Minggu, 18 November 2018

BERITA DAN ARTIKEL UTAMA PILIHAN REDAKSI KAMPUNG GUSDURIAN

Berita dan Artikel Utama Pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Nasihat Gus Dur Ini Sesuai dengan Kaidah Fikih

oleh : AMIN NUR HAKIM , 0 Komentar
Ada sebuah kaidah fikih yang berbunyi, al-îtsâru bil qurabi makrûhun, mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah hukumnya makruh. Kaidah ini masuk ke dalam kaidah ‘aglabiyyah’ dalam kumpulan kaidah fikih. Sebagaimana masyhurnya, kaidah fikih terbagi kepada tiga golongan, Kulliyyah, Aghlabiyyah, dan Mukhtalaf. Kata itsâr, sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Yasin al-Faddani, adalah mendahulukan orang lain daripada diri sendiri, dan kata qurab adalah jamak dari qurbah, yaitu segala sesuatu berupa kewajiban dan kesunnahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Ada sebagian ulama yang berpendapat, makna qurab adalah ibadah secara umum. (Syaikh Yasin al-Faddani, al-Fawâid al-Janiyyah Hasyiyah al-Mawâhib as-Saniyyah, Dar el-Rasyid, juz 2, halaman 95)
Kategori : Headline , Opini

Keberagaman yang Indah di Kupang

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Beberapa waktu terakhir saya terlibat dalam kampanye narasi keislaman-keindonesiaan. Narasi ini terus disosialisasikan agar masyarakat terutama para pemuda tidak melepaskan identitasnya sebagai warga negara. Mula-mula pertanyaan yang saya munculkan adalah: kita ini orang Indonesia yang beragama Islam, atau orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan cara pandang kita dalam memahami agama dan negara. Pertanyaan ini saya lontarkan pula di hadapan aktivis lintas iman di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Semuanya menjawab bahwa mereka adalah orang Indonesia yang memeluk agama tertentu. Kebetulan yang hadir dalam workshop memiliki latar belakang agama beragam. Semuanya sepakat bahwa identitas keindonesiaan diletakkan paling awal. Karena negara adalah entitas yang mampu menjaga keberagaman dan menjaminnya agar tetap berdampingan secara harmonis.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Di Kupang, Toleransi Dijaga dan Diciptakan

oleh : KALIS MARDI ASIH, 0 Komentar
Dari tepian lapak ikan segar di Kelapa Lima, Oesapa, masjid Raya NTT berdiri megah di kota Kupang. Sejak tahun 60-an, Masjid raya yang kini terus direnovasi itu telah damai berdampingan dengan Gereja Kristus Raja, Katedral paling tua di Kupang. Baru-baru ini, ada sebuah fragmen kisah perdamaian soal keduanya. Pasca peristiwa bom Surabaya bulan Mei 2018 yang menarget gereja dengan tersangka sebuah keluarga Muslim yang membuat kita prihatin, di Kupang beredar broadcast pesan tak bernama lewat media sosial. Para jemaat telah bersiap datang untuk melakukan aksi solidaritas, mengingat broadcast cukup provokatif dengan pesan keagamaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Apakah-Tradisi Sedekah Laut itu 'Syirik' ?

oleh : VINANDA FEBRIANI, 0 Komentar
Bantul, Yogyakarta adalah kota budaya. Kota dengan sederet peninggalan budaya yang tak ternilai harganya. Kini salah satu adat budayanya dirusak, dikecam oleh mereka yang mabuk agama. Jangan biarkan, tindak, dan jangan takut. Jangan kalah oleh kelompok kecil yang akan merusak damai bangsa ini. Menurutnya, kejadian ini merupakan awal atas tindakan radikal kelompok tersebut, jika tak dilawan maka akan terus dan akan semakin menjadi. Tidak ada kekerasan dalam Agama. Kita sudah lama hidup dalam gandeng mesra budaya nenek moyang dan agama yang kita anut, dan tak masalah. Jika saat ini mereka berani congak, ini adalah salah kita semua, yang diam atas ulah mereka selama ini. Mereka ada di mana-mana dan kita membiarkannya. Lawan! Indonesia bukan tempat bagi pemeluk konservatism agama, 'Sing waras ojo ngalah'.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gusdurian Sebagai Gerakan Nilai

oleh : HARIS EL MAHDI, 0 Komentar
Ada tiga varian gerakan keagamaan yang mempunyai model berbeda dalam menjawab tantangan jaman. Ketiga varian gerakan keagamaan itu adalah :Lutherian, Webberian, dan Gusdurian. Lutherian adalah varian gerakan keagamaan yang diinisiasi oleh Martin Luther dengan tiga kredo utama, Sola Gratia, Sola Fide, dan Sola Scriptura.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Politik Gusdurian

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Sore ini muncul berita yang dinanti-nantikan sebagian orang: konferensi pers mengenai arah politik keluarga Gus Dur. Mbak Yenni Wahid, seusai meminta masukan kepada para sesepuh dan berdiskusi dengan berbagai pihak kemudian menyatakan mendukung Jokowi-Yai Ma’ruf untuk pemilihan presiden 17 April 2019 mendatang. Sebagian senang. Sebagian biasa saja. Sebagian kecewa.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Islam, Ideologi dan Etos Kerja di Indonesia

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Dalam Muktamar Nadhlatul Ulama (NU) tahun 1935 di Banjarmasin, forum menyampaikan permintaan fatwa, bagaimana status negara Hindia Belanda dilihat dari pandangan agama Islam, karena ia diperintah oleh pemerintah yang bukan Islam dan orang-orang yang tidak beragama Islam? Dari sudut pandang agama Islam, wajibkah ia dipertahankan bila ada serangan luar?
Kategori : Headline , Opini

Politik “Pemuda” di Tengah Derasnya Arus Perubahan Sosial

oleh : MUHAMMAD N. HASSAN, 0 Komentar
"Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.”Demikian nasihat Gus Dur kepada siapapun yang sedang berkuasa dan akan berebut kekuasaan di tahun politik dewasa ini. Jika tidak demikian, sikap sinisme politik akan semakin pekat menyelimuti kehidupan perpolitikan. Dinamika telah berkembang amat pesat menyebabkan pro kontra yang sangat signifikan. Hal ini menyebabkan sikap anti-politik dan cinta akan politik menjadi rivalitas yang begitu menohok dalam dunia perpolitikan. Kehidupan politik sebenarnya sebagai proses perwujudan perubahan yang cepat. Bagaimana tidak, politik adalah senjata yang tepat untuk menghancurkan kemiskinan dan ketimpangan. Seperti pernyataan Ambrose Bierce (2002), politik sendiri melibatkan suatu pertemuan antara kepentingan-kepentingan dan asas-asas yang berkonflik.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tentang 1965 dan Jalan Terjal Rekonsiliasi

oleh : HARIS EL MAHDI , 0 Komentar
Minggu kedua Agustus di tahun 1945, dua bom berhulu nuklir menghantam dua kota strategis yang menjadi lumbung logistik pasukan Dai Nippon, Hiroshima dan Nagasaki. Inilah untuk pertama kali dan satu-satunya, setidaknya sampai saat ini, senjata nuklir digunakan dalam sebuah perang. Hancurnya Hiroshima dan Nagasaki mereduksi sangat drastis kekuatan Dai Nippon dan menjadi tanda awal berakhirnya Perang Dunia ke-2. Perang ini dimenangkan secara gemilang oleh pihak sekutu yang dipimpin aliansi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di daratan Eropa, pasukan NAZI juga mengalami kekalahan besar dan terjepit. Di Penghujung cerita, Hitler dan Istrinya, Eva mati bunuh diri, meski jasadnya hilang misterius. Perang Dunia ke-2 berakhir anti-klimaks. Namun, bukan berarti dunia menemukan kedamaian. Paska PD Ke-2, dunia dibagi dalam dua kubu besar, yang merefleksikan pemenang PD ke-2. Bagi-bagi rampasan perang. Dua kubu itu adalah kubu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bernard Russel menyebutnya sebagai Blok Declaration of Independence dan Blok Manifesto Communist.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Catatan dari Orasi Alissa Wahid di Tunas Gusdurian 2018: Menjaga Indonesia, Menapaktilasi Gus Dur

oleh : KIAI MARZUKI KURDI, 0 Komentar
Dari sisi teori tata panggung, penampilan Alissa di acara Tunas Gusdurian 2018 lalu tidak tampak sebagai seorang Orator. Di panggung yang cukup luas yang penuh dengan dekorasi wayang dia memilih berdiri di tepi ujung paling depan. Memakai pakaian sederhana, seperti biasanya, tanpa asessoris dan dengan gerak-bahasa tubuh, ekpresi-mimik yang jugabiasa,juga tidak ada diksi atau kalimat bombastis yang keluar dari mulutnya---demi efek penampilan. Semua itu seperti mempertegas, sebagaimana diakuinya sendiri, dirinya tidak berbakat menjadi seorang Orator. Alissa tampil seperti sehari-hari saja. Kekuatan penampilannya yang berbicara sekitar 45 menit siang itu, justru terlihat pada watak yang tergambar dari emosi batinnya saat mengemukakan sesuatu yang terjadi dan melanda bangsa Indonesia terkait kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya dan agama( poleksosbud-gam). Ia, waktu itu, dengan daya kritisnya, merasa perlu mengemukakan cara pandang dirinya, dengan tetap mengambil jarak dengan beberapa kelompok beserta kepentinganya masing-masing sembari menghindari rasa romantisme seorang aktivis. Yakni kesaksian tentang ketidakadilan, pelanggaran HAM, radikalisme, intoleransi, makin mengguritanya korupsi, perampasan hak warga oleh kekuatan tertentu, penguasaan sumberdaya alam oleh asing dan beragam macam bentuk perilaku buruk yang menciderai harkat dan martabat kemanusiaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi