Minggu, 21 Juli 2019

BERITA DAN ARTIKEL UTAMA PILIHAN REDAKSI KAMPUNG GUSDURIAN

Berita dan Artikel Utama Pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Dakwah Berwatak Gus Dur

oleh : SHOLIHUN KASIM, 0 Komentar
Idealnya, dakwah dilakukan dengan lemah-lembut, nir-kekerasan dan juga dengan ilmu mumpuni, bukan seakan-akan mumpuni. Dengan begitu, dunia dakwah, termasuk dakwah digital tidak akan diselewengkan dan akan kembali pada ruhnya.
Kategori : Headline , Opini

Problem Serius Glorifikasi ‘Pindah Agama’ dan Kita Tidak Sadar

oleh : EDI AH IYUBENU , 0 Komentar
Dalam sebuah riset di wilayah Sleman, Yogyakarta, kawan seangkatan magister saya di IAIN Sunan Kalijaga, M. Rozaki, menemukan fenomena kultural yang unik soal agama. Bagi masyarakat akar rumput, harmoni sosial adalah elan vital paling utama dalam keluarga dan masyarakat. Sebuah keluarga bisa menerima anggotanya yang berbeda agama dengan memandangnya sebagai keyakinan individual yang mutlak. Agama adalah ageman, begitu istilahnya, sesuatu yang “dipakai” –digenggam, diyakini sendiri—sehingga ia boleh saja berupa warna.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pentingnya Pembenahan Pengadilan Agama

oleh : AYANG UTRIZA YAKIN, PH.D , 0 Komentar
Di dalam fikih (Hukum Islam), zina masuk dalam jinayah (pidana) yang hukumannya (hudud) ditentukan al-Qur’an atau hadis: bagi yang sudah menikah dirajam (Sahih al-Bukhari no. 6430, Sahih Muslim, no. 1690-1691) dan bagi bujang dicambuk 100x (QS.24:2). Pembuktian pidana zina ada dua: (1.) Empat saksi yg melihat perbuatan tersebut dengan mata kepala sendiri masuknya zakar ke farji, seperti masuknya pena ke tinta (ember ke sumur). Jika tidak, maka kena pidana qazaf dengan hukuman 80x cambuk (QS.24:4). (2.) Pengakuan diri sendiri.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Kisah di Balik Makam Trowulan

oleh : AHMAD SUAEDY, 0 Komentar
Pasti bahwa makam Trowulan dan Trayala menunjukkan pandangan bahwa tidak ada konflik antara Jawa dan Islam dalam identitas (keagamaan).” Kutipan di atas diambil dari buku MC Ricklefs yang berjudul Mystic Synthesis in Java (2006). Trowulan dan juga Trayala adalah makam muslim yang bertahun akhir abad ke-14 M. Ia bertempat di tengah-tengah ibukota kerajaan Buddha-Hindu Majapahit (kini terletak di Kabupaten Mojokerto) ketika masih berkuasa, meskipun pada saat itu sudah mulai muncul kekuatan politik atau kerajaan Islam di tempat lain.
Kategori : Headline , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Cak Nur Sang Teolog Muslim Indonesia

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Abdurrahman Wahid (Gus Dur w. 2009) dan Nurcholish Madjid (Cak Nur w. 2005) merupakan tokoh intelegensia Muslim Indonesia. Hingga saat ini pikirannya masih relevan untuk didiskusikan. Persoalan-persoalan terkait dengan demokrasi, HAM, politik, bahkan relevansi agama dan dunia modern sudah dibahas sedemikian rupa sehingga kontribusinya masih bisa dirasakan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Makna Puasa dalam Praktik Akuntansi

oleh : MUHAMMAD ARAS PRABOWO, 0 Komentar
Puasa bukan untuk puasa atau bulan Ramadhan bukan untuk bulan Ramadhan saja, akan tetapi keduanya harus termaknai hingga sebelas bulan yang akan datang. Seperti diketahui bahwa puasa merupakan rukun Islam yang ketiga setelah syahadat dan shalat, setelah puasa yaitu zakat dan berhaji jika mampu. Perintah terkait kewajiban berpuasa tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat ke-183 yang berbunyi “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Rekonsiliasi Politik Tingkat Tinggi ala Gus Dur

oleh : FATHONI, 0 Komentar
Langkah pemulihan keamanan dan persaudaraan atau rekonsiliasi antar-anak bangsa secara cepat dilakukan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di tengah menghadapi pemakzulan (impeachment) dirinya oleh Parlemen, yaitu DPR dan MPR. Dewan Perwakilan Rakyat kala itu dipimpin oleh Akbar Tandjung dan Majelis Permusyawaratan Rakyat diketuai oleh Amien Rais.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pakar

Beberapa tahun terakhir ini, di media sosial Gus Nadirsyah Hosen sangat aktif mengutip dalil-dalil agama Islam dengan menyertakan potret kitab-kitab klasik (kitab mu’tabar) yang menjadi rujukannya. Terutama saat ia sedang beradu pandangan dengan akun-akun lain dalam pembahasan tentang hukum Islam atau pendapat berlandaskan agama Islam, misalnya tentang khilafah. Gus Nadir selalu merujuk kepada kitab-kitab klasik tersebut untuk mengajarkan kepada publik dan lawan berdebatnya bahwa kita perlu selalu mempertanggungjawabkan pendapat kita, tidak asal bicara, apalagi menyimpulkan ayat-ayat Tuhan secara literal tanpa landasan keilmuan. Gus Nadir memilih menantang pandangan segelintir orang yang dipandangnya tidak memiliki keilmuan yang cukup tetapi begitu gigih meyakini dan menyebarkan tafsirnya atas Firman Tuhan tersebut.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi