Sabtu, 21 Juli 2018

KELAS PEMIKIRAN GUS DUR SURABAYA: MELANJUTKAN TONGKAT ESTAFET GUS DUR

Jumat, 16 Maret 2018
oleh : Muhammad Autad Annasher
Dibaca sebanyak 203 kali
Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur mungkin telah menghembuskan nafasnya 9 tahun lalu. Namun pemikiran, ideologi dan kontribusinya tetap abadi bagi pengikutnya, yaitu Gusdurian. Sebutan bagi para murid, pengagum dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Dengan adanya “Jaringan Gusdurian,” puluhan ribu gusdurian kini sudah menyebar tidak hanya di seluruh pelosok nusantara namun juga sampai di luar negeri. Hingga kini terhitung banyaknya Jaringan Gusdurian sejumlah; 28 di Jawa Timur, 20 di Jawa Tengah, 14 di Jawa Barat, 23 di luar Jawa dan 3 di luar negeri (yatu Malaysia, Jeddah, dan Saudi) dan masih akan bertambah lagi. Ungkap Mukhibullah, selaku perwakilan Seknas Gusdurian.

Untuk mencetak para Gus Dur yang baru, Jaringan Gusdurian Surabaya mengadakan KPG (Kelas Pemikiran Gus Dur) angkatan kedua di Gedung Yayasan LKD-Keuskupan Surabaya(09-11/03).  Sebanyak 30 peserta terpilih dari 53 yang mendaftar. Meski hanya 23 peserta yang bisa mengikuti KPG dari awal hingga akhir, tidak mengurangi sedikitpun kehidmatan acara tersebut. Selain difasilitasi tempat dan konsumsi selama tiga hari oleh panitia. Peserta juga dibekali dengan modul yang berisi 14 sub tulisan dari berbagai sumber tentang Gus Dur dan kiprahnya.

Selama tiga hari dua malam, para peserta ditempa enam materi yang semakin memperkuat ke-gusdurian mereka, di antaranya yaitu; Biografi Intelekktual Gus Dur, Gus Dur dan Gagasan Keislamannya, Gus Dur dan Gagasan Demokrasi, Gus Dur dan Gagasan Gerakan Sosial, Gus Dur dan Gagasan Kebudayaannya, dan terakhir Gerakan Jaringan Gusdurian. Setelahnya pun peserta diperkuat pemahamannya dengan review atau pengayaan materi serta diskusi-presentasi tiap kelompok.

Di antara materi yang menarik adalah 9 nilai Gus Dur. Di antaranya yaitu, ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, persaudaraan, kesederahanaan, kesatriaan, dan kearifan lokal. “Nilai-nilai terwujud setelah didadakannya simposium yang dihadiri 100 orang yang merupakan teman, saudara, dan orang-orang yang mengenal Gus Dur untuk merumuskan maksud dan sari pati dari setiap tindaknya.” Ungkap Yuni, pemateri pertama. Ia juga menambahkan pentingnya bersikap netral. Kenetralan bukan hanya berada di tengah, namun keberpihakan pada kaum yang tertindas.

Setelah mendalami semua materi ke-gusdurian, peserta tidak akan langsung mampu bertindak layaknya Gus Dur. Banyak Gusdurian sendiri yang mengaku berat menjadi Gus Dur, “Saya tidak sanggup menjadi Gus Dur, berat. Saya saja yang membela LGBT, dihina habis-habisan.” Ungkap Aan Anshori, pemati keempat. Menurutnya cara pandang Gus Dur bagaimana mampu untuk melihat segala sesuatu dengan nurani. Mengesampikan nilai-nilai partikular berupa agama dan ras dan lebih mengutamakan nilai-nilai universal yaitu keadilan dan kesetaraan. Hal ini pun menurutnya sejalan dengan hukum Islam yaitu al-adalah, al-musawwa, dan alhurriyah.

Pendeta Simon dalam pidato singatnya kepada peserta menerangkan, “Beberapa peran Gus Dur yang hebat, Gus Dur membubarkan Menteri Penerangan, mencanangkan agar Indonesia bergabung dengan negara China dan India sehingga kita tidak perlu negara lain,” ungkap Simon Filantropa. Gus Dur menurutnya juga berharap agar Indonesia tidak menjadi bangsa “apa yang dibicarakan berbeda dengan apa yang dikerjakan.”

Materi terakhir yaitu mengenal “Jaringan Gusdurian,” jaringan yang gigih berupaya meggerakkan tradisi, meneguhkan Indonesia. “Sebenarnya tidak ada pendaftaran untuk menjadi Gusdurian, banyak yang inbox, ‘Kapan dibuka pendaftaran?’ Cukup mengikuti acara-acara yang diadakan Gusdurian dan mengkaji pemikirannya, maka anda secara tidak langsung sudah menjadi Gusdurian.” Jelas Mukhib di akhir sesi. Sebelum selesainya acara, peserta diberikan kesempatan untuk mengukapkan kesan dan pesannya. Mereka mengaku puas dengan adanya acara ini, “Terima kasih kepada panitia, saya sudah diberikan kesempatan untuk mengikuti acara ini, mungkin saya tidak bisa mengikuti kegiatan setelahnya karena rumah saya jauh (Banjarmasin, Red). Tapi saya sangat bersyukur,” jelas Nur Qomariyah, salah satu peserta di akhir acara.

Ditulis oleh: Fafa, peserta Kelas Pemikiran Gus Dur Surabaya 2018.

Sumber: https://fafavoice.blogspot.co.id/