Selasa, 18 Desember 2018

MEMBACA KONSEP PRIBUMISASI ISLAM DAN INKULTURASI IMAN KRISTIANI DALAM KONTEKS INDONESIA

Rabu, 18 Juli 2018
oleh : Paulus Bagus Sugiyono
Dibaca sebanyak 623 kali
Relasi antara agama dan budaya selalu menjadi isu yang menarik dalam sejarah peradaban umat manusia. Tidak jarang tegangan-tegangan selalu terjadi dalam dinamika keduanya. Meski demikian, tegangan ini menghidupkan, sebab selalu mengajak kita untuk mampu menempatkan diri dalam posisi yang tepat di antara keduanya. Dalam konteks lokal, Indonesia pernah mengalami adanya stimulus-stimulus agama yang datang dari luar, antara lain Islam dan Kristen. Kedua agama ini tentu mengalami pergulatan yang berbeda-beda dalam perjumpaannya dengan budaya lokal di Indonesia. Dalam perjumpaan dengan keduanya, sejatinya identitas budaya Indonesia terus-menerus dipertajam.

 

 

 

 

            

            Di dalam tulisan berikut, saya tidak akan melihat bagaimana sejarah perjumpaan masing-masing agama tersebut dengan budaya lokal Indonesia. Saya lebih akan berupaya melihat secara konseptual bagaimana masing-masing agama menghayati apa yang dinamakan pribumisasi atau inkulturasi. Pembahasan mengenai konsep pribumisasi Islam saya ambil dari tulisan Syaiful Arif yang mencoba membahas pemikiran Abdurrahman Wahid.[2] Dalam khazanah pemikiran Abdurrahman Wahid sendiri, konsep pribumisasi Islam merupakan konsep penting yang melengkapi dua konsep pemikiran beliau yang lebih bersifat global, yakni konsep mengenai universalisme Islam (universe) dan kosmopolitanisme Barat (cosmos). Kepentingan konsep ini terletak pada keterkaitannya dengan yang lokal. Untuk membahas konsep inkulturasi iman Kristiani dalam agama Katolik, saya mengambil dua bab penting[3] dari buku karya Robert Hardawiryana, salah seorang teolog Katolik Indonesia yang terkemuka. Kedua bab tersebut membahas tema mengenai proses pemribumian iman Kristiani di Nusantara.

            Secara praktis, tulisan ini akan saya bagi ke dalam empat bagian besar, yakni (1)konsep pribumisasi Islam menurut Abdurrahman Wahid, (2)konsep inkulturasi iman Kristiani menurut Robert Hardawiryana, (3)perjumpaan konsep pribumisasi Islam dan inkulturasi iman Kristiani, dan (4)relevansi tema pribumisasi/inkulturasi dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara di Indonesia. 

 

2. Konsep Pribumisasi Islam menurut Abdurrahman Wahid

2.1  Pribumisasi Islam: Irisan antara Agama Islam dan Budaya

Abdurrahman Wahid berpendapat bahwa pribumisasi Islam memiliki ranah konseptualnya tersendiri. Ranah ini merupakan irisan antara Islam sebagai agama yang menekankan hukum dan norma, dengan budaya sebagai upaya manusia mengolah dan memaknai kehidupannya. Bagaimana hubungan yang terjalin di antara keduanya ini dapat dijelaskan? Islam merupakan sebuah agama yang sungguh menekankan hukum yang tegas dan mengatur. Hukum-hukum tersebut ingin diterapkannya dalam kehidupan. Di sisi lain, budaya lebih bersifat dinamis. Maksudnya, budaya selalu berubah dari waktu ke waktu, tergantung bagaimana manusia terus berupaya mengolah dan memaknai pengalaman dalam hidupnya. Dengan demikian, Abdurrahman Wahid ingin menggambarkan bahwa pribumisasi Islam sebenarnya tidak murni masuk ke dalam salah satu dari dua hal tersebut, entah itu murni hukum Islam ataupun murni budaya dalam masyarakat. Meski demikian, perbedaan antara hukum Islam yang statis dan budaya yang dinamis sama sekali tidak menjadi halangan untuk melakukan pribumisasi Islam. Mengenai hal ini Abdurrahman Wahid mengatakan demikian,

“Agama (Islam) bersumberkan wahyu dan memiliki norma-norma sendiri. Karena bersifat normatif, maka ia cenderung menjadi permanen. Sedangkan budaya adalah buatan manusia. Oleh sebab itu, ia berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan cenderung selalu berubah. Perbedaan ini tidak menghalangi kemungkinan manifestasi kehidupan beragama dalam bentuk budaya.” (tekanan dari penulis)

 

Pribumisasi Islam, dengan demikian, sungguh berada dalam ranah irisan pertemuan antara agama Islam dan budaya. Pribumisasi Islam dicirikan oleh pembumian ajaran agama Islam dalam budaya-budaya masyarakat setempat. Dengan kata lain, pemahaman atas pribumisasi Islam tidak pernah bisa dilepaskan dari pemahaman ajaran Islam terhadap budaya setempat.[4]

 

2.2  Mekanisme Pribumisasi Islam

Pertanyaan yang dapat muncul kemudian adalah: Bagaimana mekanisme terjadinya proses pribumisasi Islam tersebut? Syaiful Arif membagi mekanisme pribumisasi Islam yang dimaksud oleh Abdurrahman Wahid ke dalam dua definisi, yakni definisi positif dan definisi negatif. Definisi positif merupakan penjelasan atas hal-hal apa yang dilakukan dalam proses pribumisasi Islam. Sebaliknya, definisi negatif merupakan penjelasan atas hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan dalam usaha mempraktikkan pribumisasi Islam.

Sebagai definisi positif, pribumisasi Islam merupakan sebuah upaya akomodasi budaya kehidupan yang terus berkembang (dinamis). Abdurrahman Wahid menegaskan bahwa upaya ini dijalankan “melalui kemungkinan pengembangan penafsiran atas nash, yang disediakan oleh metode qawaid al-fiqhiyyah dan ushul fiqh”. Hal ini berarti bahwa pribumisasi Islam dijalankan dengan penghargaan atas budaya-budaya setempat dalam rangka merumuskan hukum-hukum Islam. Dengan demikian, pribumisasi Islam selalu mengindahkan nilai-nilai budaya setempat dengan cara mengembangkan metode penafsiran nash atas kebutuhan realitas yang ada. Hal ini tidak hanya terjadi dalam wilayah hukum, tetapi juga dalam wilayah budaya.[5]

Sebagai definisi negatif, Abdurrahman Wahid menegaskan demikian,

“Dalam proses ini (pribumisasi Islam), pembauran Islam dengan budaya tidak boleh terjadi, sebab berbaur berarti hilangnya sifat-sifat asli. Islam harus tetap pada sifat Islamnya. Al-Quran harus tetap dalam bahasa Arab, terutama dalam shalat, sebab hal ini telah menjadi norma. Akan tetapi, harus disadari bahwa penyesuaian ajaran Islam dengan kenyataan hidup hanya diperkenankan sepanjang menyangkut sisi budaya.” (tekanan dari penulis)

Dari penjelasan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa Abdurrahman Wahid sungguh ingin menekankan sisi Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi hukum dan normanya. Identitas asli agama Islam tidak pernah boleh dihilangkan, diganti, atau dibaurkan begitu saja oleh budaya setempat atas nama pribumisasi Islam. Budaya setempat tidak pernah boleh mendominasi ajaran-ajaran agama Islam.[6]

 

2.3  Pribumisasi Islam dalam Proses Memanusiawikan Kehidupan Bermasyarakat

Lebih lanjut, Abdurrahman Wahid menjelaskan bahwa pribumisasi Islam tidak hanya berhenti dalam taraf kebudayaan saja. Beliau memilah dan memaknai kebudayaan, di satu sisi sebagai sebuah identitas kultur dan di sisi lain sebagai kehidupan sosial manusiawi (human social life). Sebagai identitas kultur, budaya menyimpan identitas suatu masyarakat. Hubungan Islam dan budaya sebagai identitas kultur misalnya paling tampak dalam akomodasi Islam terhadap adat istiadat setempat. Islam menghargai identitas budaya setempat yang terwujud dalam tradisi, adat, kesenian, bahkan juga gaya arsitektur tempat ibadat. Dengan demikian, sungguh terciptalah Islam Nusantara yang memang berbeda dengan Islam Arab.

Sementara itu, hubungan Islam dengan budaya sebagai kehidupan sosial manusiawi tampak dalam upaya manusia memanusiawikan (humanisasi) kehidupan sosialnya. Apa maksudnya? Kontekstualisasi Islam selalu digerakkan oleh tujuan humanisasi kehidupan sosial masyarakat. Dengan kata lain, kehidupan manusia, dalam segala aspeknya, terus-menerus bergerak dan berubah ke arah yang lebih baik. Hal ini dapat terjadi karena dengan kontekstualisasi Islam, agama yang menjunjung tinggi hukum ini dapat dipraktikkan dalam kehidupan modern masa kini dengan menempatkan manusia dan pengembangan peradabannya sebagai nilai utama dalam hidup. Dalam hal inilah Abdurrahman Wahid ingin menempatkan pribumisasi Islam dalam upaya membumikan Islam dalam konteks modern kehidupan bermasyarakat.[7]

 

3. Konsep Inkulturasi Iman Kristiani menurut Robert Hardawiryana

3.1 Inkulturasi sebagai Gerak Ganda

Menurut Robert Hardawiryana, inkulturasi merupakan sebuah perubahan mendalam nilai-nilai budaya asli yang diintegrasikan ke dalam hidup Kristiani dan penanaman iman Kristiani ke dalam aneka budaya yang berlain-lainan. Proses ini lebih dari sekadar adaptasi yang sifatnya sepintas, sekadar penampilan, dan tidak mendalam. Dengan kata lain, proses inkulturasi iman Kristiani mengungkapkan gerak ganda yang mendalam antara iman Kristiani dan nilai budaya asli. Melalui inkulturasi, Gereja mewujudnyatakan iman Kristiani dalam pelbagai kebudayaan dan memasukkan orang-orang yang menganut kebudayaan tersebut dalam persekutuan Gereja sendiri.[8]

Selain terminologi “inkulturasi”, Hardawiryana juga mengenalkan istilah lain yang kurang lebih serupa, yakni “pemribumian”. Istilah ini seringkali digunakan untuk mengungkapkan nilai yang merasuk, meresapi, dan mengubah hati manusia. Hal ini tidak hanya terjadi dalam taraf lahiriah saja, melainkan terjadi dalam batin yang paling dalam. Hardawiryana menegaskan bahwa ungkapan “iman Kristiani mempribumi” berarti mempertahankan nilai-nilai otentik iman itu sendiri, tetapi sekaligus menggarisbawahi nilai-nilai budaya setempat sebagai ekspresi kultural iman yang otentik itu.[9] Terkait penekanan iman Kristiani tersebut, Hardawiryana mengutip apa yang ditulis oleh Paus Paulus VI,

“Injil, dan karena itu juga evangelisasi, tidak dapat ditaruh dalam kategori yang sama seperti kebudayaan manapun juga. Injil dan pewartaannya mengatasi semua kebudayaan… Injil dan evangelisasi tidak mempunyai hubungan yang istimewa dengan kebudayaan manapun juga, tetapi juga tidak niscaya bertentangan dengannya. Sebaliknya dapat merasuki kebudayaan manapun juga tanpa terbawah kepada kebudayaan manapun.”[10] (tekanan dari penulis)

Dari kutipan tersebut, kita dapat melihat pentingnya posisi iman Kristiani (Injil dan evangelisasi) dalam proses inkulturasi iman Kristiani. Akan tetapi, Hardawiryana mengkritisi pula bahwa dalam proses tersebut yang terutama bukanlah “organisasi” iman, melainkan kehidupan umat Kristiani sendiri. Apa maksudnya? Hardawiryana mengatakan demikian,

“Mempribumikan tidak berarti sekadar menyebarluaskan ke rakyat Nusantara bukan melulu ajaran-ajaran kebenaran, atau aturan-aturan hidup, menurut ortodoksi semata-mata, entah itu pribadi atau dalam bersikap dan berperilaku di tengah sesama, biarpun itu tidak boleh dikesampingkan.”[11] (tekanan dari penulis)

Dengan demikian, menjadi jelas bahwa Robert Hardawiryana ingin mengatakan bahwa proses inkulturasi iman Kristiani jangan sampai jatuh pada masalah rigid aturan-aturan “boleh atau tidak boleh” semata, meskipun itu juga penting dan mengambil peran yang signifikan. Inkulturasi iman Kristiani hendaknya sungguh sampai pada penghayatan iman umat dalam kehidupan sehari-hari yang munculnya dari kesadaran diri atau hati yang paling dalam, bukannya hanya jatuh pada prinsip legalitas.

 

3.2 Inkulturasi dalam Konteks Nusantara

            Dalam konteks Indonesia, Robert Hardawiryana menekankan pentingnya fakta pluralitas yang secara khas dimiliki oleh bangsa Indonesia. Proses pemribumian iman Kristiani perlu mengindahkan keanekaan budaya sebagai sumber warisan dan pusaka dari masing-masing golongan yang begitu banyaknya. Untuk itu, proses inkulturasi perlu selalu dibarengi dengan analisis sosiobudaya yang akurat dan kritis. Selain itu, mengutip dari dokumen Gereja Katolik Gaudium et Spes, Hardawiryana juga menambahkan demikian,

“Untuk itu diperlukan kesadaran akan situasi kebudayaan pada zaman sekarang di Nusantara, berbagai kaidah untuk tepat mengembangkan kebudayaan, dan beberapa tugas umat Kristiani yang cukup mendesak untuk menanggapi apapun yang disebut cultura, yakni segala sarana dan upaya manusia untuk menyempurnakan dan mengembangkan pelbagai bakat-pembawaan jiwa-raganya, usaha-usaha menguasai alam semesta dengan pengetahuan maupun jerih payahnya, perjuangan menjadikan kehidupan sosial, dalam keluarga maupun dalam seluruh masyarakat, lebih manusiawi melalui kemajuan tata susila dan lembaga-lembaga, di sepanjang masa mengungkapkan, menyalurkan dan melestarikan pengalaman-pengalaman rohani serta aspirasi-aspirasi kemajuan banyak orang, bahkan segenap umat manusia.”[12] (tekanan dari penulis)

Dari kutipan tersebut, Hardawiryana menekankan kesadaran akan budaya sebagai upaya untuk terus-menerus mengembangkan potensi manusia sebagai individu dan masyarakat. Inkulturasi iman Kristiani memampukan manusia secara utuh merealisasikan potensi yang ada dalam dirinya sebagai individu. Selain itu, inkulturasi juga mendorong manusia untuk terus berupaya memanusiakan kehidupannya, menciptakan kehidupan yang sungguh-sungguh bermartabat luhur, tidak hanya sebagai pribadi tetapi juga sebagai manusia yang hidup bersama dengan manusia yang lain.

 

3.3 Berbagai Sikap dalam Proses Pemribumian Iman Kristiani

            Robert Hardawiryana mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga (3) sikap yang perlu dilakukan dalam proses pemribumian iman Kristiani. Pertama, dibutuhkan sikap keberanian untuk mewartakan iman dan ajaran-ajaran Kristiani kepada semua orang, terutama mereka yang belum mengenalnya. Sikap ini diperlukan sebab akan ada banyak tantangan yang meminta pengorbanan dan jerih payah yang tidak sedikit, terutama dalam melakukan refleksi teologis. Refleksi teologis diusahakan sebagai upaya menyerasikan adat kebiasaan budaya setempat dengan anugerah pewahyuan ilahi. Refleksi ini pulalah yang hendaknya membuka jalan menuju penyesuaian lebih mendalam dalam seluruh lingkup Kristiani.

Kedua, Hardawiryana menegaskan bahwa tidak boleh ada sikap “defensif apologetik dalam konfrontasi dengan kelompok-kelompok agama lain yang bersikap eksklusif”. Hendaknya dibangun sikap terbuka dan netral terhadap pertikaian-pertikaian yang terjadi dengan kelompok yang berbeda. Dialog-dialog dalam berbagai tingkatannya hendaknya terus-menerus dibangun dan diutamakan. Meski demikian, Hardawiryana tetap mengingatkan bahwa inkulturasi iman Kristiani tidak pernah boleh memunculkan adanya kesan sinkretisme (pencampuradukan) yang keliru.

Ketiga, perlunya pengujian atau sikap diskretif berkelanjutan terhadap motivasi-motivasi yang ada di balik segala karya pendidikan, pelayanan kesehatan, dan jasa-jasa sosial yang lain untuk memperbaiki kehidupan orang miskin. Mengapa demikian? Hardawiryana mengingatkan supaya jangan sampai ada sikap “primordial golonganisme” yang sebetulnya bersembunyi di balik upaya menyejahterakan kehidupan manusia.[13] Bila hal tersebut terjadi, maka keluhuran sikap pluralisme dalam konteks Indonesia dapat tercederai oleh kepentingan golongan-golongan tertentu saja.

 

4. Perjumpaan Konsep Pribumisasi Islam dan Inkulturasi Iman Kristiani

            Ada dua titik perjumpaan yang saya temukan terkait kedua konsep yang telah saya bahas. Perjumpaan yang pertama adalah makna pribumisasi atau inkulturasi sebagai momentum pertemuan antara agama dan budaya setempat. Abdurrahman Wahid menyebut hal ini dengan nama “irisan”, yang berarti bagian yang mencakup baik ajaran agama maupun budaya lokal. Robert Hardawiryana menyebut hal ini dengan nama “gerak ganda”. “Gerak ganda” berarti di satu sisi adanya penanaman ajaran agama ke dalam budaya-budaya setempat dan di sisi lain terjadinya perubahan mendalam nilai budaya asli yang disebabkan masuknya ajaran agama tersebut. Dengan demikian, kita dapat mengerti bahwa pribumisasi atau inkulturasi tidak pernah hanya murni merupakan agama atau budaya setempat saja. Ajaran agama selalu berupaya mengenal budaya lokal secara mendalam dan dengan demikian berusaha mencari jalan untuk masuk ke dalamnya.

            Perjumpaan yang kedua adalah mengenai pribumisasi atau inkulturasi yang membawa perubahan, tidak hanya dalam ranah kultural tetapi juga dalam kehidupan manusia yang semakin bermartabat. Baik Abdurrahman Wahid maupun Robert Hardawiryana menegaskan bahwa pribumisasi tidak pernah berhenti sampai pada ranah kultural (dalam arti tradisi, adat, kesenian, gaya bangunan, dll) saja, melainkan sampai membawa pada perubahan hidup manusia yang semakin bermartabat. Hal ini dicontohkan Abdurrahman Wahid dalam pengembangan aplikasi nash, atas ketentuan Al-Quran bahwa lelaki adalah pemimpin perempuan, dengan konteks masa kini. Pengembangan ini dilakukan oleh beliau untuk menanggapi adanya pemikiran mengenai keharaman perempuan menjadi seorang presiden. Abdurrahman Wahid berargumen bahwa perempuan dapat secara halal menjadi presiden, sebab kepemimpinan politik modern bersifat kolektif, bukan personal sebagaimana zaman Nabi Muhammad s.a.w. dulu.[14] Melalui kontekstualisasi ini, jelas kita dapat melihat adanya upaya penyetaraan gender dalam proses humanisasi yang merujuk pada kehidupan manusia yang semakin baik. Perempuan tidak lagi dinomorduakan dalam masyarakat.

            Bagaimana dengan ajaran agama Katolik dalam proses inkulturasi iman Kristianinya? Robert Hardawiryana mengambil contoh usaha pendidikan yang dilakukan oleh Romo Fr. van Lith SJ yang memotivasi persekolahan/pendidikan yang berupaya mencerdaskan bangsa dan mengentaskan murid-muridnya dari kemiskinan dan kebodohan dalam upaya mencapai dan memantapkan kemandirian Indonesia sebagai bangsa. Melalui Kolese Xaverius yang didirikannya di Muntilan (konsep pendidikan asrama dalam budaya Jawa), Romo van Lith berupaya membangun individu-individu yang sungguh berkarakter dalam semangat nilai-nilai iman Kristiani sekaligus berbudaya Jawa.[15] Dari contoh yang diberikan Hardawiryana ini, kita dapat melihat adanya perjumpaan antara iman Kristiani dan budaya Jawa dalam konsep pendidikan yang mencerdaskan kehidupan generasi muda, tidak hanya secara intelektual tetapi juga secara karakter sebagai seorang manusia.

 

5. Relevansi Tema Pribumisasi/Inkulturasi dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia

            Secara khusus, kita telah melihat bagaimana perjumpaan antara kedua konsep pribumisasi. Masing-masing memiliki kekuatannya sendiri-sendiri dalam proses perjumpaan dengan budaya lokal. Apabila ditarik secara lebih umum, kita sebetulnya lantas dapat bertanya: Apa relevansi konsep pribumisasi bagi pembangunan hidup masyarakat Indonesia yang lebih bermartabat? Setidaknya, untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya menemukan dua relevansi yang dapat ditarik dari konsep pribumisasi secara umum.

Pertama, pribumisasi Islam maupun inkulturasi iman Kristiani sama sekali tidak pernah mengorbankan, entah itu ajaran agama maupun budaya lokal. Upaya-upaya yang secara langsung maupun tidak langsung meniadakan salah satu di antara kedua hal tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai upaya pribumisasi/inkulturasi. Ketika salah satu hal dipaksakan untuk diterapkan, maka pasti akan muncul ketidaknyamanan dalam kehidupan bermasyarakat. Kita tentu masih dapat mengingat dengan jelas peristiwa di tahun 2015 ketika terjadi problematika terkait dengan penggunaan langgam Jawa dalam pembacaan Al-Quran dalam peringatan Isra Miraj di Istana Negara. Pihak yang berada dalam posisi kontra tentu tidak setuju dengan penggunaan langgam Jawa dalam pembacaan Al-Quran, sebab dinilai akan mengurangi kesuciannya. Di lain sisi, pihak yang pro tentu setuju dengan penggunaan langgam Jawa, sebab mengusung konsep masyarakat Indonesia yang moderat dan toleran. Saya tidak ingin masuk dalam diskusi yang lebih dalam mengenai fenomena tersebut. Saya lebih ingin menggambarkan betapa upaya inkulturasi perlu betul-betul mempertimbangkan aspek “irisan” atau “gerak ganda” ajaran agama dan budaya lokal supaya tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat.

Kedua, proses pribumisasi atau inkulturasi ternyata mengambil peran penting dalam pembangunan hidup kesejahteraan yang lebih baik. Fenomena ini secara konseptual telah dijelaskan, baik oleh Abdurrahman Wahid maupun Robert Hardawiryana dalam konsep pribumisasi/inkulturasinya masing-masing. Pribumisasi tidak hanya terjadi dalam ranah budaya (dalam arti adat istiadat, musik, tempat ibadat, dll), tetapi juga dalam taraf yang lebih dalam, yakni kehidupan manusia yang semakin bermartabat. Dengan demikian, rasanya kita tidak perlu takut akan kehadiran stimuli dari luar, dalam hal ini ajaran agama lain, yang ternyata dapat membawa dampak yang baik bagi perkembangan hidup bermasyarakat di Indonesia. Meski demikian, kita tetap diajak untuk bersikap kritis dan diskretif terhadap stimuli yang datang dari luar, jangan sampai identitas budaya bangsa Indonesia yang otentik luntur dan hilang. Franz Magnis-Suseno menjelaskan hal ini dengan baik dalam perumpamaan tentang alat pemotong rumput. Ajaran agama (Injil; konteks Kristiani) tidak datang dalam rupa alat pemotong rumput yang mencukur dan membumihanguskan segala apa yang ada dalam masyarakat yang belum mengenal ajaran agama tersebut. Dalam konteks ajaran iman Kristiani, Magnis-Suseno menegaskan demikian,

“Kebudayaan yang tersentuh oleh Injil selalu juga akan berubah. Akan tetapi, perubahan itu tidak mengasingkan kebudayaan itu dari dirinya sendiri, melainkan justru menghilangkan unsur-unsur dosa yang mengasingkannya. Dalam cahaya Kristus, setiap orang dan setiap kebudayaan justru akan menemukan identitasnya yang sebenarnya.”[16] (tekanan dari penulis)

 

6. Penutup

            Memperdalam konsep mengenai pribumisasi merupakan suatu hal yang menarik. Mengapa demikian? Sebab di dalamnya kita dapat berjumpa dengan adanya tegangan kreatif antara dua identitas, yang dalam tulisan ini, merupakan identitas agama dan budaya lokal. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia sendiri terdiri dari begitu banyak budaya lokal. Menariknya lagi, identitas agama yang masuk ke dalam Indonesiapun juga tidak hanya satu. Dengan demikian, Indonesia sungguh menjadi patron yang baik untuk memperdalam bagaimana proses pribumisasi itu sungguh terjadi.

