Kamis, 21 Maret 2019

BERITA DAN ARTIKEL UTAMA PILIHAN REDAKSI KAMPUNG GUSDURIAN

Berita dan Artikel Utama Pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Pribumisasi Islam dan Tantangan Kebinekaan Indonesia: Refleksi pemikiran dan aksi Gus Dur

Akhir-akhir ini banyak keprihatian muncul akibat dari pemahaman dan aksi sebagian masyarakat tentang keagamaan Islam yang mengarah pada intoleransi, mengedepankan kebencian dan permusuhan. Gejala itu hampir menjadi gambaran umum masyarakat Indonesia bahkan di pemberitaan dan studi-studi secara internasional. Namun, sifat-sifat tersebut bertentangan dengan karakteristik atau citra dari bangsa Indonesia yang selama ini dikenal, mayoritas Muslim, sopan santun, toleran, dan gotong royong serta berbudaya halus.
Kategori : Headline , Kajian

Tentang Non-Muslim Bukan Kafir

oleh : KHOLID SYEIRAZI, 0 Komentar
Hasil Bahtsul Masâil Maudlū’iyah dalam Munas dan Konbes NU 2019 di Banjar Patroman, Jawa Barat, memicu polemik. Dari sekian isu penting, yang paling menyengat publik adalah hasil bahasan di tema “Negara, Kewarganegaraan, Hukum Negara, dan Perdamaian.” Bagi saya, ini bukan tema baru, tetapi kelanjutan dari visi kebangsaan NU yang telah ditanamkan sejak tahun 1936, 1945, 1953, 1984, dan 1987. Tahun 1936, NU menyebut kawasan Nusantara sebagai Dârus Salâm. Tahun 1945, NU setuju NKRI berdasarkan Pancasila dan kemudian menggalang Resolusi Jihad untuk mempertahankan NKRI dari pendudukan kolonial. Tahun 1953, NU mengakui keabsahan kepemimpinan Soekarno secara fikih dan menggelarinya dengan julukan Waliyyul Amr ad-Dlarūri bis Syaukah. Tahun 1983-84, NU menegaskan NKRI final bagi perjuangan umat Islam. Tahun 1987, NU memperkenalkan trilogi ukhuwwah: Ukhuwwah Islâmiyah, Ukhuwwah Wathaniyah, Ukhuwwah Basyariyah/Insâniyah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Merumitkan Wacana Gus Dur

oleh : A. KHOIRUL ANAM , 0 Komentar
Pada hari pemakamannya di Jombang, Pak Presiden SBY ketika itu menyebut Gus Dur sebagai “bapak pluralisme”. Pemerintah mungkin ingin menyederhanakan “wacana Gus Dur” hanya pada urusan ini, dalam bahasa yang agak konspiratif menyederhanakan adalah melokalisir: seputar pembelaan terhadap hak-hak minoritas terutama terkait agama dan kepercayaan. Putri-putrinya juga hampir selalu menceritakan “Bapak” hanya terkait hal ini. Perayaan-perayaan di hari haulnya juga tidak jauh dari urusan ini juga.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ustadzah Mencari Presiden

oleh : AHMAD Z. EL-HAMDI, 0 Komentar
Jangan dikira bahwa seorang ustadzah hanya tahu shalat istikharah ketika dia hendak mencari solusi dari masalah yang dihadapinya. Shalat istikharah sudah pasti dilakukan. Tapi seorang ustadzah juga tidak jarang mengambil keputusan yang sangat rasional sebagaimana ustadzah muda yang saya temui kali ini. Saya mengenalnya cukup lama. Dia putri seorang kiai besar di negeri ini. Di samping pendidikan agama yang langsung didapatkan dari ayah ibunya, dia sendiri juga mendapatkan pendidikan formal yang cukup baik. Saat ini dia memiliki jamaah anak-anak muda yang sangat banyak. Di mana pun dia berkunjung, anak-anak muda selalu mengerumuniya untuk meminta nasehatnya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

AGENDA GUSDURIAN

oleh : HARIS EL-MAHDI, 0 Komentar
Ada dua agenda besar yang menjadi inti (core) gerakan Gusdurian dalam membumikan 9 nilai utama; Ketauhidan, Kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, Pembebasan, persaudaraan, kesederhanaan, keksatriaan, dan kearifan lokal. Dua agenda itu saya sebut "Basic Agenda" atau agenda dasar dan "advanced Agenda" atau agenda Lanjutan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Parrhesiast: Gus Dur dan Foucault

oleh : TONY DOLUDEA, 0 Komentar
Di dalam hiruk-pikuk Pemilihan Umum Legeslatif dan Eksekutif Indonesia tahun 2019 ini, rupa-rupanya tidak sedikit rakyat Indonesia terbukti masih terlihat lemah dalam berrefleksi dan tidak mampu memilah ketika berbicara tentang politik maupun demokrasi. Dalam suasana seperti ini orang tidak jarang salah kaprah ketika berbicara tentang politik dan demokrasi. Claude Lefort pernah mengingatkan bahwa untuk dapat memahami baik hakikat politik maupun demokrasi penting bagi seseorang untuk terlebih dahulu membuat pemilahan antara politics (la politique) dan the political (le politique). Politics (la politique) adalah tindakan, strategi dan kebijakan politis tertentu dari perilaku dan lembaga politik. Sementara the political (le politique) adalah kerangka kerja pokok dan ruang sosiopolitis yang di dalamnya dan melaluinya politics (la politique) itu terjadi dan mewujudnyatakan makna dan fungsinya.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan “Wa’tashimu bi Hablillahi jami`an Wala Tafarroqu”

Gus Dur menyebutkan bahwa: “Kitab suci kita menyatakan: “Berpeganglah kalian kepada tali Allah secara menyeluruh, Dan janganlah terpecah-belah/saling bertentangan (wa’ tashimû bi hablillâh jamî’an walâ tafarraqû)” (QS Ali Imran [3]:103). Islamku Islam Anda Islam Kita, hlm. 29 Ayat ini mengandung penafsiran-penafsiran tentang kata Hablullah, seperti disebutkan dalam Ad-Durrul Mantsur (III: 710), demikian: Al-Qur’an/Kitabullah, Ahlu Bait, al-Jama`ah (taat dan al-Jama`ah), dan al-Islam. Sedangkan berhubungan dengan perintah “berpegang teguh” (wa’tashimu), maknanya adalah: “Taat kepadanya” (Imam al-Hasan), berpegang dengan janji Alloh dan perintah-Nya (Qotadah); ikhlas lillahi ta'ala wahdah (Abul Aliyah). Dan menafsirkan “wala tafarroqu”: “Al-ikhlas wakunu `alaihi ikhwanan”, supaya dalam menjalani Islam itu dengan dasar ikhlas dan menjadikan orang lain sebagai saudara dan senang dengan persaudaraan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Apa Jadinya Islam Indonesia Jika Tidak Ada NU dan Muhammadiyah?

oleh : ANNAS ROLLI MUCHLISIN, 0 Komentar
Judul di atas sempat terbesit di pikiran penulis setelah mengikuti seminar bertajuk “Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi Damai Nusantara Untuk Dunia” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM pada Jum’at 25 Januari 2019. Selain untuk mengemukakan penemuan riset mereka yang dituangkan dalam buku Dua Menyemai Damai Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi, seminar ini juga dalam rangka mendukung dua organisasi Muslim Indonesia terbesar tersebut untuk meraih Nobel Perdamaian.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

PERAYAAN TAHUN BARU KAUM BIDAH

oleh : AHMAD Z. EL HAMDI, 0 Komentar
Di dalam buku yang sudah menjadi klasik, Pergolakan Pemikiran Islam Indonesia, (alm.) Ahmad Wahib pernah menyatakan bahwa umat Islam perlu memperbanyak bidah kultural. Bidah kultural adalah suatu kreativitas kultural yang dibutuhkan sebagai respon tepat terhadap kebuyaan manusia yang bersifat dinamis. Menghindar dari bidah kultural atas nama apapun hanya akan terjerembab ke dalam konservatisme.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi