan, Lebaran, Riyaya, atau Rorahea Mpuu—masyarakat Mina Perantauan, Sulawesi Selatan, menyebutnya, ialah istilah yang sama untuk menggambarkan satu suka cita atas terpenuhinya satu bulan penuh haru, tidak hanya bagi muslim yang menjalankan ibadah puasa. Namun, untuk penganut agama lainnya, dengan penuh kesabaran, saling menghormati, dan menghargai momen bulan penuh berkah yang berjalan sedemikian rupa, bahkan dari mereka hampir tak ada yang menolak untuk diajak berbuka bersama. Ataupun justru dengan rela hati menyiapkan menu sahur maupun berbuka dengan berjualan serta membantu kegiatan-kegiatan bulan ramadan umat islam, semampunya. Hingga perayaan yang dinanti itu datang, sebulan penuh telah terbiasa berjalan dengan baik, bukan saja karena peran muslim itu sendiri, akan tetapi juga peluh kesabaran agama lain yang memiliki rasa hormat tinggi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Rakornas Penggerak Gusdurian 2019

oleh : TOTO WIJAKSANA, 0 Komentar
YOGYAKARTA - Jaringan Gusdurian menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas), Sabtu-Minggu, 9-10 Nopember 2019. Acara yang diadakan di Hotel Museum Batik, Yogyakarta, ini dihadiri oleh 150 peserta dari 96 komunitas Gusdurian di seluruh Indonesia, bahkan Gusdurian dari Malaysia.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

GUSDURian Pasca Gus Dur

oleh : M. FADLAN L NASURUNG, 0 Komentar
Saya adalah jenis manusia yang percaya, bahwa kata-kata bukanlah sekadar “kata-kata”. Kata-kata memiliki kuasa, ia adalah energi perubahan yang besar, karena kata-kata adalah sahabat karib pikiran manusia. Sedang perubahan selalu dimulai dari pikiran. Lewat kata dan bahasalah manusia meneguhkan dirinya sebagai mahluk berbudaya. Bahasa adalah senjata, dengannya ide-ide beredar dari kepala ke kepala. Saban waktu, ide-ide itu menjelma menjadi tindakan-tindakan nyata. Ia mencerahkan budi dan menggerakkan daya manusia. Mungkin kita tak menyadari, bahwa perjalanan umat manusia telah sampai sejauh ini. Manusia berubah menjadi ‘tuhan-tuhan’ kecil yang menciptakan sejarah peradabannya, pasca mengalami revolusi kognitif ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Revolusi yang bermula saat manusia berhasil menemukan kode-kode bahasa dan menciptakan aksara.
Kategori : Headline , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Perkataan “Jangan Temani Orang yang Perilakunya tidak Membangkitkan Semangat kepada Allah…”

oleh : NUR KHALIK RIDWAN, 0 Komentar
Gus Dur mengatakan: “Dalam kitab al-Hikam, penulisnya merumuskan sebuah sikap yang sangat fundamental dalam mendidik religiositas: “Jangan temani orang yang perilakunya tidak membangkitkan semangat kepada Allah dan ucapan-ucapannya tidak menunjukkan kamu ke jalan menuju Allah” (Gus Dur, Pengantar dalam buku YB Mangunwijaya, Menumbuhkan Sikap Religiositas Anak-Anak (Jakarta: Gramedia, 1986).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Manakib Kebangsaan: Dari Soekarno Hingga Gus Dur dan Cara Menjadi Indonesia

oleh : RUMAIL ABBAS, 0 Komentar
Islam lahir setelah didahului berkembangnya Agama Hindu, Budha, Kristen-Katolik, Majusi, Zoroaster, Mesir Kuno, maupun agama-agama lain. Karena hal itu, Islam sangat memahami masyarakat pluralistik secara religius telah terbentuk dan Islam sangat sadar dengan kondisi seperti itu. Dengan membawa semangat tersebut, Islam datang ke bumi nusantara.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

NU DAN OPOSISI YANG BERMARTABAT

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
Nahdatul Ulama (NU) kecewa terhadap Jokowi karena tidak mendapatkan jatah Menteri Agama, itu sepenuhnya bisa dipahami. NU merasa telah berperan besar dalam kemenangan Jokowi untuk menjadi presiden kedua kali. Berbagai survey menunjukkan bahwa klaim NU itu bukan omong kosong. Data exit pollIndikator Politik, misalnya, menunjukkan bahwa 56 persen warga NU mengaku memilih Jokowi. Data ini juga diperkuat dengan temuan Avara Research Center bahwa 54,3 persen warga Nahdliyyin memilih Jokowi. Berdasarkan survey Indikator Politik Indonesia pada Pilpres 2019, dari 207,2 juta (87,2%) Muslim Indonesia, 52,8% mengidentifikasi dirinya berafiliasi dengan NU. Dari angka ini bisa diukur betapa besarnya suara warga NU yang masuk ke dalam kotak pasangan Jokowi-KMA. Tidak mengherankan jika para pengamat dengan sangat yakin menyatakan bahwa NU menjadi penentu kemenangan pasangan Jokowi-KMA pada Pilpre 2019.
Kategori : Headline , Opini