            Abdurrahman Wahid dalam konsep pribumisasi Islam dan Robert Hardawiryana dalam konsep inkulturasi iman Kristiani telah menjelaskan kepada kita bagaimana proses pribumisasi/inkulturasi terletak dalam irisan antara agama dan budaya lokal. Lebih dari itu, pribumisasi yang dimaksud oleh mereka pun tidak hanya terjadi dalam ranah kultur semata, melainkan juga perkembangan kehidupan martabat manusia yang lebih baik. Pribumisasi nyatanya tidak hanya membawa perubahan pada apa yang dapat dilihat secara fisik, tetapi juga apa yang dapat dirasakan melalui batin dalam rupa mentalitas-mentalitas hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

            Pribumisasi rasanya menghantar bangsa Indonesia di satu sisi untuk semakin mengenal identitasnya sendiri. Dari sana, kita berharap bahwa semakin lama semakin muncul dalam diri masyarakat sikap mencintai budaya sendiri. Di sisi lain, pribumisasi memampukan masyarakat untuk berani secara kritis dan diskretif membuka diri terhadap unsur-unsur baik yang datang dari luar, dalam hal ini ajaran agama. Dengan demikian, kita boleh berharap agar tumbuhlah semangat apresiasi terhadap keindahan beragamnya ajaran agama-agama yang ada di Indonesia.

 

 

SUMBER:

Arif, Syaiful. Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.

Munawar-Rachman, Budhy. “Diktat Perkuliahan Islamologi STF Driyarkara 2016/2017”.

Hardawiryana, Robert. Umat Kristiani Mempribumi Menghayati Iman Kristiani di Nusantara. Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Magnis-Suseno, Franz. Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk. Jakarta: OBOR, 2004.

Putranto, Carolus Borromeus. “Menggali Metode Berteologi Pastoral dari Pentalogi R. Hardawiryana SJ.” Dalam Jurnal Filsafat dan Teologi DISKURSUS Vol.14, No.2, Oktober 2015.

Wahid, Abdurrahman. Islam Kosmopolitan. Jakarta: The Wahid Institute, 2007.

 

 

 

 



[1] Penulis adalah mahasiswa semester 8 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

[2] Lih. Syaiful Arif, Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaan (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 100-13.

[3] Dari buku Umat Kristiani Mempribumi Menghayati Iman Kristiani di Nusantara tulisan Robert Hardawiryana, saya mengambil secara khusus Bab III. Refleksi Teologis Pastoral tentang Pemribumian Penghayatan Iman Kristiani di Nusantara dan Bab IV. Proses Pemribumian Berbagai Ranah Pelayanan bagi Hidup dan Misi Umat Beriman Kristiani.

[4] Bdk. Syaiful Arif, Humanisme Gus Dur, 110-2.

[5] Bdk. Syaiful Arif, Humanisme Gus Dur, 105.

[6] Bdk. Syaiful Arif, Humanisme Gus Dur, 106.

[7] Bdk. Syaiful Arif, Humanisme Gus Dur, 107-9.

[8] Bdk. Robert Hardawiryana, Umat Kristiani Mempribumi Menghayati Iman Kristiani di Nusantara (Yogyakarta: Kanisius, 2001), 28-9.

[9] Bdk. Robert Hardawiryana, Umat Kristiani Mempribumi Menghayati Iman Kristiani di Nusantara, 33-4.

[10] Robert Hardawiryana, Umat Kristiani Mempribumi Menghayati Iman Kristiani di Nusantara, 88.

[11] Robert Hardawiryana, Umat Kristiani Mempribumi Menghayati Iman Kristiani di Nusantara, 29.

[12] Robert Hardawiryana, Umat Kristiani Mempribumi Menghayati Iman Kristiani di Nusantara, 89.

[13] Lih. Robert Hardawiryana, Umat Kristiani Mempribumi Menghayati Iman Kristiani di Nusantara, 86-90.

[14] Bdk. Syaiful Arif, Humanisme Gus Dur, 108-9.

[15] Bdk. Robert Hardawiryana, Umat Kristiani Mempribumi Menghayati Iman Kristiani di Nusantara, 80.

[16] Franz Magnis-Suseno, Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk (Jakarta: OBOR, 2004), 160-1.