Jumat, 22 September 2017

BERITA DAN ARTIKEL UTAMA PILIHAN REDAKSI KAMPUNG GUSDURIAN

Berita dan Artikel Utama Pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Gus Dur, Demokrasi, dan Paranoia Hantu PKI

oleh : MUHAMMAD PANDU, 0 Komentar
Selamat datang di bulan September, bulan di mana kita telah memasuki salah satu musim di antara empat musim besar di Indonesia: musim hujan, musim kemarau, musim ribut mengucapkan Selamat Hari Natal, dan musim ribut isu kebangkitan PKI. Musim terakhir inilah yang kita rasakan sekarang. Saban tahun masyarakat (akar rumput) kita selalu mengalami “de javu paranoia” yang sama. Saya mengamati, setiap September datang, selalu saja ada kelompok yang kebakaran jenggot. Kemudian berbagai media menampilkan judul-judul yang naas untuk disimak: pelarangan diskusi, pembubaran seminar, pembubaran acara seni, dan segala jenis pembubaran tolol lainnya.
Kategori : Headline , Opini

Betapa Bahayanya Jihadis Orak-Arik Campur

Siaran pesan instan menyebar di grup-grup Whatsapp dan media sosial. Pesan dalam poster yang menyebar, puluhan elemen keagamaan dan ormas Islam se-Jawa Tengah akan mengepung Borobudur, dilatarbelakangi kemarahan mereka terhadap kemanusiaan di Rohingya. Yang jadi masalah, menurut persatuan pedagang di area sekitar candi tersebut, yang berjumlah lebih dari 3000 orang itu, "Apa hubungannya genosida di Rohingnya Myanmar dengan luapan kemarahan yang ditujukan ke Borobudur?"
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Islam Saya Islam Cinta

Awal Agustus lalu, Selasa (1/08/2017), kejadian memilukan terjadi di Bekasi. Pria bernama MA (M Alzahra), yang diduga mencuri amplifier mushalla al-Hidayah, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Bekasi, dibakar hidup-hidup. Warga juga mengarak MA dari jembatan hingga pasar, sebelum dibakar secara biadab. Sungguh merupakan aksi yang menyedihkan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Romo Katolik di Masjid Kedung Ombo

oleh : MUHAMMAD AZIZ DHARMA, 0 Komentar
BAGI WARGA Kedungpring, banjir bukan hal asing. Hidup di pinggir Waduk Kedung Ombo membuat mereka akrab dengan banjir. Saking seringnya terjadi, mereka tak akan panik sekalipun air sudah menggenangi lantai rumah. Kalau malam air naik, paling-paling esok harinya sudah surut kembali. Paling lama dua malam. Namun, hari itu berbeda. 12 Februari 1989, tepatnya pukul 9 malam, hujan lebat mengguyur Kedungpring. Air waduk mulai naik dan sampai ke kampung. Bukannya surut, air ternyata semakin tinggi saja hingga keesokan harinya. Warga salah perhitungan. Air naik bukan saja karena hujan, namun saluran air di hulu memang sengaja dibuka. Mereka panik dan lekas bergegas mencari tempat yang lebih tinggi.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Visi Toleransi Merawat NKRI

Dalam buku “Mata Air Peradaban; Dua Millenium Wonosobo”, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberi sebuah pengantar yang menarik, ia mengulas secara singkat bagaimana sejarah pertemuan antara komunitas Hindu dan Budha di tanah Jawa. Pada abad ke-8 diceritakan orang-orang Sriwijaya yang beragama Budha datang ke pulau Jawa, di daerah pegunungan Dieng-Wonosobo kini, mereka menemukan kerajaan Kalingga Hindu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Memandang Cara Pandang Gus Dur

oleh : HERU HARJO HUTOMO, 0 Komentar
Tumbuh dengan tubuh yang tambun. Kadang bersongkok. Kadang tidak. Hingga rambutnya yang tersisir rapi kelihatan. Wajahnya, meski di saat marah pun, tak tampak menakutkan. Tak pernah, dan tak ada yang takut dengannya. Hanya, barangkali, rikuh. Sesekali tawacanya pecah, lepas tanpa beban. Adakalanya ia biarkan airmatanya berderai di tepi sebuah makam. Satu waktu, ia begitu tajam dan wijang dalam membedah Das Kapital. Di lain waktu, begitu “halus” dalam memaknai al-Hikam. Acap ia berbicara apa adanya, ceplas-ceplos. Tapi kerap pula ia memainkan jari telunjuknya: tenggelam dalam naungan keabadian (daim).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Antara Gus Dur dan Nahdlatul Ulama

oleh : MOHAMMAD YAJID FAUZI, 0 Komentar
Nahdlatul Ulama yang berdiri sejak tahun 1926 merupakan Organisasi Islam terbesar di Indonesia yang sangat digandrungi oleh masyarakat. Hal ini karena Nahdlatul Ulama dalam pengajarannya menghargai budaya lokal dan tidak membuang tradisi yang telah ada dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat. sehingga sangat cocok di Indonesia yang masyarakatnya mayoritas memeluk agama islam dan masih memegang teguh adat dan budaya yang di wariskan oleh para leluhur.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Teladan Kebangsaan Gus Dur

Tiga hari setelah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sowan ke kiai sepuh di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Meski mendapat fasilitas pengawalan ketat, dengan barisan Pasukan Pengamanan Presiden dan aparat keamanan yang rapi, Gus Dur memilih menanggalkan kawalan. Ia berjalan sendirian, masuk ke rumah kiai sepuh itu dari pintu belakang.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Gagasan Pemberdayaan

Tanggal 4 agustus, tepat 77 tahun hari kelahiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Semasa hidup, beliau dikenal sebagai seorang kiyai, intelektual, budayawan, politisi sekaligus sufi, sesuatu yang begitu kompleks hadir dalam diri seorang manusia yang lahir dan tumbuh besar dalam kultur keagamaan pesantren dan sekian tahun hidup dalam tradisi dua kutub peradaban; Timur Tengah dan Eropa. Perjalanan panjang Gus Dur dalam mengarungi samudera intelektualitas dengan bacaan yang begitu luas dan keragaman realitas yang dijumpainya, kiranya turut membentuk pemikiran dan cara pandangnya terhadap banyak hal yang kemudian ia perjuangkan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi