Minggu, 17 Desember 2017

ROMO KATOLIK DI MASJID KEDUNG OMBO

Kamis, 31 Agustus 2017
oleh : Muhammad Aziz Dharma
Dibaca sebanyak 515 kali
BAGI WARGA Kedungpring, banjir bukan hal asing. Hidup di pinggir Waduk Kedung Ombo membuat mereka akrab dengan banjir. Saking seringnya terjadi, mereka tak akan panik sekalipun air sudah menggenangi lantai rumah. Kalau malam air naik, paling-paling esok harinya sudah surut kembali. Paling lama dua malam. Namun, hari itu berbeda. 12 Februari 1989, tepatnya pukul 9 malam, hujan lebat mengguyur Kedungpring. Air waduk mulai naik dan sampai ke kampung. Bukannya surut, air ternyata semakin tinggi saja hingga keesokan harinya. Warga salah perhitungan. Air naik bukan saja karena hujan, namun saluran air di hulu memang sengaja dibuka. Mereka panik dan lekas bergegas mencari tempat yang lebih tinggi.

 

 

Banjir malam itu tidak bisa dilepaskan dari kejadian empat tahun sebelumnya. Tahun 1985, Soeharto memulai proyek pembangunan Waduk Kedung Ombo. Selain menyerot dana APBN, megaproyek ini mendapat bantuan dari Bank Dunia sebanyak 156 juta dolar amerika dan Bank Exim Jepang sebesar 25,2 juta dolar amerika. Alasan yang digunakan: negara butuh pembangkit listrik berkekuatan 22,5 megawatt sekaligus penampungan air untuk memenuhi kebutuhan 70 hektare sawah di sekitar Jawa Tengah. Caranya waduk harus dilebarkan.

Warga tak siap dengan banjir hari itu. Hampir tidak ada harta benda yang sempat diselamatkan, kecuali baju yang menempel di tubuh mereka. Sapi, kambing, dan kerbau dilepaskan begitu saja. Ada yang selamat, ada yang tidak. Ibu-ibu dan bapak-bapak menangis seperti halnya bayi-bayi mereka. Ada yang selamat, ada yang tidak. Kejadian demi kejadian itu terekam secara detail dalam benak Darsono, seorang warga Kedungpring.

“Terkadang kalau sedang cerita soal ini, saya tidak bisa menahan tangis.”

Karena menolak proyek itu, Darsono berikut warga Kedungpring yang lain dianggap subversif. Pemerintah sengaja tak segera mendatangkan bantuan untuk pengungsi. Alih-alih dikirimi bantuan, Darsono dan warga Kedungpring malah diusir ketika hendak membangun gubuk-gubuk darurat sekadar untuk berteduh. Pasalnya, lahan yang mereka gunakan untuk mengungsi milik Perhutani.

“Pak saya itu manusia, bukan ikan. Saya kalau disuruh hidup di dalam waduk tidak bisa. Saya itu hanya ingin menyelamatkan anak istri saya. Kalau saya tidak boleh hidup di (pengungsian) sini, sekalian saja dibunuh di atas bangunan ini. Biar ludes sekalian. Silakan ditembak.”

Berada dalam keadaan yang putus asa karena rumah dan harta bendanya hanyut membuat urat takut warga seakan putus. Petugas yang hendak mengusir mereka malah hendak dimassa. Beberapa hari kemudian, kepala unit Perhutani yang kemudian menemui warga.

“Kira-kira bakal berapa lama?”

“Saya ikut pemerintah. Kalau mau diselesaikan besok, ya saya akan segera pergi dari sini.”

Mulanya hendak mengusir, namun begitu mengetahui kondisi mereka, kepala unit itupun iba. Ia akhirnya mengizinkan warga tinggal sementara di sana dengan satu syarat: tidak boleh membuat bangunan permanen.

 

***

DARI JEPARA, kami berangkat pukul satu siang. Dari seberang sambungan telepon, seseorang mengarahkan kami untuk mengambil jalan dari Purwodadi yang mengarah Solo. Ia adalah Darsono.

“Nanti ada pos polisi di Gemolong, lanjut belok kanan. Lurus terus sampai perempatan Kacangan, lalu belok kanan maju terus sampai mentok.”

Setelah berhasil melewati pos polisi dan perempatan Kacangan yang dimaksud, tak terlihat sedikitpun tanda-tanda waduk. Jalan yang kami lalui adalah jalan desa yang semakin lama kondisinya semakin rusak. Di situ muncul pikiran bahwa kali ini kami tersesat (lagi).

Tiga hari sebelumnya, ketika perjalanan berangkat dari Jogja, kami sempat mencari alamat Kedungpring. Namun sial, hari sudah malam dan sopir kami tidak sengaja melewatkan satu tikungan. Rombongan baru sadar telah tersasar saat sudah kebablasan 12 kilometer. Alhasil, kunjungan ke Kedungpring kami putuskan sekembalinya dari Jepara.

Arahan “sampai mentok” yang dikatakan Darsono baru kami temukan sekira sepuluh kilometer setelah perempatan Kacangan. Hari sudah gelap saat mobil mulai masuk ke kampung yang dimaksud. Melewati jalan itu membuat kami mulai menebak-nebak alasan almarhum Romo Yatno sering keluar menggunakan mobil Jeep—alasan yang juga membuat kami merasa cukup bodoh membawa mobil Avanza sampai ke tempat itu.

Romo Yatno adalah salah satu pionir Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) DIY.  Sebagai murid Romo Mangun, Romo Yatno seriing ikut ke mana gurunya pergi. Sejak kasus Kedung Ombo mencuat, Romo Mangun, Romo Sandyawan, dan K.H. Hamam Ja’far mulai mendampingi warga yang menjadi korban penggusuran. Sejak Romo Mangun meninggal, Romo Yatno yang kemudian melanjutkan advokasi warga Kedung Ombo.

Kini Romo Yatno telah menyusul Romo Mangun. Kedatangan kami ke Kedungpring kali itu bertepatan dengan 14 hari sepeninggal Romo Yatno dikebumikan.

 

***

DARSONO BERTEMU Gus Dur di Pondok Pesantren Edi Mancoro, Semarang. Tahu bahwa Gus Dur hendak sowan ke tempat K.H. Mahfud Ridwan, Darsono dan beberapa kawannya menyusulnya. Seperti pertemuannya dengan berbagai tokoh yang lain, ia hendak “mengadu” tentang masalah yang tengah warga sekitar Kedung Ombo hadapi.

Pertemuan dengan Gus Dur kali itu, bagi Darsono, tak begitu memuaskan. Kasus yang mereka hadapi sudah mentok hingga tingkat Mahkamah Agung. Ia berharap ada kekuatan yang membantunya menghadapi kasus ini. Namun apa daya, Gus Dur yang pada saat itu “hanya” menjabat sebagai Ketua NU menjawab tak punya kuasa apa pun untuk membantu penyelesaian kasus. Lebih-lebih yang tengah dihadapi adalah Soeharto.

Di luar tanggapan itu, ada hal lain yang membuat Darsono jengkel namun geli.

“Masak saya dipanggil ‘Wali Jawa’,” ujar Darsono.

Ceritanya, Darsono baru tiba di Pondok Pesantren Edi Mancoro pukul 4 pagi. Karena mengantuk, ia tidur begitu saja di masjid pondok pesantren. Sayup-sayup Darsono mendengar ada yang membangunkan para santri yang juga tidur di sana. Namun, Darsono cuek saja melanjutkan tidur.

Siang harinya, ketika bertemu Gus Dur, ia disapa: “Ini lho, Wali Jawa-nya datang.”

Ia tahu dipanggil “Wali Jawa” karena tidak salat subuh kali itu. Namun, saat itu Darsono dan warga Kedungpring lain memang jarang-jarang melaksanakan ibadah salat.

Darsono yang merasa tersinggung lantas menjawab. “Mas Dur boleh saja memanggil saya begitu. Coba hidup di Kedungpring dulu dan buktikan Mas Dur bisa salat.”

“Lho, ya gampang. Wong salat di atas batu saja bisa kok.”

“Coba saja dulu, Mas Dur,” tantang Darsono.

Tantangan Darsono hampir saja dilakukan Gus Dur. Waktu itu Gus Dur sudah dilantik jadi presiden. Ia hendak datang ke sana untuk meresmikan Jembatan Klewor, tak jauh dari Kedungpring. Kalau bukan karena kesulitan mendapat tempat mendarat, helikopter yang membawa Gus Dur direncanakan mendarat di Kedungpring. Akhirnya tempat mendarat diubah secara mendadak berikut dengan tempat pertemuan di kantor Kecamatan Kemusu. Yang sampai di Kedungpring waktu itu hanya para beberapa bawahan presiden.

Saat tiba waktu salat dan orang-orang itu hendak ibadah, salah satu dari mereka bertanya pada Darsono.

“Tempat salatnya di mana, ya?”

“Terserah, salat di atas batu saja bisa, kok.”

Mendengar jawaban itu, mereka bingung. “Lantas, wudhu-nya gimana, Pak?”

“Wudhu ya pakai air,” jawab Darsono setengah bercanda. “Itu lho, di waduk airnya banyak.”

Ketika hendak wudhu di waduk, mereka kesulitan karena lumpur tepian waduk kondisinya berlumpur. Kalaupun mereka berhasil wudhu dengan sampan, tak ada pilihan lain sampai kembali ke tepi tanpa masuk kubangan lumpur. Dari kejadian itu, orang-orang ini kemudian bercerita kepada Gus Dur bahwa sulit mengerjakan salat di Kedungpring.

Namun demikian, warga Kedungpring tak ingin kejadian seperti itu terus terjadi. Mereka punya hajat untuk membangun masjid suatu saat nanti. Mereka punya 'azam: jika suatu saat mendapat rezeki melimpah, mereka bakal membangun tempat ibadah. Keinginan mereka mulai terjawab lewat kekeringan yang melanda waduk.

Kekeringan kali itu membuat volume air waduk menyusut. Kubangan yang tadinya terhanyut air, kini bisa dimanfaatkan warga untuk menanam padi. Perhitungan mereka, pastilah kubangan yang tengah kering itu tanahnya gembur.

Benar saja, setelah ditanami padi ternyata hasilnya bagus. Pun, air tak buru-buru naik sampai masa penen berakhir. Atas panen yang melimpah itu, masing-masing penggarap menyisihkan sekarung hasil panennya untuk memenuhi hajat mereka.

Meski uang hasil patungan padi itu tak banyak-banyak amat, uang itu cukup untuk membeli sepetak tanah ukuran 6x6 meter persegi berisi sebuah rumah Joglo. Rumah itulah yang kemudian kini menjadi masjid yang ada di Kedungpring.

Sehabis berbincang cukup lama di rumah Darsono, kami lantas memasjid itu

Sampai saat ini pembangunannya belum benar-benar selesai. Warga Kedungpring sedikit demi sedikit meneruskan pembangunan masjid itu.

Oleh Mbak Alissa Wahid, kami diberi tahu bahwa sewaktu masih hidup Romo Yatno ingin sekali membantu pembangunan masjid itu. Romo Katolik? Membangun masjid untuk muslim? Begitulah.[]