Sabtu, 18 Agustus 2018

PESAN KEMANUSIAAN WARISAN GUS DUR

Kamis, 18 Januari 2018
Dibaca sebanyak 701 kali
Di pengujung tahun 2017, tepatnya pada tanggal 30 Desember, genap delapan tahun atau sewindu K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kembali keharibaan Yang Maha Kuasa. Meski Gus Dur telah tiada, estafet perjuangan sang ”guru bangsa” ini masih tetap bisa kita saksikan melalui para generasi penerusnya. Demikian pula melalui jejak pemikiran yang pernah ia tuangkan dalam tulisan-tulisan. Lewat tulisan-tulisannya tersebut, Gus Dur mampu menginspirasi banyak orang, termasuk mereka yang belum pernah bertemu langsung dengan dia atau bahkan tidak ”menangi” Gus Dur ketika masih hidup.

Seperti yang kita ketahui, semasa hidupnya Gus Dur dikenal sebagai seorang tokoh yang produktif menulis. Ratusan tulisannya tersebar di berbagai media massa serta tercatat dalam puluhan buku. Tulisannya yang diterbitkan dalam buku antara lain Bunga Rampai Pesantren (Dharma Agung, 1984), Islamku, Islam Anda, Islam Kita (The Wahid Institute, 2006), Islam Kosmopolitan Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan (The Wahid Institute, 2007), Tabayyun Gus Dur, Pribumisasi Islam Hak Minoritas Reformasi Kultural (LKiS, 2010), dan Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman: Warisan Pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Kompas, 2010).

 

Bak mewarisi bakat sang ayah K.H. Wahid Hasyim dan  kakek K.H. Hasyim Asy’ari, produktivitas menulis Gus Dur ini didukung wawasan yang sangat luas. Wawasan ini tentu tidak dibangun dalam waktu semalam. Greg Barton dalam buku Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (LKiS, 2003) mengungkapkan hobi Gus Dur membaca buku dimulai sejak ia masih remaja.

 

Ketika Gus Dur pindah dari Jogja ke Magelang dan kemudian kembali ke Jombang, ia mulai serius memasuki dunia bacaan: pikiran sosial Eropa dan novel-novel karya penulis besar dari Inggris, Prancis, dan Rusia. Kadang-kadang ia membawa buku dari perpustakaan ayahnya di Jakarta.

 

Tentu saja wawasan keilmuan tersebut ia imbangi dengan otoritas pengetahuan agama yang kuat dan mumpuni yang ia peroleh dari nyantri di berbagai pondok pesantren hingga ia kuliah di Mesir dan Irak. Dalam riwayat hidupnya, selain di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Gus Dur juga pernah menjadi santri di Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Jogja, di bawah asuhan K.H. Ali Ma’shum.

 

Pada 1957 ia belajar kepada K.H. Khudori, pengasuh Pesantren Tegalrejo, Magelang, dan pada saat yang sama ia juga belajar kepada K.H. Bisri Syansuri di Pesantren Denanyar, Jombang. Pada 1959, Gus Dur belajar secara penuh di Pesantren Tambakberas, Jombang, di bawah bimbingan K.H. Wahab Chasbullah.

 

Alhasil, dengan kombinasi keilmuan agama yang kukuh serta wawasan yang luas tersebut, Gus Dur mampu menghasilkan banyak tulisan yang bagus, penting, dan mudah diikuti para pembaca.

 

Tema yang ia tulis juga melingkupi banyak hal, mulai dari soal agama, kepemimpinan, politik, spiritual, moral. Ia juga menulis ihwal pengembangan demokrasi serta masalah hak asasi manusia juga menjadi salah satu fokus utama tulisan pemikiran Gus Dur.

 

Dalam kehidupan nyata Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang memiliki karakter konsisten menginternalisasi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat dan kehidupan bernegara. Ini karakter yang berimplikasi pada kehidupan pribadinya dan yang di sekelilingnya.

 

Sering kali ia dicap sebagai musuh penguasa dan bahkan terkadang terkesan nyleneh di mata para pengikutnya. Tulisan yang ia sajikan kebanyakan tak jauh dari tema kemanusiaan. Menurut Gus Dur, topik yang menarik perhatiannya bukanlah politik atau filsafat yang dipelajari sebagai sesuatu yang abstrak, melainkan bagaimana agar mempunyai sifat manusiawi.

 

Sebagaimana ia menyukai wayang kulit yang berisi kisah-kisah menghargai ambivalensi, dalam sastra Eropa ia juga menemukan pelajaran menghargai kepelikan dan bermacam lapisan-lapisan kelabu yang membentuk sifat manusia (Barton, 2003).

 

Rasa yang Sama

Catatan-catatan yang ia tulis untuk membangun rasa yang sama kepada para pembaca tidak melulu dengan tulisan-tulisan berat. Artikel obituarium atau tulisan untuk mengenang jasa seorang tokoh yang meninggal menjadi salah satu media untuk menyelipkan pesan-pesan kemanusiaan.

 

Misalnya ketika ia menulis tentang fragmen kehidupan K.H. Hamim Djazuli atau Gus Miek, seorang kiai asal Kediri. Dalam tulisan berjudul Gus Miek: Wajah Sebuah Kerinduan yang ia tulis untuk Harian Kompas pada 1993, Gus Dur menggambarkan Gus Miek sebagai orang yang rindu  terhadap perbaikan dalam diri manusia:

 

”Gus Miek inilah yang melalui transendensi keimanannya tidak lagi melihat ’kesalahan’ keyakinan orang beragama atau berkepercayaan lain. Ayu Wedanti yang Hindu diperlakukannya sama dengan Neno Warisman yang muslimah, karena ia yakin kebaikan sama berada pada dua orang penyanyi tersebut. Kerinduannya kepada realisasi potensi kebaikan pada diri manusia inilah yang menurut saya menjadikan Gus Miek supernatural…”

 

”Super, karena dia mampu mengatasi segala macam jurang pemisah dan tembok penyekat antara sesama manusia. Natural, karena yang ia harapkan hanyalah kebaikan bagi manusia… Bukankah nyleneh orang yang tidak peduli batasan agama, etnis, dan profesi dan tidak hirau apa yang dinamakan baik dan buruk di mata kebanyakan manusia, sementara manusia saling menghancurkan dan membunuh?” (Gus Dur, 1993).

 

Dalam tulisan di atas, Gus Dur mengingatkan kita ihwal kata nyleneh yang terkadang justru kita sematkan kepada orang yang banyak menebar kebaikan dengan cara mereka yang berbeda-beda. Orang nyleneh yang sesungguhnya adalah mereka yang telah menodai nilai-nilai kemanusiaan dengan melakukan tindakan yang sewenang-wenang.

 

Gus Dur tak hanya menulis tentang kalangan kiai dan pesantren. Gus Dur juga menulis obituarium berbagai tokoh, termasuk ketika ia menulis tentang sosok Romo Mangun yang dimuat Harian Kompas bertanggal 11 Februari 1999:

 

“Dalam diri Romo Mangun, keimanan tidak sekadar terbelenggu dalam sekat ritual agama atau simbol-simbol semata. Lebih dari itu, cinta kasih keimanan Romo Mangun mampu menembus sekat-sekat formalisme dan simbolisme.”

 

”Dia kasihi dan dia sentuh setiap manusia dengan ketulusan cinta kasihnya yang terpancar dari keimanan dan keyakinannya. Inilah yang menyebabkan Romo Mangun mampu hadir dalam hati setiap manusia, karena dia telah menyentuh dan menyapa setiap manusia” (Gus Dur, 1999).

 

Pada akhirnya, dengan mengenang jejak-jejak Gus Dur melalui tulisan tersebut, kita menjadi semakin yakin bahwa Gus Dur telah mencapai ranah kafaah, sebuah ranah tertinggi yang dicapai oleh seorang santri.

 

Pada ranah tersebut, ia mampu memberikan warisan kepada kita semua yang antara lain berupa teladan serta semangat untuk mengerti dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan, tentang bagaimana menjadi seorang manusia yang mengerti manusia dan memanusiakan manusia.

 

*Penggerak Komunitas Gusdurian Solo

 

Tulisan ini dimuat di Harian Solopos, Sabtu (30/12/17).